The Last: Naruto the Movie

Bagi penggemar manga yang lahir di dekade 80an dan 90an ke atas tentunya akan mengenal karakter Naruto. Tidak bisa disangkal bahwa serial manga yang dikarang oleh Masashi Kishimoto ini merupakan salah satu manga shounen yang paling populer di dunia. Kendati di Jepang sendiri popularitas dari Naruto sebenarnya kalah dengan beberapa titel lain (walaupun juga sangat populer), secara worldwide mungkin popularitas dari Naruto hanya nomer dua di belakang Dragon Ball dari Akira Toriyama yang legendaris itu. Itulah kenapa ketika Kishimoto memutuskan untuk mengakhiri manga Naruto di penghujung tahun 2014 lalu popularitas sang bocah ninja yang berambisi menjadi Hokage tersebut kembali melejit; mungkin karena para penggemar lama maupun baru ingin tahu akhir dari sepak terjangnya.

1

Sebagaimana yang semua sudah tahu setelah membaca Chapter terakhir dari manga Naruto, semua bisa dibilang ditutup dengan ending yang rapi dan manis. Sakura menikah dengan Sasuke dan Naruto menikah dengan Hinata… tetapi sebentar. Mungkin para pembaca bertanya-tanya bagaimana kok Naruto yang tadinya suka dengan Sakura sekarang malah menikah dengan Hinata? Bukankah selama ini Hinata selalu memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan kepada Naruto? Sepertinya Kishimoto mengerti kegalauan hati para fans (terutama para shippers NaruSaku yang tidak rela keduanya tidak jadian) sehingga digaraplah film The Last: Naruto the Movie yang merupakan jembatan antara chapter 699 dan chapter 700 yang terpisah time jump beberapa tahun lamanya.

Setelah menyelamatkan dunia Naruto menjadi idola di dunia ninja (tak hanya di desa Konoha saja) sehingga banyak gadis yang menaksirnya. Ini membuat hati Hinata masgyul karena berarti saingannya dalam memperebutkan cinta Naruto juga bertambah banyak. Kegalauan hati dari Hinata ini bisa ditangkap oleh Sakura yang kemudian memberikan dorongan kepada gadis pemalu itu untuk terus mendekati Naruto. Sialnya belum sempat hubungan kedua insan ini bersemi, sebuah tragedi besar kembali menghantam dunia ninja yang baru saja damai. Toneri Otsutsuki, seorang ninja yang tinggal di bulan (yes, bulan), menggunakan satelit pengeliling bumi itu sebagai ‘asteroid’ untuk menghantam dan menghancurkan bumi. Dan untuk melaksanakan niatnya itu dia memerlukan mata Byakugan yang dimiliki oleh klan Hyuga, termasuk tentu saja Hinata.

3

Setelah menggagalkan ambisi jahat dari Toneri untuk sementara Kakashi (sekarang telah menjadi Hokage) mengutus Naruto, Shikamaru, Sakura, Sai, dan Hinata untuk menyelamatkan adik Hinata, Hanabi, yang diculik oleh Toneri. Dalam perjalanan itu Naruto mulai menyadari perasaan terpendam Hinata selama ini kepadanya. Dan bagaimanakah perasaan Naruto sendiri kemudian tumbuh dari teman menjadi cinta kepada Hinata?

Harus diakui kalau film The Last ini tak sepenuhnya memuaskan bagiku. Saya sebenarnya mengacungkan jempol dengan keputusan tim sutradara dan penulis naskah yang memusatkan cerita kepada Naruto dan Hinata. Sudah sepantasnya begitu sebab keduanya adalah karakter sentral dalam cerita dan kisah mereka sudah kurang tergali dalam manga utamanya. Sayangnya bahkan dalam kurun waktu hampir dua jam film ini, saya masih saja gagal diyakinkan bahwa sudah tumbuh perasaan Naruto kepada Hinata. Apakah cinta memang bisa tumbuh sedemikian cepatnya? Mungkin ini dikarenakan timeframe dalam film ini pun sangat terbatas (hanya beberapa hari dalam satu misi saja). Oleh karena itu lompatan / perubahan perasaan Naruto begitu menyadari Hinata menyukai dia lantas berubah langsung menyukai Hinata juga terasa… terlalu tergesa-gesa.

