Ni no Kuni II: Revenant Kingdom

Ketika dunia game pertama mendengar nama Ni no Kuni, mereka sangat terkejut melihat dua nama besar dari dunia game dan dunia animasi bekerja sama. Level-5 yang adalah developer di balik seri Professor Layton bekerja sama dengan Studio Ghibli yang adalah salah satu studio animasi terbesar Jepang. Hasil dari kolaborasi keduanya adalah Ni no Kuni: Dominion of the Dark Djinn di Nintendo DS yang dipuji gamer dan Ni no Kuni: Wrath of the White Witch versi upgradenya di PS3 yang dinilai agak mengecewakan. Walaupun game ini mendapatkan apresiasi dalam kualitas teknis banyak yang merasa kecewa dengan gameplay-nya yang dirasa tak sebagus harapan. Dengan kata lain Ni no Kuni tak berhasil memenuhi harapan ekspektasi fans yang sangat tinggi.

Franchise ini lantas sempat tertidur beberapa saat lamanya. Tak hanya itu Studio Ghibli pun sempat pensiun lama membuat film animasi dikarenakan pensiunnya Hayao Miyazaki dan – konon – tergerusnya keadaan finansial mereka. Walhasil ketika Ni no Kuni II: Revenant Kingdom digarap, game ini diciptakan tanpa campur tangan Studio Ghibli dengan pengecualian design karakter yang masih ditangani oleh Yoshiyuki Momose dan divisi musik yang dipegang oleh Joe Hisaishi. Apakah sekuelnya mampu memperbaiki kelemahan-kelemahan dari Ni no Kuni pertama?

1
Free Roam Battle System

Game ini memiliki dua protagonis utama: Roland, seorang Presiden dari negara di dunia kita yang mendadak diteleportasi ke kerajaan Ding Don Dell yang terletak di dunia lain. Di sini Roland bertemu dengan Evan, pangeran Ding Dong Dell yang terpaksa melarikan diri karena dirinya dikudeta oleh sang Perdana Menteri. Melarikan diri dari kerajaan tersebut, keduanya memutuskan untuk membentuk sebuah kerajaan baru bernama Evermore. Tujuan dari Evan adalah tujuan yang mulia: ia ingin mempersatukan semua kerajaan (secara damai) supaya tercipta satu monarki kerajaan baru yang damai sejahtera dan semua penduduknya bahagia.

Saya harus mengakui kalau jalan cerita dari Ni no Kuni II terbilang sangat sederhana dan terlalu kekanak-kanakan, apalagi bila dikontraskan dengan keadaan dunia saat ini. Pola pandang dari Evan yang ingin menyatukan dunia secara damai terasa naif dan bodoh. Toh tujuan utama dari cerita ini adalah memberi gamer alasan untuk mengunjungi teritori-teritori kerajaan yang berbeda-beda. Mulai dari Goldpaw sampai Broadleaf, kerajaan-kerajaan yang dikunjungi oleh Evan dan Roland memiliki ciri khasnya sendiri. Goldpaw misalnya adalah kerajaan yang memusatkan perekonomian mereka pada perjudian sementara Broadleaf adalah kerajaan yang bertumpu pada perkembangan industri mesin-mesin mereka. Setiap kerajaan memiliki tantangannya sendiri sebelum mereka mau bergabung dalam kerajaan Evermore yang didirikan oleh Evan.

Memainkan Ni no Kuni II: Revenant Kingdom mengingatkanku pada old-school RPG. Gameplaynya memang seakan merupakan gabungan dari banyak old-school RPG lainnya. Sistem battle di Ni no Kuni II mengingatkanku kepada seri Tales di mana kamu bebas bergerak di battlefield sambil melancarkan kombo serangan pada musuh. Memiliki senjata yang tepat ditambah dengan ketepatanmu melakukan block dan dodge adalah kunci memenangkan pertarungan, terutama menghadapi musuh-musuh yang kuat. Lantas sistem eksplorasi game yang masih memakai konsep world map (dan karaktermu berubah menjadi chibi) adalah sistem eksplorasi dari hampir semua RPG-RPG Super Nintendo dan Playstation generasi pertama dulu.

