Review Round-Up 2016 (Part 7 – TV Series)

Tahun ini adalah tahun di mana karena bertambahnya kesibukan maka kesempatan menonton serial TV banyak berkurang. Apabila biasanya saya bisa menyempatkan diri menonton sekitar 8 sampai 10 serial, waktu yang kian terbatas membuat saya terpaksa mengurangi kebanyakan serial-serial tersebut (termasuk sitkom). Walhasil sampai saat ini saya baru menonton lima serial TV saja.

Ke depannya saya masih berencana menonton beberapa lagi, tetapi harus diakui masa-masa di mana saya mengikuti banyak serial TV mungkin sudah lewat. Entah kenapa kebanyakan serial-serial baru yang ada belum terlalu menarik bagiku untuk diikuti, terutama karena saya tidak tahu apakah mereka akan dicancel atau tidak (seperti Limitless atau Minority Report, contohnya).

Oh dan omong-omong jangan khawatir, saya tidak mereview Game of Thrones season 6 karena serial tersebut belum selesai. Chill guys, I’m still following that series, of course!

1. The Flash: The Complete Season 2
Score: 7.5

Season pertama The Flash adalah serial superhero terbaik yang saya tonton tahun lalu. Saya memiliki ekspektasi tinggi akan season kedua memasuki tahun ini tetapi sayangnya itu gagal menjadi kenyataan. Walaupun season 2 ini tidak buruk, sepertinya penulis The Flash terlalu banyak memasukkan elemen fantasi ke dalamnya yang membuat ceritanya terlalu berlebihan untuk diikuti. Konsep seperti Parallel World mungkin masih bisa saya terima (karena serial ini menghabiskan cukup banyak waktu menerangkan konsepnya) tetapi konsep seperti Time Remnant? Mungkin konsep ini bisa masuk akal tetapi eksekusinya sangat tergesa-gesa (dan terasa seperti plot convenience) sehingga akhirnya terasa mentah. Belum lagi ada keharusan crossover dengan serial lain yang mulai menganggu narasi utama dari serial ini.

2. Arrow: The Complete Season 4
Score: 5.0

Setelah season 3 yang mengecewakan saya banyak berharap bahwa season keempat Arrow akan menjadi season di mana serial ini akan kembali apik lagi. Tapi sayangnya tidak. Semakin lama serial ini seperti semakin kehilangan arah saja. Felicity yang awalnya salah satu karakter paling favorit saya di layar kaca kini menjadi menyebalkan, koreografi pertarungan serial ini terasa sangat low-budget dan tidak tertata, sampai flashback di pulau Lian Yu yang dipanjang-panjangkan dan tidak perlu. Satu-satunya saving grace dalam serial ini sebenarnya adalah Damien Dahrk yang merupakan lawan lebih kuat bagi Arrow (ditambah dengan konsep kekuatan mistis) tetapi itupun dirusak dalam finalenya yang amat sangat underwhelming. Oliver Queen, you have failed this viewer!

3. Legends of Tomorrow: The Complete Season 1
Score: 7.5

Bagaimana bila kamu mengambil karakter-karakter menarik dari Arrow dan The Flash lantas menggabungkannya dalam satu serial? Hasilnya adalah Legends of Tomorrow, serial yang kaya dengan budget dan hasilnya pun terlihat ambisius untuk ukuran TV. Saya suka sekali dengan konsep serial ini mengingat mereka punya banyak karakter yang saya sukai di dalamnya mulai dari duet Captain Cold dan Heatwave dari The Flash sampai Sara Lance (Black / White Canary) dari Arrow.

Dan pemilihan karakter-karakter itu adalah kekuatan utama dari serial Legends of Tomorrow: banter dari karakter-karakter yang datang dari dunia berbeda ini (kecuali Kendra – she’s just annoying). Masalah bagi Legends of Tomorrow bagaimanapun datang dari karakter villain: Vandal Savage, yang… the less said of him, the better. He’s just a very weak villain that never manage to come to his own. Ditambah dengan jalan cerita yang terasa terlalu panjang untuk 16 episode (mungkin 10 – 12 episode akan lebih bagus), Legends of Tomorrow tidak pernah bisa mencapai potensi maksimalnya di season pertama.

Let’s hope for a better second season.

4. Supergirl: The Complete Season 1
Score: 6.0

Full disclosure here: saya cinta Melissa Benoist.

