Ouija: Origin of Evil

Film horor Ouija dirilis pada tahun 2014 lalu dan menjadi sebuah mid-level hit kendati dicerca oleh para kritikus. Oleh karena itu para produser film ini berniat melanjutkan ceritanya. Toh daripada maju dengan jalan cerita Ouija Board, mereka memutuskan untuk kembali ke masa lampau untuk menilik bagaimana papan Ouija ini menjadi terkutuk lantas menghantui dan membawa tragedi bagi begitu banyak keluarga. Film ini pada akhirnya menjadi sebuah prekuel yang tak mengharuskan penonton melihat film pertamanya untuk mengerti ceritanya.

Alice Zander dan kedua putrinya: Lina dan Doris bekerja keras menyambung kehidupan mereka setelah ayah mereka mangkat. Sebagai “peramal” dan “ahli nujum“, Alice sebenarnya hanya ‘menipu’ para klien mereka untuk mendapatkan kedamaian setelah ditinggalkan oleh keluarga mereka. Mengingat makin lama makin sulit untuk mengecoh orang-orang dengan trik-trik sederhana, Alice akhirnya menginkorporasikan sebuah papan Ouija dalam permainan.

ouija-2-p

Masalah mulai timbul ketika Alice menggunakan papan Ouija tersebut karena Doris mulai kerasukan arwah-arwah. Pada awalnya Alice dan Lina setuju dengan hal-hal ini dikarenakan mereka merasa bahwa Doris bisa berkomunikasi dengan ayah / suami mereka yang telah meninggal. Akan tetapi ketika Doris makin lama menjadi makin aneh, mereka mulai sadar bahwa ada yang tidak beres. Akan tetapi apakah itu semua sudah terlambat?

Masalah dengan film prekuel adalah bila kamu sudah menonton sekuelnya kamu sudah tahu mengenai bagaimana ending dari film ini. Ouija: Origin of Evil menderita dari hal itu. Dikarenakan saya sudah menonton film pertamanya, saya tahu benar nasib dari Alice, Lina, maupun Doris di penghujung film. Untung saja kendati saya sudah tahu nasib mereka semua, sutradara Mike Flanagan masih mampu menjaga tensi dari film ini dari awal hingga akhir. Salah satu ciri dari film horor yang baik bagi saya adalah tidak melulu mengandalkan jump scare, dan itulah yang dilakukan oleh film ini. Dengan setting rumah yang gelap dan kelakuan dari Doris yang semakin lama semakin aneh, film ini membuatku tidak nyaman menontonnya. Selamat untuk Lulu Wilson yang tampil creepy sebagai si anak kecil Doris!

ouija-2-31

Ketika Ouija pertama kali dirilis dulu film ini dirasa mengecewakan karena menyia-nyiakan potensinya. Prekuelnya ini adalah tanda minta maaf dari para produser filmnya. Dengan setting tahun 1960an, cerita yang jauh lebih kuat (dan membuat kita peduli dengan karakter di dalamnya), sampai kisah tragis keluarga Zander, menjadikan film prekuel ini lebih kuat dari prekuelnya. Satu lagi: bila kalian belum menonton prekuelnya, lebih baik langsung menonton film ini saja, dijamin akan membuat filmnya jauh lebih menarik karena kalian tidak tahu nasib dari setiap karakternya!

Score: B+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s