DC’s Legends of Tomorrow Season 2, Episode 7: Invasion

Apabila The Flash dan Arrow masing-masing mempertahankan identitas mereka dalam crossover, tidak demikian halnya dengan Legends of Tomorrow.

Dalam The Flash jelas bahwa episode tersebut mendiskusikan bagaimana Flashpoint mempengaruhi semua Arrowverse. Kemudian Arrow adalah episode yang lebih mengedepankan tribut 100 episode Arrow ketimbang invasi Crossover. Walhasil titik berat penceritaan kisah Invasion akhirnya jatuh di episode terakhir: Legends of Tomorrow. Di sini para anggota Legends memutar balik waktu pergi ke tahun 1950an (sesuai dengan ciri khas mereka: melakukan time travel) untuk mempelajari kelemahan dari para Alien Dominators.

Akan tetapi setelah belakangan mengetahui alasan kedatangan Dominators adalah The Flash yang melakukan Flashpoint maka fokus cerita tak lagi pada para anggota Legends. Pun demikian saya tetap merasa senang melihat bagaimana pertarungan besar-besaran terjadi di sini. Untuk ukuran serial TV pertarungan ini bisa dibilang impresif. Ya, memang tidak semua karakter berkumpul di sini: beberapa anggota Arrow dan Flash absen, entah kenapa (mungkin kesulitan mengatur jadwal syuting?) tetapi untungnya tim inti ketiga serial (ditambah Supergirl) semuanya hadir.

It’s a blast watching them all fight together, tetapi yang lebih seru sebenarnya adalah melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Bukan rahasia bahwa dalam serial TV seperti ini, karakter-karakter dan bukannya spesial efeklah yang menjadi bintang utama. Oleh karena itu melihat Heatwave ngobrol dengan Supergirl dan memanggilnya “Skirts“, melihat Supergirl berjanji akan datang kembali apabila diperlukan oleh teman-temannya, melihat Ollie dan Barry merenungi kehidupan mereka sambil ngobrol di bar. Those little moments are what make the crossover feels truly alive.

99999

Maka selesailah crossover Invasion ini: bagaimana menurutku hasilnya? Walaupun secara keseluruhan sudah cukup baik, menurutku masih ada bagian-bagian yang bisa diperbaiki lagi. Saya suka dengan bagaimana setiap show masih mempertahankan identitas mereka masing-masing di tengah crossover tetapi itu juga membuat ancaman para Dominator terasa seperti bahaya sekunder semata. Saya berharap bahwa ke depannya nanti akan ada crossover yang lebih intim dan lebih kecil. Won’t that be epic by its own right?

BEST. TEAM-UP. EVER!

Advertisements

Arrow Season 5 Episode 7: Invasion

Tidak banyak serial yang bisa mencapai 100 episode. Dan berapa banyak serial yang karenanya bisa menghasilkan tiga spinoff dari kesuksesannya? Itulah yang dilakukan oleh Arrow memasuki season kelimanya.

Saya ingat ketika serial ini pertama kali diluncurkan tahun 2012 dulu saya masih skeptis dengan sosok Stephen Amell. Kenapa harus dia yang menjadi Green Arrow dan bukannya Justin Hartley yang telah memerankan karakter itu selama lima tahun lamanya di Smallville? Akan tetapi Greg Berlanti, Andrew Kreisberg, dan Marc Guggenheim tetap maju dengan keputusan mereka. Walaupun pada awalnya Arrow sempat memiliki problema, dengan cepat serial ini menemukan identitasnya dan menjadi favorit para fans pada paruh akhir season 1 dan disusul dengan season 2 yang hingga hari ini masih saya nilai sebagai salah satu season TV terbaik yang saya tonton.

Dari kesuksesan Arrow itu jugalah lahir serial-serial baru seperti The Flash, DC’s Legends of Tomorrow, sampai Supergirl. Mungkin karena fokus yang terbagi ke banyak serial ini Arrow mengalami penurunan kualitas di season ketiga dan keempatnya. Beruntung bahwa season ini mampu memutar balik kualitas Arrow menjadi apik lagi – walau belum mencapai titik seperti season 2 dulu.