Ketika Supergirl pertama diumumkan, banyak orang mencibir. Ketika Melissa Benoist dicasting, banyak orang menertawakan. Saya tidak. Saya sepenuhnya mendukung serial ini dan bersyukur bahwa ia mendapatkan kesempatan tayang. The world needs more superheroine, more than mediocre shows like Birds of Prey! Tetapi sayangnya selama satu season Supergirl tidak pernah berhasil lepas landas dan terbang tinggi (forgive the pun).

Terlalu banyak pesan feminisme, musuh-musuh yang lemah (baik yang datang mingguan maupun musuh besar season ini), efek spesial yang makin diirit, sampai pada akhir season finale yang teramat anti-klimaks menjadikan Supergirl serial baru yang paling kunanti sekaligus paling mengecewakan tahun ini.

5. Daredevil: The Complete Season 2
Score: 9.0

Setelah season pertama yang fantastik, harapan yang tinggi disematkan pada season kedua dari Daredevil. And you know what? It delivers. Season kedua Daredevil menghadirkan dua karakter ikonik dunia Marvel lainnya: The Punisher dan Elektra yang diperankan oleh Jon Bernthal dan Elodie Yung secara apik. Jon Bernthal terutama mendapatkan pujian banyak orang (bahkan ada desas-desus nominasi Emmy untuknya) dalam perannya sebagai The Punisher yang sangat manusiawi – tanpa mengingkari jati diri The Punisher itu sendiri. Di sisi lain Elodie Yung lebih kontroversi di mana ada kubu yang menyukainya dan ada kubu yang kurang puas akannya, tetapi semua tetap setuju bahwa bagaimanapun juga ia lebih baik daripada Jennifer Garner di layar lebar. Dan ingat apa yang saya katakan mengenai koreografi Arrow terasa kacangan dan tidak tertata? Ya gara-gara Daredevil ini penyebabnya; membandingkan kualitas hand-to-hand combat keduanya sungguh bak langit dan bumi!

Secara keseluruhan Daredevil Season 2 adalah season fantastik lain dari studio TV Marvel di Netflix yang menjanjikan potensi hits besar dalam bentuk The Defenders. Saya tak sabar menanti.

Advertisements

Review Round-Up 2016 (Part 6 – Board Game)

1. The Grizzled
Score: 7.0

Berbeda dengan kebanyakan Board Game lain yang saya punya, The Grizzled adalah sebuah board game yang lebih serius. Kenapa? Itu dikarenakan tema yang diangkat dalam Board Game ini adalah Perang Dunia I (The Great War). Berbeda dengan Perang Dunia II yang sudah kerap diangkat (dan kadang didramatisir), Perang Dunia yang pertama adalah sebuah perang yang lebih sedikit diekspos tetapi tidak kalah brutal dan menyedihkan. Selain itu tentu saja ada fakta menyedihkan bahwa artis dari Board Game ini: Tignous, meninggal dalam pembantaian Charlie Hebdo oleh kelompok teroris Islam radikal di Paris 2015 lalu.

Permainan ini sendiri adalah permainan kooperatif di mana empat sampai lima pemain melakoni peran sebagai tentara Perancis yang harus bertahan hidup di dalam The Great War untuk bisa pulang selamat. Ini sebuah card game yang sangat serius dan saya tidak merekomendasikannya kepada kalian yang sering bermain sambil bercanda karena mood memainkannya akan rusak.

2. Tiny Epic Galaxies
Score: 7.5

Ini sebuah permainan dalam kotak yang kecil tetapi memiliki scalability yang luar biasa. Kamu bisa bermain solo (sendiri) melawan Rogue Galaxy dan kamu juga bisa bermain dengan dua, tiga sampai empat pemain dengan nyaman (bisa sampai lima tetapi saya belum pernah menjajalnya). Tiny Epic Galaxies memiliki balance yang pas dalam unsur luck (faktor dadu) dan strategi (planet mana yang ingin kamu kuasai). Mengingat game ini hadir dalam kotak yang kecil, portabilitasnya pun sangat tinggi untuk dibawa dan dimainkan di mana saja dan kapan saja!

