The Intern

Nancy Meyers adalah salah satu sutradara wanita yang paling laris di Hollywood. Selain Nora Ephron, mungkin film-film dari Nancy Meyers adalah film-film romantis yang bagus tetapi tidak murahan, sesuatu yang terkadang sulit ditemukan. Setelah lebih dari setengah dekade absen di layar lebar, Nancy Meyers kembali ke layar lebar dan membawa dua aktor beda generasi ke dalam satu layar: Robert DeNiro dan Anne Hathaway.

Setelah Ben Whitaker menjadi duda karena istrinya meninggal dunia hidupnya serasa hampa. Ia sudah berkeliling dunia, mengambil kelas bahasa, bermain dan bercengkerama bersama dengan anak cucunya, tetapi ia tetap merasa ada yang kurang dari hidupnya. Ia ingin kembali merasa ‘berguna’ tapi entah bagaimana caranya. Lantas ia menemukan sebuah iklan dari situs About the Fit, sebuah situs komersial berjualan baju online (seperti Zalora atau Berrybenka) yang tengah naik daun dan dipegang oleh sang founder muda Jules Ostin.

intern

Berbeda dengan Ben, Jules adalah gadis muda yang hidup dengan segala kekiniannya, ia gaul dengan teknologinya dan juga mati-matian mempertahankan perusahaannya yang tumbuh dengan cepat di luar ciri-ciri perusahaan biasa. Membuka program Intern buat orang tua sebenarnya bagi Jules hanya sekedar proyek sosial semata. Akan tetapi kegigihan Ben untuk belajar lebih mendalam mengenai dunia e-commerce membuat Jules kagum dengannya. Perlahan tapi pasti kedua orang berbeda generasi ini membangun hubungan persahabatan yang unik antaranya.

Satu kata yang terlintas di benakku dalam menonton film ini adalah “heartwarming“. Ketika menonton film beda generasi seperti ini yang pertama terpikir olehku adalah bagaimana nanti skenario akan terus berusaha menggambarkan perbedaan Ben sebagai seorang yang gaptek dan Jules yang memandang rendah Ben sebagai sosok yang sudah tua dan tidak up-to-date. Beruntung Nancy Meyers tidak pernah jatuh dalam skenario picisan dan gampangan seperti itu. Ben memang pada awalnya digambarkan gaptek tetapi dalam tempo yang singkat ia bisa belajar mengoperasikan teknologi mendasar dalam pekerjaannya – membuktikan bahwa orang tua tidak berarti harus bingung teknologi. Di lain sisi Jules tidak selalu digambarkan ala CEO yang sadis dan kejam seperti Meryl Streep dalam The Devil Wears Prada. Dia tegas – tetapi di saat yang bersamaan juga seorang gadis yang menunjukkan kecintaan yang besar dalam pekerjaannya dan menghormati rekan kerja serta bawahannya.

1

Satu tema yang konstan dalam film ini adalah menolak anggapan miring orang; sesuatu yang dihadapi oleh baik Ben maupun Jules. Di satu sisi Ben adalah pria tua yang dianggap tak berguna sementara Jules, walaupun sudah menjadi seorang CEO dari perusahaan yang sukses, harus menghadapi anggapan di luar pakem sebagai wanita pekerja dan bukannya ibu rumah tangga semata. Dan ini merupakan hal menarik yang disorot dalam film ini. Apakah seorang dianggap tabu untuk bekerja? Apakah seorang suami / ayah yang adalah stay-home dad berarti buruk? The Intern melempar pertanyaan-pertanyaan sulit seperti itu dan salutnya berani menjawab pertanyaan itu dengan caranya sendiri. Terlepas dari apakah kamu setuju atau tidak dengan konklusi film ini, saya mengacungkan jempol akan keberaniannya.

Kunci dari bagusnya film ini adalah apiknya chemistry antara Robert DeNiro dan Anne Hathaway di sini. DeNiro di sini tampak sebagai seorang pria gentleman yang tua dan berusaha mencari makna dalam kehidupan di usia senjanya. Penampilannya di sini mengingatkan saya dengan film drama underrated miliknya yang lain: Everybody’s Fine. Di lain sisi Anne Hathaway seperti biasa tampil luar biasa, baik dengan kejelitaannya (she’s 33!? She looks 25!) dan dengan kemampuan aktingnya yang kian lama kian matang. Tidak berlebihan bagiku mengatakan bahwa momen-momen terbaik di film ini hadir dari interaksi keduanya, termasuk saat di mana Anne Hathaway menunjukkan sisi emosional dalam aktingnya.

3

Apabila biasanya saya tidak menyarankan film drama kepada pria, The Intern adalah satu film yang saya rekomendasikan baik kepada pria – wanita. Ada sebuah pelajaran (atau paling tidak bahan diskusi) yang bisa dipetik dari menontonnya, dan itu sesuatu yang jarang didapat dari film drama. Highly recommended!

Score: A-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s