Stranger Things – The Complete Season Two

Season pertama Stranger Things adalah sebuah kejutan yang menyenangkan di tahun 2016 lalu. Dengan banyaknya throwback nostalgia untuk era 1980an ditambah dengan akting yang bagus dari aktor anak-anaknya, Stranger Things menjadi salah satu serial yang paling populer dari Netflix tahun lalu. Aktor cilik tokoh utama dari serial: Finn Wolfhard namanya bahkan kian menjulang setelah ia turut dalam adaptasi novel It karya Stephen King tahun ini. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa di luar season terbaru Game of Thrones, season kedua dari Stranger Things adalah serial TV yang paling ditunggu tahun ini oleh penggemar layar kaca.

Sedikit rekap dari season pertama lalu: Will Bryer yang sempat hilang di seantero season telah ditemukan dalam finalenya. Akan tetapi ditemukan kembalinya Will bukan tanpa pengorbanan sebab Eleven terpaksa mengorbankan dirinya dengan menggunakan kekuatan berlebihan demi menyelamatkan Will. Sekarang setahun telah berlalu dan sebuah ancaman misterius kembali hadir di kota Hawkins.

Sekilas lalu semuanya memang tampak baik-baik saja tetapi rupanya banyak karakter masih membawa beban emosi dari season pertama. Mike masih merasa kehilangan Eleven yang ia rasa direnggut secara tidak adil dari sisinya, Will masih memiliki trauma sehingga kerap bermimpi bahwa ia masih berada di Upside Down yang misterius itu, dan hubungan antara Nancy dan Steve menjadi renggang disebabkan Nancy yang menyesal kehilangan sahabatnya Barb. Kejutannya? Eleven ternyata masih hidup dan disembunyikan oleh sang kepala polisi Jim Hopper.

Stranger Things sudah memiliki segudang karakter tetapi rupanya mereka masih mampu menghadirkan beberapa karakter tambahan lagi di season ini. Empat karakter baru yang paling signifikan di sini adalah kakak beradik Max dan Billy, Bob sebagai pacar dari Joyce, dan Doctor Owens yang adalah pemimpin baru dari Hawkins Laboratory, menggantikan Doctor Brenner yang adalah salah seorang antagonis di season lalu. Di antara keempatnya saya merasa hanya karakter Billy yang diperankan oleh Dacre Montgomery yang terasa kurang pas dan tak memberikan sesuatu yang baru di season ini.

dsadasada

Season kedua Stranger Things ini sendiri memiliki jalan cerita yang cenderung lebih straightforward ketimbang season pertama. Kenapa? Karena kali ini penonton sudah tahu mengenai keberadaan dari Upside Down, sesuatu yang adalah misteri menarik sepanjang season pertamanya. Season kali ini sepertinya digunakan oleh Duffer Brothers untuk menggali lebih dalam hubungan antara para karakter di dalamnya dan untuk sebagian besar karakter memang berhasil dilakukan. Akan tetapi ada satu episode dalam serial ini: episode 7, yang terasa benar-benar out of place. Ketimbang ditaruh di season ini, saya merasa bahwa serial ini sebenarnya bisa ditaruh di season depan saja. Episode ketujuh ini benar-benar terasa seperti sebuah prolog untuk cerita baru di season mendatang.

Satu hal yang tidak saya sangka adalah Stranger Things kali ini berusaha menciptakan identitasnya sendiri. Tak seperti season pertama yang terasa seperti homage untuk film-film era 1980an, season kedua ini terasa lebih fresh dan berdiri sendiri. Ya masih ada beberapa throwback untuk era 1980an seperti pada kostum Ghostbusters dan soundtrack-soundtrack jadul tapi secara keseluruhan atmosfir dalam season kedua ini unik, syukurlah bagi Stranger Things yang akhirnya berhasil menciptakan identitasnya sendiri. Seperti yang dikatakan banyak reviewer bila season pertamanya adalah Alien maka season keduanya ini adalah Aliens. Both are different but both are good.

Jadi bagaimanakah penilaianku akan Stranger Things Season Dua ini? Walaupun tak berhasil mencapai puncak kualitas ala season pertamanya, ia masih sebuah serial yang solid dan berkualitas dengan akting yang apik all around dari tiap karakter yang ada. Dengan masih banyaknya misteri seputar Upside Down dan makhluk-makhluk yang meghuninya, saya berharap season ketiga menjanjikan petualangan yang lebih seru lagi, semoga!

