Review Round-Up 2016 (Part 15 – Board Games)

01. Deception: Murder in Hong Kong
Score: 7.5

Sebuah party Board Game yang menyenangkan, terutama kalau memainkannya pada grup yang tepat. Kalau kamu memainkannya pada grup yang rusuh dan suka bercanda maka dengan cepat permainan ini akan jadi ice breaker di mana setiap pemain saling tuding siapa yang telah melakukan pembunuhan. Dalam permainan ini praktis hanya satu orang – sang ahli forensik saja yang tahu siapa pembunuh yang bersembunyi di antara kalangan detektif yang sibuk menebak sang pelaku kejahatan. Bisakah kalian menjadi Detektif Conan ala Indonesia?

02. Laga Jakarta
Score: 7.5

Awal memainkan permainan ini terasa kurang oke karena banyaknya down time dari satu giliran ke giliran lainnya. Rupa-rupanya itu dikarenakan jumlah pemain (lima orang) terlalu banyak. Jumlah yang paling pas untuk memainkan game ini adalah tiga sampai empat orang karena dengan demikian semua orang bisa memikirkan strateginya tanpa terlalu lama menunggu giliran bergerak lagi. Sesuai namanya, game ini menantang anda untuk bisa sukses di The Big Durian, ibukota Indonesia yang penuh dengan segala kehiruk pikukannya.

03. Blood Rage
Score: 9.0

Ketika memainkannya pertama kali saya sudah suka dengan game ini tetapi belum sampai tergila-gila karena belum sepenuhnya menguasai mekanisme permainan. Akan tetapi memainkannya kali kedua dengan strategi yang lebih mendalam baru menunjukkan betapa fun dan menyenangkannya bermain Blood Rage. Strategi yang cukup dalam untuk ukuran war game, kualitas miniatur yang sangat mumpuni, sampai waktu main yang tak terlalu pendek tapi juga tak terlalu panjang (sekitar 60 – 75 menit) membuat ini menjadi salah satu Board Game terbaik yang pernah saya mainkan. Tak heran ia memenangkan banyak penghargaan tahun lalu!

04. Camel Up
Score: 8.0

Sudah cukup lama tidak memainkan game yang memenangkan penghargaan Spiel de Jahres tahun 2014 lalu. Ketika memperkenalkannya pada grup baru ternyata mereka pun sangat menyukainya. Itu memang menjadi daya tarik dari Board Game balap unta ini. Ia tidak memiliki terlalu banyak strategi di dalamnya dan unsur permainan praktis hanya mengandalkan keberuntungan (dan unsur luck rolling dadu), akan tetapi di rombongan yang tepat (terutama bagi yang gemar judi) Camel Up dengan tema betting ini dijamin akan langsung menyemarakkan keadaan. Satu lagi, piramid yang dipakai untuk mengocok dadu? That’s just a brilliant idea that adds to the theme!

05. Sequence
Score: 7.5

Board Game ini termasuk salah satu Board Game rilisan terlawas yang ada di koleksiku. Kebanyakan Board Game yang kumiliki dirilis pasca tahun 2000 tetapi Sequence adalah Board Game yang sudah dirilis sejak tahun 1982 dulu! Ternyata ada alasan kenapa Board Game ini masi bisa mempertahankan popularitasnya hingga sekarang, sebuah Board Game yang cukup baik dalam scaling sehingga enak dimainkan dari jumlah pemain yang sedikit sampai lebih dari 10 sekalipun. Jadi jangan selalu meremehkan Board Game-Board Game lawas, they stay classic for a reason!

Review Round-Up 2016 (Part 14 – Movie)

01. The Secret Life of Pets
Score: B

I’ll be honest. Setelah Despicable Me 2 yang biasa-biasa saja disambung dengan Minions yang aujubile gile jeleknya setengah mampus, saya tidak berharap banyak dengan Illumination Entertainment. Bahkan mendengar The Secret Life of Pets tidak menggoyahkan pendapatku. Karena itu saya masuk menonton film ini dengan ekspektasi serendah mungkin. Hasilnya? Ternyata film ini tidak buruk-buruk amat. Tidak sebagus Despicable Me yang pertama tentu saja tetapi masih jauh lebih bagus dari Minions dan Despicable Me 2 sekalipun. Overall, ini sebuah film animasi yang cocok ditonton anak-anak maupun pecinta hewan.