Tambahan yang membuat Ni no Kuni II lebih kompleks dari rata-rata RPG biasa pun tak sepenuhnya baru: untuk membuat ekonomi dari kerajaan Evermore semakin makmur Evan bisa berbicara dengan orang-orang yang ia temui di sepanjang perjalanannya. Acapkali orang-orang tersebut akan memberi Evan subquest yang bila diselesaikan akan membuat mereka setuju untuk bergabung dan menjadi penduduk di kerajaan Evan. Dengan jumlah lebih dari 100 penduduk yang bisa direkrut oleh Evan, tidakkah sistem ini mengingatkanmu dengan seri Suikoden dari Konami? Penduduk yang kamu rekrut sebagai gantinya bisa kamu pekerjakan di tempat untuk menciptakan senjata, armor, bahkan item-item langka lain yang tidak dapat kamu temukan dengan mudah di toko-toko biasa. Ini memberi insentif bagimu untuk menemukan penduduk-penduduk baru bagi kerajaanmu.

3
Chibi World Map

Bagi kalian yang menginginkan tantangan tambahan bisa menghadapi puluhan optional boss dan optional dungeon yang tersebar di dalam game ini. Kendati game utamanya sendiri hanya memakan waktu sekitar 30 jam untuk ditamatkan, para completionist bisa memakan waktu hampir 100 jam untuk menemukan tiap penduduk yang ada, menyelesaikan semua misi perang, memburu setiap Tainted Monster (optional boss) dan menyelesaikan tiap dungeon tambahan. Acungan jempol bagi Level-5 yang memberi balance untuk tipe normal gamer yang hanya mementingkan petualangan utama dan hardcore gamer yang ingin memaksimalkan petualangan mereka di dunia ini.

Walaupun Studio Ghibli sudah tidak lagi memegang peranan dalam produksi game ini saya harus mengacungkan jempol kepada Level-5 yang masih mampu mempertahankan estetika animasi Studio Ghibli dalam produk akhirnya. Memainkan Ni no Kuni II: Revenant Kingdom sudah seperti memainkan sebuah film Studio Ghibli – apalagi ketika soundtrack dari Joe Hisaishi (lengkap dengan full orkestra) berdebam megah. Sekali lagi saya amat menyayangkan jalan cerita dari Ni no Kuni II yang terasa terlalu kekanak-kanakan dan naif untuk epik dan skala sebesar ini.

Terlepas dari beberapa kekurangan minor yang ada, Ni no Kuni II: Revenant Kingdom adalah game yang wajib kamu mainkan apabila kamu pecinta game-game old-school RPG dengan segala charm-nya.

Score: 8.0

Advertisements

Super Mario Odyssey

Ketika Nintendo Switch dirilis di tahun 2017 kemarin, gamer di seantero dunia terkesan dengan bagaimana Nintendo sukses merevolusi salah satu franchise terbesarnya: The Legend of Zelda melalui entri terbarunya: Breath of the Wild. Setelah kesuksesan besar dari franchise tersebut, gamer kemudian menoleh pada maskot terbesar Nintendo: apa yang mereka siapkan untuk Mario? Dalam beberapa trailer yang telah dirilis di saat itu, Super Mario Odyssey dijanjikan memiliki mekanik-mekanik gameplay baru yang membuatnya berbeda dengan game-game Mario sebelumnya, apakah tambahan itu sekedar gimmick semata atau memang mengubah gameplay dari sang tukang ledeng paling populer dunia?

