It (2017)

Walaupun Stephen King adalah seorang penulis novel berbagai genre, mayoritas orang mengenalnya sebagai penulis novel horor. Karya-karyanya seperti The Shining, It, dan Pet Sematary adalah film-film horor klasik yang dikenal banyak orang. Tentu saja tak semua novel yang ditulis oleh Stephen King adalah kisah horor. Film seperti The Shawshank Redemption, The Green Mile, sampai The Dark Tower adalah contohnya.

Bicara soal It, novel dari Stephen King yang membuat banyak orang paranoid soal badut ini pernah difilmkan dalam bentuk miniseri TV dulu di tahun 1990. Saat itu sang badut Pennywise diperankan dengan meyakinkan oleh Tim Curry sehingga menjadi sinonim dengan sosok Pennywise itu sendiri. Setelah hampir 30 tahun lamanya, film ini kembali diremake dengan bintang anak-anak jaman now. It dirilis di saat yang tepat sebab Amerika tengah keranjingan dengan nostalgia jaman 1980 dan 1990an karena serial Netflix Stranger Things yang meledak sukses.

Film ini dibuka dengan sebuah tragedi ketika Georgie, adik dari Bill, menghilang dalam sebuah insiden di kota Derry. Hilangnya Georgie adalah satu dari banyak insiden kehilangan yang terjadi di kota ini. Anehnya orang tua di kota ini sudah seakan tidak peduli dengan hilangnya anak-anak mereka. Bill dan teman-temannya membentuk sebuah grup bernama The Losers Club yang bertujuan mencari tahu keberadaan Georgie. Dari penelitian mereka ala detektif cilik inilah mereka mulai menemukan sebuah rahasia misterius yang rapat disimpan kota Derry – bahwa ada seorang badut misterius bernama Pennywise yang muncul…

itt

It boleh dikategorikan ke dalam film horor tetapi sebenarnya ia lebih dari itu. Alasan kenapa ia menjadi salah satu film horor dengan rating R paling laris sepanjang masa adalah karena ia menjual nostalgia era 1980an seperti halnya Stranger Things. Kesuksesan film ini dengan serial tersebut sungguh berkaitan – apalagi karena aktor utama dalam Stranger Things: Finn Wolfhard juga merupakan salah satu aktor utama dalam film ini. Andy Muschietti toh tak hanya mengandalkan faktor nostalgia saja untuk menggaet penonton dalam film ini, banyak adegan-adegan yang creepy dan menegangkan dihadirkan untuk menggedor jantung penonton.

Apakah film ini banyak menyajikan adegan seram? Antara ya dan tidak. Keseraman dalam film ini tak hanya dihasilkan dari badut Pennywise (yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh Bill Skarsgard) tetapi juga dari pembangunan atmosfir kota Derry yang sekilas damai tetapi menyimpan banyak pergolakan di dalamnya. Bila dipikir-pikir It sebenarnya adalah representasi Stephen King akan masa mudanya dan itu memang tercermin dari pergolakan ketakutan yang dialami oleh setiap karakter anak dalam film ini.

Yang perlu diketahui oleh penonton film ini adalah adaptasi novel It dari Stephen King di serial TV dulu dibagi menjadi dua bagian: Part 1 dan Part 2. Dan hal yang sama ditiru oleh film ini, It ditutup dengan akhir Part 1 dan melanjutkan cerita ini ke Part 2 yang akan dirilis oleh studio Warner Bros di beberapa tahun mendatang. Mengingat ini merupakan film horor terlaris sepanjang masa, saya yakin akan ada banyak nama terkenal yang masuk ke dalam film ini di proyek sekuelnya nanti. Saya nantikan.

Score: B+

Advertisements

Murder on the Orient Express

Novelis Agatha Christie adalah salah seorang penulis novel misteri paling terkenal di dunia. Walaupun novel-novelnya sudah ditulis berdekade-dekade lampau, masih banyak orang yang tahu akan karya-karyanya itu. Siapa di antara kalian pada masa muda dulu tidak pernah mengenal karakter Hercule Poirot maupun Miss Marple? Hercule Poirot, sang detektif berkumis dari Belgia ini bisa dibilang merupakan karya Christie yang paling terkenal hanya di belakang Sherlock Holmes semata. Dan kasus yang paling terkenal yang ia pecahkan? Pembunuhan misterius di dalam kereta eksotis Orient Express.

