Jessica Jones – The Complete Season One

Ketika Marvel mengumumkan bahwa mereka akan membuat empat serial di Netflix yang berfokus pada pahlawan-pahlawan mereka pada tingkat jalan, saya sangat tertarik akan ide dan proposal itu. Sekilas cara Marvel membingkisnya sangat serupa dengan film Marvel di dunia layar lebar. Empat superhero mereka: Daredevil, Jessica Jones, Luke Cage, dan Iron Fist akan memiliki serial mereka sendiri-sendiri sebelum keempatnya kemudian bergabung dalam serial bernama The Defenders. Ini bisa menjadi The Avengers untuk layar kaca, bukankah begitu?

Akan tetapi ketika serial pertama mereka, Daredevil, dirilis, jelas bahwa Marvel memiliki strategi berbeda. Tone cerita dalam serial tersebut sangat dark, jauh lebih dark dibandingkan film-film Marvel yang biasanya dirilis selama ini. Cukup mengejutkan karena film-film Marvel yang sukses seperti Guardians of the Galaxy atau trilogi Iron Man biasa mengambil pendekatan yang lebih ringan dan fun dalam penyampaian ceritanya. Kesuksesan luar biasa dari Daredevil tak lantas membuat semua orang percaya akan kualitas dari serial TV Marvel. Tidak mengherankan kalau Daredevil sukses sebab bukankah dari keempat superhero yang dijadikan serial memang dia yang paling populer. Kalau dianalogikan dalam dunia layar lebar; Daredevil adalah Iron Man dari keempatnya.

JJ1
MARVEL’S JESSICA JONES

Tantangan besar bagi Marvel datang dalam bentuk Jessica Jones. Kendati selama ini genre superhero booming tetapi coba simak baik-baik, adakah film superhero yang digawangi oleh wanita yang sukses? Film-film seperti Supergirl, Elektra dan Catwoman membuktikan bahwa film superhero boleh jadi diterima massa tetapi mengangkat mereka dalam film satuan masih menjadi tantangan. Bahkan karakter Black Widow milik Marvel yang sudah sangat populer pun hingga hari ini belum diberi lampu hijau untuk proyek solo-nya. Lantas kenapa Marvel berani memberi sosok Jessica Jones yang tidak banyak dikenal oleh orang di luar penggemar berat komik?

Jessica Jones adalah seorang Private Investigator yang melakukan pekerjaannya secara slengean. Dia alkoholik dan suka bersumpah serapah, tetapi ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Itu yang membuat dia tetap eksis terlepas dari etika kerjanya yang kurang baik. Toh, terlepas dari eksterior dirinya yang keras, Jessica sebenarnya sangat peduli dengan kliennya dan dengan orang-orang terkasih yang di sekelilingnya seperti tetangganya yang suka ngobat Malcolm dan saudari angkatnya Trish.

JJ3

Dalam menghadapi kasus terakhirnya, Jessica menghadapi musuh dari masa lalunya: seorang psikopat bernama Kilgrave. Kilgrave adalah musuh yang mengerikan bagi Jessica (yang memiliki kemampuan kekuatan fisik di atas manusia biasa) karena ia sanggup mengendalikan orang hanya melalui kata-katanya. Akan tetapi bukankah dunia Marvel juga memiliki musuh yang bisa melakukan mind control seperti Loki (melalui Mind Gem) dan, on a further extend, Scarlet Witch? Apa yang menjadikan Kilgrave jauh lebih menakutkan ketimbang keduanya? Fakta di mana ia begitu egois dan tak peduli dengan siapapun. Kengerian terbesar Kilgrave adalah emosinya yang begitu tidak stabil dan ketidakpeduliannya terhadap kemanusiaan. Ada sebuah adegan di mana Kilgrave merasakan kebingungan bagaimana orang bisa hidup tanpa mengikuti perintah orang lain – itu merupakan bukti dari betapa psikopatnya pandangan Kilgrave terhadap dunia. Tentu saja itu semua sangat terbantu dengan penampilan David Tennant yang sangat baik memberikan lapisan demi lapisan dalam penampilan Kilgrave sehingga ia tak seperti seorang psikopat biasa semata.