2

Walaupun tak sepenuhnya berhasil dalam aspek cerita paling tidak saya harus mengacungkan jempol untuk kualitas animasi film ini ditambah dengan adegan-adegan aksinya yang mumpuni. Saya terkesan dengan banyaknya pertempuran dalam film ini dengan koreografi yang kreatif dan berbeda-beda. Keberhasilan menghadirkan musuh yang seimbang bagi Naruto (yang praktis merupakan Shinobi terkuat di muka bumi saat itu) layak diacungi jempol. Memang film ini jadi sedikit terlalu serius dan sedikit kehilangan humornya tetapi bukankah Naruto memang sudah begitu ketika memasuki seperempat kisah terakhirnya? Penuh keseriusan dan tak lagi banyak dihiasi humor?

Kesimpulannya, apabila kalian memang penggemar manga Naruto yang ingin melengkapi momen-momen penting yang tak sempat terangkum dalam komik, film The Last rasanya pantang untuk diwajibkan. Film ini memang didedikasikan untuk para penggemar berat Naruto, tidak lebih dan tidak kurang.

Score: B-

Black Mass

Beberapa tahun terakhir bintang kecemerlangan dari Johnny Depp seakan pudar. Dimulai dari film Dark Shadows, The Lone Ranger, Trancendence, sampai Mortdecai film-film Depp beraroma flop demi flop. Ini sangat kontras dengan karirnya sepanjang tahun 2000an yang bertabur dengan hits. Depp sendiri sepertinya sadar bahwa penonton mulai bosan dengan dirinya yang tampil dalam peran-peran nyentrik sehingga ia akhirnya setuju untuk membintangi film Black Mass. Film gangster yang disutradarai oleh Scott Cooper ini tak hanya dibintangi oleh Depp semata tetapi juga oleh banyak aktor-artis terkenal lainnya, sebut saja Joel Edgerton, Benedict Cumberbatch, sampai Dakota Johnson.

Salah satu gangster yang paling terkenal di kota Boston, Amerika adalah Whitey Bulger. Apabila kebanyakan gangster biasa sepak terjangnya dihentikan oleh polisi bila mulai menjadi-jadi maka tidak demikian dengan Whitey. Sebaliknya ia justru dilindungi oleh FBI dan bekerja di bawah mereka sebagai informannya. Kerjasama yang tidak lazim ini terjadi di tahun 1975 ketika kuasa Whitey di daerah Boston selatan mulai digerogoti oleh keluarga mafia Angiulo. FBI yang khawatir bahwa kerajaan mafia Angiulo akan terus membesar meminta bantuan dari Whitey untuk menghentikannya. Hal ini menjadi mudah karena agen FBI John Connolly adalah teman masa kecil dari Whitey Bulger. Akan tetapi semakin dalam hubungan dari FBI dan Whitey Bulger, semakin sadarlah kedua belah pihak tentang siapa yang mempergunakan siapa.

BM 1

Drama gangster kriminal ini intens karena satu alasan: Johnny Depp. Ini sebenarnya bukan kali pertama Depp memerankan seorang gangster terkenal. Ingat dengan Public Enemies dulu? Dalam film tersebut Depp berperan sebagai John Dillinger, gangster paling beringas kota Chicago yang membuat FBI jaman dulu ketar-ketir menghadapinya. Whitey dan Dillinger, bagaimanapun, adalah dua sosok yang berbeda. Sementara Dillinger adalah gangster flamboyan yang sedikit ganteng (walau tidak seganteng Johnny Depp), Whitey Bulger adalah anti-thesisnya. Rambutnya sudah menipis dan wajahnya jauh dari kesan tampan. Akan tetapi ketidaksempurnaan fisik ini tergantikan dengan kepribadiannya yang tidak stabil. Whitey adalah seorang gangster yang bengis, keji, dan tidak akan tanggung-tanggung menggunakan cara apapun untuk mengokohkan kuasanya di dunia kriminal Boston. Hal inilah yang membuat semua orang di sekeliling Whitey mulai dari sang adik, bawahan, sampai kontaknya di FBI merasa gentar akannya.