02. Kingsglaive: Final Fantasy XV
Score: C+

Kualitas animasi dalam film ini memang sangat bagus tetapi sebuah film tak hanya dinilai dari kualitas animasinya saja bukan? Jalan cerita dalam film ini sebenarnya sudah terbangun menjadi pengiring yang baik bagi game Final Fantasy XV, akan tetapi kemudian menjadi mengecewakan menuju ke klimaksnya. Koreografi pergerakan dalam film ini pun terkadang dibuat overstylish sehingga hasilnya bukan lagi keren tetapi jadi “Duh, memusingkan!“. Khusus buat para pecinta game Final Fantasy atau mereka yang tertarik untuk memainkan Final Fantasy XV, satu hal yang harus saya akui sukses dalam game ini adalah world building-nya, mantap!

03. The Shallows
Score: B+

Film yang pendek (hanya 80 menit lebih) dengan budget yang kecil tetapi hasilnya luar biasa. The Shallows adalah bukti bahwa untuk menciptakan film yang engaging dan menegangkan kamu tak perlu menggelontorkan dana puluhan hingga ratusan juta USD. Sosok Blake Lively yang terdampar di lepas pantai rahasia Amerika Latin dan harus menggunakan segala akalnya untuk bertahan hidup dari serangan seekor hiu putih raksasa yang buas dijamin akan membuatmu mencengkeram kursimu sepanjang film.

04. The Peanuts Movie
Score: B

Sulit percaya bahwa komik strip The Peanuts sudah hadir selama lebih dari enam dekade lamanya! Melalui tangan Charles M. Schulz karakter-karakter Charlie Brown dan Snoopy menjadi bagian dari Pop Culture yang sangat dikenal. Tak heran bahwa setiap beberapa tahun sekali filmnya dibuat. Kali ini oleh Blue Sky Entertainment (studio yang menciptakan Ice Age). Hasilnya tidak mengecewakan karena berisi homage cerita-cerita bagaimana Charlie Brown yang selalu sial dan tak kesampaian mengejar cewe idamannya sampai petualangan-petualangan fantasi imajinatif Snoopy sang anjing peliharaannya. Toh pada akhirnya tak ada bagian dalam film ini yang bisa sedalam kata-kata paling terkenal Charlie Brown: “Nothing takes the taste out of peanut butter quite like unrequited love.” : “Tak ada yang mematikan rasa dari selai kacang seperti cinta yang tak terbalas”. Ah, now that’s deep.

05. Lights Out
Score: B+

The Shallows bukan satu-satunya film berbudget rendah yang sukses menggedor jantung penonton… begitu juga dengan Lights Out. Bermula dari film pendek yang sensasional di Youtube, film ini kemudian diproduseri oleh James Wan dan dijadikan film layar panjang. Banyak film pendek yang kadang kehilangan esensinya setelah dijadikan film layar panjang tetapi tidak demikian dengan film ini. Lights Out tetap sukses menggedor jantung penonton sepanjang masa durasinya, membuat kita bertanya-tanya mengenai misteri apa yang ada di balik teror yang terjadi saat lampu dipadamkan.

Waroong Wars

Dikarenakan kesibukan pekerjaan dan kehidupan, sekarang saya semakin jarang menulis review panjang. Tapi untuk Board Game yang satu ini, saya ingin membuat pengecualian. Alasannya? Simpel. Ini adalah Board Game buatan Indonesia yang cukup booming di kalangan para penggemar Board Game. Demi mendorong dan memajukan industri Board Game nasional, saya mau turut menyumbang review.

Sedikit latar belakang untuk Waroong Wars. Board Game yang didesign oleh para designer-designer Board Game Indonesia yang mengajukan game ini dalam kompetisi Board Game Challenge yang diadakan harian Kompas tahun 2015 lalu. Seperti kebanyakan Board Game Indonesia yang dirilis saat ini, Waroong Wars mengangkat tema yang ‘Indonesia’ banget yaitu persaingan antara warung-warung yang ada di daerah Surabaya sana.

ww1

Theme Waroong Wars membuatnya menarik karena bercita rasa asli Indonesia. Dalam game ini kamu diajak untuk membuat masakan-masakan khas Jawa Timur seperti Rawon, Sate Klopo, Bebek Goreng, dan banyak lagi makanan tradisional lainnya dengan bumbu-bumbu khas Indonesia juga: Daging, Beras, Tahu, Petis, dan lain-lain. Singkat kata: jenis-jenis makanan yang familiar dalam game ini membuatnya lebih cepat connect dengan pemain-pemain Indonesia. After all, tidak semua dari kita mengerti tema-tema Board Game Eropa atau Amerika bukan?

