Tales from the Borderlands

Setelah kesuksesan dari The Walking Dead (TWD) dan The Wolf Among Us (TWAU), Telltale Games semakin dipercaya oleh studio-studio media lain menangani kisah sampingan / spin-off dari kisah utama mereka. Ambil contoh HBO dengan serial Game of Thrones (GoT). Akan tetapi Tales from the Borderlands (TftB) adalah sesuatu yang unik. Kenapa demikian? Itu dikarenakan Telltale Games, bahkan sebelum naik daun dengan game The Walking Dead, jarang sekali membuat game yang berbasis game lainnya. Dua game hit mereka sebelum The Walking Dead misalnya: Back to the Future dan Jurassic Park berasal dari film layar lebar. Kualitas game Telltale yang bagus tentunya membuat Gearbox Software dan 2K Games selaku developer dan publisher seri utama Borderlands mempercayai mereka, bagaimana Telltale menjawab kepercayaan itu?

Game Tales from the Borderlands mengambil setting setelah Borderlands 2 dan memakai dua protagonis baru dalam cerita mereka: yang pertama adalah Rhys dan yang kedua adalah Fiona. Rhys dan Fiona adalah dua orang yang hidup di dua dunia yang berbeda. Rhys tinggal di stasiun luar angkasa bernama Helios, mengorbit di atas planet Pandora tempat Fiona tinggal. Sekilas lihat Rhys sepertinya beruntung tinggal di Helios, jauh dari daratan Pandora yang buas dan penuh dengan kriminal, teroris, dan psikopat sinting yang siap menghabisimu kapan saja. Tetapi itu tidak betul. Helios adalah stasiun luar angkasa yang dikuasai oleh korporasi bernama Hyperion dan di dalam perusahaan ini semua anggota-anggotanya saling sikut, saling tikam, dan ingin memajukan karir mereka sendiri.

1

Ketika Rhys ditipu oleh atasannya, ia dan rekannya Vaughn memutuskan untuk merusak deal bisnis dari atasannya dengan pergi ke Pandora. Memang deal bisnis tersebut menjadi berantakan tetapi alih-alih berhasil memetik untung bagi keduanya, Rhys dan Vaughn malahan terjebak di planet Pandora. Di situlah keduanya kemudian bertemu dengan Fiona dan adik perempuannya Sasha. Bisakah keempat orang ini selamat dalam petualangan mereka sementara dikejar-kejar oleh perusahaan Hyperion dan segala macam lapis kriminal di planet Pandora?

3

Hal pertama yang ingin saya sampaikan kepada kalian adalah: MAINKAN GAME INI. Tales from the Borderlands adalah game dengan narasi cerita terbaik yang saya mainkan tahun lalu dan juga merupakan salah satu game terbaik yang dirilis oleh Telltale Games. Tapi bagaimana apabila kalian tidak pernah memainkan game-game Borderlands sebelumnya? Jawabannya adalah: tidak apa-apa. Berbeda dengan Game of Thrones di mana mustahil bisa mengerti apa yang terjadi dalam game tersebut tanpa menonton serialnya terlebih dahulu, TfTB sepenuhnya memiliki cerita dan petualangan baru – bebas dari game lainnya. Selain karakter-karakter orisinil yang diciptakan oleh Telltale di game ini memang ada cukup banyak karakter dari game utama Borderlands hadir di sini – toh mereka hanya hadir dalam kapasitas sebagai karakter pendukung dan sekedar memperkaya cerita.

Seperti kebanyakan game Telltale yang lain struktur dalam Tales from the Borderlands adalah episodik dan terbagi dalam lima chapter cerita. Kelima episode yang ada memiliki kualitas yang hampir merata… bila diminta memilih maka saya rasa episode pertama dan kelima memiliki kualitas yang lebih bagus di antara lainnya karena bersifat sebagai pembuka dan klimaks dalam game ini. Setelah memainkan begitu banyak game Telltale yang nuansanya kelam dan gelap rasanya sangat refreshing memainkan game ini yang penuh dengan dialog-dialog yang smart dan lucu. Sekalipun saya tak mengenal dunia Borderlands, memainkan game ini membuat saya menjadi mengerti akan dunianya dan menjadi ingin menjajal game utamanya.

4

Itu tidak berarti game ini tidak memberikan pilihan-pilihan yang sulit kepadamu maupun tidak dark sama sekali. Ada banyak momen-momen yang membuatku tersentak ketika harus melakukan pilihan, momen-momen yang membuatku terharu dan sedih dalam cerita, bahkan momen-momen gelap yang membuatku mempertanyakan moralitas dari keputusan-keputusan yang telah kubuat sebelumnya. Dengan kata lain: kalau kalian familiar dengan formula dari apa yang membuat game Telltale sukses, kalian akan mendapatkannya di sini.