Di tahun 1930an dulu berpergian di benua Eropa yang luas bukan hal yang mudah. Daerah yang masih liar dan berbahaya membuat berpergian jauh suatu hal yang sulit. Oleh sebab itu jalur Orient Express adalah sebuah jalur kereta yang revolusioner pada masanya. Di kala itu Orient Express adalah warna kemegahan dan kemewahan dalam bepergian, sesuatu yang tak sembarangan orang bisa melakukannya. Bayangkan betapa terkejutnya ketika suatu pembunuhan terjadi di atas kereta ini. Lebih mengejutkannya lagi pembunuhan ini terjadi di dalam ruangan tertutup di sebuah gerbong kereta api. Siapa di antara para penumpang di gerbong kereta api ini yang melakukannya?

Hercule Poirot sendiri sebenarnya hanya ingin melepas letih dan lelah karena selama beberapa pekan bahkan bulan terakhir harus terus mengerjakan kasus demi kasus. Perjalanannya melalui Orient Express (yang sebenarnya adalah untuk menuju ke tempat kasus lainnya) adalah kesempatannya untuk rehat sejenak. Akan tetapi setelah kereta api terhenti karena salju longsor, Poirot memutuskan untuk menyelidiki misteri pembunuhan ini. Berbeda dengan misteri yang biasa ia pecahkan, sepertinya hampir semua saksi dan penumpang di gerbong yang ia naiki misterius dan mencurigakan. Bisakah Poirot menemukan jawaban di balik misteri pembunuhan di Orient Express sebelum kereta sampai di tujuan?

Sutradara Kenneth Branagh pertama melintas di radarku ketika ia menyutradarai film superhero Thor di tahun 2011 dulu. Setelah itu saya menyadari bahwa portfolio film garapan Branagh ternyata cukup luwes menyeberang dari satu genre ke genre lain. Ambil contoh reboot Jack Ryan dan Cinderella yang keduanya cukup saya sukai. Kali ini Branagh mengangkat kisah terkenal Agatha Christie dan sekaligus berperan sebagai sosok ikonik Hercule Poirot. Artinya ia bekerja ganda sebagai sutradara sekaligus pemeran utamanya, apakah hasilnya bisa maksimal?

Pertama saya harus mengakui dua hal: saya belum pernah membaca novel Murder on the Orient Express dan juga tidak benar-benar familiar dengan karakter Hercule Poirot. Kenapa hal ini penting? Sebab adaptasi film versi ini banyak dikritik oleh penonton sebagai tontonan misteri yang ‘ringan’ dan tidak menampilkan karakter Poirot dengan benar, sebuah kritik yang juga dilempar penonton kepada Sherlock Holmes-nya Guy Ritchie. Di film ini memang ada beberapa kali Branagh terlihat lebih menekankan pada emosi yang bergolak pada masing-masing karakter ketimbang pada misterinya sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa misterinya tak memiliki twist atau misteri ringan sebab misteri film ini terkawal cukup rapat hingga akhir film, tetapi penekanan diberikan Branagh pada karakter-karakter yang ada di dalamnya.

motoeee

Dan itu memang tidak salah, apa gunanya film ini mengumpulkan deretan all star mulai dari Josh Gad, Michelle Pfeiffer, Daisy Ridley sampai Johnny Depp membintangi film ini kalau hanya sekedar untuk menyia-nyiakan talenta mereka? Semua aktor artis di sini tampil prima memanfaatkan waktu peran mereka di layar untuk mencuri perhatian penonton. Saya harus mengakui bahwa emosiku berhasil dibawa sampai ke puncak di penghujung film ini, ketika misteri mengenai siapa sebenarnya sang pembunuh terungkap. Dan oleh karena itu saya menilai film ini sebagai film yang bagus – terlepas dari apakah ia merupakan adaptasi yang layak atau tidak dari novel tersohor Christie.