Salut sekali dengan penampilan Johnny Depp di film ini. Kendati sudah tiga kali aktor ini dinominasikan dalam Best Actor di Academy Awards, ini adalah untuk kali pertama saya benar-benar terpukau dengan akting Depp. Jangan harapkan aksi dan adegan banyolan ala Jack Sparrow (peran paling ikoniknya) di sini. Sebagai Whitey Bulger Depp bertransformasi penuh menjadi monster dalam wujud manusia yang pelan tapi pasti kehilangan sosok manusiawinya. Masalah-masalah dalam kehidupan Bulger mengikis apa yang tadinya merupakan sosok gangster yang keras menjadi sosok gangster yang… psikopat. Scott Cooper secara cerdas menggarap narasi film ini memutus satu demi satu ikatan Whitey dengan sisi manusiawinya. Menjelang pengakhiran film, Whitey yang kita tonton di awal film dengan saat itu nyaris menjadi dua sosok Whitey yang sangat berbeda. Sekali lagi salut kepada Depp yang memerankannya secara meyakinkan.

BM Poster

Apabila ada kelemahan dari performa total Depp di film ini, itu pastilah karena para aktor-aktor pendamping film ini jadi terpinggirkan. Praktis di luar Joel Edgerton sebagai John Connolly, aktor-artis lain tak banyak mendapatkan kesempatan unjuk gigi di sini. Saya juga cukup terkejut Benedict Cumberbatch yang sedang naik daun tak diberi jatah tampil lebih banyak mengingat perannya di film ini cukup vital. Yah, mungkin seperti franchise Mission: Impossible adalah jatah bagi Tom Cruise unjuk gigi, begitu pula film ini menjadi ajang comeback bagi Johnny Depp setelah lama terpuruk. Senang sekali melihatmu tampil di luar comfort zone-mu, Mr Depp!

Score: B+

The Maze Runner: The Scorch Trials

Kesuksesan dari adaptasi film Twilight dan The Hunger Games membuat para studio Hollywood berbondong-bondong membeli hak film buku-buku remaja Amerika. Sayangnya mayoritas dari adaptasi tersebut gagal mengulang sukses yang sama. Pada akhirnya setelah bertahun-tahun dan segudang adaptasi gagal praktis hanya tersisa dua serial buku saja yang mampu mereplikasi suksesnya di layar lebar. Yang pertama adalah Divergent. Keberhasilan film tersebut sesungguhnya tak mengherankan mengingat buku Divergent sendiri tak kalah populer (bahkan lebih laris) dari The Hunger Games. Tambahan lagi film tersebut dibintangi oleh Shailene Woodley yang hampir sama dengan Jennifer Lawrence merupakan artis muda populer Hollywood saat ini. Kasus kesuksesan lebih menarik sebenarnya adalah The Maze Runner. Di mana buku-buku Young Adult Amerika biasanya memiliki karakter utama wanita mulai dari Bella, Tris, Katniss, maka The Maze Runner didominasi dengan karakter pria. Saya jadi penasaran apakah mungkin ini menjadi formula sukses baginya?

Maze-Runner-The-Scorch-Trials-Poster

Kesuksesan dari The Maze Runner tahun lalu membuat 20th Century Fox langsung memberi lampu hijau untuk sekuelnya. Satu tahun tepat setelah The Maze Runner hadir di pasar, sekuelnya The Maze Runner: The Scorch Trials dirilis. Bisakah sekuelnya ini mempertahankan ciri khas The Maze Runner yang beradrenalin tinggi dan membuat jantung berdebar?

Setelah Thomas, Newt, Minho, dan para Gladers lainnya berhasil meloloskan diri dari The Glade, tidak berarti mimpi buruk mereka sudah berakhir. Faktanya, mimpi buruk mereka mungkin sudah berakhir tetapi realita yang lebih mengerikan sudah menanti! Para anak-anak itu menemukan bahwa dunia di luar labirin mereka ternyata sudah nyaris punah. Manusia tinggal sedikit dan mayoritas dari mereka sudah terinfeksi penyakit bernama The Flare, mengubah mereka menjadi monster buas bernama The Crank. Gesit, buas, para monster ini tak segan-segan menghabisi para manusia yang masih sehat. Para anggota Gladers ini akhirnya dibawa ke sebuah pusat riset di mana mereka akan selamat dari tangan jahat W.C.K.D. Akan tetapi Thomas mulai menyadari adanya kejanggalan dalam organisasi rahasia yang menyelamatkan mereka ini. Siapa sebenarnya penyelamat misterius mereka dan apa yang mereka inginkan dari para Gladers?