Untuk memperlengkap paket komplit game ini Telltale sama sekali tidak main-main ketika membingkisnya dalam paket audio visual yang mumpuni. Borderlands dikenal dengan grafik cel-shading, sama halnya dengan game-game rilisan Telltale. Akan tetapi walaupun semua game Telltale memakai grafis cel-shading, inilah game mereka dengan tampilan visual paling cantik. Warna-warna yang kaya, cerah, dan kontras satu sama lain menghidupkan planet Pandora. Tak hanya itu Telltale menyewa para voice actor yang berpengalaman mengisi suara game ini. Tidak percaya? Duet Rhys dan Fiona saja diisi oleh dua voice actor kawakan Troy Baker dan Laura Bailey. Melengkapi keduanya adalah Erin Yvette, Chris Hardwick, Mike Neumann, Nolan North sampai Ashley Johnson. Semuanya tampil luar biasa dalam menghidupkan karakter mereka masing-masing. Hasilnya: cast dalam game ini adalah cast yang paling melekat di hatiku semenjak bermain Persona 4: Golden dulu. Percayalah, itu adalah pujian tertinggi yang bisa saya sampaikan untuk karakter dalam sebuah game. They are all THAT memorable.

2

Bagi kalian yang ingin sebuah game dengan narasi cerita yang berkualitas dan penuh dengan plot twist yang tak tertebak, Tales from the Borderlands adalah sebuah game yang pantang dilewatkan. Telltale Games lagi-lagi menciptakan salah satu kontender game terbaik tahun 2015. Hanya dua kata yang bisa saya ucapkan: luar biasa!

Score: A

Advertisements

One-Punch Man

Awal terjadinya One-Punch Man (OPM) ini sungguh lucu. Sebenarnya komik ini adalah karangan Japanese Webcomic yang popularitasnya kemudian meledak. Gara-gara ia menjadi sangat populer di kalangan netizen Jepang sebuah manga official (baca: dengan gambar lebih bagus) pun digarap oleh Yusuke Murata, sang mangaka yang dikenal sebagai ilustrator dari Eyeshield 21. Dengan artwork Murata yang sangat bagus (seriously, kalian harus check his artwork!) OPM pun makin tenar dan akhirnya digarap serial animenya. Nah, mulai dari sanalah kepopuleran OPM lantas menjangkau seluruh dunia. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan inilah breakout anime tahun ini seperti halnya Sword Art Online dan Attack On Titan beberapa tahun lampau.

Karakter utama dari kisah OPM adalah jagoan bernama Saitama. Saitama berbeda dengan jagoan-jagoan shounen lain seperti Goku atau Luffy. Ia juga berbeda dengan para superhero Amerika ala Superman atau Spider-man. Ia… bosan dengan kehidupannya sebagai superhero. Pada awalnya Saitama adalah seorang yang biasa-biasa saja sampai tiga tahun lalu ia memutuskan untuk banting setir karirnya menjadi superhero. Ia terus melakukan latihan (100x Situp, 100x Pushup, 100x Squat, dan lari 10 km… SETIAP HARI!) dan suatu hari saja menyadari bahwa dirinya menjadi sangat kuat dan… botak. Ehem, pada awalnya Saitama merasa senang dapat bertempur dengan musuh-musuh monster yang menganggu kehidupan masyarakat tetapi lama-lama ia menjadi jenuh.

60626109

Apa sebab? Itu dikarenakan semua musuh yang ia temui dapat ia taklukkan dengan SATU tinju saja. Tak peduli seberapa kuatnya musuh itu (maka dari itu judulnya One-Punch Man). Perlahan tapi pasti Saitama (yang tak pernah ingin menonjolkan bakatnya) mulai mendapatkan perhatian dari hero-hero lain. Lepas dari dunia korporat yang penuh intrik, Saitama memasuki dunia penuh intrik lainnya: intrik dari dunia para hero yang bukannya melindungi masyarakat malah kadang sibuk dengan popularitas mereka sendiri-sendiri!

Anime OPM adalah anime garapan dari studio Madhouse. Seperti kebanyakan serial animasi garapan Madhouse lainnya, kualitas animasi dari OPM memang sangat bagus. Efek pertempuran dari Saitama maupun teman-temannya gila-gilaan dan hancur-hancuran. Bahkan momen-momen yang lebih tenang dalam serial ini pun digambarkan dengan bagus. Kualitas animasi terutama terlihat bagus dalam dua pertempuran ‘besar’ yang terjadi di separuh akhir serial ini. Saya tahu bahwa banyak orang mengatakan versi manga dari Murata lebih superior (terutama dengan penggunaan kontras inking hitam putihnya) dan saya setuju. Tetapi adaptasi anime dari studio Madhouse tidak memalukan nama OPM.