Di sisi lain hanya berbicara mengenai Kilgrave sebagai bintang utama dalam serial ini pun tak tepat. Ketika Marvel mengcasting Krysten Ritter sebagai Jessica Jones saya sebenarnya kurang cocok dengannya. Bukan apa-apa, secara fisik Ritter sangatlah berbeda dengan Jessica Jones versi komik. Saya pun tak seberapa kenal dengan serial maupun film lain yang ia bintangi. Baru setelah menonton Jessica Jones saya menyadari Ritter adalah bintang yang pas untuknya. Ia sedikit banyak mengingatkanku dengan Kat Dennings (dari 2 Broke Girls dan juga bagian dunia Marvel di dwilogi Thor) versi kurus sekaligus lebih serius.

JJ4

Dari banyak karakter pendukung di film ini saya merasa bahwa karakter pendukung terbaik jatuh pada Rachael Taylor sebagai sahabat Jessica: Trish Walker. Hubungan antara dua bersaudara ini begitu kompleks tetapi dekat dan hangat sehingga selalu menyenangkan untuk ditonton. Tidakkah cukup lucu bahwa dua serial superhero wanita (Supergirl dan Jessica Jones) saat ini memiliki hubungan sisterhood yang kuat antara dua wanita yang tak terikat hubungan darah? Bagi penggemar komik tentu mengenal Trish sebagai Hellcat, salah seorang vigilante lain dunia Marvel, entah apakah nantinya Trish akan bertransformasi menjadi sosok vigilante-nya itu, baik dalam season kedua Jessica Jones maupun dalam The Defenders nanti.

Dengan nuansa noir yang kuat dalam serial ini Jessica Jones sukses membedakan diri dengan Daredevil sebagai serial TV superhero Marvel lainnya. Salut untuk Marvel yang walaupun sama-sama mengambil pendekatan ‘dark’ tetapi sanggup memberikan nuansa dark yang berbeda untuk kedua serialnya. Menonton dua serial ini saya jadi merasa yakin bahwa Luke Cage (yang bintang utamanya, Mike Colter juga tampil apik sebagai karakter pendukung di sini) dan Iron Fist akan membawa dimensi yang berbeda pada dunia Marvel jalanan yang biasa tidak kita lihat di dunia filmnya.

Jadi pertanyaan terakhir yang perlu dijawab: apakah Jessica Jones merupakan serial yang bagus? Jawabannya adalah ya! Ya, ia bagus dan ya, kamu perlu menontonnya terlepas dari penggemar film / serial Marvel atau tidak.

Score: A-

The Good Dinosaur

Setelah kebrilianan Inside Out yang dirilis di tengah tahun ini, kepercayaanku yang goyah pada seni magis Pixar kembali pulih. Kekecewaan bertahun-tahun itu terhapuskan begitu saja dengan kebrilianan premise dari Inside Out. Begitu apiknya film itu ketika semua orang mempertanyakan betapa biasanya The Good Dinosaur, saya tetap mempercayai film ini bisa tetap mengaduk emosi sebagaimana film-film terbaik Pixar lainnya. Apakah Pixar berhasil menjawab kepercayaanku itu?

good

Konsep dari film ini sebenarnya cukup sederhana: bagaimana bila dinosaurus tidak punah dari muka bumi ini karena asteroid yang seharusnya menghantam dunia meleset? Hasilnya: dinosaurus tetap memenuhi bumi sementara manusia tidak pernah berkembang menjadi spesies yang dominan. Jutaan tahun sudah berlalu semenjak tragedi itu dan dinosaurus mulai berevolusi menjadi makhluk yang lebih cerdas – walaupun belum mencapai level manusia.

Konon ada seekor dinosaurus kecil bernama Arlo yang penakut semenjak ia dilahirkan. Badannya lebih kecil dibandingkan kedua kakaknya sehingga ia selalu dilindungi oleh ayah – ibunya. Ini membuat dia ketakutan akan segalanya. Setelah sebuah tragedi menimpa keluarganya Arlo kemudian terpisah dari mereka dan berteman dengan seorang anak-anak (manusia purbakala) yang ia namai Spot. Bersama dengan Spot, Arlo kemudian berpetualang di dunia luar yang begitu ia takuti untuk mencari jalan pulang kembali pada keluarganya.