3. Coup
Score: 7.5

Sebuah permainan mini party game (karena cocok dimainkan sekurang-kurangnya empat sampai lima orang) yang sangat populer dua tiga tahun yang lalu. Coup adalah sebuah game bluffing dan role-playing yang sangat seru kalau kamu memainkannya dalam grup yang tepat. Apabila grupmu penuh dengan orang yang suka tuding-tudingan dan banyak cakap (all in the spirit of fun, of course) maka kalian akan selalu riuh dan tertawa dalam memainkan Coup. Ini sebuah permainan yang takkan cukup dimainkan sekali. Begitu selesai kalian akan mau memainkannya lagi just to laugh and to call your other friend’s bullshit. Di sisi lain kalau grup kalian isinya orang serius atau introvert semua… never ever bring up this game.

4. The Resistance
Score: 7.5

Di Indonesia tahun lalu, salah satu game yang tidak pernah gagal keluar di meja permainan kami adalah The Resistance: Avalon, sebuah versi lain dari permainan The Resistance. Sebenarnya kedua game ini memiliki basis permainan yang sama dengan perbedaan hanya pada kartu Merlin (kartu yang mengijinkan kamu melihat siapa saja musuhmu). Ternyata tanpa kartu Merlin, The Resistance masih saja menjadi permainan yang cukup fun. Akan tetapi sama halnya dengan Coup, ini adalah sebuah permainan yang hanya bisa dinikmati oleh grup yang terbuka, saling kenal satu sama lain, dan siap tuding menuding secara frontal.

5. Survive: Escape from Atlantis!
Score: 7.0

Probably the oldest Board Game that I own (karena saya tidak punya Monopoly). Survive: Escape from Atlantis! pertama dirilis di tahun 1982 dan fakta bahwa ia masih merupakan Board Game yang relatif populer hampir 35 tahun setelah ia dirilis adalah bukti bahwa mechanic gameplay-nya tidak lekang dimakan waktu. Konsep menaiki kapal dan kabur dari pulau yang sedikit demi sedikit tenggelam, ditambah dengan banyaknya monster laut yang berada di sekitar pulau tersebut, menjadikan Survive sebuah permainan sederhana yang mudah dimengerti dari muda sampai tua dan bisa dimainkan dalam waktu 45 – 60 menit. Sempurna untuk sesi Board Game di mana kalian tidak mau terlalu banyak berpikir and just have fun!

Review Round-Up 2016 (Part 5 – Board Game)

1. Hanabi
Score: 6.5

Apabila kalian menyukai permainan kooperatif di mana ada banyak diskusi antara para pemain, Hanabi adalah card game yang cocok bagi kalian. Datang dalam paket kardus yang kecil (kecuali kalian membeli versi Deluxe) Hanabi memiliki dasar permainan yang simpel tetapi juga cerdas: kalian harus bekerjasama untuk membuat pentas kembang api! Akan tetapi kalau grup kalian suka sesuatu yang kompetitif, ini tidak akan cocok buat kalian. Ingat, dalam permainan kooperatif apabila kamu kalah maka seluruh timmu kalah, tetapi bila kalian menang semuanya pun menang. Kunci memenangkan Hanabi? Komunikasi dan pemberian petunjuk seefisien mungkin.

2. Kemet
Score: 9.0

Ini adalah salah satu light war game favoritku selain Blood Rage. Sama dengan Board Game tersebut, Kemet juga merupakan Board Game yang kaya dengan theme. Bila Blood Rage mengangkat tema Viking maka Kemet mengangkat tema Mesir Kuno. Kualitas produksi material miniatur yang bagus ditambah berbagai strategi yang bisa diaplikasikan untuk menguasai area menjadikan Kemet sesuatu yang selalu asyik dimainkan. Memang peraturan dalam Kemet sedikit lebih rumit dibandingkan Board Game-Board Game lain yang saya posting di sini but believe me, it’s worth to learn.

3. New York 1901
Score: 8.0

Sebuah Eurogame yang cocok bagi kalian yang suka dengan tema bangun membangun. New York 1901 menggabungkan konsep worker placement dengan area control. Kalau kalian menyukai game-game yang tidak terlalu kompleks tetapi tidak terlalu sederhana (medium-weight Board Game ala Ticket to Ride), New York 1901 akan mengisi posisi tersebut dengan sempurna. Dengan berbagai strategi yang bisa kalian pakai untuk menguasai wilayah, New York 1901 adalah sebuah Board Game dengan nilai replayability yang tinggi.