Oleh karena itu episode ketujuh ini, walaupun merupakan bagian dari crossover Invasion, juga memfokuskan diri untuk merayakan 100 episode Arrow. Banyak karakter-karakter penting yang lama kembali lagi di season ini termasuk orang tua dari Oliver sampai Laurel yang sudah tewas. Beberapa lagi melakukan cameo dalam wujud CGI seperti Tommy dan Roy sebab aktor-aktor yang memerankan mereka terbentur jadwal dan tidak bisa tampil, begitu juga Manu Bennett sebagai Deathstroke (sangat disayangkan!).

kkkk

Apabila Arrow biasanya terkenal dengan flashback mereka maka episode ini bisa dibilang merupakan flashsideways (sebuah istilah yang pernah dipopulerkan Lost Season 6 dulu) yang mempertanyakan bagaimana kira-kira kisah dari Oliver dan kawan-kawan apabila Queen’s Gambit tidak pernah tenggelam. Apakah Green Arrow masih akan ada? Apakah Oliver masih akan kenal Felicity, Diggle, dan semua teman-temannya yang lain? Tentu saja semuanya itu hanya terjadi di dalam benak pikiran Oliver dan kawan-kawan yang diculik oleh para Dominator semata.

Di sisi lain teman-teman Oliver di bumi tengah mencari cara bagaimana untuk bisa menyelamatkan kawan-kawan mereka yang tertangkap. Jalan cerita di dunia nyata ini tentu saja tidak semenarik dari tribut untuk Arrow – tetapi di sisi lain juga merupakan testimoni mengenai betapa jauhnya serial ini sudah berevolusi semenjak episode pertamanya dulu.

Terlepas dari semuanya itu, satu titik yang paling menyentuh dalam episode ini terdapat dalam momen di mana Ollie meminta Laurel untuk menikahinya. Sekarang. Sekarang juga. Seakan-akan Ollie tahu bahwa kebahagiaan yang ia miliki di dunia mimpi ini adalah sebuah hal yang fana, tetapi ia masih ingin mencoba memilikinya kembali. It’s a beautiful, beautiful performance by both Stephen Amell and Katie Cassidy. Siapa sangka Laurel – salah satu karakter yang paling tidak disukai dalam Arrow dulu – ternyata setelah pergi selama setahun lamanya berubah menjadi sosok yang dikangeni penonton. I guess it’s true: Absence makes the heart grows fonder.

Overall, walaupun tidak memajukan kisah pertarungan melawan para Dominator episode Arrow ini adalah sebuah tribut yang sangat menyentuh bagi para fans yang telah mengikuti serial ini selama lima tahun lamanya. Thank you Arrow, for giving us the Arrowverse.

The Flash Season 2 Episode 8: Invasion!

Para ras Dominator telah datang menyerang bumi dan para pahlawan bumi – bahkan bumi lain – perlu bersatu untuk menghadapi mereka semua.

Ketika Barry Allen melihat sebuah meteor jatuh ke bumi, ia langsung berusaha menghentikannya – tanpa menyadari bahwa ternyata itu bukan meteor melainkan sebuah roket luar angkasa. Belum habis keterkejutan dari Barry, dari roket tersebut bermunculanlah para Alien yang lolos berlarian ke seantero kota. Menyadari bahwa ia tak bisa menghentikan mereka seorang diri, Barry mengumpulkan para teman-temannya.