Score: B+

Advertisements

John Wick 2

Film John Wick dirilis di tahun 2014 lalu dengan premise yang sedikit menggelikan: seorang pembunuh bayaran legendaris, John Wick, sudah mundur dari dunia para assassin tetapi terpaksa kembali pada jalan kekerasan dikarenakan anak dari seorang gembong mafia merampok rumahnya dan menghabisi anjingnya. John Wick, dendam karena anjing tersebut adalah satu-satunya kenangan dari mantan istrinya, menghabisi satu-satu orang yang bertanggung jawab.

Kalau membaca ringkasan jalan ceritanya memang John Wick ini terasa sedikit absurd dan tolol, tetapi herannya ia berhasil memukau penonton karena dua faktor lain: pertama adalah koreografi aksi yang seru dari John Wick (sedikit banyak terinspirasi dari aksi-aksi ekstrem Asia ala The Raid) dan yang kedua adalah world building yang sangat bagus (tata sistem dunia assassin yang tidak diketahui khayalak umum). Dikarenakan film ini menjadi sleeper hit tak hanya di box office tetapi juga dalam penjualan home entertainment, studio Lionsgate memberi lampu hijau untuk proyek sekuelnya.

Apabila film pertama John Wick disutradarai oleh David Leitch dan Chad Stahelski, kali ini Leitch menyerahkan semua tugas penyutradaraan ke tangan Stahelski sementara ia sibuk menggarap film Atomic Blonde. Jangan khawatir, kehilangan Leitch tidak membuat film John Wick 2 kehilangan apa yang membuat film pertamanya begitu memorable. Adegan-adegan aksi yang keren, sadis, dan beberapa kali over-the-top masih menghiasi layar. Apabila dalam film pertama John Wick masih tidak bisa terlalu dibedakan dengan film-film berjenis Taken wannabe lainnya, maka John Wick 2 memberi identitas yang jelas pada franchise ini.

jw2

Maksudnya? John Wick 2 kali ini bukan sekedar kisah seorang pembunuh bayaran (atau expert badass) yang kembali ke lapangan lagi. Film ini benar-benar menggali lebih dalam mitologi para assassin yang sudah beberapa kali disinggung dalam film pertamanya. Apabila dulu kita diberi petunjuk mengenai bagaimana tata cara dunia bawah tanah ini bekerja, dalam film ini secara lebih jelas kita mengenal struktur organisasi, peraturan, sampai larangan yang tak boleh dilanggar.

Film John Wick tak akan lengkap apabila sang Baba Yaga tak mendapatkan lawan yang setimpal bukan? Dalam film sekuel ini ia mendapatkan lawan yang sebanding dalam dua sosok Cassian dan Ares. Kedua assassin berdarah dingin ini diperankan dengan mumpuni oleh Common dan Ruby Rose. Tak hanya duel keduanya dengan Keanu Reeves (yang masih saja melakoni kebanyakan stunt-nya sendiri di film ini) yang menjadi higlight dalam film ini, tetapi tentunya beberapa cast pendukung yang membuat para geek senang. Siapa tak nyengir lebar ketika Laurence Fishburne muncul di layar, membuat sebuah reuni kecil The Matrix setelah hampir 15 tahun berselang.

Film John Wick 2 ditutup dengan janji bahwa sebuah sekuel lain akan digarap. Sesuka-sukanya saya dengan franchise ini, saya berharap bahwa film ketiganya nanti menjadi pamungkasnya. Let’s not milk the franchise sampai merusak nama baiknya sendiri. Let’s let the Baba Yaga have his retirement (with his dog) in peace! Tapi untuk sekarang… John Wick 3 adalah salah satu sekuel yang paling saya nantikan di tahun-tahun mendatang!

Score: A-

Despicable Me 3

Despicable Me 3 adalah seri keempat dari Despicable Me semenjak pertama kali dirilis di tahun 2010 lalu.

Empat film dalam tujuh tahun sepertinya membuat film ini terasa mulai membosankan, betul? Itu yang ada di benak saya sebelum menonton film ini. Maklum saja, Despicable Me 2 terasa tidak seapik film pertamanya sementara Minions masuk dalam salah satu film animasi yang paling saya benci.