Untuk cerita dari OPM sendiri pada setengah awal serial ini tergolong lamban pacingnya karena baru memperkenalkan karakter-karakter yang ada dalam cerita – terutama karakter Saitama itu sendiri beserta sang sidekick Genos. Cerita dalam OPM baru mulai menggigit dan tak terus bergantung pada parodi ketika memasuki cerita Deep Sea King. Di saat inilah kebrilianan dari kisah OPM mulai terlihat, terutama karena perkenalan dengan karakter-karakter hero lainnya dalam cerita – membuat universe OPM terasa lebih luas dan berwarna. Kita pun mulai bisa mengenal struktur organisasi dari para Hero yang (ternyata) bobrok.

image

Oleh karena serial ini hanya terdiri dari 12 episode (OPM adalah manga yang relatif ‘baru’) tidak mengherankan kalau serial ini berakhir baru ketika dunia OPM mulai diekspansi lebih luas. Saya tidak keberatan. Lebih baik memiliki serial yang jumlah episodenya tidak banyak tetapi fokus ketimbang serial animasi yang jumlah episodenya tidak terhingga jumlahnya tetapi berisi filler (berikut penurunan kualitas animasi di sana-sini).

Sebelum menutup review ini saya ingin memberikan shout-out pada opening dari OPM: The Hero yang dinyanyikan oleh JAM Project. Hands down ini adalah lagu opening anime terbaik tahun ini. Titik. It’s so epic dan sangat – sangat – sangat pas untuk menggambarkan betapa badassnya Saitama, terlepas dari ketidakpeduliannya dengan status. OPM, singkatnya, adalah salah satu anime terbaik yang saya tonton tahun 2015. Kalau ada satu anime yang perlu kamu tonton supaya tetap nyambung dalam diskusi pop culture terkini: OPM adalah anime itu.

MuMnRFz

Score: A-

Burnt

Tahun 2015 lalu adalah tahun yang penuh dengan naik turun bagi Bradley Cooper. Di satu sisi film American Sniper yang dia bintangi menjadi salah satu film paling laris di tahun 2014 – 2015 lalu dan membawanya sekali lagi masuk menjadi kontender aktor terbaik Oscar. Selain itu ia juga sukses meluncurkan serial Limitless yang merupakan sekuel dari film layar lebar yang ia bintangi beberapa tahun lampau. Di sisi lain film-filmnya yang lain seperti Aloha dan Burnt gagal berbicara banyak di box office, bahkan terbilang menjadi box office bomb di tahun 2015 lalu. Apakah karena kualitas film tersebut memang buruk atau sekedar karena penonton jenuh menonton Cooper di layar lebar?

Dalam film Burnt Bradley Cooper adalah Adam Jones: seorang koki muda yang berbakat tetapi menyia-nyiakan talentanya ketika ia kena obat-obatan terlarang dan berhutang dengan sana-sini. Kita tidak pernah ditunjukkan bagaimana Adam jatuh karena film ini dimulai ketika ia berusaha bangkit kembali. Ia datang ke kota London – berpisah dari Paris yang adalah tempat kerja lamanya – untuk mulai bekerja lagi. Adam bekerja sama dengan teman lamanya Tony untuk mengumpulkan kru-kru lamanya lagi. Apabila sebelumnya Adam sudah mencapai rating bintang dua Michelin, ia kali ini membidik target yang lebih tinggi: target kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu adalah bintang tiga Michelin.

1

Bagi mereka yang tidak familiar dengan rating dunia masak-memasak, ada sebuah badan bernama Michelin. Restoran-restoran yang mendapatkan bintang dari Michelin layak untuk disebut restoran Fine Dining. Berbeda dengan restoran-restoran biasa, ini adalah restoran-restoran yang berkelas di mana bahan makanan yang dipilih adalah bahan makanan terbaik dan diolah secara optimal untuk menghadirkan rasa yang (luar biasa) enak. Tak hanya masakan saja, atmosfir dalam restoran pun harus sangat bersih dan nyaman untuk orang makan di dalamnya. Apabila memang semua hal tersebut dapat dicapai maka Michelin akan menganugerahi bintang tiga, sebuah pencapaian yang hanya didapat segelintir restoran di dunia.

Penampilan Bradley Cooper adalah jangkar dalam film Burnt ini. Sebagai Adam Jones yang sedikit bipolar Cooper bergelut dengan masa lalunya yang kelam sekaligus mencoba membangun kembali restoran dengan segala sisi perfeksionis yang ada dalam dirinya. Sungguh sayang cast pendukung lainnya tidak bisa tampil maksimal dalam mendukungnya. Di satu sisi saya merasa film ini tak cukup memberikan spotlight kepada rekan-rekan Adam yang lain dengan pengecualian Helene (Sienna Miller) dan Tony (Daniel Bruhl). Entah bagaimana chemistry dari Cooper dan Miller terasa sangat flat di film ini, jauh berbeda dengan saat keduanya tampil sebagai sepasang kekasih di American Sniper. Untungnya saja chemistry antara Cooper dan Bruhl jauh lebih baik dan merupakan highlight film ini. Bahkan bisa dibilang Tony adalah karakter paling menarik kedua di film ini setelah Adam Jones.