Beranjak dari tema permainan yang unik, saya ingin melirik kualitas komponen dari Waroong Wars. Karena ini adalah permainan berbasis kartu, saya cukup heran dengan packing kotak Waroong Wars yang boros tempat. Sebenarnya dibuat dalam kardus berukuran jauh lebih kecil pun sudah bisa (seperti kemasan Sushi Go, Star Realms, ataupun Fairy Tale). Toh ini hanya keluhan minor, kotak yang lebih besar bahkan membuat artwork dalam game ini lebih meriah. Untuk kartunya sendiri saya acungkan jempol dengan kualitas kartu maupun print-nya yang cukup baik. Salut juga dengan artwork dan penggunaan icon yang mudah dikenali.

20160820_221044

Hal terakhir yang ingin saya sorot – sekaligus hal terpenting dalam sebuah Board Game – tentu saja adalah mekanisme permainannya. Game ini memakai unsur Card Drafting di mana secara bergiliran kamu akan mengambil satu kartu dari koleksi kartu yang kamu miliki lantas mengoperkannya kepada pemain lain. Siapa yang memiliki bahan makanan cukup untuk memasak masakan yang disediakan boleh kemudian melakukannya. Gameplay yang sederhana ditambah permainan yang mayoritas memakai ikon (tidak terlalu banyak bacaan di tiap kartu) membuat game ini sangat mudah dimainkan bahkan untuk para pemula Board Game.

ww2

So overall, Waroong Wars adalah sebuah game entry-level yang mudah dimainkan siapa saja. Mekanisme yang solid ditambah Theme yang menarik kemungkinan besar menjadi pertimbangan para juri memenangkan Board Game ini di ajang kompetisi lalu. My final verdict? Give it a try!

Score: 7.0

Review Round-Up 2016 (Part 13 – Movie)

01. Star Trek Beyond
Score: B-

Instalasi ketiga dari film Star Trek reboot ini berpindah tangan dari J.J. Abrams ke Justin Lin. I love Justin Lin. I think he’s a great director. Banyak orang menakutkan bahwa Star Trek Beyond akan menjadi film yang penuh dengan aksi dan melupakan hati tetapi untung itu tidak terjadi. In fact film ini adalah film Star Trek reboot pertama di mana member-member Enterprise di luar Kirk dan Spock mendapat kesempatan bersinar.

Sungguh sayang bahwa di luar member Enterprise saya merasa bahwa film ini memiliki stake yang jauh lebih rendah dibandingkan kedua film sebelumnya. Bahkan sang villain Idris Elba pun tampil kurang menacing dan seakan kurang jelas motivasinya sebagai penjahat apa. Semoga Star Trek mendatang mampu mengembalikan unsur tensi dan ketegangan itu kembali.

02. Jason Bourne
Score: B+

Saya suka sekali dengan trilogi Jason Bourne… tetapi kecintaanku pada franchise ini sedikit menurun setelah The Bourne Legacy. Jujur saja di luar adegan kejar-kejaran di kota Manila pada klimaks film, saya tak banyak mengingat apapun tentang spin-off yang dibintangi oleh Jeremy Renner. Untung saja kesukaanku akan film espionase ini kembali pulih dalam film sekuel ini.

Saya terutama sangat suka dengan tema cerita keamanan vs privasi yang dikemukakan oleh film ini. Mungkin ini topik lama tetapi momennya sangat tepat di dalam dunia yang kini makin lama makin tidak stabil karena terorisme. Banyak orang bertanya apakah Jason Bourne masih relevan ataukah ia merupakan relik dari dekade lalu? Jawabannya: iya. Dia masih relevan.

03. Finding Dory
Score: A-

Finding Nemo adalah salah satu film klasik Disney / Pixar. Ada alasan kenapa film ini selama bertahun-tahun lamanya menjadi hit terbesar dari studio Pixar, sampai ketika posisi itu dia serahkan kepada Toy Story 3 tahun 2010 lalu. Petualangan dari Dory, Marlin, dan Nemo berlanjut 13 tahun semenjak Finding Nemo dulu dan sekali lagi menyajikan kecantikan dunia bawah laut.

Apakah film ini sebagus Finding Nemo? Menurutku… tidak. Menurutku film ini masih sedikit di bawah Finding Nemo. Tidak berarti film ini jelek. Jauh dari itu. Ini masih merupakan salah satu film animasi terbaik dan memuaskan yang kutonton tahun ini. Ya, jalan ceritanya boleh klise. Toh ia digarap dengan sangat bagus sehingga membuat saya tersenyum sekaligus menangis di sepanjang film. The Good Dinosaur, this is not.

04. Suicide Squad
Score: Not available

Saya berjanji tidak akan memberi skor kepada Suicide Squad karena saya tidak mau dibunuh oleh para rabid fanboy DC.

But to tell you the truth, this movie is much better than the clusterfuck shit that is Batman v Superman. David Ayer termasuk jago menggarap adegan tembak-tembakan di jalanan (you know; gritty, realism action movie) dan berkali-kali gaya signature-nya itu muncul di film ini.

