Star Wars Episode VII – The Force Awakens

Kalau ada momen yang bisa dibilang membuat para geek dianggap mainstream, jawabannya sebenarnya bukan pada adaptasi komik Marvel, trilogi Lord of the Rings, maupun pembaca novel-novel Harry Potter.

Jauh sebelum komik Marvel / DC menjadi populer, trilogi Lord of the Rings digagas, maupun novel sang bocah penyihir ditulis, para geek pertama bersorak ketika George Lucas menciptakan sebuah film saga sci-fi (space opera?) dari seorang bocah bernama Luke Skywalker yang terkenal di seantero dunia. Sedikit anekdot sebelum menulis lebih lanjut review ini, saya pertama kali berkenalan dengan Star Wars bukan melalui filmnya langsung melainkan melalui… Doraemon.

Percaya tidak percaya ada satu chapter Doraemon yang berparodi tentang Star Wars (bukan film parodi Doraemon soal Star Wars) dan saya ingat membaca betapa serunya chapter tersebut karena berbeda dengan cerita-cerita Doraemon yang biasanya. Baru di tahun 1997 ketika Star Wars dirilis ulang untuk ultah 20 tahun, saya menonton trilogi legendaris dari George Lucas tersebut.

TFA2

Setelah trilogi prekuel Star Wars berakhir di tahun 2005 orang menyangka bahwa ini benar-benar sudah merupakan akhir dari saga Star Wars. Apa lagi cerita yang mau dibahas? Lagipula trilogi prekuel garapan George Lucas tersebut tak mendapatkan cinta seperti trilogi keduanya. Akan tetapi kenyataan berkehendak lain setelah Disney membeli franchise Star Wars di tahun 2012. Segera setelah LucasFilm dibeli oleh Disney, mereka langsung mengumumkan akan menggarap trilogi Star Wars yang baru, kali ini merupakan sekuel dari trilogi pertamanya.

Kabar ini sontak disambut gembira dan hype oleh banyak orang. Terlepas dari kontroversi soal karakter-karakter baru yang datang dan pemilihan sutradara (sebab J.J. Abrams sebelumnya menggarap reboot dari franchise Star Trek) mayoritas hype orang terhadap kembalinya Star Wars sangatlah positif. Dan ketika 2015 tiba maka rekor-rekor box office pun berjatuhan olehnya. Bagaimana sebenarnya kualitas dari film ini – terlepas dari hype yang mengelilinginya?

Star Wars Episode VII: The Force Awakens dibuka di era di mana perang belum juga usai. Kita menyangka bahwa setelah Emperor Palpatine dan Darth Vader dikalahkan di akhir film Return of the Jedi maka kedamaian akan kembali ke dunia tetapi itu semua salah. Di awal The Force Awakens sisa-sisa dari Empire kini membentuk First Order sementara grup Rebellion kini berganti nama menjadi Resistance dan bertarung melawannya. Walaupun kini pertempuran berjalan lebih seimbang (tidak seperti dulu di mana Rebellion terasa seperti underdog), Resistance kehilangan salah satu tenaga utamanya karena Luke Skywalker menghilang dalam pengasingan…

TFA3

Menggantikan posisi Luke, Leia, dan Han sebagai protagonis utama dalam film ini adalah duet Rey dan Finn (ditambah secara tidak langsung pilot terbaik di kubu Resistance: Poe). Rey adalah seorang gadis dengan masa lalu misterius yang tinggal di planet Jakku sementara Finn adalah seorang Stormtrooper yang muak dengan cara-cara dari First Order melakukan opresi mereka sehingga berusaha melarikan diri dari mereka. Ketika even-even di film membuat mereka bertemu, keduanya pun memulai petualangan mereka untuk meloloskan diri dari kejaran First Order, mencari keberadaan Luke Skywalker, dan bertemu dengan wajah-wajah lama dari trilogi sebelumnya.

J.J. Abrams membuat sebuah film Star Wars yang hormat dengan episode IV – VI, ini adalah keputusan yang tepat mengingat episode prekuel dalam film ini tidak seberapa disukai. Hilang sudah pembicaraan-pembicaraan mengenai politik antariksa yang berkepanjang digantikan dengan petualangan dari satu planet ke planet lainnya. Memberikan keseimbangan antara karakter lama dan karakter baru memang bukan tantangan yang mudah tetapi Abrams melakukannya dengan cukup baik. Porsi terbanyak untuk Episode VII kali ini diberikan untuk menggali sosok Finn dan dirinya sementara Abrams memberikan hint mengenai siapa Rey itu tanpa banyak menggali terlalu dalam – mungkin membiarkan pertanyaan itu dijawab di film berikutnya.

Di sisi lain di pihak musuh ada sosok Kylo Ren yang bisa dibilang merupakan pengganti Darth Vader dari trilogi lama. Kylo Ren tentu saja belum bisa menyamai betapa badass-nya Darth Vader dari trilogi sebelumnya tetapi tidak apa-apa. Ada adegan-adegan emosional dalam film ini yang membuat saya merasa bahwa Kylo Ren memang tidak ingin dibuat terlalu badass tetapi juga manusiawi. Apakah sebagai karakter ia akan terus berkembang? Saya tak ingin banyak spoiler. Tonton, dan putuskan sendiri.