2

Sutradara John Wells pun kurang berpengalaman sepertinya untuk mensyuting tampilan makanan yang lezat dan meyakinkan. Apabila kalian menonton film Chef karya Jon Favreau, tampilan dalam film itu bak food porn yang membuat kalian tergiur untuk makan. Dalam Burnt penampilan makanan-makanan di sini terasa… biasa. Dan tidak mencapai standar bintang tiga Michelin yang digadang-gadangkan sepanjang film. Minus untuk koreografinya tetapi plus untuk kebolehan Wells mengarahkan betapa chaotic dan ramainya kehidupan di balik dapur untuk menyuguhkan makanan kepada kita.

Burnt adalah film yang punya potensi menyeimbangkan kehidupan sang koki utama dengan restoran yang ia jalankan tetapi walaupun semua elemen-elemen yang ada lengkap di sana, hasil yang muncul kurang optimal. Sayang sekali tetapi untuk film yang mencari kesempurnaan dunia masak-memasak, ia jauh dari sempurna.

burnt

Score: B-

The Intern

Nancy Meyers adalah salah satu sutradara wanita yang paling laris di Hollywood. Selain Nora Ephron, mungkin film-film dari Nancy Meyers adalah film-film romantis yang bagus tetapi tidak murahan, sesuatu yang terkadang sulit ditemukan. Setelah lebih dari setengah dekade absen di layar lebar, Nancy Meyers kembali ke layar lebar dan membawa dua aktor beda generasi ke dalam satu layar: Robert DeNiro dan Anne Hathaway.

Setelah Ben Whitaker menjadi duda karena istrinya meninggal dunia hidupnya serasa hampa. Ia sudah berkeliling dunia, mengambil kelas bahasa, bermain dan bercengkerama bersama dengan anak cucunya, tetapi ia tetap merasa ada yang kurang dari hidupnya. Ia ingin kembali merasa ‘berguna’ tapi entah bagaimana caranya. Lantas ia menemukan sebuah iklan dari situs About the Fit, sebuah situs komersial berjualan baju online (seperti Zalora atau Berrybenka) yang tengah naik daun dan dipegang oleh sang founder muda Jules Ostin.

intern

Berbeda dengan Ben, Jules adalah gadis muda yang hidup dengan segala kekiniannya, ia gaul dengan teknologinya dan juga mati-matian mempertahankan perusahaannya yang tumbuh dengan cepat di luar ciri-ciri perusahaan biasa. Membuka program Intern buat orang tua sebenarnya bagi Jules hanya sekedar proyek sosial semata. Akan tetapi kegigihan Ben untuk belajar lebih mendalam mengenai dunia e-commerce membuat Jules kagum dengannya. Perlahan tapi pasti kedua orang berbeda generasi ini membangun hubungan persahabatan yang unik antaranya.

Satu kata yang terlintas di benakku dalam menonton film ini adalah “heartwarming“. Ketika menonton film beda generasi seperti ini yang pertama terpikir olehku adalah bagaimana nanti skenario akan terus berusaha menggambarkan perbedaan Ben sebagai seorang yang gaptek dan Jules yang memandang rendah Ben sebagai sosok yang sudah tua dan tidak up-to-date. Beruntung Nancy Meyers tidak pernah jatuh dalam skenario picisan dan gampangan seperti itu. Ben memang pada awalnya digambarkan gaptek tetapi dalam tempo yang singkat ia bisa belajar mengoperasikan teknologi mendasar dalam pekerjaannya – membuktikan bahwa orang tua tidak berarti harus bingung teknologi. Di lain sisi Jules tidak selalu digambarkan ala CEO yang sadis dan kejam seperti Meryl Streep dalam The Devil Wears Prada. Dia tegas – tetapi di saat yang bersamaan juga seorang gadis yang menunjukkan kecintaan yang besar dalam pekerjaannya dan menghormati rekan kerja serta bawahannya.

1

Satu tema yang konstan dalam film ini adalah menolak anggapan miring orang; sesuatu yang dihadapi oleh baik Ben maupun Jules. Di satu sisi Ben adalah pria tua yang dianggap tak berguna sementara Jules, walaupun sudah menjadi seorang CEO dari perusahaan yang sukses, harus menghadapi anggapan di luar pakem sebagai wanita pekerja dan bukannya ibu rumah tangga semata. Dan ini merupakan hal menarik yang disorot dalam film ini. Apakah seorang dianggap tabu untuk bekerja? Apakah seorang suami / ayah yang adalah stay-home dad berarti buruk? The Intern melempar pertanyaan-pertanyaan sulit seperti itu dan salutnya berani menjawab pertanyaan itu dengan caranya sendiri. Terlepas dari apakah kamu setuju atau tidak dengan konklusi film ini, saya mengacungkan jempol akan keberaniannya.

Kunci dari bagusnya film ini adalah apiknya chemistry antara Robert DeNiro dan Anne Hathaway di sini. DeNiro di sini tampak sebagai seorang pria gentleman yang tua dan berusaha mencari makna dalam kehidupan di usia senjanya. Penampilannya di sini mengingatkan saya dengan film drama underrated miliknya yang lain: Everybody’s Fine. Di lain sisi Anne Hathaway seperti biasa tampil luar biasa, baik dengan kejelitaannya (she’s 33!? She looks 25!) dan dengan kemampuan aktingnya yang kian lama kian matang. Tidak berlebihan bagiku mengatakan bahwa momen-momen terbaik di film ini hadir dari interaksi keduanya, termasuk saat di mana Anne Hathaway menunjukkan sisi emosional dalam aktingnya.