Menonton The Good Dinosaur seakan tidak seperti menonton film Pixar. Apa yang paling membedakan Pixar dari studio-studio animasi lainnya adalah perhatian mereka pada jalan cerita di tiap-tiap filmnya. Lihat misalnya film Wall-E atau Inside Out. Tidakkah film itu bermain dengan konsep-konsep yang absurd tetapi dipresentasikan dengan cara yang mudah dimengerti? The Good Dinosaur tidak. Bahkan evolusi jutaan tahun yang dilakukan oleh para dinosaur hanya menjadikan mereka mirip dengan manusia: petani. Melihat itu saya tidak bisa tidak sangat kecewa. Bertani? That’s the best you can come up with, Pixar?

2

Cerita The Good Dinosaur sendiri pun sialnya tidak spesial. Pixar terkenal dengan karakter-karakter sekunder yang menarik dan lagi-lagi The Good Dinosaur tidak memilikinya. Tak hanya karakter sekunder yang menarik bahkan Arlo pun sebagai karakter utama terasa menyebalkan karena kelewat pengecut. Spot bisa dibilang merupakan satu-satunya karakter film ini yang tidak membuatku bosan ketika muncul di layar. Beruntung saja hubungan antara Arlo dan Spot yang menjadi nyawa utama film ini dibangun dengan baik sehingga pada penghujung film masih mampu menggugah emosi yang sepanjang film tak kudapatkan.

Pun begitu sangat terasa bahwa The Good Dinosaur merupakan rajutan dari banyak momen-momen spesial dalam film animasi lain yang dilakukan lebih baik dalam film-film tersebut. Tidak percaya? Cobalah tonton sendiri dan setelahnya pikirkan apakah tidak adegan-adegan tertentu dalam film ini mengingatkanmu pada: The Lion King, Ice Age, Brother Bear sampai Open Season. Sialnya lagi film-film yang saya sebutkan di atas melakukan apa yang dilakukan dalam film The Good Dinosaur ini dengan lebih baik. Menonton film ini membuat saya keheranan apakah jangan-jangan Pixar hanya menggunakan tim sekundernya menggarap film ini sementara talenta-talenta terbaik mereka berkumpul menggarap Inside Out?

3

Pada akhirnya yang tersisa dari film ini tinggallah keindahan visualnya saja. Untuk hal yang satu ini memang sulit dibantah keindahan lansekap dunia yang tak terjamah oleh manusia memang begitu indah. Entah kenapa saya justru merasa pesan terselubung Pixar melalui adegan-adegan ini: bahwa manusia merusak alam dengan kehadiran mereka dan eksploitasi yang berlebih justru lebih mengena ketimbang penjelajahan Arlo dan Spot. Ah, The Good Dinosaur adalah sebuah film animasi Pixar yang tak sepatutnya diproduksi maupun menyandang nama Pixar. What a disappointment.

Score: C+

Spectre

Tidak bisa dipungkiri kalau Skyfall telah membawa agen rahasia 007 ke level yang baru, baik dalam kancah domestik maupun dalam kancah global.

Coba simak rata-rata pendapatan dari film-film James Bond sebelumnya, semenjak era Pierce Brosnan hingga era Daniel Craig (Quantum of Solace) film terbaru 007 selalu sukses menembus 100 Juta USD tetapi tak pernah bisa melewati batas angka 175 Juta USD. 200 Juta USD? Boro-boro. Begitu juga dengan pendapatan sang agen rahasia di kancah global, total mencapai angka 500 Juta USD sudah pasti tetapi mencapai 800 Juta USD? Sepertinya target yang mustahil.

Lantas datanglah Skyfall dan semuanya pun berubah.

Spectre1

Film yang memperingati 50 tahun James Bond tersebut meledak di pasaran. Di Amerika film tersebut menembus angka 300 Juta USD (!!!) sementara di kancah global membawa franchise James Bond menembus angka 1 Milyar USD. Sebuah prestasi yang luar biasa membuat sutradara Sam Mendes kembali diminta oleh Sony menangani Bond 24.

Tiga tahun berlalu dan film Spectre pun dirilis. Bagi penggemar fanatik James Bond kehadiran organisasi Spectre berarti kembalinya organisasi kejahatan nomer satu yang selalu menghantui petualangan sang agen. Film ini bahkan digadang-gadang akan menjadi penutup saga dari era Craig sebagai James Bond. Akankah hasilnya menjadi sesuatu yang memuaskan bagi para fans?