Seperti dugaanku sebelumnya, dalam episode ini kita akhirnya menemukan apa pesan rahasia yang disampaikan Barry masa depan kepada duo Firestorm. Rupa-rupanya Barry mengakui bahwa dirinya telah melakukan Flashpoint yang mengubah kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ketika rahasia ini terungkap maka semua hero yang ada benar-benar marah kepada Barry yang mengubah kehidupan mereka tanpa sepengetahuan mereka. Dan karena Ollie membela Barry maka tim kemudian berangkat tanpa Ollie dan Barry.

ppp

Ini adalah hal yang sebenarnya cukup menguntungkan karena Barry dan Ollie kemudian harus menghadapi teman-teman mereka yang dicuci otaknya oleh para Alien Dominator. Menghadapi yang lain mungkin bukan masalah besar bagi Barry dan Ollie tetapi mengingat Kara turut dicuci otaknya – itu menjadi permasalahan besar. Semua orang tahu kalau seorang karakter Super dicuci otaknya, ia berubah menjadi musuh yang sangat berbahaya. Seperti di komik, Superman pun menjadi sosok yang berbahaya ketika ia dicuci otaknya oleh musuh.

Kekuatan utama dari episode ini sebenarnya bukan terletak pada pertarungan antar hero maupun efek dari para Dominator melainkan bagaimana setiap hero (yang datang dari latar yang berbeda-beda) berinteraksi satu sama lain. There’s pure joy to see Supergirl coming to the proper Arrowverse, berinteraksi dengan Ollie dan kawan-kawan, the three of them: Barry, Ollie, dan Kara bisa dibilang adalah trinitas layar kaca DC.

Akhir dari episode ini membawa kita menuju milestone dari Arrow: episode ke 100! 5 season, 100 episode, dan tiga show spinoff sejak Arrow pertama muncul di tahun 2012 lalu. How can the show celebrate such an important milestone?

Supergirl Season 2 Episode 8: Medusa

Setelah Jeremiah Danvers kembali pada episode lalu maka mid-season finale ini kedatangan Eliza Danvers yang berkunjung ke National City untuk acara Thanksgiving. Episode yang bersifat sebagai pembuka crossover Invasion sekaligus mid-season finale dari Supergirl ini tentunya bakalan super sibuk, pertanyaannya adalah apakah Medusa bisa mengatur dan membagi semua spotlight dengan rapi?

Jawabannya sederhana: tidak. Jangan khawatir. Ini bukan berarti Medusa adalah episode yang buruk; jauh dari itu. Justru dengan berfokus kepada satu topik dan itu adalah mid-season finale dari Supergirl maka episode ini menunjukkan kekuatan pada interaksi karakter-karakternya. Hampir semua karakter di episode ini mendapatkan kesempatan mereka untuk bersinar, mulai dari Kara sebagai Supergirl sampai David Harewood yang berperan sebagai dua sosok Hank Henshaw yang berbeda.

Sebenarnya satu karakter yang kurang berperan banyak di sini adalah Jimmy Olsen, tetapi mengingat dia sudah banyak memakan porsi sebagai sang Guardian di dua episode sebelumnya, saya senang-senang saja dia tak banyak berperan di episode ini. Karena itu ada lebih banyak fokus pada hubungan antara Lena Luthor dengan ibunya serta Kara dengan Mon-El. Senang rasanya melihat hubungan Mon-El dan Kara semakin serius, the two of them just got an amazing chemistry together.

Di sisi lain, hubungan Lena dengan ibunya dan Supergirl mengingatkanku pada hubungan Lex dan Clark di awal-awal serial Smallville dulu. Bedanya apabila kita sudah tahu bahwa Lex dan Clark akan berakhir menjadi musuh di penghujung kisah masa muda mereka, kita belum tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan Lena dan Supergirl. Tentunya akan tragis apabila hubungan keduanya berakhir sebagai musuh – mengingat Lena saat ini merupakan sosok yang ingin menyelamatkan dunia dan mengubah nama ‘Luthor’ menjadi simbol harapan.

sgg

Dengan berakhirnya ancaman Cadmus serta Medusa, saya jadi bertanya-tanya mengenai ancaman apa kiranya yang akan dihadapi Supergirl di paruh kedua season ini. Tentu saja masih ada sosok Cyborg Superman yang masih belum tertangkap tetapi sosoknya lebih cocok menjadi semacam musuh yang muncul sesekali ketimbang yang terus menerus muncul. Pun menarik adalah bagaimana orang-orang Krypton selain Supergirl dan Superman tak sepenuhnya ditunjukkan sebagai orang-orang suci – bahkan orang tua Supergirl sekalipun. Ini merupakan pesan moral manis yang diangkat oleh Supergirl baik melalui sosok Kara dan Lena: we are not defined by our ancestors.