3

Apabila biasanya saya tidak menyarankan film drama kepada pria, The Intern adalah satu film yang saya rekomendasikan baik kepada pria – wanita. Ada sebuah pelajaran (atau paling tidak bahan diskusi) yang bisa dipetik dari menontonnya, dan itu sesuatu yang jarang didapat dari film drama. Highly recommended!

Score: A-

The Visit

Satu dekade yang lalu mendengar nama M. Night Shyamalan menyutradarai film horor adalah jaminan mendapatkan film horor berkualitas dari seorang sutradara yang menggarap film seperti The Sixth Sense, Unbreakable, maupun Signs. Sungguh sayang setelah film-film tersebut kualitas dari film-filmnya semakin menurun. Dua film terakhir darinya: The Last Airbender dan After Earth menunjukkan bahwa Shyamalan berusaha keluar dari pakemnya sebagai sutradara film horor semata. Sial baginya, film-film tersebut malahan lebih hancur lagi kualitasnya.

Maka kini kembali lagilah Shyamalan ke akarnya: film horor. Ia menyutradarai sebuah film horor berjudul The Visit. Bisa dibilang ini seperti sebuah karya yang back to the basic bagi Shyamalan. Bisakah film ini membangkitkan kembali karirnya yang terpuruk? Apakah dalam film ini kita bisa melihat sisa-sisa dari kejeniusan sang sutradara yang dulunya mampu membuat kita terperangah dengan twist-twistnya?

3

Dua bersaudara Rebecca dan Tyler memutuskan untuk memberi kepada Mama mereka kesempatan untuk berduaan dengan pacar barunya. Cara mereka adalah dengan pergi ke rumah kakek-nenek mereka yang telah bertahun-tahun tak pernah mereka kunjungi (bahkan dari lahir pun tak pernah). John dan Doris adalah dua kakek-nenek yang baik hati tetapi juga agak aneh. Semula Rebecca dan Tyler tak peduli dengan segala macam keanehan itu, toh orang tua kan memang selalu aneh di mata anak muda. Akan tetapi keanehan-keanehan itu semakin menjadi-jadi. Ditambah dengan larangan-larangan yang tidak jelas seperti jangan pergi ke basement, jangan keluar dari kamar di atas jam 9.30 malam membuat Rebecca dan Tyler makin ketakutan, ada apa gerangan dengan kakek-nenek mereka sebenarnya?

The Visit

Apa yang mengejutkanku tentang film ini adalah tone-nya yang merupakan campuran dari seram, mengagetkan, dan lucu. Saya suka dengan cara Shyamalan membentuk ketegangan dan ketakutan di film ini tanpa perlu memakai satu trik basi film horor: jump scare. Saya tahu kalau jump scare adalah cara yang paling efektif untuk mengejutkan penonton, tetapi di saat yang bersamaan itu cara yang paling ‘kampungan’ untuk menakuti penonton. Shyamalan memang menggunakan beberapa jump scare dalam film ini tetapi penempatannya efektif dan tidak berlebihan. Di sisi lain yang berhasil membangun mood ketegangan dan tensi di film ini adalah akting apik dari Deanna Dunagan dan Peter McRobbie sebagai Nana dan Pop Pop (panggilan si nenek dan kakek). Akan tetapi tidak hanya dua orang tua ini saja yang bermain lucu. Olivia DeJonge dan Ed Oxenbould sebagai Rebecca dan Tyler juga bermain dengan sangat bagus. Saya terutama sangat suka dengan Ed Oxenbould dengan celetukan-celetukan lucunya. Suka dengan aktor cilik yang pertama saya kenal dari film Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day (sebuah film keluarga yang underrated).

Bicara soal film dari M. Night Shyamalan tentu saja tidak bisa lepas dari twist ending yang kerap menghiasi film-filmnya. Apabila kalian bertanya apakah ada twist dalam film ini, jawabannya adalah ya, ada. Bahkan penggunaan komedi dalam film ini saja menurutku adalah twist dari pakem-pakem film horor Shyamalan yang kerap terlalu serius. Di lain sisi ada sebuah twist yang muncul menjelang ending sayangnya sudah terbaca olehku dari sejak film ini dimulai. Saya lupa di mana tapi yang jelas saya pernah membaca / menonton / memainkan twist yang serupa. Yah, paling tidak twist kali ini terasa lebih organik dalam cerita dan tidak dipaksakan sekedar demi munculnya twist ala beberapa film horor lainnya.