Ep 7 Poster

Terlepas dari karakter-karakter yang ada, saya sangat suka dengan efek dalam film ini, J.J. Abrams sadar bahwa untuk mencapai hal terbaik dalam film ini diperlukan tak hanya CG semata tetapi juga bantuan dari set dan replika. Film ini pada akhirnya merupakan kombinasi dari keduanya. Banyak lansekap-lansekap cantik dari film ini baik itu dari planet Jakku dan sistem-sistem di tata surya lainnya. Apabila kalian mencari dogfight yang seru dan khas Star Wars, kalian pun akan menemuinya di film ini. Untuk pertarungan lightsaber dalam film ini sendiri saya merasa akan membagi fans ke dua kubu: satu yang merasa koreografinya terlalu sederhana dan satu lagi yang puas akannya. Saya tak ingin menyalahkan pihak manapun sebab film ini memang lebih memiliki gaya pertarungan lightsaber ala trilogi lawas. Saya suka kedua jenis style.

Pada akhirnya Star Wars Episode VII: The Force Awakens adalah film yang sangat bagus dan memuaskan penggemar lama film Star Wars tetapi bukan film yang sempurna. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, ada kesan bahwa Episode VII adalah ‘remake’ tak resmi dari Episode IV dan Episode V tetapi apapun keluhannya, saya gembira bahwa Star Wars kembali dan tak sabar menantikan kelanjutan petualangan Rey, Finn, dan Poe di entri-entri mendatang.

May the force be with you!

Score: A-

Advertisements

Lord of Magna: Maiden Heaven

Seperti halnya sang pendahulu, Nintendo 3DS selaku game handheld adalah gudang dari game-game niche RPG yang tidak banyak dirilis di pasaran barat. Kita perlu bersyukur bahwa publisher XSEED Games masih rela melokalisasi game-game ini kendati tahu bahwa peminatnya tak besar.

Lord of Magna pertama dibuat oleh studio Neverland, studio developer yang juga membuat game-game Rune Factory. Sayangnya ketika pengembangan game ini berlangsung setengah jalan, Neverland mengalami kebangkrutan. Akhirnya Marvelous (yang adalah publisher dari game ini) merasa sayang apabila Lord of Magna tidak diteruskan proses pengembangannya. Mereka mengambil alih proses pengembangan game ini, menyelesaikannya, lantas merilisnya di pasaran.

Adalah mungkin karena alasan ini Lord of Magna terasa sebagai sebuah game yang… kurang sempurna.

LoM_Feb122015_07

Satu hal yang langsung terasa dalam game ini adalah pacing yang aneh. Sementara game ini memiliki pacing yang lambat dari Chapter 1 – 5, seakan seperti pengenalan akan dunianya, mendadak pacing dari Chapter 6 hingga selesai bergerak dengan sangat cepat. Belum lagi karakter-karakter dalam game ini terasa seperti kurang tergali dan side-quest yang ada bisa dibilang minor (kalau tidak mau dibilang tidak ada).

Dan itu sangat disayangkan sebab sebenarnya game ini memiliki potensial untuk menjadi sesuatu yang spesial.

Fokus dari game ini adalah sang hero bernama Luchs Eduard. Dia menjalani hari-harinya membuka sebuah penginapan dengan damai… karena tidak ada satupun orang yang menginap di sana. Perubahan dalam hidupnya terjadi ketika ia mencari kristal di dalam gua, ia diserang oleh monster. Nasib Luchs nyaris tamat kalau bukan karena ia diselamatkan oleh seorang gadis jelita yang terperangkap dalam es dan memanggilnya “Master“.

Lord_of_Magna_(NA)

Gadis ini adalah Lottie, satu dari tujuh bidadari yang nantinya akan ditemui oleh Luchs dalam petualangannya. Kehidupan dari Luchs menjadi lebih semarak karena kehadiran mereka, mengisi penginapan yang tadinya tanpa orang menjadi lebih semarak akan tawa dan kehidupan… kehidupan harem.

Oleh karena berasal dari studio yang menciptakan Rune Factory game ini juga mengaplikasikan sistem dating yang membuat serial Harvest Moon populer (selain tentu saja bercocok tanam yang bisa kalian lakukan melalui fitur StreetPass). Seperti yang bisa kalian tebak tujuh bidadari itu bisa kalian aja berkencan dalam Heart Event. Sayangnya tidak seperti Rune Factory di mana kita bisa membangun perhatian gadis dambaan hati kita di sini segalanya – lagi-lagi – terasa seperti dipercepat. Bahkan kalau kalian ketinggalan Heart Event yang pertama dan kedua, kalian bisa langsung melompat ke Heart Event yang ketiga. Benar-benar aneh.