Hal lain yang menjadi nilai plus bagi film ini adalah setting keretanya. Setting kereta Orient Express terasa seperti karakter lain dalam film ini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Orient Express adalah gambaran kemahsyuran berpergian di era lampau dan itu benar-benar terlihat dalam film ini baik dari hidangan yang disajikan sampai detail gerbong, kabin, hingga kamar tiap-tiap tamu. Tidak berlebihan bila saya mengatakan bahwa saya ingin mencoba berpergian dengan kereta suatu hari nanti kalau singgah ke Eropa. Sebagai catatan saja: Orient Express kini tak lagi beroperasi sebab omsetnya terus tergerus dengan kereta-kereta (lebih) cepat dan pesawat terbang.

Pada akhirnya apabila kalian menyukai film misteri pembunuhan dan tak terlalu terpaku dengan gambaran sempurna sosok Poirot ala buku, film remake sekaligus adaptasi novel Murder on the Orient Express ini lebih dari layak untuk ditonton.

Score: B+

Justice League

Setelah empat tahun membangun DCEU, ini merupakan saat di mana DC Universe akan ‘Come together‘. Di dalam dunia komik Justice League adalah grup team-up superhero dari DC yang menyatukan superhero-superhero terkenal di lini komik tersebut. Di saat pertama kali para superhero ini bergabung di tahun 1960, grup ini mencetak sukses penjualan komik yang luar biasa, membuat kompetitor seperti Marvel kelabakan mengusung konsep yang sama, melahirkan The Avengers di tahun 1963.

Bila di dunia komik Justice League menginspirasi The Avengers maka dalam dunia film justru sebaliknya. Kesuksesan Marvel dengan MCU membuat DC kebakaran jenggot sehingga begitu trilogi Batman Christopher Nolan berakhir mereka bersiap membangun DCEU (DC Extended Universe) dengan Zack Snyder sebagai nahkodanya. Di 2013 Man of Steel yang merupakan film pertama dari DCEU dirilis, disusul dengan Batman v Superman (BvS) dan Suicide Squad di 2016 dan Wonder Woman di 2017. Setelah empat film ini Justice League dijanjikan menyatukan kelima superhero terbesar DC: Batman, Wonder Woman, Flash, Aquaman, dan Cyborg. Kelimanya harus bersatu pasca kematian Superman dalam BvS untuk menghentikan ancaman musuh yang akan menguasai dunia.

Dihantui dengan rasa bersalah karena ia secara tidak langsung menyebabkan kematian Superman di penghujung BvS, Bruce Wayne bekerja keras untuk menyatukan para orang dengan kemampuan khusus supaya mau bergabung menghentikan musuh yang hendak menguasai dunia. Diana Prince alias Wonder Woman mudah diajak bergabung sebab sang putri Amazon juga telah terlibat menyelamatkan dunia dari serangan Doomsday. Akan tetapi Flash, Aquaman, dan Cyborg perlu dibujuk lebih lanjut. Toh setelah menyadari besarnya ancaman yang ada, ketiganya pun mau bergabung. Pertanyaannya adalah apakah kekuatan gabungan dari kelimanya cukup untuk menghentikan musuh?

Musuh yang kita bicarakan di sini adalah Steppenwolf, seorang alien dari dunia lain yang dulunya pernah ingin menguasai dunia tetapi dihentikan kekuatan gabungan dari para petarung Amazon, orang Atlantis, sampai dewa-dewa Yunani dan polisi luar angkasa Green Lantern. Setelah kematian Superman, Steppenwolf percaya bahwa dunia kini bisa ia kuasai (Kenapa ia tak menyerang dunia sebelum Superman datang 30 tahun yang lalu? Saya tidak tahu). Dengan kekuatan laskar ratusan hingga ribuan Parademon, Steppenwolf hendak mengaktifkan tiga kotak Mother Box yang bisa menghancurkan dunia. Bisakah Justice League mencegah rencana jahat ini?