Dari deretan casting all star yang bermain di film ini, saya melihat bahwa Will Smith tampil paling baik dalam meringankan suasana film yang terkadang terlalu suram. Joker di lain sisi terasa underdeveloped sebagai karakter. It’s not a perfect movie but it’s quite okay. Enjoyable.

05. Skiptrace
Score: B-

Film Jackie Chan bersama Johnny Knoxville ini saya tonton dengan ekspektasi rendah. Dan memang ini bukan film yang terlalu bagus. Setpiece yang paling dahsyat di awal film pun tergolong sangat biasa untuk film Jackie Chan. Kelincahan sang maestro kungfu terasa makin berkurang saja dari tahun ke tahun. Akan tetapi terlepas dari semua itu, apa yang disajikan film Skiptrace adalah hiburan dan dalam hal itu ia berhasil.

Ada satu momen terutama yang membuat saya tersenyum lebar saat Jackie mendadak saja bersama berbagai orang mendendangkan lagu pop barat. Momen-momen macam itu membuat film Skiptrace terasa sedikit lebih memorable daripada sekedar wajah cantik seorang Fan Bing Bing.

Review Round-Up 2016 (Part 12 – Board Games)

1. Jaipur
Score: 8.5

Salah satu tipe permainan favoritku adalah Board Game dua pemain (two player). Ini dikarenakan saya terkadang hanya bisa memainkan Board Game dengan satu dua teman saya saja kalau saya tengah tidak berada di Indonesia. Sialnya lagi, jumlah Board Game yang mencakup dua pemain dalam koleksiku tidak seberapa banyak. Jaipur mengisi kekosongan itu dengan baik. Sebagai game dengan tema utama set collection, ia didesain sangat baik untuk menjadi sebuah Card Game yang kompetitif antara dua pemain. So far saya memainkannya dengan nyokap, dengan sahabat, dengan adik, dan mereka semua sangat enjoy memainkannya!

2. Dixit
Score: 7.5

Dixit adalah permainan tebak gambar yang menarik. Daya tarik utama dari Board Game yang laris manis terjual di seluruh dunia ini tentunya datang dari artwork-artwork cantik pada kartunya. Karena gambar adalah sebuah bahasa yang universal, Dixit menjadi Board Game yang mudah diajarkan kepada siapapun dan dapat dimainkan dalam bahasa apapun. Tidak mengherankan bahwa pada akhirnya di tahun 2010 ia memenangkan penghargaan Spiel de Jahres Award (Board Game of the Year). Kelemahan dalam game ini adalah setelah memainkannya beberapa kali kamu akan mulai hafal dengan kartu-kartu yang ada. Cara membuatnya refresh kembali tentu saja adalah dengan terus membeli ekspansi set kartu-kartu yang baru.

3. Viticulture: Essential Edition
Score: 9.0

Salah satu alasan kenapa skor dari Viticulture: Essential Edition begitu tinggi adalah karena saya mencintai theme dalam Board Game ini. Selain itu saya juga sangat suka dengan flow game ini. Hampir semua terjadi secara organik mulai dari menanam anggur, mengubah anggur menjadi wine, sampai kemudian menjual wine ke pasaran yang menginginkannya. Sama dengan Puerto Rico, Viticulture: Essential Edition (yang memasukkan elemen dari Tuscany) langsung menjadi salah satu game Heavy Euro favoritku. Love it!

4. Patchwork
Score: 8.0

Remember what I said about tidak cukup memiliki Board Game duel untuk dua player? Selain Jaipur saya kini juga memiliki Patchwork yang diciptakan oleh Uwe Rosenberg, yang salah satu ciptaannya: Bohnanza, merupakan salah satu dari Board Game-Board Game awal yang saya mainkan. Dan satu lagi yang saya sukai dari Patchwork adalah temanya: menganyam kain? It should’ve been a very boring Board Game. But instead it’s really quite fun!

5. T.I.M.E. Stories
Score: 7.0

Di luar Pandemic Legacy, T.I.M.E. Stories adalah Board Game yang paling mendapatkan buzz dan hype di tahun 2015 kemarin. And for a good reason. Walaupun sebenarnya Board Game ini tidak memiliki ide yang benar-benar fresh dalam dunia media (it’s basically Board Game dengan tema Pilih Sendiri Petualanganmu) tetapi harus diakui bahwa ide ini memang masih cukup orisinil dalam dunia Board Game. Tambahkan lagi fakta bahwa setiap module baru yang dirilis membawa skenario dan tema yang baru, I can see this Board Game still being relevant di tahun-tahun mendatang.