Dan penghujung episode ini? Kehadiran Barry dan Cisco ke National City? It’s time for the crossover to begin!

The Hammer of Thor

Judul dari buku kedua Magnus Chase tidak seharusnya mengejutkan bagi mereka yang sudah membaca buku pertamanya. Salah satu plot cerita yang belum diselesaikan di buku tersebut adalah hilangnya Mjolnir, dan benda itulah yang kini akan dicari oleh Magnus, Sam, dan kawan-kawannya.

Jadi apakah ini akan menjadi seperti buku pertama di mana sekali lagi Magnus dan kawan-kawannya berkeliling sembilan dunia untuk mencari keberadaan dari Jack dan mencegah dibebaskannya Fenrir? Ya dan tidak. Tidak sampai setengah buku ini saja Magnus dan kawan-kawannya sudah tahu keberadaan dari Mjolnir. Yang menjadi masalah justru siapa yang tengah memegang Mjolnir – bangsa Giant yang menjadi lawan dari para dewa-dewa Norse. Tanpa Mjolnir Thor dan para Dewa lainnya kesulitan menghadapi invasi bangsa Giant ke Midgar sehingga mereka harus meminta tolong kepada Magnus dan kawan-kawannya mendapatkan palu petir itu kembali.

maggg

Rombongan empat orang Magnus, Sam, Blitzen dan Hearthstone kali ini ketambahan satu orang lain dan ia lagi-lagi adalah seorang anak dari Loki yang bernama Alex Fierro. Alex Fierro adalah satu lagi karakter yang unik sebagaimana halnya Sam sebab dia adalah seorang karakter transgender (atau dalam buku ini disebut gender fluid). Jangan lupa bahwa dalam mitologi Norse karakter Loki adalah karakter yang aseksual. Dia bisa menjadi pria dan dia juga bisa menjadi wanita, dan ciri khas ini dibawa pula oleh Alex Fierro.

Kalau kalian sudah membaca The Sword of Summer maka bersiap-siaplah dengan petualangan Magnus yang kerap ia selingi dengan komentar-komentar sarkasme. Terkadang saya merasa Rick Riordan perlu sedikit mengurangi komentar-komentar itu. Hampir dalam setiap even yang terjadi saya membaca pola pikir Magnus yang melempar dark jokes di dalam otaknya. Walaupun kadang memang lucu, kadang lagi itu membuat flow cerita jadi tersendat-sendat. Entahlah, mungkin hal itu disengaja oleh Riordan untuk membuat mood dalam petualangan ini tetap light.

Satu hal yang membuatku kurang suka di sini adalah bagaimana Rick Riordan sepertinya terlalu menggambarkan kultur minoritas secara flawless. Ambil contoh Sam dan Alex. Sam adalah seorang Muslim yang taat (begitu taatnya sampai-sampai ia tidak mempermasalahkan adat kuno dijodohkan paksa dengan pria pilihan keluarganya) dan Alex adalah seorang transgender. Saya yakin seyakin-yakinnya dalam dunia nyata bahwa Sam akan merasa sangat tidak nyaman dengan Alex… tetapi hal ini tidak pernah diungkit sama sekali dalam cerita. Seakan-akan Rick Riordan ingin menunjukkan bahwa para hero kita sangat bisa menerima perbedaan-perbedaan ini. Tentunya ini sebuah contoh yang baik untuk ditiru di dunia nyata tetapi di sisi lain ini juga membuat saya sedikit garuk-garuk kepala karena terlalu politically correct.