Memainkan Super Mario Odyssey memberikan jawaban penengah antara keduanya, dengan memperkenalkan sistem topi Cappy, Mario bisa ‘menguasai’ badan dari lawan-lawannya dan menggunakan mereka untuk mengeksplorasi tempat baru yang tak terjangkau oleh Mario ataupun mengeksplorasi tempat lama dengan cara yang baru. Hanya memperkenalkan gimmick ini akan percuma apabila dunia yang dijelajahi oleh Mario tidak menarik. Untunglah Nintendo mendesign setiap-setiap dunia yang dijelajahi oleh Mario penuh dengan rahasia dalam bentuk Moon. Moon dalam game ini tersebar dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, ada yang tampak begitu mudah dijangkau di depan pandangan, tetapi ada juga yang begitu tersembunyi sehingga memerlukan ide-ide kreatif dari gamer untuk menemukannya.

odyssey 3
Let’s go diving!

Mengingat Mario sendiri sudah ada lebih dari 30 tahun yang lalu, bisa dimengerti bagaimana Nintendo memutuskan untuk menjadikan Super Mario Odyssey sebagai sebuah perayaan akan perjalanan panjang Mario. Dengan pintarnya game ini berubah-ubah dari dunia 3D ala Super Mario modern (yang dipelopori oleh Super Mario 64) dan 2D yang merupakan dunia kelahiran Mario dulu, penutup dari dunia New Donk City merupakan sebuah festival yang adalah momen terbaik gamingku tahun 2017 lalu. It’s not just a love letter to Mario’s past but it’s a celebration of what came before and what comes next.

Memainkan game ini di Nintendo Switch tentunya melahirkan pertanyaan bagaimana performa game ini? Kendati game ini – secara grafis – tidak dapat bersaing dengan game-game kaliber atas Playstation 4 (Katakanlah Horizon: Zero Dawn) dan dunia open world Mario terasa jauh lebih kecil dari GTA V, itu tak berarti ia membosankan. Seperti yang saya katakan tadi, kekurangan dalam luasnya dunia ditutupi Nintendo dengan padatnya dunia di dalamnya dengan rahasia. Lebih impresif lagi, memainkan game ini dalam mode konsol maupun dalam mode handheld tetap sama menyenangkannya. Ya, ada beberapa gerakan yang akan lebih mudah dieksekusi oleh Mario apabila kamu memainkan game ini dengan dua kontroler lepas tetapi gerakan-gerakan itu tidak seberapa signifikan dalam mayoritas 95% segmen permainan. Itulah yang luar biasa dari setiap game Mario, ia bukan sekedar sebuah game saja tetapi ia adalah game yang dikustomisasi oleh Nintendo untuk memaksimalkan konsol di mana ia dirilis.

odyssey 1
Let’s go on an Odyssey!

Apakah Super Mario Odyssey adalah sebuah game Mario yang membuka dunia baru dalam dunia petualangan 3D seperti halnya Super Mario 64 dulu? Mungkin tidak. Tetapi apakah ia game platform 3D terbaik yang keluar di dekade ini, jawabannya jelas: ya. Dengan kontrol yang solid, tambahan mekanik gameplay yang cerdas, dunia yang didesign secara brilian, sampai pada grafik dan soundtrack yang cerah dan berwarna, ini adalah sebuah pengalaman gaming yang tak boleh dilewatkan di tahun 2017. What can I say but… Nintendo did it again!

Score: 9.5

Dennis sudah memainkan Super Mario Odyssey selama lebih dari 15 jam dengan mode docked dan undocked di Nintendo Switch. Hobi favoritnya di dalam game ini adalah menguasai tubuh T-Rex lantas membantai semua musuh yang ada di sekelilingnya!

Final Fantasy XV Pocket Edition

Final Fantasy XV dirilis di akhir tahun 2016 lalu dengan reaksi yang positif dari para gamer. Tidak semua gamer mencintainya seperti halnya masa emas Final Fantasy dulu (era Final Fantasy VII sampai Final Fantasy X) tetapi rata-rata gamer beranggapan bahwa Final Fantasy XV jelas memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan trilogi Final Fantasy XIII dulu. Tanggapan positif kebanyakan gamer ditindaklanjuti oleh Square Enix dengan mereka menciptakan beberapa DLC yang berfokus pada karakter-karakter lain dalam game ini, mengisi beberapa lompatan narasi cerita di dalam game utamanya. Selain itu Square Enix mengumumkan sebuah proyek yang lebih ambisius lagi: sebuah reimajinasi dari Final Fantasy XV untuk mobile device.