Setelah kematian dari M dalam Skyfall, James Bond tak lantas bisa bekerja sama dengan baik dengan MI6. Ia kerap bersitegang dengan bos barunya dan kerap lagi menghilang melakukan misi-misinya sendiri tanpa diotorisasi oleh sang atasan. Semua penyelidikan yang ia lakukan membuat ia menyadari bahwa semua lawan-lawannya selama ini semenjak film Casino Royale rupanya terkait di bawah satu nama: organisasi rahasia yang menguasai dunia bernama Spectre.

Spectre4

Sementara Bond mengejar Spectre, organisasi MI6 pun tengah menghadapi krisis karena dianggap sudah lawas dan tak lagi diperlukan. Dunia tengah bergerak menuju era di mana informasi akan dibagi secara bebas oleh sembilan negara-negara maju dunia. Apakah Bond bisa menangkap kepala dari Spectre dan membuktikan bahwa organisasinya masih relevan di dunia jaman sekarang? Ataukah Spectre sesungguhnya hanyalah angan-angan dari Bond semata?

Melihat deretan casting film ini tak salah kalau saya memasang harapan tinggi akan film Spectre. Daniel Craig sudah teruji kualitasnya sebagai salah satu James Bond terbaik. Mendampingi dirinya kali ini sebagai Bond girl adalah dua gadis dari spektrum usia yang berbeda: Monica Belluci dan Lea Seydoux, keduanya adalah artis yang teruji kapasitas aktingnya. Melirik deretan cast pendukungnya lebih luar biasa lagi. Tak tanggung-tanggung ada Ralph Fiennes, Dave Bautista, sampai Christoph Waltz! Nama Waltz sendiri sejujurnya adalah daya tarik bagiku menonton film ini.

Bagi penggemar film rasanya mustahil tak mengenal peran Waltz yang sangat memorable sebagai NAZI bengis Hans Landa di Inglourious Basterds. Memasangnya sebagai sosok antagonis di film ini sepertinya adalah pilihan yang sangat tepat, apalagi karena saya kecewa (saya tahu saya minoritas) akan peranan Javier Bardem sebagai villain di Skyfall.

Ah, tetapi betapa kecewanya saya ketika Sam Mendes lagi-lagi membuang-buang talenta sang aktor. Seperti halnya Bardem dalam Skyfall, Waltz yang sebenarnya adalah seorang aktor yang sangat bertalenta di film ini lagi-lagi dibuat tolol oleh naskah film yang begitu buruk dan kurang menggigit. Saya jadi ingat Skyfall yang terasa begitu antiklimaks di berbagai adegan dan sekali lagi itu terulang di Spectre. Harapan sebenarnya sempat membuncah melihat opening scene yang menampilkan adegan aksi dalam parade Day of the Dead Meksiko yang sangat meyakinkan.

Sayangnya adegan opening itu sekaligus menjadi adegan paling baik dalam Spectre. Everything went downhill from there. Mulai dari penjelajahan mengelilingi benua Eropa hingga klimaks yang membosankan dan terasa bodoh, Spectre tak pernah tampil seemosional Casino Royale maupun seseru Quantum of Solace, dua film James Bond dari Craig yang saya sukai. Pada akhirnya yang tersisa darinya hanyalah quote dari trailer yang paling saya sukai.

You’re like a kite dancing in a hurricane, Mr Bond.

Ah, seandainya saja saya tahu quote tersebut juga berlaku untuk film ini. Sebuah film yang bagai layangan diterpa angin tanpa tahu arah.

Score: C

The Walk

Dari antara banyak aksi akrobatik di sirkus mungkin aksi jalan di atas tali merupakan salah satu aksi yang paling berbahaya, aksi yang paling mengundang decak kagum penonton. Ada banyak alasan akan hal ini dan salah satu di antaranya mungkin terletak pada tingginya resiko melakukannya.

Keseimbangan dalam berjalan di atas sebuah tali jelas bukan hal yang mudah untuk dilakukan seorang manusia, diperlukan konsentrasi yang tinggi, latihan berulang kali, sampai tekad yang kuat untuk melakukan hal tersebut. Seakan-akan itu masih tak cukup menantang, Philippe Petit bukan sekedar seorang akrobat biasa. Ia ingin melakukan hal yang membuat namanya diingat oleh manusia-manusia di muka bumi. Oh ia memang ingin berjalan di atas tali, tetapi tali itu bukan sekedar direntangkan antara dua tonggak biasa di sirkus.

the walk 1

Ia ingin melakukannya di panggung paling spektakuler di seantero dunia, antara dua menara kembar WTC yang paling terkenal sejagat dan baru saja dibuka.