Sulit untuk menilai Justice League sebagai sebuah produk yang koheren sebab ini adalah sebuah film yang dihasilkan oleh dua sutradara. Bukan rahasia bila Man of Steel maupun Batman v Superman adalah dua film DC yang… tidak benar-benar dicintai oleh para fans, kecuali fans garis keras. Begitu kerasnya kritikan akan BvS membuat studio Warner Bros kebingungan. Mereka hilang muka bila membatalkan proyek Justice League (yang saat itu dicanangkan sebagai dwilogi – lantas diubah menjadi film satuan saja) tetapi mereka juga tidak ingin nekat membiarkan Zack Snyder terus menggarap DCEU yang jelas-jelas tidak disukai para fans.

justice

Lantas sebuah tragedi terjadi karena anak dari Snyder bunuh diri, membuat sang sutradara harus mengundurkan diri ketika film ini belum seratus persen selesai disyuting, Warner Bros lantas mendapuk Joss Whedon, sutradara dari The Avengers sebagai penggantinya, mungkin ingin tuah Marvel tertular ke DC? Mengingat gaya Snyder yang serius dan Whedon yang ceria adalah dua gaya yang sangat berbeda, hasilnya membuat Justice League bak film yang punya krisis identitas. Di satu sisi ceritanya terkadang ceria dan di satu sisi lagi sinematografinya cenderung kelam dan monokrom. Film ini juga dihantui dengan banyaknya editing dan perubahan dalam syuting, membuat banyak adegan di trailer yang hilang tidak ikut di film utamanya.

Pada akhirnya Justice League tidak lantas menjadi produk yang gagal total. Ketika saya menontonnya saya seperti menonton film yang… biasa-biasa saja. Tidak seperti The Avengers yang adalah kulminasi dari lima film sebelumnya. Ancaman Steppenwolf terasa datar dan sang villain pun terasa tak memiliki motif yang mengancam selain “hey, saya adalah penjahatnya jadi saya mau menguasai dunia” membuat ia tampak sebagai penjahat yang sangat membosankan. Justice League pun memiliki beban berat harus memperkenalkan tiga superhero: Flash, Aquaman, dan Cyborg di film ini sambil tak lupa membagi spotlight kepada Batman dan Wonder Woman. Walau tak sepenuhnya gagal (saya tak benci dengan ketiga karakter superhero baru ini) tetapi saya juga tak merasa benar-benar tertarik dengan film solo ketiganya setelah menonton Justice League. Omong-omong dari film solo ketiganya hanya Aquaman saja (oleh James Wan) yang pasti akan dirilis tahun depan sementara The Flash dan Cyborg masih terus diutak-atik karena belum menemukan konsep yang pas.

Satu hal yang kerap saya keluhkan dalam film-film DCEU adalah sinematografi yang kerap terlalu stylish dalam pertarungan membuat efek CG sangat terasa. Ini terlihat di dalam BvS dan Wonder Woman dan tetap terasa di film ini, terutama di pertarungan akbar di penghujung film. Saya tidak tahu apakah ini karena pengambilan adegan tambahan yang berlangsung beberapa bulan sebelum film ini dirilis membuat waktu untuk memoles efek CG nya menjadi kurang mulus.

Pada akhirnya dengan Justice League yang tampil jauh dari mengesankan di mata kritikus maupun di box office (mungkin akan menjadi film paling gagal di DCEU – ironis mengingat statusnya sebagai kulminasi DCEU), mungkin ini menjadi saat yang tepat bagi Warner Bros untuk benar-benar bercermin, ke manakah DCEU mau dibawa? Sebagai penonton dan pengikut berita film superhero saya sejujurnya bingung dengan arahan DCEU yang terus berganti-ganti setiap beberapa bulan. Memiliki game plan yang jelas seperti MCU adalah kunci kesuksesan, semoga Warner Bros bisa belajar hal tersebut.

Score: C+

Coco

Di era 1990an dan 2000an nama Pixar sinonim dengan kualitas. Hampir setiap film animasi yang digarap oleh studio ini menjadi buah bibir penggemar film, sebut saja deretan film animasi berkualitas Toy Story hingga The Incredibles. Akan tetapi memasuki dekade ini nama Pixar mulai kehilangan tajinya. Kendati film-film mereka memang masih sukses di box office, semakin banyak film mereka yang gagal meninggalkan kesan di hati penonton. Coba dipikir-pikir lagi selain Inside Out, apa sih karya Pixar yang benar-benar fenomenal dan orisinil di dekade ini? Tidak ada bukan? Oleh sebab itu kendati Coco dipuji-puji kritikus, saya menontonnya dengan setengah khawatir, garapan Pixar seperti apa film ini?