Bagi pemilik iOS dan Android, nama Square Enix di dunia mobile tidak baru lagi karena studio ini sibuk memport banyak dari game mereka mulai dari Chrono Trigger, Final Fantasy series, Dragon Quest series, sampai beberapa game mereka yang lebih ditujukan pada penggemar RPG (Secret of Mana, Romancing SaGa). Akan tetapi remake langsung dari Final Fantasy XV Pocket Edition ini bisa dibilang proyek paling ambisius dari Square Enix semenjak Chaos Rings III beberapa tahun lalu untuk game yang dikhususkan bagi platform mobile. Square Enix merombak susunan game sampai gameplay dari versi konsol dan mengompres semua pengalaman tersebut dalam petualangan yang bisa diselesaikan dalam 15 – 20 jam oleh para gamer.

4
The legendary car pushing opening

Ya, itu berarti banyak dari sidequest versi konsol dihilangkan dalam game ini, menyisakan jalan cerita yang langsung berkesinambungan dalam plot utama cerita – dibagi dalam 10 chapter. Sama halnya seperti versi konsol dalam game ini kamu mengendalikan karakter bernama Noctis, seorang pangeran dari kerajaan Lucis yang hancur diserang oleh Nifleheim. Noctis bersama tiga temannya: Ignis, Gladiolus, dan Prompto berangkat mengelilingi dunia Eos guna menghentikan Nifleheim dengan mengumpulkan kekuatan para guardian.

Sistem battle dalam Final Fantasy XV menggunakan Active Battle System di mana karaktermu bisa bergerak bebas di dalam map pertarungan sambil menyerang musuh. Square Enix berhasil membuat sistem bertarung game ini menjadi menyenangkan dengan kontrol yang terbatas di platform mobile dan ini mungkin bisa dibilang kemenangan terbesar mereka. Sistem battle yang cukup adiktif dengan berbagai macam skill yang bisa digunakan oleh Noctis dan kawan-kawannya membuat setiap pertarungan terasa seru untuk dilakukan. Beberapa kali saya bahkan mengulangi chapter-chapter tertentu dalam game ini hanya untuk mengulangi battle-battle yang memorable di dalamnya.

3
Great touchscreen control

Di sisi lain saya sedikit kecewa dengan audio dalam game ini. Saya mengacungkan jempol dengan usaha Square Enix memasukkan voice acting secara ekstensif di dalam game ini karena dengan grafis seadanya, voice acting adalah salah satu keperluan besar untuk menghidupkan cerita Final Fantasy XV, di sisi lain lagu-lagu dalam game ini termasuk Stand By Me dari Florence and the Machine dihilangkan dari game dan membuat mood dalam game ini sedikit berkurang karenanya. Kemungkinan besar Square Enix tidak ingin membayar lisensi ulang untuk lagu ini dan menggantikannya dengan instrumen generik semata.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada Final Fantasy XV adalah pilihan yang tepat bagi gamer yang ingin memainkan Final Fantasy XV dengan gameplay yang ala RPG-RPG lawas era Playstation pertama dulu. Dengan jumlah subquest yang minim, kualitas grafik ala chibi, play time yang bisa diselesaikan dalam 15 – 20 jam (tergantung apakah kalian ingin menjadi completionist atau tidak), Final Fantasy XV Pocket Edition membuktikan bahwa remake tak selalu harus upgrade tetapi bisa juga downgrade tanpa menghilangkan esensinya.

2
Chi-bi matters

Score: 8.5

Dennis memainkan Final Fantasy XV Pocket Edition selama hampir 20 jam. Ia merasa bahwa terjadi penurunan kualitas dalam cerita setelah emotional peak di episode enam dan membayangkan apa hasil game ini bila ia tidak dirilis terlalu cepat di akhir tahun 2016 lalu.