Terlepas dari kekurangan itu, hal yang memantik rasa penasaranku ada pada akhir dari buku ini, Annabeth berjanji akan membawa Magnus bertemu dengan Percy. Ini menarik sebab dalam crossover dunia Percy dengan Kane bersaudara, mereka mengambil setting di buku sendiri, bukan di kisah utama masing-masing hero. Dengan perjumpaan antara Percy dan Magnus, apakah ini berarti Magnus dan para anak-anak dewa Viking lainnya pun akan menyebrang ke dunia Percy sana nantinya?

Supergirl Season 2 Episode 7: The Darkest Place

Setelah episode lalu: Changing, begitu meyakinkan, saya bertanya-tanya apa kiranya yang bisa dilakukan oleh para penulis Supergirl untuk makin meningkatkan kualitas serial ini? Jawabannya: another awesome episode yang menghadirkan dua karakter lama!

Ingatkah kalian dengan sosok Hank Henshaw dan Jeremiah Danvers yang sudah lama tak terdengar kabarnya (semenjak season pertama lalu)? Dalam episode ini keduanya kembali. Yes, Dean Cain is back.

Dalam episode ini pertarungan antara DEO dengan Cadmus mencapai puncaknya. Ketika Cadmus menggunakan Mon-El yang mereka culik di akhir episode lalu untuk menjebak Kara datang ke markas mereka, sang girl of steel tiba hanya untuk menyadari bahwa tempat tersebut hanyalah jebakan di mana Hank Henshaw yang asli menunggu. Rupa-rupanya Hank Henshaw selama ini telah bekerja sama dengan Cadmus dikarenakan keduanya sama-sama membenci alien. Lebih gilanya lagi Henshaw kini telah dibedah menjadi semacam Terminator yang cukup kuat menghadapi pukulan maupun Heat Vision Kara. Bahkan bisa dibilang Kara dapat ditaklukkan dengan cepat olehnya! Para penggemar komik mungkin sudah bisa menebak bahwa Hank Henshaw di sini tidak lain tidak bukan sudah menjadi Cyborg Superman.

yeaaa

Oke, di sini memang merupakan sedikit masalah dengan power set level para karakternya. Saya selalu merasa bahwa baik Superman maupun Supergirl di dalam serial ini tidak sekuat padanan mereka di layar lebar. Pun begitu saya tak ingin terlalu banyak berkeluh karena kalau Supergirl terlalu kuat di sini nantinya tidak akan ada lawan yang seimbang baginya.

Lilian Luthor dalam episode ini memperkenalkan identitasnya sebagai kepala dari Cadmus dan untuk pertama kalinya menunjukkan kemampuannya sebagai villain yang layak ditakuti oleh Kara. Tanpa banyak bicara ia mampu ‘memaksa’ Kara untuk menghabiskan energinya dan menjadi wanita biasa, membuat Kara benar-benar takluk, kalah, dan tidak berdaya. A Supergirl being totally helpless! Beruntung sebelum keadaan menjadi lebih buruk bagi Kara dan Mon-El mereka diselamatkan oleh Jeremiah Danvers yang masih hidup. It’s always great to see Dean Cain back in TV… dan omong-omong Helen Slater pun dijadwalkan kembali di episode 8 nanti.

Sekali lagi titik lemah di episode ini datang pada… Guardian. Di tengah begitu banyaknya hal-hal penting yang terjadi di episode ini lagi-lagi tingkah laku ajaib James dan Winn yang harus membersihkan nama Guardian dari pencemaran nama baik membuat episode ini terlihat tidak berimbang. Saya menghargai koreografi pertarungan Guardian di episode ini, sungguh. Melihat ia menggunakan tameng membuat saya sedikit banyak teringat Captain America – versi KW. Dengan budget yang terbatas saya harus akui koreografi pertarungan Cap… eh Guardian dengan lawannya tidak buruk. Mungkinkah mereka meminjam kru dari Arrow untuk membuat koreografinya? Toh pada akhirnya sub-plot ini tetap saja terasa out of place dibandingkan plot cerita utama Supergirl.