Melakukan hal yang sinting seperti itu (ilegal pula) tentu saja bukan hal yang mudah. Sekuriti pada hari-hari itu memang belum seketat jaman sekarang tetapi itu juga tidak berarti memasang peralatan serta menggantungkan tali antara kedua gedung merupakan hal yang mudah. Saat Philippe ingin melakukan atraksi ini ia tidak bisa melakukannnya seorang diri, ia melakukannya bersama dengan beberapa rekannya yang percaya bahwa Philippe bisa mencatat sejarah…

the walk poster

Film garapan Robert Zemeckis ini sebenarnya bukan film pertama yang mengangkat kegilaan Philippe Petit menyebrangi gedung WTC. Sebelumnya ada sebuah film dokumenter berjudul Man on Wire yang sudah pernah mengangkat topik yang sama, bahkan sempat dianugerahi Oscar sebagai film dokumenter terbaik. Toh sutradara Zemeckis tak berarti tidak bisa mencari sudut baru dalam film ini. Salah satu ketepatannya adalah memakai bintang muda Joseph Gordon-Levitt dalam film ini. Gordon-Levitt sering saya katakan merupakan salah satu bintang film muda terbaik generasi ini dan sekali lagi ia membuktikannya melalui film ini.

Tak hanya ia fasih bertingkah sebagai Philippe yang menyebalkan tetapi juga penuh tekad kuat memenuhi suatu hal, ia juga mampu berbicara dalam bahasa Perancis selain dalam bahasa Inggris (dengan aksen Perancis). Sebagai Philippe pun ia tampil begitu meyakinkan dalam mengejar mimpinya sehingga walaupun tingkah lakunya sepanjang film membuat penonton sebal akannya, kita juga akan dibuat salut dengan perjuangannya yang pantang menyerah dalam menggapai mimpinya.

Film ini sangat disarankan ditonton dalam format IMAX 3D karena memang nilai paling spektakuler dalam film ini terletak di sana. Semenarik apapun Robert Zemeckis membingkis awal hingga pertengahan film ini, tidak bisa dipungkiri bahwa atraksi yang sesungguhnya dimulai dalam 20 menit terakhir film di mana Philippe mulai menyebrangi kedua gedung WTC. Dalam seksi inilah paduan harmoni antara sinematografi dari Zemeckis yang secara tangkas dan kreatif mengambil gambar dari berbagai sudut (secara begitu breathtaking) bercampur sempurna dengan musik gubahan Alan Silvestri.

the walk 2

Sungguh sayang bahwa selain karakter Philippe sendiri kita tak diberi kesempatan terlalu banyak mengenal teman-temannya di sini. Satu-satunya karakter pendukung yang tak tersia-siakan penampilannya hanyalah Ben Kingsley, dalam film ini berperan sebagai sosok mentor Philippe. Pun tak cukup tersampaikan kepada penonton adalah alasan dari Philippe melakukan hal yang dinilai banyak orang sinting itu. Hanya sekedar ingin tercatat dalam sejarahkah? Mendapatkan pengakuan dari orang tuanya?

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, The Walk tetap sebuah film yang inspiratif bagi kalian-kalian yang tengah mengejar mimpi. Belajarlah dari Philippe dan pantanglah menyerah.

Score: B-

Goosebumps

Anak-anak yang tumbuh pada dekade 1990an dulu seharusnya familiar dengan serial buku Goosebumps. Memang pada masa itu serial buku Goosebumps dan Animorphs merupakan serial buku yang paling populer. Bertanggung jawab untuk karya Goosebumps adalah pengarang R.L. Stine yang dijuluki Stephen King-nya anak-anak. Akan tetapi seiring pergantian millenium dan memudarnya popularitas Goosebumps, memudar jugalah nama R.L. Stine. Beberapa serial buku lain yang ia ciptakan seperti Fear Street tak mencapai kesuksesan dari franchise Goosebumps sementara peralihannya ke novel-novel horor dewasa tak diterima hangat oleh kritikus.

Goose1

Toh franchise Goosebumps yang memudar tak lantas berarti tidak populer, terbukti dengan adanya serial TV Goosebumps, mungkin menyadari potensinya studio film Hollywood pun mengadaptasinya ke layar lebar. Dengan cerdik, mereka tidak mau mengadaptasi salah satu kisah dari Goosebumps saja tetapi mengambil pendekatan ala Jumanji / Zathura. Bagaimana bila monster, horor, serta teror dari dalam buku Goosebumps hidup dari halaman-halaman yang ada dan yang bisa menghentikan mereka hanyalah anak-anak muda yang dibantu oleh R.L. Stine sendiri?