Kalau dilihat dalam gambaran lebih besarnya Illumination tak pernah benar-benar berhasil membuat film animasi yang saya anggap timeless selain Despicable Me yang pertama. Ya, saya bukan termasuk penonton yang tergila-gila dengan Sing maupun The Secret Life of Pets yang mereka rilis tahun lalu. Tidak benci sih, tetapi tidak suka juga. Biasa-biasa saja.

Oleh karena itu harap dimaklumi bahwa saya masuk menonton film Despicable Me 3 dengan ekspektasi rendah.

Setelah absen di hampir sepanjang spin-off Minions (mengingat film itu bersifat sebagai prekuel dari Despicable Me), Gru kembali menjadi spotlight dalam film ini. Di sini Gru dan istrinya Lucy sudah menjadi agen Anti-Villain yang bertugas menangkap para penjahat. Seorang penjahat baru bernama Balthazar Bratt memiliki teknologi ulung yang membuat Gru dan Lucy kesusahan membekuknya. Kegagalan demi kegagalan Gru membuat keduanya dipecat dari agen tempat mereka bekerja. Lebih buruknya lagi para Minions merasa engga meladeni tuan yang ompong tak bertaji lagi. Ditinggal oleh para bawahannya dan tidak tahu bagaimana menafkahi keluarganya, Gru kemudian diundang oleh saudara kembar yang terpisah dari lahir dengannya: Dru.

oaoooo

Berbeda dengan Gru, Dru adalah seorang pengusaha yang super sukses dan kaya. Lucy dan anak-anak Gru dengan cepat menyukai Dru yang sifatnya easygoing dan menyenangkan. Di luar dugaan, Dru sebenarnya ingin melanjutkan tradisi ayah keduanya untuk menjadi supervillain dan mengajak Gru kembali. Terjepit masalah kehidupan dan tertantang akan Balthazar yang tak pernah bisa ia tangkap saat ia bermain ‘bersih’ sebagai jagoan, apakah Gru akan kembali menjadi seorang supervillain? Lantas bagaimana kehidupan rumah tangganya dengan Lucy akan terpengaruh?

Apa yang membuat saya merasa Despicable Me 3 lebih baik daripada film keduanya (walaupun masih di bawa film pertamanya) adalah karena film ini memberi karakter-karakter di dalamnya (dan tidak hanya Gru) jalan cerita di dalamya. Film ini bisa dibilang memiliki tiga plot cerita. Yang pertama adalah plot cerita Gru dan Dru bonding sebagai saudara yang telah lama terpisah. Plot cerita kedua adalah Lucy yang mencoba untuk menjadi sosok ibu bagi anak-anak Gru. Dan plot cerita terakhir adalah tingkah laku konyol para Minions setelah meninggalkan Gru. Ketiga jalan cerita ini menyatu kembali secara brilian pada klimaks film, membuat ikatan keluarga yang dimiliki Gru menjadi lebih kuat.

Sekali lagi saya harus salut dengan upaya studio Illumination dalam budgeting film animasi mereka. Dengan biaya 75 Juta USD (setengah dari rata-rata budget film buatan studio animasi lain) mereka masih menghadirkan kualitas animasi dan jalan cerita yang bagus. Tidak heran bahwa film-film mereka terus mereguk untung di box office dan Despicable Me 3 melanjutkan tren tersebut… despicable indeed!

Score: B+

Resident Evil: Vendetta

Ini adalah kali ketiga film Resident Evil animasi dari Jepang dibuat setelah Resident Evil: Degeneration di tahun 2008 dan Resident Evil: Damnation di tahun 2013.

Melanjutkan kesuksesan Resident Evil 6 yang memadukan karakter Chris Redfield dan Leon S. Kennedy dalam satu game, film ini pun memadukan karakter Chris dan Leon, kali ini ditambah dengan Rebecca Chambers, satu lagi sosok lawas yang sudah lama absen semenjak menjadi tokoh utama di Resident Evil 0 dulu. Jalan ceritanya bisa ditebak – sekali lagi ketiga jagoan ini harus berpacu melawan waktu untuk menghindari terjadinya potensi zombie outbreak.

Sebuah virus baru varian dari T-Virus kembali muncul dan menyerang masyarakat, menimbulkan keresahan. Virus tersebut mendapat nama A-Virus yang diciptakan oleh Glenn Arias. Kecerdasan Glenn yang sudah terbiasa bertransaksi dalam dunia kriminal bawah tanah ditambah dengan dendamnya karena pemerintah berusaha menghabisinya secara brutal di hari pernikahannya membuat sosok Glenn menjadi musuh yang tangguh.