4. Tides of Time
Score: 6.5

Card Game ini hanya untuk dua orang saja dan sangat – sangat sederhana. Bahkan komponennya pun kurang dari 15 kartu. Bagaimanapun di balik kulitnya yang terlihat sederhana Tides of Time mengandung tipe permainan yang cukup dalam dan menarik. Kalau kalian menginginkan sebuah Card Game dengan mekanisme card drafting yang bisa dimainkan oleh dua orang dalam waktu singkat (maksimal 15 sampai 20 menit), Tides of Time adalah opsi yang cocok bagi kalian.

5. Takenoko
Score: 9.0

Takenoko adalah permainan yang sangat pas bagi grupku. Dalam strategi ia tidak terlalu kompleks sehingga semua orang bisa mengerti peraturannya hanya dalam 5 hingga 10 menit. Dalam komponen Takenoko memiliki kadar komponen berkualitas apik mulai dari bambu sampai miniatur panda dan gardener-nya. Terakhir play time dalam game ini berkisar antara 45 hingga 60 menit, sweet spot yang pas untuk grup kami. Dan sudahkah saya sebutkan ini adalah sebuah game tentang memberi panda peliharaan kalian makan? Panda gitu lo, who can resist their cuteness?

Review Round-Up 2016 (Part 4 – Board Game)

Salah satu hobi yang jarang kureview dalam situs ini adalah Board Game. Dan itu karena komunitas pecinta Board Game di Indonesia jumlahnya relatif jauh lebih sedikit dibandingkan komunitas game, film, maupun komik. Dalam entri post kali ini saya hendak memberikan beberapa review singkat untuk Board Game-Board Game apa saja yang telah kumainkan di tahun 2016 ini.

Please note kalau saya hanya akan mereview Board Game yang telah saya mainkan paling tidak lima kali. Sebab berbeda dengan bentuk entertainment lain, Board Game bisa dimainkan dengan keliru satu dua pada awal (terutama kalau salah membaca atau menangkap peraturan yang ada). Juga perlu diperhatikan bahwa sama seperti segala bentuk entertainment lainnya, Board Game adalah masalah selera. Akan ada Board Game yang sangat enjoyable di dalam grupku tetapi bisa jadi di grup lain akan menjadi permainan yang kurang cocok untuk mereka, begitu pula sebaliknya.

Kenapa? Itu karena Board Game modern sekarang memiliki berbagai jenis mekanisme gameplay baru di dalamnya mulai dari bluffing, worker placement, card drafting, dan banyak lainnya. Oleh sebab itu jangan terburu-buru mendiskreditkan sebuah Board Game hanya karena saya (atau grupku) tidak menyukainya.

Enjoy!

1. No Thanks
Score: 7.0

Salah satu filler game yang menarik karena memakai konsep bidding (secara ringan dan harmless tentunya). Setiap permainan memakan waktu sekitar 15 – 20 menit dan bisa dibilang cocok untuk sekedar light game / gateway game di mana semua orang bisa have fun memainkannya. Paling asyik dimainkan oleh 4 sampai 5 orang. Kalian yang membenci game yang hanya mengandalkan unsur keberuntungan semata (ehem, Monopoly) tidak perlu khawatir karena sekalipun No Thanks terlihat sederhana masih perlu taktik untuk memenangkannya, baik itu dengan cara menjebak musuh memberimu lebih banyak koin maupun dengan cara mengambil kartu yang diperlukan oleh musuhmu.

2. Concept
Score: 5.0

Saya membeli Concept karena saya sangat enjoy dengan Taboo, sebuah game yang sederhana tapi sangat menghibur ketika kita memainkannya ramai-ramai. Akan tetapi Concept ternyata terlalu rumit dan terlalu abstrak untuk grup kita. Alih-alih seru saling menebak satu sama lain, yang terjadi malah sang pemberi petunjuk kesulitan memberikan petunjuk hanya dengan basis ikon sementara para penebak juga masih sulit menebak berdasarkan clue yang diberikan. Pada akhirnya, Concept menjadi sebuah permainan yang terlupakan setelah sekali dua kali dimainkan. Entahlah bila pengalaman ini bisa lebih baik bila dimainkan dalam grup yang lebih besar (atau dalam grup yang lebih kreatif dalam memberikan petunjuk). Kemungkinan akan lebih cocok dimainkan oleh mereka yang suka dengan medium visual.