Scorch 2

The Maze Runner: The Scorch Trials melakukan hal yang tepat dalam sekuel ini; meningkatkan pertaruhan yang ada. Salah satu kelemahan dari film pertamanya adalah fakta bahwa apa yang dialami oleh Thomas dan kawan-kawan adalah sesuatu yang tidak sungguh-sungguh. Sebuah eksperimen. Seseorang atau sebuah kelompok sedang mengamati mereka dari luar sana dan mereka bagaikan sebuah tikus percobaan dalam laboratorium. Dan itu adalah permasalahan terbesarnya. Seapik apapun sang sutradara meyakinkan penonton bahwa bahaya itu nyata, faktanya adalah bahaya itu adalah buatan manusia. Ini berbeda dalam sekuelnya. Dalam The Scorch Trials Thomas dan kawan-kawan menyadari bahwa apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama ini untuk bertahan hidup di The Glade mungkin tidak cukup untuk bertahan hidup di dunia nyata. Ditambah dengan fakta di mana para Gladers tak pernah tahu pihak mana yang bisa mereka percaya menjadikan ketegangan dalam film ini terus terpacu dan tensinya terjaga.

Seperti prekuelnya film ini diisi dengan aktor-aktor muda jebolan dari serial TV. Dylan O’Brien sebagai Thomas menunjukkan kematangan aktingnya setelah selama ini lebih dikenal dalam serial Teen Wolf. O’Brien di sini mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin tidak resmi dari grup Gladers dan tampil meyakinkan baik di adegan-adegan fisik maupun drama yang menguras akting emosionalnya. Tidak hanya dia hampir semua aktor muda menunjukkan kemajuan dalam akting mereka. Di Indonesia dan Asia sendiri aktor Korea-Amerika Lee Ki Hong turut naik daun. Senang rasanya melihat seorang aktor berdarah Asia muda mendapatkan salah satu peran sentral dalam film. Harus diakui hingga hari ini masih sedikit sekali film-film blockbuster yang menginkorporasikan keturunan Asia di dalamnya. Omong-omong jangan tertipu dengan tampang boyish dari Lee Ki Hong, begitu-begitu dia sudah berusia 28 tahun dan sudah beristri!

Singkat kata kalau kalian enjoy dengan film The Maze Runner pertama maka sekuelnya ini takkan mengecewakanmu. Walau terkadang sedikit panjang dan terasa agak bertele-tele di beberapa adegan The Scorch Trials sukses mengekspansi mitologi dunia yang lebih luas sekaligus memberi penonton misteri-misteri baru yang asyik didiskusikan dan diperdebatkan sampai kedatangan sekuel terakhirnya, The Death Cure, pada awal tahun 2017 nanti.

Score: B+

The Transporter Refueled

Sulit dipercaya bahwa sudah tujuh tahun lebih franchise The Transporter mati suri di layar lebar. Franchise yang diciptakan oleh Luc Besson ini memang tidak pernah sukses besar di tanah Amerika tetapi ia cukup populer di seantero dunia dan melejitkan nama Jason Statham sebagai bintang film aksi modern era millenium dulu. Akan tetapi semakin terkenal Jason Statham, semakin sibuk jugalah dia dengan proyek-proyek film lainnya, baik itu proyek solonya maupun proyek film yang digarap bersama rekan-rekannya. Keinginan melanjutkan The Transporter ke layar lebar pun terus tertunda dan akhirnya malah terhentikan karena tidak tercapai kata sepakat mengenai gaji yang diminta oleh Statham untuk kembali berperan sebagai Frank Martin.

Setelah negosiasi ini mengalami jalan buntu akhirnya pihak produser memutuskan untuk meneruskan franchise ini dalam bentuk lain. Di tahun 2012 The Transporter digarap versi serial TV yang diperankan oleh aktor Chris Vance. Serial ini masih berjalan sampai sekarang dan memiliki koneksi lebih dekat dengan versi trilogi Statham sebab memiliki karakter Inspektur Tarconi yang adalah rekanan Frank di kepolisian. Akan tetapi Chris Vance rupanya tidak kemudian didapuk dalam The Transporter Refueled, hadir sebagai Frank Martin kali ini adalah aktor muda Ed Skrein. Apakah film ini memiliki kualitas lebih baik dibandingkan trilogi pertamanya?