Di sisi lain Chris, Leon, dan Rebecca sama-sama terkena serangan yang membuat mereka seakan kehilangan harapan. Tim Chris dan Leon tersapu dan mati semuanya sementara Rebecca (yang mundur dari divisi tentara menjadi ilmuwan) mengalami nasib tragis di mana semua teman ilmuwannya diinfeksi virus dan menjadi zombie. Bisakah ketiganya menyatukan kekuatan mereka dan menghentikan Glenn melepas virus ke seantero kota New York?

Saya tidak tahu mau mulai dari mana mengkritik film ini.

Capcom punya segudang karakter selain para tokoh utama dari Resident Evil pertama dan kedua. Apa gunanya memperkenalkan tokoh-tokoh seperti Billy Coen (Resident Evil 0), Carlos Oliviera (Resident Evil 3), Sheva Alomar (Resident Evil 5), dan banyak lainnya kalau setiap kali ada properti baru yang dipakai hanya para wajah lama lagi? Coba simak Resident Evil setelah dua entri pertamanya.

Resident Evil 0? Rebecca Chambers
Resident Evil 3? Jill Valentine
Resident Evil Code Veronica? Claire dan Chris Redfield
Resident Evil 4? Leon S. Kennedy
Resident Evil: Revelations? Chris Redfield dan Jill Valentine. Sekuelnya? Claire Redfield dan Barry Burton.
Resident Evil 5? Chris Redfield (lagi)
Resident Evil 6? Leon S. Kennedy

Bahkan untuk dua film animasi Resident Evil sebelum ini? Ya, keduanya bertokoh utamakan karakter-karakter lawas Resident Evil juga seperti Leon S. Kennedy, Claire Redfield, dan Ada Wong.

re

Baiklah saya bisa menolerir memakai karakter-karakter lama berulang kali apabila mereka masih memiliki jalan cerita yang bisa digali. Masalahnya… tidak. Frustasi yang dialami oleh Leon dan Chris di sini apakah berbeda dengan frustasi yang dihadapi oleh Chris di dalam Resident Evil 6 setelah mereka kehilangan tim mereka? Berapa kali kita harus melihat Chris dan Leon meratapi nasib mereka? Di Resident Evil 5 kita sudah melihat Chris meratapi kehilangan Jill. Resident Evil 6 dia meratap lagi karena kematian anggota timnya. Melihat dia dan Leon adu cerita tragis di sini bukan membuat saya terharu tapi mengantuk.

Beberapa kali juga film ini berusaha memberi homage pada game dan film Resident Evil seperti adegan mansion di awal film. Sayangnya saya sudah tidak terkesan lagi. Sekali lagi, berapa kali Resident Evil berusaha menggali nilai nostalgia itu? Resident Evil pertama sendiri sudah berulang kali diremake di berbagai sistem lantas Resident Evil 0, Resident Evil Code Veronica, Resident Evil 6, dan banyak lainnya memiliki setting di mansion ala Resident Evil yang pertama. It’s no longer original.

Oke, kita lupakan saja koneksi-koneksi cerita sebelum film ini. Kita anggap saja ini film yang stand-alone. Dan itu tidak membuat film ini jauh lebih baik. Motif dari Glenn yang awalnya lumayan tragis sebagai villain di tengah film berbalik jadi konyol – terutama setelah penonton melihat apa yang hendak ia lakukan dengan Rebecca. Karakter Rebecca tidak lebih baik, sebagai seorang yang sudah pernah selamat dari serangan zombie dalam DUA game Resident Evil dia berlaku sangat tolol dan sangat naif. Setali tiga uang dengan Leon dan Chris yang berulang kali melakukan ketololan yang tak sepatutnya dilakukan agen profesional seperti mereka.

Kualitas animasi dalam film ini tergolong lumayan bagus (untuk ukuran film berbudget rendah) kecuali di beberapa adegan tertentu seperti saat kejar-kejaran melawan zombie anjing terjadi… oh that sequence is so laughably bad and pathetic. Tidak mengherankan kalau kualitas animasi dalam serial ini jauh lebih baik dibandingkan Resident Evil: Degeneration maupun Resident Evil: Damnation mengingat teknologi animasi sudah mengalami kemajuan pesat semenjak satu dekade lalu. Mungkin itu satu-satunya titik positif dalam film ini.