Ketika Zach Cooper pindah ke kota baru setelah kematian ayahnya, ia merasa hidupnya bakalan benar-benar membosankan sekaligus menyedihkan. Satu-satunya hiburan yang ia dapatkan hanyalah ketika ia berkenalan dengan sosok anak tetangga sebelah rumahnya: Hannah. Akan tetapi Hannah memiliki seorang ayah seram yang melarangnya bergaul dengan siapa saja. Suatu ketika karena kesalahpahaman, Zach ingin menyelamatkan Hannah tetapi malahan berakhir dengan membuka manuskrip buku Goosebumps yang ada di rumah Hannah. Tak dinyana ayah dari Hannah adalah sang penulis terkenal: R.L. Stine! Yang lebih tak disangka lagi adalah semua monster dalam buku Goosebumps rupanya akan hidup bila tidak ‘tertangkap’ dalam lembaran buku manuskripnya. Dengan semua kreasinya kini lolos dari buku, Zach dan kawan-kawannya harus membantu R.L. Stine menangkapnya kembali.

Goose2

Sosok R.L. Stine fiktif dalam film ini diperankan oleh komedian Jack Black jadi jangan harapkan kesamaan sifat dengan R.L. Stine sungguhan. Di sini Black sengaja mengubah Stine menjadi orang tua yang sedikit penggerutu, antik, dan membenci siapa saja. Toh, seiring dengan perjalanan film Black juga mampu menampilkan sosok Stine yang lebih lembut dan simpatik. Saya tak biasa menyukai Black dalam peran-peran komediknya (bahkan School of Rock tak membuat saya menyukainya) tetapi saya bisa menerima peranannya di film ini.

GoosePoster

Adalah aktor muda Dylan Minnette dengan Odeya Rush yang menjadi sorotan utama film ini dan untungnya mereka mampu tampil cukup baik dan lucu. Chemistry persahabatan antara Minnette dan Rush yang kemudian tumbuh menjadi cinta juga ditampilkan secara organik dan tidak terburu-buru. Saya menyukai sedikit twist yang diselipkan dalam film ini oleh sang sutradara. Kendati twist itu mungkin akan mengejutkan bagi penonton film umumnya bagi para pembaca buku akan menganggapnya sebagai homage yang berarti bagi serial Goosebumps. Dan memang demikian adanya, film Goosebumps ini memang seperti love letter bagi serial bukunya di mana banyak sekali ikon-ikon monster dari bukunya ditampilkan di sini.

Walaupun Goosebumps jauh dari sempurna, film ini masih jauh lebih baik ketimbang hasil kolaborasi Letterman dan Black sebelumnya: Gulliver’s Travel. Ketimbang film itu Goosebumps jelas lebih memiliki hati dan cerita yang berkesan, kendati tentu saja jangan harapkan film ini mampu dijelaskan dengan logika yang masuk akal.

Score: C+

The Little Prince

Siapa yang tidak kenal novel The Little Prince?

Saya percaya bahwa semua pecinta literatur tentunya pernah membaca karya legendaris dari Antoine de Saint-Exupery ini. Buku The Little Prince ini memang sangat legendaris sebagai buku non-Inggris paling banyak diterbitkan dan terjual di seluruh dunia. Kisah narasi sampai pesan yang dibawakan oleh Saint-Exupery sepertinya tidak lekang dimakan oleh jaman sehingga generasi demi generasi baru terus menemukan nilai magis tiap membaca karya ini.

Oleh karena kepopuleran itu juga tidaklah mengherankan bahwa The Little Prince juga sudah diadaptasi dalam berbagai format. Sebut saja pertunjukan theater, film, sampai drama radio. Sekarang sutradara Mark Osborne (paling terkenal menggarap Kungfu Panda-nya Dreamworks) menggarap film ini dengan memberinya sebuah twist; memodernisasi ceritanya. Apakah berhasil?

The_Little_Prince_(2015_film)_poster

Di tengah dunia yang makin padat dengan kegiatan, apakah kita semua lupa artinya menikmati hidup?