Tapi ah, kita tidak bermain game ini untuk even dating-nya bukan? Bagaimana dengan mekanisme gameplaynya sendiri? Awalnya Lord of Magna terasa beda karena musuh yang ada di satu map biasa sangat banyak, seperti sebuah gerombolan yang masing-masing memiliki pemimpin. Selama pemimpin itu masih hidup, ia bisa terus memanggil gerombolan-gerombolannya untuk menyerang kita sehingga tujuan utama dalam permainan adalah menghabisi sang pemimpin. Terlepas dari nilai unik itu Lord of Magna tak banyak berbeda dengan game-game Strategy RPG lainnya. Setiap karakter memiliki range serangan mereka sendiri dan spesifikasi mereka sendiri. Ada bidadari yang tangguh dalam pertarungan jarak dekat, menembak dari jarak jauh, dan yang berfungsi sebagai support. Luchs sendiri adalah karakter yang berfungsi lebih sebagai support karena jangkauan serangannya yang kecil, pendek, dan relatif lebih lemah dibandingkan karakter-karakter lainnya.

LoM_Feb122015_09

Hal yang mengecewakan dalam game ini tentu saja adalah betapa sedikitnya hal yang bisa dilakukan ketika tidak menjalankan misi utama. Seperti yang saya katakan tadi game ini tidak memiliki subquest apapun untuk kita mainkan. Selain Heart Event (yang bisa diaktivasikan hanya dengan berbicara dengan karakter gadis yang kita mau) tidak ada subquest lain kecuali melakukan grinding demi mendapatkan item yang mau kita gunakan untuk Crafting Skill yang baru. Hal yang dilakukan Marvelous supaya game ini terasa lebih panjang? Membuat item-item yang ada sangat mahal supaya gamer dipaksa melakukan grinding demi membelinya.

Dengan kualitas animasi dan suara yang pas-pasan (tidak ada fitur untuk mengubah dwi-bahasa dalam game ini) bahkan momen-momen fanservice dalam game ini terasa hambar (kalian bisa mengeceknya dari Youtube), ahhh, tak perlu rasanya menghabiskan waktu lebih dari 20 jam bersama bidadari-bidadari yang datar dan membosankan ini.

Score: C-

Tearaway

Dosa terbesar Sony adalah menelantarkan PS Vita.

Ketika handheld ini diumumkan kehadirannya untuk melawan Nintendo 3DS hampir setengah dekade yang lalu, dunia terhenyak. Jaman itu smartphone masih dalam usia dini, iOS dan Android belum dipandang secara serius dan 3DS sedang mengalami masa-masa sulit.

Sony menjanjikan game-game kualitas konsol – minimal setara PS3 – untuk PS Vita. Itu adalah janji yang spektakuler dan dengan game-game seperti Uncharted, Assassin’s Creed, sampai Call of Duty, gamer seperti dibuai oleh janji-janji manis Sony. Ketika rilis PS Vita di akhir tahun 2011 tidak berjalan semulus harapan, orang masih bersedia mengampuninya, mereka berharap bahwa seiring berjalannya waktu PS Vita akan menjadi handheld seperti PSP, underdog dalam menghadapi Nintendo DS, tetapi memiliki begitu banyak gem di dalamnya… siapa bisa lupa dengan Metal Gear Solid Portable Ops dan Peace Walker, Final Fantasy VII: Crisis Core, God of War: Chain of Olympus dan Ghosts of Sparta, serta banyak lainnya?

Akan tetapi Sony menghancurkan hati para gamer dengan mengabaikan PS Vita begitu saja setelah salesnya tak kunjung membaik setelah dua tahun pertama. Game eksklusif kelas A terbaik yang saat itu dihadirkan untuknya adalah Tearaway dan setelah itu praktis ia diabaikan oleh Sony. Lebih ironis lagi, hampir semua game-game eksklusif milik PS Vita ala Assassin’s Creed, Gravity Rush dan Tearaway sendiri lantas diport ke PS4 supaya game tersebut bisa ‘balik modal’.

Tapi terlepas dari segala kontroversi itu, bagaimanakah game Tearaway?

Tearaway-6

Game ini dibuat oleh Media Molecule, studio developer yang bertanggung jawab menciptakan LittleBigPlanet dulu. Hampir sama dengan game tersebut, Tearaway juga adalah sebuah game yang memiliki karakteristik unik: Tearaway adalah dunia penuh dengan lipatan kertas, dan designnya terlihat dari awal kamu bermain. Setiap kali kamu bergerak dan mengeksplorasi daerah dan makhluk-makhluk yang berinteraksi di daerah itu kamu mendapatkan sebuah kemampuan baru untuk Iota (atau Atoi kalau kamu memilih karakter wanita).