The Transporter Refueled

Bagi yang tidak mengenal siapa itu The Transporter mungkin lebih baik menonton film-film sebelumnya dulu karena para penulis naskah The Transporter Refueled ini menganggap penonton sudah tahu apa pekerjaan dari Frank Martin. Peraturan Frank Martin dalam melakukan transportasi barang masih disinggung sejenak di sini tetapi tanpa buang banyak-banyak waktu sutradara Camille Delamarre langsung menggeber adegan-adegan aksi. Seperti biasa Frank masih didampingi oleh mobil Audi kesayangannya dan melakukan stunt-stunt gila dengan mobilnya. Tentu saja dengan budget yang jauh lebih terbatas dibandingkan franchise raksasa ala Fast & Furious, jangan harapkan The Transporter Refueled memiliki setpiece aksi sesinting film balap mobil lainnya itu. Toh dengan budget yang seadanya The Transporter Refueled cukup memuaskan dahaga penonton akan aksi kebut-kebutan mobil yang otentik.

Refueled 1

Apabila adegan kejar-kejaran mobil bisa dilakukan oleh tim stunt yang handal masalah terbesar dalam The Transporter Refueled adalah apakah Ed Skrein bisa meniru karisma dan kemampuan bela diri Jason Statham sebagai Frank? Jawabannya adalah antara ya dan tidak. Ed Skrein tidak berusaha meniru Statham yang terkadang tampil terlalu kaku dalam tiap perannya. Di film ini cukup menyenangkan melihat sosok Frank yang lebih humanis (baca: tidak tampil terlalu tangguh di segala situasi dan bermimik datar ala robot). Dimasukkannya karakter Frank Sr. sebagai ayah Frank menginjeksi dinamika keluarga yang membuat film ini tidak melulu berpusat soal aksi dan pekerjaan Frank saja. Di lain sisi kemampuan Ed Skrein dalam bela diri harus diakui belum sebaik Jason Statham. Tidak jelek sebenarnya dan Skrein sudah berusaha tampil total (perhatikan adegan bertarung di lorong locker yang sempit) tetapi ia masih harus belajar banyak sebelum bisa menyamai kemampuan bela diri sang pendahulu.

Di samping Ed Skrein The Transporter Refueled mendapatkan karakter-karakter pendukung yang cukup baik untuk membentuk franchise ini di masa depan. Seperti yang saya katakan di atas inklusi Frank Sr sebagai ayah Frank Martin membuat film ini menjadi lebih enjoyable karena dinamika ayah-anaknya. Karakter Loan Chabanol sebagai Anna si WTS terasa seperti mengulang-ulang cerita dari The Transporter yang pertama tetapi Chabanol menginjeksikan kepintaran dan kecerdasan sehingga ia tak pernah terlihat sebagai seorang damsel-in-distress semata. Saya suka dengannya dan berharap kalau para produser bisa membawanya kembali dalam sekuel-sekuel film ini sebagai partner-in-crime dari ayah-anak Frank.

Mudah untuk mendiskreditkan film The Transporter Refueled sebagai parade iklan bagi mobil Audi sepeninggal Jason Statham, tetapi cobalah beri film ini kesempatan dengan pandangan terbuka. Bagi saya pribadi The Transporter Refueled adalah entri yang jauh lebih baik ketimbang sekuel-sekuel yang sebelumnya!

Score: B+

No Escape

No Escape adalah film survival thriller dari Owen Wilson. Sanggupkah menggedor jantung penonton?

Memulai review ini saya harus mengakui kalau film No Escape tadinya tidak masuk dalam radar saya. Di tengah begitu banyaknya film summer tahun 2015 yang megah dan hingar bingar, No Escape yang dibuat dan didistribusikan oleh studio ‘kecil’ lolos dari pengamatanku. Tidak sepenuhnya salahku sih, perhatian siapa yang takkan tersedot film-film besar seperti The Avengers: Age of Ultron atau Jurassic World coba? Lantas terlepas dari besar tidaknya hype yang diterima oleh sebuah film, bagaimana kualitas dari film No Escape sendiri?