3. Sushi Go
Score: 7.5

Salah satu card drafting game yang tersimple dan terbaik yang pernah saya mainkan. Kalau kalian mencari permainan yang kompleks, jelas Sushi Go tidak akan memuaskan kalian. Akan tetapi kalau kalian mencari sebuah permainan kartu yang bisa dimainkan dalam 15 – 20 menit dan mudah diajarkan kepada siapa saja (semua orang bisa menangkap aturannya dengan cepat begitu saya menjelaskannya), Sushi Go adalah salah satu yang terbaik di kelasnya. Oh, dan jangan lupa untuk kategori card game ia tergolong murah!

4. 7 Wonders
Score: 8.5

Kalau kalian sudah memahami sistem permainan dalam Sushi Go dan menginginkan sesuatu yang lebih kompleks dan dalam: silakan menjajal 7 Wonders. 7 Wonders adalah Board Game buatan Antoine Bauza, salah seorang designer favoritku. Bauza menggabungkan banyak elemen dalam 7 Wonders mulai dari card drafting, resource collection, sampai set collection dalam satu permainan yang menarik. Saya akui 7 Wonders memang tidak memperkenalkan mekanisme baru dalam permainannya. Toh kendati demikian, menggabungkan berbagai mekanisme permainan dalam satu paket secara harmonis adalah prestasi tersendiri.

5. Jungle Speed: Rabbids
Score: 8.0

Jungle Speed: Rabbids adalah varian lain dari Jungle Speed (selain itu ada juga Jungle Speed: Safari). Semuanya adalah permainan party berbasis ketangkasan. Kalau kalian memiliki kelompok 5 sampai 7 orang, memainkan Jungle Speed (dalam variasi apapun) adalah keharusan. Permainan ini sangat kisruh, rusuh, chaotic, tetapi ya, juga sangat fun. Saya jamin 100% kalian akan tertawa dan saling meledek ketika memainkan permainan ini!

Review Round-Up 2016 (Part 3 – Movie)

1. The Jungle Book
Score: B+

Versi animasi dari The Jungle Book bukan film animasi Disney favoritku. Walaupun disebut sebagai klasik saya tidak pernah merasa film ini bagus-bagus amat. Saya bahkan selalu tertukar antara Mowgli dengan Tarzan, mengingat Tarzan adalah manusia hutan yang lebih populer ketimbang si Mowgli. Oleh karena itu walaupun Jon Favreau (sutradara yang karya-karyanya selalu favorit di mata saya) didapuk untuk proyek live-action ini saya tidak terlalu tertarik. Tak tahunya The Jungle Book menggabungkan teknologi terkini dan jalan cerita yang sangat memorable untuk melejit menjadi salah satu film favoritku tahun ini. Begini ini cara mengupdate kisah klasik kembali menjadi modern tanpa mengubah jiwanya. This will be a high bar to top for other Disney Live-Action movies in the future.

2. Sex Tape
Score: D

Saya suka dengan trailer film ini ketika dirilis tahun lalu tapi baru kesampaian menontonnya sekarang. Sayangnya itu merupakan waktu yang tersia-siakan. Jokenya garing dan kurang berani. Penampilan kedua aktor utamanya bak kekurangan chemistry. Dan terlepas dari satu adegan cameo dari bintang komedi terkenal lainnya, film ini sungguh amat terlupakan. Ini contoh klasik trailer yang lebih menarik daripada film aslinya.

3. Captain America: Civil War
Score: A

Satu-satunya film tahun 2016 yang saya tonton lebih dari satu kali di layar lebar (sekali di layar biasa dan sekali lagi di IMAX), Captain America: Civil War adalah cara Marvel Studios menunjukkan betapa mereka sangat mengerti karakter-karakter mereka. Ini adalah sebuah film yang pada satu momennya dipenuhi oleh 12 karakter superhero yang bertarung di layar dan kamu bisa melihat, memahami, dan mengerti motivasi dari setiap karakter yang terlibat di dalamnya. Apakah ini merupakan film MCU yang terbaik? Sulit menjawab karena ini tergantung preferensi tiap orang tapi ya, jelas ini termasuk dalam top 5 – bahkan top 3 terbaiknya. Marvel, you did it once again!

4. X-Men: Apocalypse
Score: B-

Sial dan nestapa bagi film X-Men: Apocalypse yang saya tonton setelah Captain America: Civil War. Kendati bukan film yang buruk-buruk amat. Ia terasa begitu underwhelming setelah saya menonton Deadpool (yang jauh lebih fun) dan Captain America: Civil War (yang jauh lebih epik). Patut diperhatikan bahwa ini merupakan film superhero keEMPAT yang saya tonton dalam kurun waktu tiga bulan jadi ada kemungkinan saya juga mulai merasa letih dengan genre ini. Paruh awal film ini berjalan baik sebelum paruh akhirnya terasa berantakan. Dan ya, pertarungan di klimaks terasa sangat kaku setelah Airport Battle dari Captain America: Civil War yang fantastik itu. Sorry there, mutants!