Pada akhirnya seperti pertanyaan Leon yang ditujukan pada penonton: “Sampai kapan hidupku masih terus memerangi zombie seperti ini?“. Ayolah Capcom, mereka sudah bertarung melawan zombie selama 20 tahun! Bukankah sudah saatnya bagi mereka untuk pensiun?

Score: D

Rise of Tomb Raider

Ketika Tomb Raider direboot oleh developer Crystal Dynamics pada tahun 2013 lalu, entri ini langsung mendapatkan pujian dari berbagai kalangan karena dianggap berhasil memanusiakan sosok Lara Croft. Sebenarnya ini bukan reboot pertama untuk franchise Tomb Raider. Pada tahun 2006 dulu Tomb Raider sempat direboot dengan trilogi Tomb Raider: Legend, Anniversary, dan Underworld. Karena reboot tersebut kurang sukses, akhirnya Tomb Raider sekali lagi mendapatkan reboot dengan sosok Lara yang kini tak lagi ditampilkan sekedar sebagai ikon seksi yang dimainkan para gamer.

Setelah entri pertamanya mengubah Lara dari seorang gadis yang polos menjadi seorang survivor yang tangguh, jalan cerita apa yang akan menjadi dasar untuk sekuelnya: Rise of the Tomb Raider? Rupa-rupanya Lara ingin mengungkapkan misteri dari kehidupan yang kekal – sebuah misteri yang tak berhasil diungkap oleh sang ayah sampai ke liang lahatnya. Bertekad untuk mengembalikan kejayaan pada nama Croft – Lara memutuskan untuk berangkat mencari misteri Divine Source yang konon bisa memberikan hidup kekal bagi orang yang menemukannya. Petualangan ini membawa Lara ke seantero dunia mulai dari Syria di tengah kancah perang saudara dan berakhir di Siberia yang diliputi salju.

Dari jalan ceritanya saja ini adalah seorang Lara yang berbeda dengan gadis yang dulu terdampar di Yamatai. Dalam game pertama Lara adalah seorang gadis yang terdampar di luar keinginannya dan ‘terpaksa’ harus berjuang untuk selamat. Di sini sosok Lara lebih aktif untuk mencari petualangan itu demi memulihkan nama baik keluarganya. Lawan dari Lara kali ini adalah organisasi di balik bayangan yang bernama Trinity. Apabila organisasi ini tidak menjadi fokus seteru Lara di game pertamanya maka ia adalah wajah antagonis utama di sini melalui tokoh Konstantin yang keras tetapi masih memiliki sosok manusiawi di dalamnya.

Salah satu kritik game pertama untuk Tomb Raider adalah map-nya yang termasuk sangat linear sehingga terlalu beraroma Uncharted. Dalam Rise of Tomb Raider Crystal Dynamics memperbaiki hal tersebut dan membuat game ini terasa jauh lebih besar dan ekspansif. Bersetting kebanyakan di dataran Siberia, dalam game ini Lara bisa menemukan banyak artifak kuno yang tersembunyi, belajar bahasa-bahasa kuno, menjalankan sidequest yang diberikan NPC yang ia temui sepanjang perjalanan, sampai memutar otak untuk memecahkan puzzle dalam banyak bangunan-bangunan kuno yang tersembunyi di sepanjang game. Ya, berbeda dengan game pertamanya, Rise of Tomb Raider kali ini memiliki tomb-tomb yang sangat besar lengkap dengan puzzle yang cukup memusingkan (dan menantang) untuk diselesaikan.

rotr

Bagi kalian yang senang dengan sistem weapon upgrade yang ada dalam game sebelumnya akan puas melihat dalam game ini Crystal Dynamics memasukkan lebih banyak lagi variasi senjata bagi Lara. Selain senjata melee, Lara juga memiliki empat jenis senjata jarak jauh: pistol, senapan mesin, shotgun, serta busur dan panah. Masing-masing senjata memiliki kelebihan dan kekurangannya dan berguna melawan musuh-musuh tertentu dalam game.

Para gamer tadinya sempat jengkel bahwa Rise of Tomb Raider ‘dikudeta’ oleh Microsoft menjadi Timed Exclusive bagi konsol Xbox One. Toh para pemilik Playstation 4 tak perlu berkecil hati sebab setahun setelahnya Rise of Tomb Raider dirilis dalam versi 20th Anniversary Edition dan malahan berisi fitur-fitur tambahan termasuk di utamanya ekspansi DLC Baba Yaga: The Temple of the Witch. Secara keseluruhan bila ingin menyelesaikan mayoritas game kedua reboot Tomb Raider ini gamer akan memakan waktu 15 – 20 jam. Sementara bila kalian gamer tipe perfeksionis, jangan heran kalau kalian bisa menghabiskan lebih dari 30 jam untuk mendapatkan completion rate 100% yang sakral itu.