Uncharted: The Lost Legacy

Ketika Uncharted 4: A Thief’s End dirilis pada tahun 2016 lalu, Naughty Dog melakukan suatu hal yang berani. Mereka memberi sebuah ending definitif pada karir petualangan Nathan Drake. Apabila dipikir dari segi waktu memang sudah saatnya petualangan Nathan Drake diakhiri. Franchise Uncharted masih merupakan franchise terbesar Sony tetapi Uncharted telah ada selama 10 tahun lamanya. Tak banyak franchise blockbuster yang bisa bertahan selama itu dan masih terus mempertahankan kualitasnya. Ingat Uncharted berbeda dengan Assassin’s Creed atau Call of Duty yang protagonis dan ceritanya terus berganti-ganti. Strategi Naughty Dog tidak salah: Uncharted 4 dirilis dengan pujian industri video game karena menutup kisah Nathan, Elena, Sully, dan karakter-karakter lain yang dicintai gamer secara manis.

Toh selama permainan ada pertanyaan yang mencuat di benakku (dan saya yakin benak banyak gamer lainnya): “Bagaimana dengan Chloe?“. Diperkenalkan di Uncharted 2 dan memainkan peran minor di Uncharted 3, sosok Chloe praktis nyaris lenyap begitu saja di Uncharted 4 dengan pengecualian satu dua petunjuk bahwa ia masih hidup. Pertanyaan yang ada di benak gamer ini akhirnya terjawab setelah Naughty Dog menyatakan mereka akan merilis sebuah DLC tambahan untuk Uncharted 4 dengan tokoh utama Chloe – yang ditandemkan dengan karakter baru dari Uncharted 4 yaitu Nadine. Strategi Naughty Dog ini serupa dengan bagaimana mereka merilis Left Behind, DLC tambahan dari The Last of Us.

4

Plan merilis DLC ini berubah karena Naughty Dog menyatakan akan menjadikan The Lost Legacy sebagai sebuah game spin-off yang berdiri sendiri guna menguji reaksi pasar mengenai franchise Uncharted yang tak bertokoh utama Nathan lagi. Maka dimulailah petualangan dari Chloe dan Nadine mencari sebuah artifak misterius yang hilang di benua Asia: India, negara yang sarat dengan mistis dan mitologi Hindu di dalamnya.

Jalan cerita dalam Uncharted: The Lost Legacy terbilang sederhana dibandingkan dengan entri utama dalam franchise Uncharted karena memakai plot cerita ‘standar’ film petualangan. Chemistry antara Chloe yang easygoing dan Nadine yang serius adalah pakem baku dari banyak sekali film buddy cop. Toh, performa pengisi suara Claudia Black dan Laura Bailey memainkan peran mereka dengan sangat baik sehingga hubungan persahabatan kedua wanita ini tumbuh dengan natural dan tidak terasa dipaksakan. Kenangan Chloe tentang riset ayahnya di negara India pun klise, bahkan reboot film Tomb Raider yang dibintangi oleh Alicia Vikander saja memakai klise tersebut, tetapi eksekusi kuat dari para penulis cerita Uncharted: Lost Legacy membuat kisah ini tetap menarik. Satu-satunya hal yang saya lihat sebagai kelemahan dari plot cerita game ini adalah sosok Asav yang diposisikan sebagai villain utama game ini. Dibandingkan sosok Chloe dan Nadine, Asav terasa datar dan kurang menarik, saya tidak pernah bisa benar-benar memahami alasan kenapa ia mengingini artifak gading Ganesh yang menjadi plot utama game ini.