Sementara Tearaway dari segi estetikanya memang sangat cantik (dengan design level yang sangat kreatif), gameplaynyalah yang membuat Tearaway begitu dicintai ketika ia dirilis dulu. Ingat bagaimana Super Mario Bros 3D membuat orang sadar betapa visual 3D dalam 3DS bisa diaplikasikan ke dalam dunia gaming? Begitu juga Tearaway membuat orang sadar bagaimana fitur-fitur dalam PS Vita bisa diaplikasikan dalam gameplay. Baik touchscreen dari PS Vita sampai backscreen, mikrofon, kamera, semua diaplikasikan dalam gameplay dengan cara-cara yang kreatif. Beberapa memang terasa seperti… dipaksakan, tetapi dalam konteks permainan: menghubungkan dua dunia: kertas dan nyata, Tearaway memberi alasan yang valid bagi gamer untuk berinteraksi dengan Iota, PS Vita sebagai handheld mereka, dan dunia nyata.

tearaway-listing-thumb-02-psvita-us

Apabila ditilik dari rancangan level dan platformnya sendiri sebenarnya Tearaway tidaklah spesial-spesial amat. Tak ada design levelnya yang membuat saya sampai terkesan kendati tidak ada juga design level yang terasa monoton atau mirip satu sama lain. Tingkat kesulitan game ini tergolong mudah dikarenakan memang Tearaway adalah sebuah game yang dikhususkan untuk anak-anak dan remaja, pun begitu saya menilai bahkan Super Mario Bros saja jauh lebih menantang dari game ini. Tearaway sedikit terlalu pemaaf dan mengijinkan gamer memiliki nyawa tak terbatas dan checkpoint yang terlalu banyak. Memang ini membuat gamer jadi lebih berani bereksperimen menjelajah sana-sini tanpa takut dipenalti tetapi di sisi lain ini juga membuat gamer malas berhati-hati. Kenapa harus? Toh mereka akan langsung hidup lagi untuk langsung mencobanya.

Satu tambahan unik yang sangat saya sukai dari Tearaway adalah banyaknya koleksi Papercraft yang tersebar di sepanjang game. Mengumpulkan Papercraft ini mengijinkan kalian mendownload dan kemudian memprintnya di dunia nyata. Apabila kalian rajin melipat dan menciptakannya, Tearaway mengijinkanmu membangun dunia mereka di dunia nyata. Sebuah game yang menantang anak-anak untuk berpikir kreatif dan tak hanya pasif di dunia game semata? That’s a clever and great strategy Sony.

GamesCom4.1377125971

Sementara PS Vita kini tak lagi merupakan rumah eksklusif bagi Tearaway – dengan dirilisnya versi PS4 bagi game ini – saya tetap mengedepankan versi ini. Saya yakin Media Molecule pasti sudah mentweak versi Tearaway PS4 (dengan sub-judul Unfolded) tapi ingat bahwa game ini diciptakan awalnya dengan memaksimalkan fitur-fitur dari PS Vita. Jangan rampok kesempatan kalian memainkan salah satu game terbaik yang ada di platform yang terlupakan oleh Sony ini.

Score: A-

Creed

Tahukah kalian tahun berapa film Rocky dirilis di layar lebar?

Tahun 1976.

Betul. Film Rocky akan genap berusia 40 tahun 2016 mendatang. Sangat sedikit franchise yang bisa relevan bertahan sebegitu lamanya.

Cerita dari franchise Rocky ini sebenarnya seperti sang petinju itu sendiri. Berulang kali franchise ini sepertinya sudah akan berakhir tetapi layaknya sang petinju, ia menyerah untuk ambruk begitu saja.

Rocky V dirilis pada tahun 1990 dianggap sebagai titik terendah dalam franchise ini dan dianggap sudah sepantasnya selesai di sana. Vakum selama 16 tahun lamanya, Sylvester Stallone membuat satu comeback terakhir sebagai Rocky dalam Rocky Balboa, sebuah film yang disebut-sebut orang sebagai film terbaik dalam franchise ini semenjak film orisinilnya.

Creed2

Toh kendati disukai film Rocky Balboa tidak tergolong laris-laris amat. Tidak rugi, tetapi tidak untung besar juga sehingga studio was-was untuk memberi lampu hijau meneruskan proyek ini. Toh, bukankah Rocky Balboa memang seperti proyek tebus dosa bagi Rocky V yang gagal? Sekarang dosa itu sudah ditebus dan sudah saatnya bagi franchise ini selesai, Sylvester Stallone pun tak bertambah muda dan sepertinya tertarik melakoni franchise-franchise lain seperti The Expendables bukan?

Hampir satu dekade berlalu sebelum penonton kembali lagi ke dunia Rocky, akan tetapi kali ini melalui sosok protagonis baru bernama Adonis Johnson.

Adonis adalah anak haram dari Apollo Creed, rival sekaligus sahabat dari Rocky. Para penonton Rocky tentunya tahu bahwa Apollo meninggal di atas ring di Rocky IV, terbunuh dalam duelnya melawan Ivan Drago. Itulah sebabnya Adonis kemudian tumbuh sebagai seorang tanpa ayah. Beruntung, janda dari Apollo mengangkat Adonis menjadi anak dan dia pun hidup berkecukupan sampai dewasa…

Creed3

Tetapi bagi Adonis ada sebuah kelaparan dalam dirinya. Ia sukses dalam pekerjaannya dan kaya dalam kehidupannya tetapi Adonis tidak puas dengan hidupnya. Ia merasa ada yang kurang dan itu adalah karena hasratnya menjadi seorang petinju, seperti sang ayah. Setelah bertahun-tahun diam-diam bertinju di Meksiko, akhirnya Adonis nekat menggantungkan karirnya di kantor dan sepenuhnya menjadi petinju. Mengingat sejarah sang ayah dengan Rocky, ia pun datang ke Philadelphia untuk berlatih bersamanya.