Memasuki episode crossover, ada banyak plot selain Guardian yang menarik untuk digali lebih lanjut. Selain plot mengenai Cadmus dengan ancaman Medusa, Martian Manhunter pun harus mencari tahu bagaimana ia bisa menghentikan perubahan dirinya menjadi seorang White Martian. Dan apakah Mon-el mulai jatuh cinta dengan Kara? Ehem, ehem.

Supergirl Season 2 Episode 6: Changing

Setelah saya selesai menonton episode ini, saya sontak mengatakan. “Wow, now this is how to make a great superhero episode!“. Ini merupakan salah satu episode terbaik dari Supergirl, dengan satu pengecualian. So let’s dive in the review.

Pertama: villain dari episode ini adalah Parasite, salah seorang musuh klasik Superman yang untungnya diijinkan DC dipakai dalam serial Supergirl ini. Kehadiran dari Parasite tidak mengecewakan. Tak hanya ia memiliki efek CG yang lumayan bagus, perubahan dirinya dari manusia menjadi monster dilakukan dengan sangat bagus dalam episode ini. Supergirl jarang memiliki musuh yang kompeten dan Parasite langsung hadir menjadi salah satu musuh yang memorable… karena ia sanggup menghajar dan mengalahkan Supergirl dan Martian Manhunter dalam duel 2 lawan 1! Pretty epic, right?

Di samping mengatasi Parasite ini juga menjadi episode di mana Alex mengakui jati dirinya (sebagai seorang gay) kepada Kara. Dan hal ini ditangani dengan sangat baik di sini. Kara adalah gadis yang luar biasa dan bahkan belum mendengar jawabannya pun saya tahu bahwa Kara akan bisa menerima Alex, tak peduli apa orientasi seksual dari sang kakak. Akan tetapi yang membuat sekuens ini menyentuh adalah bagaimana keduanya mengadakan pembicaraan yang cukup mendalam, hati ke hati, mengenai penerimaan ini. Kara bisa menerima kakaknya, itu betul, tapi bukan berarti penerimaan itu datang tanpa keterkejutan. Great performance from both Melissa Benoist dan Chyler Leigh.

Bicara soal Chyler Leigh, highlight dalam episode ini datang di penghujung episode di mana Alex ditolak oleh Maggie dan pulang. Momen di mana ia menangis sambil mengatakan ia merasa sangat malu, sembari dipeluk Kara? Itu adalah momen yang sangat – sangat relatable, tak peduli apa orientasi seksualmu, ditolak saat menyatakan cinta adalah sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan. Chyler Leigh broke my heart with her performance here.

Satu karakter lagi yang mencuri perhatianku di sini tentu saja adalah sosok Mon-El. Penampilan Chris Wood di sini sangat endearing, ditambah dengan chemistrynya dengan Melissa Benoist dibangun dengan pelan dan pasti, membuat kita peduli akan keduanya – tidak seperti hubungan romantis James dan Kara di season satu lalu yang sama sekali tidak memiliki chemistry.

Bicara soal James, satu-satunya titik lemah di episode ini adalah dirinya yang berubah menjadi Guardian. Saya tidak pernah suka dengan motivasi James menjadi Guardian karena terasa terlalu lemah dan mendadak. Saya sebenarnya berharap evolusi James menjadi Guardian dilakukan dengan lebih pelan dan ia mengalami banyak kesulitan terlebih dahulu – bukannya tahu-tahu bisa berhadapan satu lawan satu dengan Parasite dan mengimbanginya. Uhhh, what? Saya rasa Curtis dari Arrow pasti iri dengan kemampuan James Olsen yang mendadak jadi jagoan.

55555

Pada akhirnya episode ini adalah salah satu episode terbaik dalam Supergirl karena sekuens aksi yang seru, villain yang di atas standar, dan hubungan persaudaraan Kara dan Alex yang selalu menyentuh. Season 2 is really a great improvement over the previous one!