Setelah tamatnya seri Uncharted di seri keempatnya tahun lalu, saya sempat gamang memikirkan bagaimana saya bisa memuaskan keinginan berpetualang saya. Jawabannya tak perlu jauh-jauh: sosok yang menginspirasi kelahiran dari Nathan Drake kini juga menjadi sosok yang menerima tongkat estafet dan melanjutkan petualangan melompat dari tebing ke tebing mencari artifak misterius di tengah-tengah dunia ini. This franchise has indeed rise!

Score: B+

Guardians of the Galaxy Vol. 02

Ketika proyek Guardians of the Galaxy pertama diumumkan di tahun 2012 banyak orang terperangah mendengarnya. Ya di saat itu brand Marvel tengah mengalami sukses besar setelah The Avengers tetapi tetap saja orang bertanya-tanya, apakah betul mereka mengedepankan proyek Guardians of the Galaxy ketimbang spin-off duet Hawkeye – Black Widow atau film solo Hulk?

Pertaruhan Marvel terbayarkan lunas setelah Guardians of the Galaxy menjadi sukses besar bagi mereka di tahun 2014 dulu, meledak dengan salah satu debut superhero terbaik sepanjang masa (hanya di bawah Spider-man dan Wonder Woman). Tidak heran kalau grup ini langsung mendapatkan lampu hijau untuk sekuel di Phase 3 MCU. James Gunn dan semua cast inti film ini kembali ditambah dengan sosok Kurt Russel yang dicasting menjadi ayah dari Peter Quill.

Beberapa bulan setelah Guardians of the Galaxy pertama grup Star Lord, Gamora, Groot, Rocket, dan Drax masih berpetualang di menjaga keamanan seantero jagat raya sekaligus juga menjadi bounty hunter yang mengerjakan tugas-tugas yang mendapatkan mereka uang. Salah satu petualangan mereka kali ini membawa mereka bertemu dengan sosok Ego – The Living Planet, seorang ras Celestial yang ternyata juga ayah misterius dari Peter Quill yang tak pernah ada sejak ia kecil dulu.

Ego membawa beberapa anggota dari Guardians ke dalam planetnya di mana ia membujuk Quill untuk kembali menjadi keluarga lagi dengannya. Tentu saja ini membawa dilema baru kepada Quill. Apakah ia kini akan meninggalkan keluarga disfungsionalnya dan kembali kepada sang ayah yang seumur hidupnya tidak pernah ia kenal? Tema keluarga juga menjadi sesuatu yang kental di film ini karena Gamora harus menghadapi sang adik Nebula yang terus memburu dia sejak akhir dari film pertama lalu. Di sisi lain Rocket dan Yondu pun mencari jati diri mereka yang sesungguhnya di tengah petualangan ini.

lalala

Banyak kritikus yang mengatakan Guardians of the Galaxy Vol. 2 adalah film yang lebih lemah dari pendahulunya. Humornya lebih tidak lucu sementara chemistry tiap karakter lebih lemah dikarenakan hampir sepanjang film mereka tercerai berai dan baru bersatu kembali sebagai grup di sepertiga akhir. Saya sendiri tidak sependapat karena merasa film ini lebih superior ketimbang prekuelnya. Perlu diingat bagaimanapun juga bahwa prekuel film ini tidak saya anggap sempurna sebagaimana kebanyakan fans die-hard Marvel lainnya.

Kendati Guardians of the Galaxy Vol. 2 saya akui memiliki humor yang lebih lemah dibandingkan pendahulunya dan masalah side-villain yang kadang menganggu narasi cerita, kelemahan-kelemahan itu tertutupi dengan pertumbuhan tiap-tiap karakter di dalamnya. Oleh karena setiap karakter di film ini memiliki perjalanan mereka sendiri, itu membuat setiap mereka terasa bertumbuh dan berbeda dengan diri mereka di awal film. Kalau film pertama adalah bagaimana kelima individual berbeda ini bersatu dan membentuk sebuah hubungan keluarga, film ini adalah bagaimana kelimanya mempertahankan hubungan tersebut.