Kendati pada awalnya Rocky – yang sudah uzur – menolak permintaan Adonis dan memintanya berlatih sendiri, ia akhirnya melihat dalam diri Adonis ada kelaparan dan mungkin juga refleksi akan dirinya sendiri dulu di masa muda. Rocky pun setuju melatihnya. Bagaimana hasil kolaborasi antara keduanya?

Creed adalah sebuah film tinju yang… spektakuler.

Tak peduli apakah kalian merupakan penggemar dari franchise Rocky atau bukan Ryan Coogler telah menggarap sebuah film yang sangat bagus di sini. Tema yang ada di film ini hampir seperti film ini di dunia nyata. Dalam film Adonis ingin menjadi seperti ayahnya, seorang petinju yang hebat, tetapi berhasil dengan caranya sendiri. Dan seperti itu juga film ini Creed tak ingin disamakan begitu saja dengan Rocky tetapi ia sanggup menghormati franchise itu.

321471id1a_Creed_27x40_1Sheet.indd
321471id1a_Creed_27x40_1Sheet.indd

Coogler jelas sangat tahu mitologi dalam dunia Rocky mulai dari film pertama hingga keenamnya. Kalau kalian juga paham dengannya maka akan ada begitu banyak easter egg yang diselipkan di film ini. Toh Coogler tak semata-mata menaruh easter egg maupun dialog-dialog tentang masa lalu sekedar untuk nilai nostalgia semata tetapi juga untuk memajukan cerita. Hubungan antara Adonis dan Rocky terutama menjadi highlight di film ini. Kita bisa merasakan hubungan respek antara keduanya yang kemudian tumbuh menjadi sesuatu yang lebih.

Salut sekali untuk performa dari Michael B. Jordan dan Sylvester Stallone di sini. Sementara Jordan sanggup membuai saya dengan aktingnya sebagai sosok yang tangguh dan kemampuannya membuat badannya sangat berotot (tidak kalah dengan Jake Gyllenhaal di Southpaw!), Sylvester Stallone sebagai Rocky adalah hati di film ini. Beberapa momen yang paling mengesankan di film ini berpusat kepadanya dan ada momen yang luar biasa mengharukan di penghujung film, terutama buat mereka yang telah mengikuti franchise ini selama 40 tahun lamanya. It’s an amazing baton pass antara dua generasi yang berbeda. Andaikata Sylvester Stallone dinominasikan sebagai Best Supporting Actor melalui film ini, saya rasa itu adalah nominasi yang sangat pantas ia dapatkan.

Segi teknis dalam film ini pun luar biasa. Coogler melalui sinematografinya dua kali membuat saya terkesan. Pertama adalah saat pertarungan antara Adonis melawan musuhnya kali pertama di mana ia disyuting dengan setting kamera yang sangat dinamis dan diedit sehingga terlihat nyaris tanpa putus. Yang kedua adalah bagian training montage Adonis yang digarap dengan sangat epik, diiringi Creed Theme, dan jelas sangat membangkitkan semangat… dan bicara soal musik dari film Creed, Bill Conti memang tidak kembali di film ini tetapi pengaruhnya masih bisa saya rasakan.

Jangan khawatir Ludwig Goransson adalah komposer luar biasa yang tak hanya menggarap musik baru di film ini (juga memadukannya dengan lagu yang dinyanyikan oleh Tessa Thompson) tetapi juga menghargai musik-musik lama dalam franchise Rocky. Perhatikan musik-musik Rocky Theme (Gonna Fly Now) yang akan muncul di saat-saat yang tak kalian duga.

Konklusinya sederhana: Creed adalah salah satu film terbaik yang saya tonton tahun ini. Menguras emosi saya sepenuhnya, ini tak hanya menjadi film yang personal bagiku tetapi juga film olahraga tinju yang saya rekomendasikan pada semua penggemar film berkualitas. Perfect!

Score: A

The Hunger Games: Mockingjay Part 2

Berawal sejak tahun 2012, akhirnya saga dari The Hunger Games berakhir pada akhir tahun 2015 ini. Walaupun Mockingjay Part 2 kemungkinan akan menjadi The Hunger Games yang paling ‘kurang laris’ dibandingkan dengan entri-entri sebelumnya tetapi tetap saja film ini melangkah dengan pasti menuju angka box office 300 Juta USD. Tidak banyak franchise yang setiap entrinya bisa mendapatkan pendapatan setinggi itu.