5. Teenage Mutant Ninja Turtle 2: Out of the Shadows
Score: C

Saya sulit mereview film ini sebab ia sangat… standar. Is it a bad movie? No. Is it a good movie? No. Is it enjoyable? Yah, sedikit, tetapi tidak ada momen yang bikin kamu fist pump atau bersorak “Yeah!” saat menontonnya. Untuk film yang memperkenalkan karakter-karakter klasik yang telah lama tidak ada di layar lebar seperti Rocksteady, Beebop, dan Krang, tidakkah kamu berharap sedikit lebih banyak darinya? Sekali lagi, bukan film yang jelek, tetapi juga bukan film yang wajib tonton di layar lebar – kecuali kamu fans berat dari kura-kura ninja.

Review Round-Up 2016 (Part 2 – Movie)

1. Zootopia
Score: B+

I love this movie. Dari trailernya tidak kelihatan kalau ini film yang punya tema yang berat. Saya bahkan menyangka ini akan jadi film komedi ringan. Tanpa disangka film ini ternyata cukup berani mengangkat tema-tema yang berat (untuk film anak-anak) dengan alegori dunia binatang. Theme yang diangkat seperti rasisme, feminisme, dan banyak hal lainnya dibalut dalam intrik misteri yang menarik. Terlepas dari penyampaiannya yang sedikit terlalu obvious (mungkin supaya anak-anak bisa menangkapnya?), this is a solid movie adult and children will love.

2. Steve Jobs
Score: B+

Penampilan Michael Fassbender (dan Seth Rogen) adalah apa yang membuat film ini menjadi sangat menarik dari awal sampai akhir. Saya tidak merasa ini merupakan film yang lebih bagus dibandingkan The Social Network yang masih merupakan film dengan skenario Aaron Sorkin yang terbaik, tapi saya percaya bahwa ini merupakan film biopik Steve Jobs yang terbaik yang dibuat. Kalau kalian mencari versi pop-nya, yang dibintangi oleh Ashton Kutcher pun sebenarnya tidak jelek-jelek amat.

3. Kungfu Panda 3
Score: A-

Kendati saya cukup menyukai film Kungfu Panda 2, saya harus mengakui bahwa film ini tidak bisa menyamai nilai magis dari film pertamanya. Let me put it this way: Kungfu Panda 2 is enjoyable but Kungfu Panda is a classic. Oleh karena itu saya tidak terlalu berharap banyak dengan Kungfu Panda 3. Bayangkan betapa terkejutnya saya ketika Kungfu Panda 3 actually manage to exceed my expectation! Walau masih belum menyamai nilai klasik dari film pertamanya, it actually came pretty close. Ah, satu lagi: ini sebuah film yang personal bagiku, so do put that into consideration.

4. Mermaid
Score: B

Film dari Stephen Chow ini diawali dengan slapstick joke yang BURUK. Sangat buruk! Saya sampai berpikir, ya ampun apakah sang raja komedi di era aku kecil dulu sekarang sudah demikian terpuruknya? Saya akan mengakui sepenuhnya bahwa film-film Stephen Chow di era 2000 ke atas seperti Shaolin Soccer, Kungfu Hustle, dan CJ7 tidak pernah benar-benar masuk dengan selera saya dibanding karya-karya klasiknya dulu dan saya menyangka bahwa degradasi kualitas itu berlanjut dalam film ini. Akan tetapi seiring dengan berjalannya film ini tingkat komedinya menjadi jauh lebih baik dengan sebuah pesan sosial yang jelas. Beberapa kali saya bahkan dibuat terpingkal-pingkal olehnya. Enjoyable. Not his best effort but definitely enjoyable.