Bintang utama dari film Coco adalah Miguel, seorang bocah yang ingin menjadi penyanyi. Sayangnya kendati kultur orang Mexico mencintai musik dan tari-tarian, sebuah tragedi telah terjadi di keluarga Miguel sehingga membuat seantero keluarga mereka membenci musik. Cita-cita Miguel yang ingin menjadi seorang penyanyi terkenal seperti idolanya De La Cruz pun menemui hambatan. Sebuah insiden akhirnya membuat Miguel terlempar ke dunia orang mati pada salah satu perayaan terbesar di Meksiko sana: Day of the Dead alias Dia de Muertos.

coco

Miguel sangat terkejut ketika ia menjumpai dirinya menjadi satu-satunya orang hidup di tengah orang mati tetapi ini menjadi kesempatannya untuk menjelajah di sana, bertemu dengan leluhur-leluhurnya yang sudah mati, seorang penipu bernama Hector, bahkan bertemu dengan sang idola sejatinya: De La Cruz. Bisakah Miguel kembali ke dunia orang hidup dan menjadi seorang penyanyi seperti yang ia impikan?

Tema dalam film Coco ini sebenarnya tidak baru, berapa animasi yang pernah mengangkat tema seorang yang ingin menggapai mimpi walau keadaan dan orang sekeliling tidak mendukungnya? Studio Blue Sky pernah mengangkatnya lewat Robots, Studio Dreamworks melalui Antz atau Turbo, dan bahkan Pixar sendiri pernah mengisahkan hal seperti ini dalam Ratatouille. Untuk tema Day of the Dead ataupun pergi ke dunia orang mati pun bukan kali pertama diangkat dalam dunia animasi; ingatkah dengan The Book of Life ataupun The Corpse Bride yang mengangkat tema serupa?

Jadi, apakah saya mengatakan kalau film Coco ini buruk karena tidak orisinil? Oh, nanti dulu. Sutradara Lee Unkrich kentara sekali menggarap film ini dengan penuh perhatian. Budaya Meksiko yang kaya warna dan musik diangkat dengan penuh perhatian di film ini. Baik detail dalam dunia orang hidup (keluarga Miguel sebagai pembuat sepatu kulit) sampai detail dunia mati yang begitu imajinatif membuat Coco selalu mengesankan setiap momennya. Tak hanya itu Coco juga mengangkat tema yang sangat bagus mengenai kematian, kehidupan, dan keluarga, tiga topik yang sensitif dengan apik dan penuh rasa hormat.

Lagu-lagu dalam Coco walau tak ada yang akan seterkenal Let It Go atau How Far I’ll Go pun memiliki kesan tersendiri. Lagu yang dinyanyikan oleh aktor cilik Anthony Gonzalez membuat saya tersenyum dan bahkan terisak di penghujung film. Range lagunya pun luar biasa mulai Un Poco Loco yang lucu, Everybody Knows Juanita yang mendayu ala telenovela, Proud Corazon yang membangkitkan semangat, hingga Remember Me yang… ah, pasti akan sangat diasosiasikan dengan film ini di masa mendatang.

Bila film ini dikatakan sangat emosional bagi beberapa orang, saya rasa pasti demikian, terutama bagi saya yang memiliki darah Tionghoa. Sebab orang Tionghoa pun memiliki tradisi yang mirip dengan Dia de Muertos yang kita namai Ceng Beng. Di hari tersebut kami orang Tionghoa percaya bahwa leluhur yang mati akan kembali untuk berkumpul bersama dengan kembali dari alam sana. Tidaklah mengherankan Coco menjadi film Pixar yang terlaris di Cina sekarang. Toh tak hanya untuk orang Tionghoa saja, tema kematian dan kehidupan setelah kematian adalah sesuatu yang universal untuk setiap orang bukan?