Kembali pada filmnya sendiri, saat saya mendengar Mockingjay dipecah menjadi dua film saya sebenarnya tak habis pikir. Kenapa hal tersebut harus dilakukan? Berbeda dengan novel terakhir Harry Potter yang memang tebal sehingga harus dipecah menjadi beberapa bagian, Mockingjay terbilang merupakan novel yang tipis-tipis saja dan bisa diselesaikan dalam film berdurasi sekitar 2.5 sampai maksimal 3 jam. Tentu saja pertanyaan saya datang dari segi artistik sebuah film, apabila dari segi uang maka tentu tak perlu diherankan: studio Lionsgate tentu ingin meraup dollar sebanyak-banyaknya.

mp

The Hunger Games: Mockingjay Part 1 sendiri bukan film yang buruk sebab sutradara Francis Lawrence dengan cerdik memusatkan jalan cerita pada bagaimana Distrik 13 menjual Katniss Everdeen sebagai simbol dari pemberontakan. Secara tersirat film bagian pertama Mockingjay adalah cerminan dunia nyata akan bagaimana propaganda film dilakukan, dan Lawrence melakukannya dengan baik dan lebih berhasil ketimbang yang dilakukan oleh Marvel melalui film Captain America: The First Avenger dulu.

Kembalinya Peeta dalam keadaan mental yang hancur di penghujung film sebelumnya membuat Katniss semakin membenci Presiden Snow dan Capitol. Ia pun semakin larut dalam perannya sebagai Mockingjay, sebagai simbol dari pemberontakan yang sekarang menyerbu Capitol. Bagian kedua dari Mockingjay melanjutkan pemberontakan yang kini telah mencapai puncaknya. Kendati sudah dilarang, Katniss bergabung dengan para laskar-laskarnya di garis terdepan perang oleh sebab ia ingin menghabisi Presiden Snow dengan tangannya sendiri. Berhasilkah Katniss memenuhi dendamnya?

m3

Meskipun universe dari The Hunger Games semakin meluas, film ini tetap berpusat pada tiga karakter saja: Katniss, Peeta, dan Gale. Di antara ketiganya Jennifer Lawrence menunjukkan akting yang paling memikat dan paling dewasa dibandingkan kedua kompatriotnya. Daya tarik film ini selain akting mumpuni dari Jennifer Lawrence datang malahan dari barisan cast pendukungnya yang ditopang oleh aktor-aktor senior. Mulai dari Julianne Moore, Donald Sutherland, Woody Harrelson, sampai mendiang Philip Seymour Hoffman menunjukkan kenapa mereka memiliki kualitas akting yang masih di atas Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Sam Claflin, dan aktor-aktor muda lainnya. Harus diakui bahwa hanya akting dari Jennifer Lawrence saja yang bisa bersanding dengan para senior tersebut.

Mengingat film ini merupakan film terakhir The Hunger Games saya yakin banyak di antara kalian yang mengharapkan perang habis-habisan bukan? Saya rasa di sini akan terjadi perbedaan pendapat antara mereka yang telah membaca novel Mockingjay dan mereka yang belum. Saya ingat usai membaca Catching Fire saya sangat menantikan klimaks yang seru membaca Mockingjay. Alih-alih mendapatkannya saya justru mendapatkan sebuah novel yang depresi mengenai bagaimana dalam perang tidak ada yang menang, hanya mereka yang tersisa – dan bagaimana bahkan mereka yang tersisa pun akan selalu dihantui memori akan perang.

Mengingat saya berangkat dengan ekspektasi itu dan melihat bagaimana sutradara Francis Lawrence memutuskan untuk tetap setia dalam versi adaptasinya, saya merasa bahwa film ini merupakan klimaks dan penutup yang pas bagi franchise The Hunger Games… atau setidaknya… sesuatu yang tetap setia dengan materi orisinilnya. Di sisi lain saya sepenuhnya mengerti keluhan orang-orang yang merasa “Kenapa bahkan dalam klimaksnya pun film ini masih banyak bicara, membosankan, dan kurang seru adegan perangnya?

Jadi setelah empat film dan waktu hampir empat tahun selesailah satu lagi saga panjang novel young adult populer. Sekarang tinggal menanti konklusi dari Divergent dan The Maze Runner saja. Semoga nantinya bisa memiliki konklusi yang sama memuaskannya dengan film ini.

Score: B+

Lando

Setelah properti Star Wars dibeli oleh Disney sepertinya perhatian publik akannya mulai meningkat lagi. Walaupun Star Wars selalu merupakan bagian dari pop culture pesonanya di era millenium mulai pudar karena trilogi prekuel yang tak sebagus harapan para fans.

Toh daya tarik Star Wars kembali naik ketika Disney mengumumkan munculnya trilogi Star Wars yang baru. Ketika euforia Star Wars makin meningkat, Disney yang sangat terkenal melakukan sinergi korporat bekerjasama dengan Marvel (yang juga telah dibeli oleh Disney) untuk memproduksi komik-komik Star Wars. Dalam beberapa bulan terakhir banyak komik Star Wars yang diterbitkan baik yang berpusat pada saga utamanya (Star Wars) maupun yang berpusat pada karakter-karakter tertentu seperti Putri Leia, Darth Vader, dan banyak lainnya.

