Goosebumps

Anak-anak yang tumbuh pada dekade 1990an dulu seharusnya familiar dengan serial buku Goosebumps. Memang pada masa itu serial buku Goosebumps dan Animorphs merupakan serial buku yang paling populer. Bertanggung jawab untuk karya Goosebumps adalah pengarang R.L. Stine yang dijuluki Stephen King-nya anak-anak. Akan tetapi seiring pergantian millenium dan memudarnya popularitas Goosebumps, memudar jugalah nama R.L. Stine. Beberapa serial buku lain yang ia ciptakan seperti Fear Street tak mencapai kesuksesan dari franchise Goosebumps sementara peralihannya ke novel-novel horor dewasa tak diterima hangat oleh kritikus.

Goose1

Toh franchise Goosebumps yang memudar tak lantas berarti tidak populer, terbukti dengan adanya serial TV Goosebumps, mungkin menyadari potensinya studio film Hollywood pun mengadaptasinya ke layar lebar. Dengan cerdik, mereka tidak mau mengadaptasi salah satu kisah dari Goosebumps saja tetapi mengambil pendekatan ala Jumanji / Zathura. Bagaimana bila monster, horor, serta teror dari dalam buku Goosebumps hidup dari halaman-halaman yang ada dan yang bisa menghentikan mereka hanyalah anak-anak muda yang dibantu oleh R.L. Stine sendiri?

Ketika Zach Cooper pindah ke kota baru setelah kematian ayahnya, ia merasa hidupnya bakalan benar-benar membosankan sekaligus menyedihkan. Satu-satunya hiburan yang ia dapatkan hanyalah ketika ia berkenalan dengan sosok anak tetangga sebelah rumahnya: Hannah. Akan tetapi Hannah memiliki seorang ayah seram yang melarangnya bergaul dengan siapa saja. Suatu ketika karena kesalahpahaman, Zach ingin menyelamatkan Hannah tetapi malahan berakhir dengan membuka manuskrip buku Goosebumps yang ada di rumah Hannah. Tak dinyana ayah dari Hannah adalah sang penulis terkenal: R.L. Stine! Yang lebih tak disangka lagi adalah semua monster dalam buku Goosebumps rupanya akan hidup bila tidak ‘tertangkap’ dalam lembaran buku manuskripnya. Dengan semua kreasinya kini lolos dari buku, Zach dan kawan-kawannya harus membantu R.L. Stine menangkapnya kembali.

Goose2

Sosok R.L. Stine fiktif dalam film ini diperankan oleh komedian Jack Black jadi jangan harapkan kesamaan sifat dengan R.L. Stine sungguhan. Di sini Black sengaja mengubah Stine menjadi orang tua yang sedikit penggerutu, antik, dan membenci siapa saja. Toh, seiring dengan perjalanan film Black juga mampu menampilkan sosok Stine yang lebih lembut dan simpatik. Saya tak biasa menyukai Black dalam peran-peran komediknya (bahkan School of Rock tak membuat saya menyukainya) tetapi saya bisa menerima peranannya di film ini.

GoosePoster

Adalah aktor muda Dylan Minnette dengan Odeya Rush yang menjadi sorotan utama film ini dan untungnya mereka mampu tampil cukup baik dan lucu. Chemistry persahabatan antara Minnette dan Rush yang kemudian tumbuh menjadi cinta juga ditampilkan secara organik dan tidak terburu-buru. Saya menyukai sedikit twist yang diselipkan dalam film ini oleh sang sutradara. Kendati twist itu mungkin akan mengejutkan bagi penonton film umumnya bagi para pembaca buku akan menganggapnya sebagai homage yang berarti bagi serial Goosebumps. Dan memang demikian adanya, film Goosebumps ini memang seperti love letter bagi serial bukunya di mana banyak sekali ikon-ikon monster dari bukunya ditampilkan di sini.

Walaupun Goosebumps jauh dari sempurna, film ini masih jauh lebih baik ketimbang hasil kolaborasi Letterman dan Black sebelumnya: Gulliver’s Travel. Ketimbang film itu Goosebumps jelas lebih memiliki hati dan cerita yang berkesan, kendati tentu saja jangan harapkan film ini mampu dijelaskan dengan logika yang masuk akal.

Score: C+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s