Jadi bagaimana penilaianku akan Coco? Terlepas dari jalan cerita yang tergolong biasa, perhatian pada detail dunia Coco hingga pesan moral yang bagus yang disampaikan membuat animasi ini layak dimasukkan dalam jajaran animasi-animasi bagus yang dibuat oleh studio Pixar, pertahankan terus kualitas ini ya!

Score: B+

Stranger Things – The Complete Season Two

Season pertama Stranger Things adalah sebuah kejutan yang menyenangkan di tahun 2016 lalu. Dengan banyaknya throwback nostalgia untuk era 1980an ditambah dengan akting yang bagus dari aktor anak-anaknya, Stranger Things menjadi salah satu serial yang paling populer dari Netflix tahun lalu. Aktor cilik tokoh utama dari serial: Finn Wolfhard namanya bahkan kian menjulang setelah ia turut dalam adaptasi novel It karya Stephen King tahun ini. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa di luar season terbaru Game of Thrones, season kedua dari Stranger Things adalah serial TV yang paling ditunggu tahun ini oleh penggemar layar kaca.

Sedikit rekap dari season pertama lalu: Will Bryer yang sempat hilang di seantero season telah ditemukan dalam finalenya. Akan tetapi ditemukan kembalinya Will bukan tanpa pengorbanan sebab Eleven terpaksa mengorbankan dirinya dengan menggunakan kekuatan berlebihan demi menyelamatkan Will. Sekarang setahun telah berlalu dan sebuah ancaman misterius kembali hadir di kota Hawkins.

Sekilas lalu semuanya memang tampak baik-baik saja tetapi rupanya banyak karakter masih membawa beban emosi dari season pertama. Mike masih merasa kehilangan Eleven yang ia rasa direnggut secara tidak adil dari sisinya, Will masih memiliki trauma sehingga kerap bermimpi bahwa ia masih berada di Upside Down yang misterius itu, dan hubungan antara Nancy dan Steve menjadi renggang disebabkan Nancy yang menyesal kehilangan sahabatnya Barb. Kejutannya? Eleven ternyata masih hidup dan disembunyikan oleh sang kepala polisi Jim Hopper.

Stranger Things sudah memiliki segudang karakter tetapi rupanya mereka masih mampu menghadirkan beberapa karakter tambahan lagi di season ini. Empat karakter baru yang paling signifikan di sini adalah kakak beradik Max dan Billy, Bob sebagai pacar dari Joyce, dan Doctor Owens yang adalah pemimpin baru dari Hawkins Laboratory, menggantikan Doctor Brenner yang adalah salah seorang antagonis di season lalu. Di antara keempatnya saya merasa hanya karakter Billy yang diperankan oleh Dacre Montgomery yang terasa kurang pas dan tak memberikan sesuatu yang baru di season ini.

dsadasada

Season kedua Stranger Things ini sendiri memiliki jalan cerita yang cenderung lebih straightforward ketimbang season pertama. Kenapa? Karena kali ini penonton sudah tahu mengenai keberadaan dari Upside Down, sesuatu yang adalah misteri menarik sepanjang season pertamanya. Season kali ini sepertinya digunakan oleh Duffer Brothers untuk menggali lebih dalam hubungan antara para karakter di dalamnya dan untuk sebagian besar karakter memang berhasil dilakukan. Akan tetapi ada satu episode dalam serial ini: episode 7, yang terasa benar-benar out of place. Ketimbang ditaruh di season ini, saya merasa bahwa serial ini sebenarnya bisa ditaruh di season depan saja. Episode ketujuh ini benar-benar terasa seperti sebuah prolog untuk cerita baru di season mendatang.

Satu hal yang tidak saya sangka adalah Stranger Things kali ini berusaha menciptakan identitasnya sendiri. Tak seperti season pertama yang terasa seperti homage untuk film-film era 1980an, season kedua ini terasa lebih fresh dan berdiri sendiri. Ya masih ada beberapa throwback untuk era 1980an seperti pada kostum Ghostbusters dan soundtrack-soundtrack jadul tapi secara keseluruhan atmosfir dalam season kedua ini unik, syukurlah bagi Stranger Things yang akhirnya berhasil menciptakan identitasnya sendiri. Seperti yang dikatakan banyak reviewer bila season pertamanya adalah Alien maka season keduanya ini adalah Aliens. Both are different but both are good.