2
Mode Fotografi bisa jadi mode yang fun buat dijajal gamer

Keputusan tim developer game ini meletakkan setting di India saya nilai sebagai hal yang tepat. Lansekap India memiliki paduan unik antara kota besar yang padat penduduk (dengan ketimpangan status sosial ekonomi politik), hutan dan lembah raksasa yang misterius, serta budaya yang bisa ditarik sampai ribuan tahun ke belakang lamanya. Tahukah kalian bahwa agama Hindu adalah satu-satunya agama tertua yang masih memiliki pengaruh besar di dunia saat ini? Ya, agama Hindu memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam dibandingkan agama Kristen / Katolik, Yahudi, Islam, bahkan Buddha sekalipun. Kembali pada setting di India, ini memberi kesempatan gamer menjelajahi banyak setting baru yang digarap dengan sangat cantik oleh Naughty Dog. Salut kepada tim developer yang tak pernah tidak all out dalam kualitas visualnya.

Pun begitu, proses pembuatan game ini yang hanya memakan waktu satu tahun (tergolong singkat) terlihat dalam gameplaynya. Salah satu trademark dari entri utama Uncharted adalah setiap sekuel memasukkan satu dua elemen baru yang mengubah gameplay. Tidak demikian halnya dengan Uncharted: Lost Legacy yang bisa dibilang digarap dengan engine yang sama dengan Uncharted 4. Saya tidak mengatakan ini buruk, tetapi di sisi lain ini membuatnya lebih mudah diprediksi. Elemen open-world, elemen baku tembak, sampai elemen QTE dan grapple hook yang menjadi trademark dari seri sebelumnya semua hadir di sini. Bahkan beberapa sekuen setpiece aksinya pun membuatku teringat dengan Uncharted 4, tidak sampai membuat game ini terasa repetitif sih, tetapi saya juga bisa memahami kenapa Naughty Dog enggan menyebut game ini Uncharted 5: A New Beginning.

1
Refreshing melihat dua tokoh heroine ini berpetualang bersama

Pada akhirnya Uncharted: The Lost Legacy dibuat dengan tujuan memuaskan dahaga gamer yang ingin sebuah petualangan baru dengan tokoh di luar Nathan Drake. Dengan play time yang lebih singkat, gameplay yang solid tapi tidak menawarkan sesuatu yang baru, serta plot cerita yang klise tapi tetap menarik, Uncharted: The Lost Legacy telah melakukan tugasnya dengan baik, ia membuktikan bahwa Uncharted bisa tetap survive tanpa Nathan Drake. Tidak lebih, tidak kurang.

Score: 8.0

Rakuen

Saya pertama kenal nama Laura Shigihara sebagai gadis yang menjadi komposer lagu Everything’s Alright dari game To the Moon, sebuah game indie sukses di tahun 2011 lalu. Menggali lebih dalam resume dari Laura Shigihara, saya terkejut ketika tahu bahwa ia juga komposer dari game Plant vs Zombies, sebuah game yang super populer di awal dekade ini. Setelah mengetahui hal tersebut saya kemudian tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai proyek apa yang ingin ia kerjakan berikutnya. Dalam blognya, Laura Shigihara menyatakan bahwa ia ingin membuat sebuah game juga. Beberapa tahun kemudian, karena kesibukan ini itu, saya lupa akan statement tersebut.

Membaca beberapa review dari situs game lain saya baru menyadari bahwa “Hey, ternyata game garapan Laura Shigihara sudah selesai dan sudah dirilis“. Judulnya: Rakuen.

3

Setting dari Rakuen adalah rumah sakit di mana seorang anak laki sedang rawat opname di tempat tersebut. Sang Ibu kemudian menceritakan mengenai kisah tentang sebuah tempat mistik yang ajaib: tentang sebuah tempat ajaib bernama Morizora’s Forest. Mendadak sesuatu yang ajaib terjadi, sang anak dan ibunya tertransport ke dunia misterius Morizora’s Forest. Di sana mereka menemukan bahwa sang penjaga dari dunia tersebut: Morizora sedang tertidur dan hanya bisa dibangunkan dengan lagu bernama Mori no Kokoro.