Lando 4

Salah satu karakter yang mendapatkan spotlight itu adalah Lando Calrissian. Karakter Lando dalam Star Wars pertama kali muncul di Episode V: The Empire Strikes Back dan langsung merebut hati banyak pecinta Star Wars karena penampilan Billy Dee Williams yang begitu meyakinkan sebagai Lando yang merupakan playboy penipu ulung. Menyadari bahwa fanbase Lando di dunia Star Wars cukup banyak, Disney menugasi penulis Charles Soule dan artis Alex Maleev untuk menggarap mini-seri Lando.

Seperti kebanyakan komik-komik Star Wars lain yang diterbitkan Marvel setting cerita dalam Lando adalah prekuel dari sosok Lando yang kita kenal selama ini.

Dalam komik ini Lando dan rekan karibnya Lobot (karakter Lobot juga keluar di The Empire Strikes Back sebagai asisten Lando) ingin melakukan sebuah heist. Walaupun Lando sudah dikenal sebagai seorang pencuri dan sosok yang mudah berbicara manis, heist yang ia lakukan kali ini sangat berbahaya karena ia akan mencuri sesuatu milik Imperials. Kendati Lando dengan rekan-rekannya sukses melakukannya, yang tidak mereka sadari adalah kapal tersebut adalah bagian dari sesuatu yang lebih membahayakan hidup mereka.

Lando 2

Kapal tersebut milik Emperor Palpatine. Dengan begitu banyaknya rahasia Sith terletak di kapal tersebut, Palpatine mengirimkan assassin-assassin terbaiknya untuk mengejar dan menghabisi Lando, Lobot dan rekan-rekan mereka. Bisakah Lando dan kawan-kawannya meloloskan diri dari kejaran Imperials?

Walaupun komik-komik Star Wars terkenal dengan jalan cerita yang berpetualang di banyak galaksi dengan lansekap yang berbeda-beda, Charles Soule mengambil pendekatan berbeda di sini. Dalam komik ini ia mengambil fokus dan setting dalam tempat tertutup; dalam satu kapal Palpatine saja, sepanjang hampir 3/4 jalan ceritanya. Dan ini merupakan pendekatan yang berhasil. Ada kesan klaustrofobik – sesuatu yang tak saya sangka akan saya pakai untuk mendeskripsikan sesuatu dalam dunia Star Wars – dan serius dalam komik ini. Soule sepertinya mengerti benar bahwa Maleev adalah artis yang sangat baik menggambar tone-tone dark dalam komik dan ia menggunakan kemampuan Maleev secara menyeluruh di sini.

Lando 1

Maleev sebagai rekan kerja Soule juga menampilkan pekerjaan yang sangat baik di sini. Karya Maleev sudah lama saya kenal semenjak ia berkolaborasi dengan Brian Michael Bendis membentuk saga Daredevil dan kemampuannya semakin matang saja di sini. Ingat saya mengatakan bahwa 3/4 dalam jalan cerita Lando berfokus di tempat sempit dan klaustrofobik; gelap dan berbayang yang adalah titik kuat Maleev, tetapi 1/4 sisa komik ini juga memiliki lansekap planet-planet yang berbeda dan Maleev bisa menangkap tempat-tempat itu melalui goresan pensilnya.

Keberhasilan Soule lain di sini adalah menanamkan benih-benih keraguan dalam diri Lando akan jalan ceritanya selama ini. Membaca cerita ini akan membuat pembaca dan penonton kisah Star Wars mengerti kenapa Lando pada suatu hari di Episode V akan berbalik membantu Han Solo dan para Rebels. Soule mampu menggali jiwa seorang Lando dan menunjukkan bahwa di balik sosok penipu yang bermulut manis, ia memiliki hati seorang pahlawan yang tak mau meninggalkan sahabatnya dalam kesulitan. Salut untuk bromance antara Lando dan Lobot yang dilakukan dengan sangat baik dalam lima edisi komik ini.

Jadi apakah kalian harus membaca Lando atau tidak? Jawabannya tergantung. Tidak ada informasi baru dalam komik ini yang akan memperluas pengetahuan kalian akan dunia Star Wars. Bahkan koneksi Palpatine digunakan dengan minimum dalam komik ini. Toh apabila kalian suka dengan master of charm-nya dunia Star Wars, komik berkualitas ini pantang dilewatkan.

Score: B+

Persona 4 : Dancing All Night

Tahun 2015 ini adalah tahun yang sangat menyibukkan bagi saya. Gara-gara kesibukan dalam dunia bisnis ditambah dengan hal-hal pribadi lainnya waktu saya untuk memainkan game banyak berkurang. Apabila biasanya dalam satu tahun saya bisa menyelesaikan sekitar 10 hingga 20 game per tahunnya, di tahun ini daftar game yang saya tamatkan belum lebih dari 10. Akan tetapi walaupun waktuku banyak berkurang, saya masih memasang perhatian berita akan game-game baru yang bakalan rilis. Salah satunya tentu saja adalah Persona 4: Dancing All Night. Game ini langsung menarik minatku karena mencampurkan dua genre yang saya sukai di dunia game: musik (rhythm) dan Persona.