Jadi bagaimanakah penilaianku akan Stranger Things Season Dua ini? Walaupun tak berhasil mencapai puncak kualitas ala season pertamanya, ia masih sebuah serial yang solid dan berkualitas dengan akting yang apik all around dari tiap karakter yang ada. Dengan masih banyaknya misteri seputar Upside Down dan makhluk-makhluk yang meghuninya, saya berharap season ketiga menjanjikan petualangan yang lebih seru lagi, semoga!

Score: B+

John Wick 2

Film John Wick dirilis di tahun 2014 lalu dengan premise yang sedikit menggelikan: seorang pembunuh bayaran legendaris, John Wick, sudah mundur dari dunia para assassin tetapi terpaksa kembali pada jalan kekerasan dikarenakan anak dari seorang gembong mafia merampok rumahnya dan menghabisi anjingnya. John Wick, dendam karena anjing tersebut adalah satu-satunya kenangan dari mantan istrinya, menghabisi satu-satu orang yang bertanggung jawab.

Kalau membaca ringkasan jalan ceritanya memang John Wick ini terasa sedikit absurd dan tolol, tetapi herannya ia berhasil memukau penonton karena dua faktor lain: pertama adalah koreografi aksi yang seru dari John Wick (sedikit banyak terinspirasi dari aksi-aksi ekstrem Asia ala The Raid) dan yang kedua adalah world building yang sangat bagus (tata sistem dunia assassin yang tidak diketahui khayalak umum). Dikarenakan film ini menjadi sleeper hit tak hanya di box office tetapi juga dalam penjualan home entertainment, studio Lionsgate memberi lampu hijau untuk proyek sekuelnya.

Apabila film pertama John Wick disutradarai oleh David Leitch dan Chad Stahelski, kali ini Leitch menyerahkan semua tugas penyutradaraan ke tangan Stahelski sementara ia sibuk menggarap film Atomic Blonde. Jangan khawatir, kehilangan Leitch tidak membuat film John Wick 2 kehilangan apa yang membuat film pertamanya begitu memorable. Adegan-adegan aksi yang keren, sadis, dan beberapa kali over-the-top masih menghiasi layar. Apabila dalam film pertama John Wick masih tidak bisa terlalu dibedakan dengan film-film berjenis Taken wannabe lainnya, maka John Wick 2 memberi identitas yang jelas pada franchise ini.

jw2

Maksudnya? John Wick 2 kali ini bukan sekedar kisah seorang pembunuh bayaran (atau expert badass) yang kembali ke lapangan lagi. Film ini benar-benar menggali lebih dalam mitologi para assassin yang sudah beberapa kali disinggung dalam film pertamanya. Apabila dulu kita diberi petunjuk mengenai bagaimana tata cara dunia bawah tanah ini bekerja, dalam film ini secara lebih jelas kita mengenal struktur organisasi, peraturan, sampai larangan yang tak boleh dilanggar.

Film John Wick tak akan lengkap apabila sang Baba Yaga tak mendapatkan lawan yang setimpal bukan? Dalam film sekuel ini ia mendapatkan lawan yang sebanding dalam dua sosok Cassian dan Ares. Kedua assassin berdarah dingin ini diperankan dengan mumpuni oleh Common dan Ruby Rose. Tak hanya duel keduanya dengan Keanu Reeves (yang masih saja melakoni kebanyakan stunt-nya sendiri di film ini) yang menjadi higlight dalam film ini, tetapi tentunya beberapa cast pendukung yang membuat para geek senang. Siapa tak nyengir lebar ketika Laurence Fishburne muncul di layar, membuat sebuah reuni kecil The Matrix setelah hampir 15 tahun berselang.