2

Apakah film The Visit adalah kebangkitan kembali dari karir M. Night Shyamalan? Terlalu dini untuk mengklaimnya demikian. Tetapi setelah banyak film-film horornya (dan non-horornya) yang mengecewakan, saya sejujurnya merasa bahwa ini adalah karya terbaik Shyamalan sejak Signs lebih dari satu dekade yang lalu… dengan kata lain: langkah ke arah yang benar. Lanjutkan!

Score: B-

Shokugeki no Souma

Anime yang mengambil tema dunia masak memasak tidak selalu masuk dengan seleraku. Bukan berarti saya tidak suka dengan Yakitate!! atau Addicted to Curry tetapi saya tak pernah benar-benar ngefans dengan mereka. Mungkin alasannya adalah karena ketika kecil dulu saya menonton anime berjudul Mister Ajikko yang di Indonesia terkenal dengan judul Born to Cook. Anime-anime atau manga memasak lain berikutnya yang hadir setelah itu tidak pernah bisa menyamai kecintaanku terhadap anime klasik tersebut. Ketika adikku (yang lebih update mengenai dunia anime) ketimbangku menyarankan menonton Shokugeki no Souma, saya tak serta merta menontonnya, menganggap bahwa generasi muda sekarang mungkin tak pernah tahu Mister Ajikko sehingga mencintai Shokugeki no Souma, saya tak yakin akan bisa sesuka itu terhadap anime ini. Toh ketika animenya telah usai, saya memberi kesempatan dan mencoba menontonnya…

Protagonis utama dari anime ini adalah Soma Yukihira yang ingin menjadi koki hebat yang bisa mengikuti jejak ayahnya dalam menjalankan bisnis restoran mereka. Menyadari bakat Soma, sang ayah justru menyarankan dia untuk masuk ke dalam sekolah bernama Akademi Totsuki, akademi masak-memasak paling elit seluruh Jepang. Pada awalnya Soma menganggap remeh para teman-temannya di sekolah karena menganggap mereka semua anak-anak ingusan yang tak pernah mengerti beratnya bekerja di restoran di dunia nyata. Akan tetapi sangkaan Soma sontak berubah begitu ia berkenalan dengan kawan-kawan barunya. Mereka semua ternyata adalah calon-calon koki yang memiliki spesialisasinya sendiri dan berambisi menjadi koki yang hebat… apakah Soma bisa bertahan di tengah persaingan Akademi Totsuki yang sangat ketat dan brutal?

1

Pertama saya ingin menjelaskan satu hal yang membuat kebanyakan orang tidak suka dengan Shokugeki no Soma: fan servicenya. Adalah hal yang biasa dalam anime ini bahwa setelah juri / orang memakan masakan yang lezat mereka akan kelojotan layaknya terkena orgasme. Hal ini biasa dimunculkan untuk menampilkan efek komedik tetapi oleh beberapa orang dianggap sebagai hal yang kotor dan ecchi. Ini dikarenakan manga yang digambar oleh Shun Saeki ini juga memiliki tipe gambar yang serupa. Satu info menarik lain adalah Shun Saeki sebelum terkenal menggarap manga mainstream ini lebih dahulu populer di dunia manga hentai. Akan tetapi janganlah membiarkan hal ini menganggu kenikmatan kalian menonton Shokugeki no Souma, percayalah bahwa seiring dengan berjalannya episode di anime ini kadar ecchi dan fan-servicenya pun makin dikurangi.

2

Kembali pada animenya sendiri, saya adalah orang yang paling terkejut menyadari betapa saya sangat menyukai anime ini. Shokugeki no Souma adalah anime yang paling fun yang saya tonton tahun ini! Saya menonton anime ini hampir marathon dan menyelesaikannya dalam kurun waktu seminggu. Setelah itu saya langsung merekomendasikannya kepada teman-teman saya yang semuanya menonton dan juga menyukainya. Kunci dari kesuksesan anime ini hadir dari paduan sempurna semua kunci elemen cerita di dalamnya.

Yang pertama tentu saja adalah masakan-masakan yang ada di dalam Shokugeki no Souma. Berbeda dengan Yakitate!! yang berpusat mengenai roti, anime ini secara adil berbicara mengenai hampir semua jenis masakan. Dalam season pertama yang berdurasi 24 episode saya sudah menemukan masakan Jepang, Italia, Perancis, dan banyak lainnya ditampilkan dalam anime ini. Seperti yang saya katakan tadi, Akademi Totsuki memiliki banyak koki yang memiliki spesialisasi mereka masing-masing dalam memasak, oleh sebab itu menonton masakan-masakan apa saja yang akan muncul menjadi rasa penasaran tersendiri. Omong-omong, ada tempe khas Indonesia yang muncul juga lo di serial ini.