Pernahkah kalian menonton film Pan’s Labyrinth dari Guillermo del Toro? Rakuen memiliki kemiripan dengannya di mana sebagai gamer kamu bisa berpindah dari alam fantasi ke alam realita untuk mengutak-atik puzzle di kedua dunia ini. Sebagai sebuah game indie Rakuen bisa dibilang sederhana – jauh lebih sederhana dari game-game kompleks RPG dengan budget besar lainnya. Fokus dari game ini ada pada dua hal: yang pertama adalah puzzle di dalamnya (yang cukup kompleks dan tidak sesederhana To the Moon) dan yang kedua adalah soundtrack dan lagu di dalamnya. Mengingat Laura Shigihara memiliki akar sebagai komposer, tidak mengherankan kalau ia memasukkan banyak elemen musik yang berpengaruh dalam cerita.

Kendati game ini diciptakan dari engine RPG Maker, saya sangat salut dengan keindahan di dalamnya. Laura Shigihara mengambil kontras yang sangat bagus antara dunia realita rumah sakit yang kelabu dengan dunia fantasi di Morizora’s Forest yang cerah dan penuh warna. Tak disangka-sangka juga, Laura Shigihara bisa memasukkan elemen horor (walaupun sedikit) di dalam game ini yang cukup membangkitkan bulu kuduk. Walaupun efektif saya pribadi merasa penempatannya membuat beberapa segmen terasa memiliki perubahan tone yang terlalu mendadak.

Elemen lain dalam cerita ini yang sangat saya sukai adalah bagaimana peran sang Ibu sangat besar dalam cerita ini. Dalam kebanyakan game RPG orang tua biasa tidak memegang peranan besar dalam cerita dan kalaupun ada biasanya sosok ayah yang memegang peranan (terkadang dia hilang dalam perjalanan dan sang anak memulai perjalanan untuk mencarinya). Jadi sangat refreshing sekali melihat dalam game ini sang Ibu terus menemani anaknya, tanpa berusaha menertawakan dunia fantasi yang mereka masuki tetapi secara bersungguh-sungguh ikut berpetualang dengan anaknya. Itu juga yang membuat momen-momen di akhir game ini begitu menyesakkan di hati, sekaligus menjadi salah satu momen paling memorable dari game rilisan 2017 yang saya mainkan.

1

Untuk urusan soundtracknya sendiri Laura Shigihara juga tampil all out dalam game ini. Setiap dunia baru yang kamu jelajahi memiliki musik yang pas untuk mengiringinya. Mulai dari musik yang sendu di rumah sakit, musik yang riang gembira dalam petualanganmu, sampai musik yang sedih dan penuh kenangan. Saya ingat Laura Shigihara mengatakan ia ingin membuat sebuah Musical Adventure sebagai game pertamanya dan jelas ia sangat sukses dalam melakukan hal itu. Apabila boleh melakukan nitpicking dalam game ini, saya hanya sedikit kecewa dengan satu dua lirik dalam game ini yang terkesan terlalu ‘hambar’ dan tak seimbang dengan musiknya yang lebih megah… tetapi itu adalah komplain sangat minor dalam segi audionya.

Secara keseluruhan terlepas dari apakah kamu seorang gamer atau tidak, Rakuen adalah sebuah game yang layak untuk dimainkan. Apabila membelinya – saya menyarankan untuk membeli dengan bundel OSTnya, percayalah kalian tidak akan menyesalinya.

Score: 9.0

Life is Strange

Developer mana yang terlintas di benakmu kalau mendengar kata “Episodic Content“? Jawabannya pasti Telltale Games. Setelah game The Walking Dead mendapatkan pujian kritikus di mana-mana, Telltale lantas melahirkan banyak game dalam genre ini mulai dari The Wolf Among Us, Minecraft: Story Mode, Game of Thrones, dan lainnya. Akan tetapi Life is Strange tidak berasal dari mereka melainkan dari sebuah developer indie di bawah naungan Square Enix: Dontnod Entertainment.