Pertanyaan ini sepertinya klise tetapi diangkat oleh film ini dengan cara yang menarik. Seorang gadis kecil mendapatkan tekanan yang besar dari ibunya (seorang single parent) yang berpendapat bahwa pendidikan yang tinggi dan baik adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan dan mendapatkan kehidupan yang bahagia. Begitu tegas dan fokusnya sang ibu, sang anak seperti terhimpit oleh jadwal kehidupannya sehari-hari, sampai ia bertemu dengan tetangganya yang nyentrik.

lil prince 2

Tetangga tua yang nyentrik ini gemar membuat dan memperbaiki (tetapi selalu saja gagal) pesawat terbangnya. Gara-gara berkenalan dengan sang tetangga tua ini si gadis cilik mulai mengabaikan jadwalnya sehari-hari untuk belajar dan mulai bersenang-senang menikmati hidupnya. Ia banyak mendengar cerita dan petualangan dari si Pak Tua ini, termasuk pengalaman si Pak Tua bertemu dengan seorang Pangeran Muda di Padang Pasir… The Little Prince. Pelajaran apa yang bisa dipetik oleh si gadis cilik untuk diaplikasikan sendiri ke dalam hidupnya?

Dan pelajaran apa yang bisa dipetik oleh penonton dari film ini?

Sejujurnya saja The Little Prince bukanlah sebuah film yang ringan untuk ditonton oleh anak-anak. Ketika saya pertama membaca bukunya – hampir lima tahun yang lalu – saya bahkan tak menyukainya karena menganggap ceritanya terlalu bertele-tele dan tidak masuk akal. Baru ketika membacanya ulang sekali lagi, dua kali lagi, tiga kali lagi, saya menyadari ada suatu nilai baru yang terus saya petik dari dalamnya. Saya melihat bahwa hal tersebut tak sepenuhnya berhasil diangkat oleh Mark Osborne dalam film ini.

lil prince

Osborne sepertinya tidak berani 100% mengikuti novel The Little Prince untuk alasan-alasan yang masuk akal. Pertama saya yakin ia khawatir kalau sekedar mengadaptasi novelnya saja maka film ini akan menjadi film yang terlalu pendek. Lagipula kisah novel yang berjalan secara abstrak akan terlalu sulit untuk dibuatkan narasinya. Oleh karena itu Osborne menciptakan karakter baru seperti si gadis cilik dan ibunya, untuk menjadi jembatan penonton ke dalam dunia The Little Prince. Dan untuk setengah awal film ia cukup berhasil.

Baru ketika film ini memasuki pertengahan lantas klimaks, Osborne seperti kesulitan menyatukan dua narasi fantasi dan realistis yang tadinya ia pisahkan dengan penyekat. Ketika penyekat itu runtuh, transisi narasinya tak seberapa bagus menyambung. Untung saja paling tidak esensi dari apa yang ingin disampaikan oleh Saint-Exupery dalam novelnya tetap dapat tersampaikan di film ini – walaupun dengan cara penuturan yang lebih sederhana.

Terlepas dari jalan ceritanya sendiri The Little Prince adalah animasi yang cukup cantik secara audio visual. Dari segi visualnya ia digambarkan dengan dua gaya animasi: pertama dalam model CG bagi jalan cerita utamanya tetapi yang paling aduhai tentunya adalah teknik stop-motion animasi untuk bagian penceritaan The Little Prince, seperti melihat ilustrasi dalam novelnya dihidupkan. Tambahan musik gubahan Richard Harvey dan Hans Zimmer semakin menghidupkan setiap adegan-adegan dalam film ini. Indah… cantik.

Sekali lagi The Little Prince bukan sebuah film yang bisa dimengerti oleh anak-anak generasi ini, yang sudah biasa terbius dengan animasi gampangan ala Frozen atau Big Hero 6 (saya tidak bilang animasi-animasi itu jelek, tetapi gampang dicerna). Film The Little Prince berani mengangkat topik-topik dewasa dan saya rasa sudah sepantasnya begitu karena novel asalnya pun adalah buku orang dewasa yang menyamar dalam bentuk buku anak-anak… mungkin memang orang dewasa tak selalu harus tumbuh dewasa dan melupakan masa kanak-kanak.