3

Kedua adalah karakter dan format penceritaan dalam anime ini. Saya tadinya menyangka bahwa anime ini akan berkisah mengenai Soma melakukan duel demi duel demi duel menghadapi koki-koki yang ada di Totsuki. Sementara itu ada benarnya, sang pengarang cukup bijak tidak melulu menggunakan duel masak (Shokugeki) sebagai plot device. Bahkan sepanjang season pertama praktis Soma hanya melakukan dua kali Shokugeki saja! Oleh karena penempatan Shokugeki ini dilakukan hanya sesekali saja maka ketika pertarungan antara para Chef terjadi biasanya pertaruhan emosionalnya pun lebih menonjok dan kita siap melihat pertarungan yang spektakuler. Ada satu momen dalam anime ini di mana Soma akan melakukan Shokugeki dan bagiku adalah momen terbaik dari anime – bahkan mungkin dari seluruh dunia hiburan – yang saya tonton tahun ini. It’s just THAT good.

4

Tak hanya penceritaannya saja tetapi juga karakter-karakter dalam serial ini begitu membekas di hati. Banyak serial animasi kerap tidak berani memperkenalkan terlalu banyak karakter dan membatasi jumlah karakter di bawah sepuluh karena khawatir bahwa penonton tak bisa mengingat-ingat semuanya. Tidak dengan Shokugeki no Soma. Dalam 24 episode anime ini dia memperkenalkan puluhan karakter di dalamnya dan saya yakin di penghujung anime ini yang membekas di hati paling tidak 20 karakter – bahkan lebih. Salut untuk sang pengarang yang mampu memperkenalkan karakter-karakter yang memorable dalam anime ini sehingga sanggup menampilkan klimaks yang sangat seru di penghujung season.

Hal terakhir yang membuat saya jatuh cinta pada anime ini adalah animasi dan musiknya. Animasi dalam penyampaian masakan-masakan di dalamnya sangat cantik dan menggiurkan. Percayalah kalau kalian menonton anime ini dalam perut kosong, kalian akan langsung menghambur ke restoran terdekat guna mengisinya. Tambahkan itu dengan lagu-lagu opening dan ending yang sangat menggugah hati (terutama untuk lagu opening dan ending yang pertama: Kibou no Uta dan Spice) maka serial ini menjadi layaknya sebuah paket makanan yang lengkap dan begitu lezat untuk dinikmati.

Terlepas dari apakah kalian pecinta anime masak-memasak atau bukan Shokugeki no Souma adalah serial animasi terbaik yang saya tonton di tahun 2015 lalu. Sangat sayang tentunya bila tak dinikmati!

Score: A

Star Wars Rebels – The Complete Season One

Saya ingat ketika Star Wars Rebels pertama diumumkan oleh Disney banyak penggemar Star Wars yang marah dan kecewa. Kekecewaan dan kecemasan ini beralasan. Beberapa tahun lalu ada sebuah serial animasi The Avengers yang berjudul The Avengers: Earth’s Mightiest Heroes (The Avengers: EMH). Setelah Marvel dibeli oleh Disney serial animasi itu kemudian dicancel dan diganti dengan Avengers Assemble. Dalam banyak hal Avengers Assemble memiliki jalan cerita yang mirip dengan The Avengers: EMH tetapi digarap dengan sangat kekanak-kanakan sehingga membuat orang kecewa akannya.

Hal yang sama sepertinya akan terjadi dengan Star Wars Rebels. Star Wars: The Clone Wars yang merupakan kisah animasi yang benar-benar disukai oleh banyak penggemar dicancel dan kemudian digantikan dengan Star Wars Rebels yang sekilas terlihat kid-friendly. Apakah ketakutan dan kekhawatiran para fans Star Wars itu akan menjadi kenyataan?

3

Hal pertama yang harus diketahui oleh orang yang ingin mengikuti serial ini adalah betapa setting waktu antara film ini dengan Star Wars: The Clone Wars. Serial tersebut mengambil setting antara Star Wars Episode II dan Episode III sebelum Anakin Skywalker jatuh dalam kegelapan dan menjadi Darth Vader. Di saat tersebut perang antara Jedi dan Sith ditambah intrik politik galaksi adalah tema utama serial tersebut. Ini tentu saja berbeda dengan Star Wars Rebels di mana Empire sudah menang dan Emperor Palpatine kini memerintah dengan tangan besi.

Setting serial Star Wars Rebels tepatnya adalah 14 tahun setelah Star Wars Episode III dan lima tahun sebelum Star Wars Episode IV. Serial ini mengikuti kisah petualangan dari lima orang awak kapal Ghost yang berjuang melawan Empire dengan memulai pemberontakan kecil-kecilan. Mereka adalah:

1

Ezra Bridger, seorang pencuri yang memiliki bakat menjadi seorang Jedi. Ia adalah karakter utama dalam serial ini dan menjadi mata penonton mengenal karakter-karakter lain dalam kapal Ghost.

Hera Syndulla adalah pilot dari Ghost yang berpengalaman dan tak kalah hebat kemampuan mengendalikan pesawatnya bahkan disandingkan dengan Han Solo sekalipun.

Sabine Wren adalah seorang mantan bounty hunter yang tangguh dan cekatan dalam menembak blaster.

Garazeb Orrelios yang adalah seekor Lasat, spesies yang nyaris punah karena kaum mereka nyaris semua dibantai secara keji oleh Empire.