P4

Bukan rahasia lagi kalau Persona 4 Golden adalah game favorit saya di PS Vita. Tumbuh dan membangun hubungan bersama dengan Yu Narukami, Rise Kujikawa, Yukiko Amagi, dan lain-lainnya adalah salah satu memori paling manisku bermain game ini. Oleh sebab itu ketika ada kesempatan untuk terjun kembali ke dunia ini, saya tak ingin melewatkannya. Kesempatan itu muncul melalui Persona 4: Dancing All Night; sebuah rhythm game yang digarap oleh Atlus dengan berisi soundtrack lagu-lagu Persona 4.

Apa yang membuat Persona 4 sebuah game yang memorable adalah fakta di mana hampir semua elemennya berpadu menjadi satu paket yang lengkap. Elemen-elemen itu tentu saja termasuk di dalamnya lagu-lagu dalam game tersebut. Banyak sekali track-track memorable dalam game itu langsung meledakkan nilai nostalgia ketika mendengarnya diputar di sini. Mekanisme dalam rhythm game ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan kebanyakan rhythm game lainnya di pasaran, kalau tidak mau dibilang terlampau sederhana: ada banyak ikon melayang di layar yang harus kamu tekan di momen yang tepat. Agak aneh sebenarnya bahwa game ini tidak memiliki opsi touch screen mengingat Vita memiliki kapasitas itu. Yang jelas mekanisme game ini jauh lebih sederhana dibandingkan Rhythm Game yang benar-benar bagus dan klasik macam dwilogi Osu! Tatakae! Ouendan! di Nintendo DS.

P4 cov

Apakah itu berarti jualan utama Persona 4: Dancing All Night sepenuhnya terletak pada lagu-lagunya saja? Tidak. Mereka yang memainkan game Persona 4 (dan Persona 3, dan Persona-Persona sebelumnya) tentu tahu bahwa game Persona terkenal dengan jalan ceritanya yang memadukan kehidupan sehari-hari dengan misteri supernatural. Percaya tidak percaya ada alasan kenapa Persona 4, sebuah game yang sudah dirilis semenjak tahun 2008, masih menjadi sebuah entri yang relevan hingga hari ini – hampir delapan tahun semenjak ia dirilis bahkan berkembang menjadi sub-franchise tersendiri. Jalan cerita Persona yang memorable menjadi alasannya.

P4 3

Rhythm Game tidak pernah dikenal sebagai genre yang mementingkan jalan ceritanya sehingga saya cukup terkejut bahwa Persona 4: Dancing All Night memiliki narasi yang cukup panjang. Jalan cerita yang terbagi dalam delapan chapter (ditambah satu chapter Prolog) bisa diselesaikan dalam enam jam – cukup cepat apabila dibandingkan dengan RPG Persona yang butuh lebih dari 80 bahkan 100 jam untuk diselesaikan. Akan tetapi untuk genre Rhythm Game, enam jam (bahkan lebih kalau kalian pemula dalam genre ini) tergolong panjang. Ada kalanya Story Mode Persona 4: Dancing All Night bahkan lebih tepat disebut sebagai perpaduan dari Visual Novel dengan Rhythm Game.

Saya tidak ingin spoiler untuk jalan ceritanya sendiri sebab harus diakui bahwa jalan cerita game ini tidak seapik game utamanya. Toh melihat kawan-kawan lama ini kembali berkumpul, berinteraksi, dan lantas berdansa bersama-sama menghadapi cobaan-cobaan kehidupan supernatural yang baru adalah nilai plus tersendiri. Saya tidak akan pernah bosan dengan interaksi dari kawan-kawan lama di Investigation Team ini.

Di luar Story Mode, Persona 4: Dancing All Night menawarkan Free Dance Mode di mana kalian bisa mengunlock semua lagu-lagu yang ada. Ada tiga tingkat kesulitan yang bisa kalian jajal mulai dari Easy, Normal, dan Hard. Saran saya adalah menjajal mulai dari Easy dan setelah terbiasa dengan interface game (yang kadang pewarnaan cerahnya membuat ikon-ikon tertentu sulit dilihat) baru menjajal tingkat kesulitan lebih tinggi. Memenangkan game ini akan menghadiahi kalian poin-poin uang yang bisa dibuat membeli aksesoris dan kostum-kostum baru untuk karakter kalian. Apabila kalian masih merasa itu belum cukup maka Atlus juga merilis banyak sekali DLC tambahan mulai dari kostum baru, karakter baru, hingga lagu-lagu remix baru. Akan tetapi siap-siap saja menjebolkan dompet anda kalau mau melengkapi semua koleksi DLC yang ada. Sneaky, aren’t you Atlus?

Jadi haruskah kalian membeli dan memainkan Persona 4: Dancing All Night? Jawabannya tergantung dari apakah kalian sudah memainkan Persona 4 Golden atau belum. Apabila kalian sudah memainkannya, menyukainya, dan ingin berkumpul lagi bersama dengan Investigation Team? Maka jawabannya adalah iya. Bila tidak, ada jauh lebih banyak Rhythm Game yang lebih superior dari yang satu ini.

P4 2

Score: B