5. Batman V Superman: Dawn of Justice
Score: C-

Oh boy, I am so gonna get ripped apart by DC fanboy for this. How dare I score the meeting of the two greatest almighty DC hero with a C-? Biarkan saya menjelaskan (and this review might be a bit longer than the others – to save my poor life):

  • Film ini memiliki plot dan flow yang buruk. Perpindahan ke adegan satu ke adegan lain tidak memiliki narasi yang enak. Plot yang buruk membuatku berulang kali garuk-garuk kepala karena jengkel dengan logika pemikiran karakter di dalamnya (termasuk dua karakter utamanya). Flow yang buruk ini menganggu kenikmatanku menontonnya. Jangan salah, saya bukan tidak memahami film ini. Saya sepenuhnya memahami, tetapi memahami dan menikmati adalah dua hal yang berbeda.
  • Adegan pertarungan di klimaks film yang terlalu mengandalkan CGI. CGI galore everywhere. Boom. Boom. Blar! Boom. Boom. Blar! Bagiku ini mengecewakan. Bahkan mengamatinya secara sekilas lalu pun terlihat saya tidak seperti menonton film live-action tetapi menonton cutscene video game dengan kualitas yang mulus. That’s not good.
  • Pengenalan Justice League… yang saya tidak mau spoiler seperti apa tetapi sangat-sangat underwhelming and don’t give these legendary characters (no pun intended) justice.

Overall, ya, saya sangat kecewa dengan film ini. Saya masuk dengan hype dan harapan yang sangat tinggi karena saya cukup suka dengan Man of Steel dan saya keluar dengan teramat kecewa.

Review Round-Up 2016 (Part 1 – Movie)

Berhubung saya tidak ada waktu belakangan ini untuk menulis review (karena sibuk main game, ehem, I mean sibuk bekerja). Here’s my review round-up for the movies and series I’ve watched so far in 2016 (dan belum kureview).

1. Batman: Bad Blood
Score: C

Semakin lama film DC Animated Universe semakin membosankan saja. Saya sebenarnya cukup suka dengan jalan cerita-jalan cerita komik yang diangkat ke format animasi seperti Throne of Atlantis, The Court of Owls, dan banyak lagi, tetapi entah kenapa jalan ceritanya kebanyakan diubah dan menjadi kurang menarik setelah dalam format animasi. Batman: Bad Blood tidak mengubah konsepsi ini. Another weak outing from DC.

2. Ip Man 3
Score: B+

Walaupun menurutku Ip Man 3 merupakan film martial arts yang tidak bisa menyamai kedua pendahulunya, ini juga merupakan filmnya yang paling personal. Donnie Yen tampil apik di sini, as always, and this is a great closure for the trilogy. Sayang bagian terbaiknya bukan pada klimaksnya melainkan pada pertempuran di tengah film antara Donnie Yen dan Mike Tyson. No wonder mereka memang paling getol mempromosikan bagian tersebut.

3. The Big Short
Score: B+

Terkutuklah otak saya yang sedikit bodoh sehingga sulit memahami keseluruhan film ini. Bahkan dibandingkan film ekonomi lain seperti The Wolf of Wall Street, film ini masih terasa lebih berat dalam tutur narasi dan topik yang diangkat. Beruntung saja setiap aktor yang bermain di dalamnya dari Christian Bale sampai Ryan Gosling bermain cemerlang dan maksimal, membuat film ini lucu, seru, sekaligus menyentuh di saat yang bersamaan. It’s capitalism, beybeh.

4. The Last Witch Hunter
Score: D

Vin Diesel, you should really stuck with the Fast & Furious franchise. The Last Witch Hunter ini seriously boring. Mitologinya juga ga jelas dan koreografi action-nya jelek. Kehadiran Michael Caine dan Elijah Wood dan kawan-kawan tidak menolong. Well, Rose Leslie agak menolong sih tampangnya, tapi annoying sekali karakter wildling badass di Game of Thrones dijadikan Damsel in Distress di film ini. Sigh, you know nothing

5. Deadpool
Score: B+

Walaupun Ryan Reynolds mempromosikan Deadpool dengan semangat 45 dan menjanjikan ini akan memiliki spirit yang sama dengan komiknya, saya sulit mempercayainya. Bukan apa-apa, studio 20th Century Fox tidak pernah benar-benar 100% sukses mengadaptasi komik Marvel ke layar lebar dengan pengecualian X-Men 2 dari Bryan Singer… 13 tahun yang lalu (No, X-Men: Days of Future Past is decent tapi masih jauh dari versi komiknya). Itu waktu yang sangat lama. Jadi bayangkan betapa puasnya saya ketika film ini actually nails down the character of Deadpool. This movie is witty, smart, and actually got a lot of heart in it. Yes, the joke might not be for everyone… but I’m definitely in the audience for this kind of meta-joke.