Memimpin keempat orang ini adalah Kanan Jarrus, seorang Jedi yang entah bagaimana selamat dari perintah kejadian Order 66 yang nyaris membantai habis semua kaum Jedi yang ada. Oleh karena keberadaan Jedi yang dibenci oleh Empire, Kanan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Jedi dan hanya menggunakan lightsabernya maupun kekuatan Force-nya ketika benar-benar terdesak dan diperlukan saja.

2

Membantu kelima anggota kru ini dalam melaksanakan tugasnya adalah sebuah droid (mana lengkap Star Wars tanpa robot-robot unik yang lucu) berkode C1-10P tetapi acap dipanggil Chopper oleh rekan-rekannya. Keenam dari mereka beroperasi di planet bernama Lothal, planet ini terletak di Outer Rim yang jauh dari jangkauan pusat kekuatan Empire – sehingga ini mungkin menjadi alasan kenapa karakter-karakter penting dalam film seperti Darth Vader maupun Emperor Palpatine jarang muncul di tempat ini.

Serial ini dikepalai oleh tiga orang yang telah sangat berpengalaman dalam dunia animasi: Simon Kinberg, Dave Filoni dan Carrie Beck. Tidak hanya itu bahkan Greg Weisman yang merupakan maestro dari banyak serial animasi modern yang apik pun campur tangan dalam penciptaannya. Oleh karena itu mereka yang khawatir serial ini takkan sebagus Star Wars: The Clone Wars tak perlu kecewa. Toh, bukankah Filoni juga merupakan sosok yang bertanggung jawab di balik Star Wars: The Clone Wars? Tidak mengherankan bukan kalau Star Wars Rebels juga digarap dalam bentuk animasi 3D (secara sederhana) mengikuti pendahulunya.

Setelah beberapa episode awal terasa seperti intro dan stand-alone episode untuk lebih mengenal tiap-tiap karakter yang ada, tensi dan kualitas dari Star Wars Rebels meningkat dan mulai menemukan identitasnya dalam tiga episode terakhirnya. Apabila dalam delapan episode sebelumnya kita dibiarkan untuk mengenal setiap karakter-karakter tersebut secara lebih mendalam, tiga episode terakhir dalam serial ini menguji kekompakan dan hubungan persahabatan – bahkan mungkin keluarga – antara keenam kru Ghost ini. Pun karena merupakan finale dari season pertamanya pertaruhan yang ada jauh lebih tinggi daripada misi-misi biasanya.

Season pertama ini bisa dibilang juga merupakan season yang mengedepankan hubungan Jedi – Padawan (alias Guru – Murid) antara Kanan dan Ezra. Sungguh menyegarkan melihat sosok keduanya saling mengisi satu sama lain melalui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perlu diingat bahwa Kanan bukan seorang Jedi Master yang sangat berbakat macam Obi Wan Kenobi, Mace Windu, maupun Yoda. Apabila pembantaian Jedi tidak pernah terjadi sangat bisa jadi Kanan bahkan belum cukup matang untuk memiliki Padawan-nya sendiri. Itulah yang membuat interaksi dirinya, yang masih ragu dengan kemampuannya sendiri, dengan Ezra, yang haus ingin belajar sebanyak mungkin mengenai dunia Jedi, menjadi menarik. Yang saya sayangkan adalah karena fokus antara kedua karakter ini begitu dikedepankan maka background kisah ketiga karakter lainnya dalam Ghost (dengan pengecualian Chopper –  he’s a droid) jadi agak ditelantarkan. Saya berharap bahwa dalam season 2 karakter-karakter tersebut pun diberi kesempatan dalam spotlight.

Hal lain yang saya rasa bisa diperbaiki dalam season kedua adalah tensi dalam serial ini. Setelah delapan episode hampir selalu bisa meloloskan diri dengan mudah (dengan pengecualian satu dua episode ketika The Inquisitor, seorang Sith dengan senjata mirip Darth Maul, muncul) saya jadi kurang bisa menanggapi kekuatan Empire secara serius karena mereka selalu dipecundangi dengan… mudah. Sekali lagi tiga episode terakhir dalam season pertama ini adalah langkah ke arah yang benar dan saya berharap tensi itu akan tetap dipertahankan memasuki season keduanya. Oh ya, satu hal lagi bagi mereka yang sedih akan tamat secara prematurnya Star Wars: The Clone Wars, akan ada kejutan yang menyenangkan bagi kalian dalam serial ini, percayalah serial tersebut tak sepenuhnya dilupakan begitu saja oleh Disney.

4

Secara keseluruhan Star Wars Rebels adalah sebuah kisah yang layak tonton bagi kalian yang suka dengan animasi ringan dalam dunia Star Wars. Ia adalah hiburan yang memuaskan untuk seluruh anggota keluarga baik muda dan tua. Kita tunggu petualangan apa lagi yang akan terjadi di season kedua dan mungkinkah mereka bahkan akan bertautan dengan Star Wars: Rogue One yang akan dirilis akhir tahun 2016 nanti?

Score: B+