Film ini disutradarai oleh John Erick Dowdle yang sebelum ini lebih banyak menyutradarai film-film bergenre horor seperti Quarantine, Devil dan As Above, So Below. Menjadi pertanyaan besar mengenai apakah Dowdle bisa melakukan transisi ke film survival thriller semacam ini? No Escape adalah film mengenai keluarga ekspatriat Jack Dwyer yang melakukan relokasi ke sebuah negara di Asia Tenggara (nama negara ini sengaja tidak dijelaskan secara langsung tetapi ada indikasi yang menunjukkan film ini berlokasi di Laos atau Myanmar). Kedatangan Jack Dwyer bersama istri dan kedua putrinya benar-benar tidak tepat sebab negara ini tengah diguncang dengan kudeta militer berdarah. Tidak lama setelah kudeta militer terjadi, para militan yang menguasai kota memburu para ekspatriat asing tanpa belas kasihan. Tentu saja ini termasuk keluarga Jack. Dengan dilumpuhkannya polisi beserta aparat keamanan lainnya, Jack dan keluarganya harus putar otak mencari jalan untuk meloloskan diri dari negara ini hidup-hidup.

No Escape 1

Rupanya latar belakang Dowdle sebagai sutradara film horor justru menjadi berkah baginya ketika membuat film ini. Alasannya: karena Dowdle menjadi sangat fasih mengenai bagaimana caranya menggarap adegan-adegan yang memacu adrenalin. Banyak sekali adegan memorable dan menegangkan di film ini yang mampu memaksa penonton menahan nafas ketika menontonnya. Mungkin jalan cerita yang ada klise dan sedikit berlebihan tetapi tidak bisa dipungkiri hasilnya efektif memberi impact maksimal kepada para penonton. Ini semua tentu tidak berkat kefasihan Dowdle menggarap adegan-adegan menegangkan saja tetapi juga chemistry yang bagus antara anggota keluarga Jack.

No_Escape_(2015_film)_poster

Owen Wilson, Lake Bell, Sterling Jerins, dan Claire Geare semuanya tampil sangat baik untuk membuat penonton perduli kepada keselamatan dari keluarga kecil. Owen Wilson selama ini lebih banyak dikenal dengan aktingnya di film-film komedi tetapi di sini ia menunjukkan kalau ia memiliki kemampuan akting drama dan serius. Peran Wilson pun didukung oleh Bell, Jerins, dan Geare. Sungguh menyegarkan melihat ada aktor-aktor anak yang tidak tampil annoying dan menjengkelkan setelah melihat parade akting anak yang bikin penonton jengkel ketimbang simpatik di film atau serial Hollywood lainnya (hello The Walking Dead, I’m looking at you!). Di luar dugaan malahan Pierce Brosnan yang dalam poster tampak sebagai hero lain film ini tidak memiliki porsi tampil terlalu banyak. Toh Brosnan tidak tampil jelek. Dalam kapasitasnya sebagai sosok yang memiliki masa lalu misterius sekaligus menyedihkan, ada aura pahlawan aksi dalam dirinya setiap ia nongol di layar. Agak disayangkan memang bahwa aura ini terasa ‘nabrak’ dengan elemen film lainnya yang terasa lebih realis dan brutal.

Khususnya bagi saya sendiri (dan mungkin bagi banyak penonton keturunan Tionghoa Indonesia lainnya), No Escape memiliki nilai lebih dari sekedar film yang tegang saja. Ia juga merupakan sebuah film yang mengingatkan kami kepada tragedi kerusuhan berdarah Reformasi 1998 dulu. Saya percaya bahwa ada banyak adegan-adegan di film tersebut yang mengingatkan para warga keturunan Tionghoa mengenai apa yang mereka alami dulu di tahun 1998. Memang apa yang terjadi dulu tidak sampai sebrutal film No Escape tetapi ada gidik nostalgia ngeri di mana bulu kuduk saya berdiri ketika menontonnya.

Singkat kata, No Escape adalah film survival thriller yang saya remehkan tapi tampil jauh-jauh melebihi ekspektasiku. Bagi kalian yang menginginkan film yang memacu jantung sepanjang film dengan lakon yang membuat penonton bisa simpatik dengan nasib mereka, ini adalah tontonan yang tak boleh dilewatkan. One of the best movie this year!

Score: A