Dalam game yang dibagi menjadi lima episode, kamu adalah Max, seorang gadis yang memiliki sebuah kekuatan khusus memutar balik waktu. Kekuatanmu untuk memutar balik waktu ini membuat Max bisa melakukan hal-hal yang mungkin diimpikan oleh semua remaja di usianya. Siapa di saat remaja yang tak pernah melakukan kesalahan sama sekali? Mungkin kamu pernah mengatakan kata-kata yang salah karena emosi dan menyakiti hati sahabatmu, mungkin kamu pernah terlambat bangun dan telat masuk sekolah. Semua kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan Max ini bisa hilang karena Max punya kemampuan untuk memutar balik waktu dan memperbaiki kesalahannya.

3

Tentunya kalau kalian pernah menonton film bertemakan time travel seperti The Butterfly Effect dan A Sound of Thunder (keduanya direferensikan dengan pintar dalam film ini) bermain dengan waktu memiliki implikasi yang terkadang fatal. Dalam game ini Max akan bertemu dengan sahabat lamanya: Chloe, yang sudah berubah total setelah ayahnya tewas dalam kecelakaan. Chloe menjadi seorang gadis yang ‘nakal’ dan hipster, berbeda dengan Max yang cenderung lebih alim dan penurut. Oleh bujukan Chloe dan keinginan Max memperbaiki persahabatan keduanya yang merenggang, perlahan-lahan Max menggunakan kekuatannya untuk hal-hal yang lebih besar…

Salah satu kelemahan dalam game Telltale adalah bagaimana game tersebut semakin lama semakin terbatas. Harus diakui bahwa semua game yang diciptakan Telltale setelah The Walking Dead season pertama praktis memakai sistem gameplay yang sama. Ya terkadang ada sedikit perubahan seperti sistem detektif dalam game Batman tetapi tidak ada perubahan yang signifikan. Akui saja: kita membeli dan memainkan game Telltale karena ceritanya, bukan karena gameplaynya. Itulah mengapa memainkan Life is Strange terasa berbeda dan menyenangkan. Selain pilihan-pilihan dialog yang diberikan pada Max mempengaruhi bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, Dontnod Entertainment dengan cerdas mengintegrasikan kemampuan Max mempermainkan waktu untuk memecahkan puzzle-puzzle yang bertebaran sepanjang petualangannya.

Satu hal lagi yang membedakan Life is Strange dengan game Telltale adalah jalan ceritanya yang… membumi. Ini mungkin aneh apabila kalian membaca konsep dalam Life is Strange adalah time travel tetapi karakter Max adalah salah satu karakter paling relatable yang pernah saya mainkan. Ini adalah seorang gadis remaja yang berusaha berbuat benar walaupun terkadang karena kenaifannya ia melakukan hal yang salah. Dan berbeda dengan kebanyakan skenario game Telltale yang bertema post-apocalyptic (The Walking Dead, Tales from the Borderlands), fantasi (Game of Thrones, The Wolf Among Us, Minecraft) ataupun superhero (Batman, Guardians of the Galaxy), Life is Strange adalah sebuah cerita sederhana mengenai Max dan Chloe berusaha mengungkap misteri hilangnya seorang gadis misterius tanpa membuat nilai-nilainya di sekolah anjlok. Seperti yang saya katakan: relatable.

1

Life is Strange bukannya game sempurna. Apabila kamu berkaca lebih dalam pada poin-poin sci-fi dalam game ini akan mudah mencari kelemahannya (karena game tentang time travel memang sangat mudah dicari plot hole-nya), akan tetapi kisah Max di sini adalah sebuah kisah mengenai coming to age yang paling manis yang pernah saya mainkan dalam sebuah video game. Ada manis, ada pahit: bittersweet. Seperti halnya kenangan akan masa muda kita semua bukan?

Score: 8.5

Dennis memainkan lima episode Life is Strange selama hampir 10 jam di laptopnya. Dari game ini ia belajar banyak mengenai Chaos Theory dan teknik-teknik fotografi yang sayangnya tak akan bisa ia praktekkan di kehidupan nyata.