Review Round-Up 2016 (Part 7 – TV Series)

Tahun ini adalah tahun di mana karena bertambahnya kesibukan maka kesempatan menonton serial TV banyak berkurang. Apabila biasanya saya bisa menyempatkan diri menonton sekitar 8 sampai 10 serial, waktu yang kian terbatas membuat saya terpaksa mengurangi kebanyakan serial-serial tersebut (termasuk sitkom). Walhasil sampai saat ini saya baru menonton lima serial TV saja.

Ke depannya saya masih berencana menonton beberapa lagi, tetapi harus diakui masa-masa di mana saya mengikuti banyak serial TV mungkin sudah lewat. Entah kenapa kebanyakan serial-serial baru yang ada belum terlalu menarik bagiku untuk diikuti, terutama karena saya tidak tahu apakah mereka akan dicancel atau tidak (seperti Limitless atau Minority Report, contohnya).

Oh dan omong-omong jangan khawatir, saya tidak mereview Game of Thrones season 6 karena serial tersebut belum selesai. Chill guys, I’m still following that series, of course!

1. The Flash: The Complete Season 2
Score: 7.5

Season pertama The Flash adalah serial superhero terbaik yang saya tonton tahun lalu. Saya memiliki ekspektasi tinggi akan season kedua memasuki tahun ini tetapi sayangnya itu gagal menjadi kenyataan. Walaupun season 2 ini tidak buruk, sepertinya penulis The Flash terlalu banyak memasukkan elemen fantasi ke dalamnya yang membuat ceritanya terlalu berlebihan untuk diikuti. Konsep seperti Parallel World mungkin masih bisa saya terima (karena serial ini menghabiskan cukup banyak waktu menerangkan konsepnya) tetapi konsep seperti Time Remnant? Mungkin konsep ini bisa masuk akal tetapi eksekusinya sangat tergesa-gesa (dan terasa seperti plot convenience) sehingga akhirnya terasa mentah. Belum lagi ada keharusan crossover dengan serial lain yang mulai menganggu narasi utama dari serial ini.

2. Arrow: The Complete Season 4
Score: 5.0

Setelah season 3 yang mengecewakan saya banyak berharap bahwa season keempat Arrow akan menjadi season di mana serial ini akan kembali apik lagi. Tapi sayangnya tidak. Semakin lama serial ini seperti semakin kehilangan arah saja. Felicity yang awalnya salah satu karakter paling favorit saya di layar kaca kini menjadi menyebalkan, koreografi pertarungan serial ini terasa sangat low-budget dan tidak tertata, sampai flashback di pulau Lian Yu yang dipanjang-panjangkan dan tidak perlu. Satu-satunya saving grace dalam serial ini sebenarnya adalah Damien Dahrk yang merupakan lawan lebih kuat bagi Arrow (ditambah dengan konsep kekuatan mistis) tetapi itupun dirusak dalam finalenya yang amat sangat underwhelming. Oliver Queen, you have failed this viewer!

3. Legends of Tomorrow: The Complete Season 1
Score: 7.5

Bagaimana bila kamu mengambil karakter-karakter menarik dari Arrow dan The Flash lantas menggabungkannya dalam satu serial? Hasilnya adalah Legends of Tomorrow, serial yang kaya dengan budget dan hasilnya pun terlihat ambisius untuk ukuran TV. Saya suka sekali dengan konsep serial ini mengingat mereka punya banyak karakter yang saya sukai di dalamnya mulai dari duet Captain Cold dan Heatwave dari The Flash sampai Sara Lance (Black / White Canary) dari Arrow.

Dan pemilihan karakter-karakter itu adalah kekuatan utama dari serial Legends of Tomorrow: banter dari karakter-karakter yang datang dari dunia berbeda ini (kecuali Kendra – she’s just annoying). Masalah bagi Legends of Tomorrow bagaimanapun datang dari karakter villain: Vandal Savage, yang… the less said of him, the better. He’s just a very weak villain that never manage to come to his own. Ditambah dengan jalan cerita yang terasa terlalu panjang untuk 16 episode (mungkin 10 – 12 episode akan lebih bagus), Legends of Tomorrow tidak pernah bisa mencapai potensi maksimalnya di season pertama.

Let’s hope for a better second season.

4. Supergirl: The Complete Season 1
Score: 6.0

Full disclosure here: saya cinta Melissa Benoist.

Ketika Supergirl pertama diumumkan, banyak orang mencibir. Ketika Melissa Benoist dicasting, banyak orang menertawakan. Saya tidak. Saya sepenuhnya mendukung serial ini dan bersyukur bahwa ia mendapatkan kesempatan tayang. The world needs more superheroine, more than mediocre shows like Birds of Prey! Tetapi sayangnya selama satu season Supergirl tidak pernah berhasil lepas landas dan terbang tinggi (forgive the pun).

Terlalu banyak pesan feminisme, musuh-musuh yang lemah (baik yang datang mingguan maupun musuh besar season ini), efek spesial yang makin diirit, sampai pada akhir season finale yang teramat anti-klimaks menjadikan Supergirl serial baru yang paling kunanti sekaligus paling mengecewakan tahun ini.

5. Daredevil: The Complete Season 2
Score: 9.0

Setelah season pertama yang fantastik, harapan yang tinggi disematkan pada season kedua dari Daredevil. And you know what? It delivers. Season kedua Daredevil menghadirkan dua karakter ikonik dunia Marvel lainnya: The Punisher dan Elektra yang diperankan oleh Jon Bernthal dan Elodie Yung secara apik. Jon Bernthal terutama mendapatkan pujian banyak orang (bahkan ada desas-desus nominasi Emmy untuknya) dalam perannya sebagai The Punisher yang sangat manusiawi – tanpa mengingkari jati diri The Punisher itu sendiri. Di sisi lain Elodie Yung lebih kontroversi di mana ada kubu yang menyukainya dan ada kubu yang kurang puas akannya, tetapi semua tetap setuju bahwa bagaimanapun juga ia lebih baik daripada Jennifer Garner di layar lebar. Dan ingat apa yang saya katakan mengenai koreografi Arrow terasa kacangan dan tidak tertata? Ya gara-gara Daredevil ini penyebabnya; membandingkan kualitas hand-to-hand combat keduanya sungguh bak langit dan bumi!

Secara keseluruhan Daredevil Season 2 adalah season fantastik lain dari studio TV Marvel di Netflix yang menjanjikan potensi hits besar dalam bentuk The Defenders. Saya tak sabar menanti.

Advertisements

4 thoughts on “Review Round-Up 2016 (Part 7 – TV Series)

  1. Wah, cuma 5 serial Nis? Mundur bnyk banget lho, dulu kayanya bisa 12 atau 13 slot yah?? Arrow season ini justru lbh bagus nurutku drpd season 3, The flash penurunan tapi msh enjoyable, Legend of Tomorrow blom selesai dan rasane meh ntn marathon aja aras2en, asli, ni serial DC yg nurutku sebenernya ga perlu dibikin, malah kalo mau bikin hawkgirl ya fokus ke hawkgirl aja. Supergirl blom ntn, tapi kayanya dipaksa utk ntn kalo mau ngikuti crossovernya. Daredevil tonenya terlalu dark bwt ku, msh lbh suka movienya jauh kalo aq. :p

    Like

    1. Haha, iya. Tapi ada Game of Thrones season 6 yang belum kureview sama Jessica Jones season 1 yang sudah kureview. 🙂 Cuma memang banyak menurun nih. Banyak yang belum sempat tertonton. Haha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s