Sementara kebanyakan film superhero tahun ini memiliki klimaks yang kurang memuaskan, klimaks film ini yang menyatukan para anggota Guardians of the Galaxy kembali adalah high point dari film ini. Adalah hal yang sangat memuaskan melihat kelimanya – dengan tambahan anggota-anggota baru bersatu kembali menghadapi musuh. Sebagai bonus, penutup dari film ini adalah ending yang paling emosional dari semua film MCU yang saya tonton. Saya tantang kalian untuk tidak menitikkan air mata ketika lagu Yusuf Islam / Cat Stevens “Father and Son” dilantunkan di penghujung film.

Opini personal saya mungkin tidak disetujui semua orang tetapi bagi saya Guardians of the Galaxy Vol. 2 tidak hanya sangat memuaskan tetapi juga salah satu dari Top 5 film terbaik dalam MCU so far. Sangat – sangat direkomendasikan!

Score: A

The Fate of the Furious

Ketika proyek The Fate of the Furious (atau Fast 8) diumumkan, banyak orang yang kesal dengan Vin Diesel dan kawan-kawan. Bukankah ending dari Furious 7 saat itu sudah sangat pas? Berakhir dengan lagu “See You Again” dari Charlie Puth dan Wiz Khalifa diiringi dengan berpisahnya sahabat lama Dom serta Brian dan ditutup dengan tulisan “For Paul“. Penonton menangis (termasuk saya). Ini akhir dari franchise mobil-mobilan bukan?

Ternyata tidak. Setelah kesuksesan Furious 7 menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa, Universal dan Vin Diesel memberi lampu hijau proyek sekuel kedelapan dari Fast and Furious. Judulnya adalah The Fate of the Furious dan kali ini sang musuh adalah Charlize Theron dengan identitas Cipher yang berhasil membawa Dom to the dark side. Kenapa Dom sampai tega mengkhianati teman-teman – bisa dibilang bukan hanya teman tetapi keluarganya demi Cipher?

Berubahnya status Dom dari seorang hero menjadi penjahat adalah sesuatu yang semua orang sudah tahu karena diumbar dalam trailer film ini. Pun karena sadar bahwa film ini tidak bisa lagi menangkap momentum kematian tragis Paul Walker, mereka membangun promosi film ini dengan cara yang berbeda. Apakah kebetulan The Rock Dwayne Johnson dan Vin Diesel mendadak saja bertengkar dalam syuting film ini? Saya tidak yakin. Ingat bagaimana Dolph Lundgren dan Van Damme bertengkar saat Universal Soldier ternyata semuanya hanya merupakan stunt publisitas semata?

22211

Kembali ke film The Fate of the Furious harus diakui bahwa film yang berganti-ganti posisi sutradara sejak seri keenamnya masih memiliki aksi kinetik yang seru dari awal hingga akhir. Film ini bagi saya juga merupakan tebusan bagi Jason Statham. Kok bisa? Ingatkah kalian bahwa penampilan Jason Statham di Furious 7 banyak tertutupi oleh kematian dari Paul Walker? Saya jelas merasakan hal itu. Statham tampil sebagai seorang musuh yang beringas bagi kubu Dom tetapi secara keseluruhan ia tak memiliki banyak latar belakang. Itu ditebus dalam film ini. Di antara semua karakter pendukung adalah Jason Statham alias Deckard Shaw yang memiliki waktu tayang paling banyak.

Apabila film ketujuh menghadirkan aksi menjatuhkan mobil dari pesawat terbang maka film kedelapan lagi-lagi meningkatkan aksi tersebut dengan menghadirkan kapal selam. Di era di mana semakin banyak orang menggunakan efek CG sangat menyegarkan melihat bagaimana The Fate of the Furious masih lebih mengandalkan efek stunt ketimbang sekedar green screen semata. Aksinya semakin over-the-top dan gila-gilaan, tetapi karena kita peduli pada karakter-karakter di film ini maka menontonnya tetap saja terasa mengasyikkan.

Intinya, apakah kamu suka dengan franchise The Fast of the Furious semenjak episode kelimanya? Kalau jawabannya adalah “Ya” maka The Fate of the Furious akan memuaskan nafsu kalian melihat para orang botak kebut-kebutan di layar lebar. Apabila jawaban kalian adalah “Tidak“… well, The Fate of the Furious takkan mengubah pendapat kalian akan film ini.

Score: B+