Film John Wick 2 ditutup dengan janji bahwa sebuah sekuel lain akan digarap. Sesuka-sukanya saya dengan franchise ini, saya berharap bahwa film ketiganya nanti menjadi pamungkasnya. Let’s not milk the franchise sampai merusak nama baiknya sendiri. Let’s let the Baba Yaga have his retirement (with his dog) in peace! Tapi untuk sekarang… John Wick 3 adalah salah satu sekuel yang paling saya nantikan di tahun-tahun mendatang!

Score: A-

Despicable Me 3

Despicable Me 3 adalah seri keempat dari Despicable Me semenjak pertama kali dirilis di tahun 2010 lalu.

Empat film dalam tujuh tahun sepertinya membuat film ini terasa mulai membosankan, betul? Itu yang ada di benak saya sebelum menonton film ini. Maklum saja, Despicable Me 2 terasa tidak seapik film pertamanya sementara Minions masuk dalam salah satu film animasi yang paling saya benci.

Kalau dilihat dalam gambaran lebih besarnya Illumination tak pernah benar-benar berhasil membuat film animasi yang saya anggap timeless selain Despicable Me yang pertama. Ya, saya bukan termasuk penonton yang tergila-gila dengan Sing maupun The Secret Life of Pets yang mereka rilis tahun lalu. Tidak benci sih, tetapi tidak suka juga. Biasa-biasa saja.

Oleh karena itu harap dimaklumi bahwa saya masuk menonton film Despicable Me 3 dengan ekspektasi rendah.

Setelah absen di hampir sepanjang spin-off Minions (mengingat film itu bersifat sebagai prekuel dari Despicable Me), Gru kembali menjadi spotlight dalam film ini. Di sini Gru dan istrinya Lucy sudah menjadi agen Anti-Villain yang bertugas menangkap para penjahat. Seorang penjahat baru bernama Balthazar Bratt memiliki teknologi ulung yang membuat Gru dan Lucy kesusahan membekuknya. Kegagalan demi kegagalan Gru membuat keduanya dipecat dari agen tempat mereka bekerja. Lebih buruknya lagi para Minions merasa engga meladeni tuan yang ompong tak bertaji lagi. Ditinggal oleh para bawahannya dan tidak tahu bagaimana menafkahi keluarganya, Gru kemudian diundang oleh saudara kembar yang terpisah dari lahir dengannya: Dru.

oaoooo

Berbeda dengan Gru, Dru adalah seorang pengusaha yang super sukses dan kaya. Lucy dan anak-anak Gru dengan cepat menyukai Dru yang sifatnya easygoing dan menyenangkan. Di luar dugaan, Dru sebenarnya ingin melanjutkan tradisi ayah keduanya untuk menjadi supervillain dan mengajak Gru kembali. Terjepit masalah kehidupan dan tertantang akan Balthazar yang tak pernah bisa ia tangkap saat ia bermain ‘bersih’ sebagai jagoan, apakah Gru akan kembali menjadi seorang supervillain? Lantas bagaimana kehidupan rumah tangganya dengan Lucy akan terpengaruh?

Apa yang membuat saya merasa Despicable Me 3 lebih baik daripada film keduanya (walaupun masih di bawa film pertamanya) adalah karena film ini memberi karakter-karakter di dalamnya (dan tidak hanya Gru) jalan cerita di dalamya. Film ini bisa dibilang memiliki tiga plot cerita. Yang pertama adalah plot cerita Gru dan Dru bonding sebagai saudara yang telah lama terpisah. Plot cerita kedua adalah Lucy yang mencoba untuk menjadi sosok ibu bagi anak-anak Gru. Dan plot cerita terakhir adalah tingkah laku konyol para Minions setelah meninggalkan Gru. Ketiga jalan cerita ini menyatu kembali secara brilian pada klimaks film, membuat ikatan keluarga yang dimiliki Gru menjadi lebih kuat.

Sekali lagi saya harus salut dengan upaya studio Illumination dalam budgeting film animasi mereka. Dengan biaya 75 Juta USD (setengah dari rata-rata budget film buatan studio animasi lain) mereka masih menghadirkan kualitas animasi dan jalan cerita yang bagus. Tidak heran bahwa film-film mereka terus mereguk untung di box office dan Despicable Me 3 melanjutkan tren tersebut… despicable indeed!

Score: B+