Score: B

Bridge of Spies

Kolaborasi dari Tom Hanks dan Steven Spielberg selalu saya nantikan sebab hasilnya biasanya spesial. Sebelum karyanya ini Spielberg dan Hanks sudah berkolaborasi sebanyak tiga kali melalui film Saving Private Ryan, Catch Me If You Can, dan The Terminal. Tak hanya itu keduanya juga pernah bekerja sama sebagai produser dalam serial Band of Brothers dan The Pacific. Melihat resume karya keduanya sulit tidak mengharapkan hal yang luar biasa dari film Bridge of Spies ini, pertanyaannya adalah apakah film ini mampu memenuhi ekspektasi yang tinggi itu?

Film ini diangkat dari kisah nyata seorang negosiator ulung James B. Donovan. Donovan sebenarnya merupakan seorang pengacara yang lebih paham tentang dunia asuransi ketimbang pengacara politik, tetapi ketika ia diminta untuk menjadi pengacara dari seorang Rudolf Abel, kehidupannya mendadak menjadi tergoncang. Alasannya adalah Rudolf Abel merupakan seorang mata-mata Uni Soviet yang tertangkap di tanah Amerika.

BoS

Coba ingat-ingat kembali kejahatan-kejahatan besar yang pernah terjadi di Amerika beberapa tahun silam seperti pengeboman Boston Marathon atau penembakan di gedung bioskop oleh James Holmes. Semua tersangka yang terlibat dalam kejadian itu boleh mendapatkan pengacara yang membela mereka. Pernahkah kalian berpikir apa yang ada di dalam benak para pengacara tersebut? Membela orang-orang yang jelas-jelas dilabeli sebagai teroris?

Begitu pula Donovan menjalani hidupnya sebagai pengacara dari Abel. Hampir semua rekan-rekannya syok melihat Donovan mati-matian menjalankan prinsipnya sebagai sang pengacara Abel. Tugas Donovan kemudian menjadi lebih kompleks ketika mata-mata lain Amerika bernama Francis Gary Powers jatuh dan tertangkap di tanah Soviet sana. Donovan lantas tak hanya menjadi seorang pengacara bagi Rudolf Abel tetapi juga harus menegosiasikan kebebasan dari seorang Powers dari tanah komunis yang begitu asing baginya.

Bridge of Spies adalah sebuah film yang sangat bernuansa old-school. Skenario yang ditulis oleh Matt Charman dan Coen bersaudara ini sekilas bermain aman tetapi sangatlah solid dan mengalir. Buktinya durasi tayang selama dua jam lebih tak terasa selama menonton film ini, hanya transisi pergantian tempat dan tone cerita di pertengahan film saja yang terasa tak dieksekusi dengan terlalu mulus. Akan tetapi di tangan Spielberg, seorang sutradara yang kemampuannya tak perlu diragukan lagi, atensi penonton seakan terus menempel ke layar mengikuti petualangan dari Donovan.

Mungkin bagi banyak penonton yang berusia muda (baca: di bawah 20 tahun) horor dari tembok Berlin merupakan sesuatu yang sekedar bagian dari sejarah. Tidak bagi saya. Horor tembok Berlin adalah sesuatu yang nyata dan melihat kenangan tersebut direkreasikan ulang di layar lebar oleh Spielberg – walaupun sudah banyak disanitasi – adalah hal yang saya apresiasi. Jangkar lain film ini selain tangan dingin Spielberg tentunya adalah aktor utama Tom Hanks yang membuktikan ia masih salah seorang aktor terbaik generasinya.

BoS2

Sekali lagi seperti halnya tembok Berlin banyak orang sepertinya lupa betapa fleksibelnya seorang Tom Hanks. Bridge of Spies bukanlah film seperti Captain Phillips, Cast Away, atau Forrest Gump yang menantang kualitas akting seorang Hanks sampai maksimum tetapi tak bisa disangkal Hanks tetap mampu membawakan sosok seorang Donovan dengan wibawanya tersendiri. You can always count on him for a solid movie.

BoS 1

Hampir seperti setiap film Spielberg lainnya, Bridge of Spies tak sekedar ditutup dengan esensi menghibur saja tetapi juga mengajar dan memberikan pesan moral kepada penonton. Saya tidak tahu apakah hal seperti itu sudah dianggap old-fashioned bagi penonton jaman sekarang yang lebih mementingkan style ketimbang essence tetapi bagi saya, ada rasa hangat yang membuncah di hati usai menonton film ini. Dan jujur saja, tak banyak film jaman sekarang yang bisa membuat saya merasa demikian.

Score: B+