Sara is Missing

Konsep game yang memakai telepon genggam untuk berinteraksi bukan hal yang benar-benar baru. Kalau kalian tidak pernah mendengar nama Replica yang menjadi inspirasi langsung bagi game Sara is Missing, maka tentunya sudah mendengar tentang game Mystic Messenger, game Korea yang sekarang tengah luar biasa populer. Bedanya dengan Mystic Messenger yang genrenya adalah dating simulation, Sara is Missing mengangkat genre horror. Kalau dalam dunia perfilman ada yang namanya found footage seperti Paranormal Activity dan The Blair Witch Project, maka Sara is Missing adalah genre found cellphone.

Di awal permainan kamu menemukan telepon genggam milik seorang gadis bernama Sara. Setelah mengunlock telepon genggam miliknya (yang memiliki sekuriti terburuk di dunia), kamu disapa oleh AI dari telepon genggam yang bernama IRIS (ehem, kebalikan dari SIRI?). IRIS mengatakan bahwa Sara sekarang tengah hilang dan meminta bantuan kita untuk mencari tahu keberadaannya. Karena itu mulailah kita membuka chat history, mailbox, gallery, dan segala macam info di dalam telepon genggam Sara sembari mencari tahu ke mana dan apa yang gerangan terjadi kepadanya?

saaaaa

Walaupun saya katakan sebelumnya bahwa gameplay dalam Sara is Missing tidak baru, saya bisa mengatakan bahwa gameplay yang dipakai ini belum sering dipakai dalam game-game lainnya. Tambahan lagi design game yang mirip dengan device dari Apple membuatnya mudah dinavigasi oleh generasi millenial. Apabila ada kekurangan dari game ini itu adalah bagian dialognya yang masih terasa clunky dan pilihan-pilihan teks dalam game ini yang tak berarti banyak dalam membentuk jalinan cerita ke depannya.

kajaoa

Tentu saja dikarenakan Sara is Missing masih merupakan demo, kekurangan-kekurangan yang saya sebutkan tadi masih bisa diperbaiki dalam final versionnya. Untuk demo, bagaimanapun juga, game ini sudah cukup berhasil untuk menarik minatku membeli dan memainkan game full versionnya apabila dirilis nanti. Let’s hope for more scenario dan misteri yang lebih mendalam apabila nantinya memang dirilis!

Note: Mengingat game ini digarap oleh tim dari Asia Tenggara (sepertinya Singapore, Malaysia, dan Thailand) maka ada beberapa referensi dalam bahasa Melayu dan Indonesia dalamnya. Bisakah kalian temukan?

Score: 7.0

Review Round-Up 2016 (Part 11 – Video Game)

Dari antara hobi-hobiku yang lain sepertinya Video Game menjadi hobi yang sedikit ditelantarkan pada tahun ini. Mengingat saya pada tahun ini cukup banyak berkeliling ke sini-sana maka kesempatan untuk memainkan Video Game pun menjadi banyak berkurang – bahkan untuk video game portable yang biasa menjadi rujukan saya bermain ketika on the road.

Satu hal lain yang saya sadari adalah karena meningkatnya kesibukan sehari-hari maka menamatkan game-game RPG menjadi hal yang sepertinya sudah mustahil dicapai pada tahun ini. Semoga saja Persona 5 bisa mengubah tren itu ketika dirilis nanti… but honestly I’m not that sure.

1. Resident Evil Revelations 2
Score: 7.0

Saya cukup suka dengan Resident Evil Revelations yang pertama. Ketika sekuelnya tidak lagi dirilis di Nintendo 3DS melainkan di Vita dan PC, saya memutuskan untuk memainkannya di PC. Dengan dua karakter utama Barry Burton serta Claire Redfield, Resident Evil Revelations 2 adalah sebuah side story dari Resident Evil yang melengkapi mitologi game ini. Tidak lebih dan tidak kurang. Ia tidak buruk untuk kali pertama franchise ini melangkah ke gaya episodik tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam apapun juga. Oh ya, satu hal yang saya bingung: kenapa Leon dan Claire sudah bertahun-tahun berteman begitu tidak saling jadian ya?

2. Zero Escape: Zero Time Dilemma
Score: 8.5

Ketika Zero Time Dilemma akhirnya dirilis saya sungguh bersyukur. Sungguh saya tidak mengira sebuah game hybrid kecil Visual Novel + Escape the Room ini bisa mendapatkan trilogi. Sepertinya ini dikarenakan kecintaan yang begitu mendalam para fans akannya maka serial ini dapat dituntaskan. Sayangnya entri ketiga ini juga merupakan entri yang paling lemah bila dibandingkan dengan kedua game sebelumnya. Tambahan karakter baru terasa sangat lemah yang membuat saya merindukan karakter-karakter lama dari dua prekuel sebelumnya, ditambah dengan penutupan misteri yang berkesan agak memaksa. Masih sebuah entri dengan cerita yang bagus – tetapi tidak selegendaris kedua game sebelumnya yang flawless.

3. Uncharted 4: A Thief’s End
Score: 9.0

Perasaan saya sungguh berkecamuk ketika menyelesaikan Uncharted 4. Sungguh, Naughty Dog melakukannya lagi. Uncharted dan petualangan Nathan Drake bersama kawan-kawannya akan menjadi sebuah masterpiece dunia game yang akan dikenang generasi ini selama bertahun-tahun ke depan. Salut untuk keberanian Naughty Dog dan Sony menutup saga ini sampai di sini dan tidak terus memanjang-manjangkan kisahnya… I’m looking at you Assassin’s Creed!

4. Clash Royale
Score: 9.0

Walaupun kuantitas game yang saya mainkan berkurang sebenarnya waktu yang saya habiskan bermain game tak seberapa berkurang banyak. Itu gara-gara game Clash Royale dari Supercell ini. Saya termasuk jarang memainkan game online kecuali dulu Clash of Clans dari Supercell. Toh Hay Day dan Boom Beach, rilisan mereka berikutnya tak membuatku kesengsem sebagaimana aku memainkan Clash of Clans. Itu membuatku tak seberapa peduli Clash Royale. Oh, betapa salahnya saya. Begitu saya pertama memainkannya, Clash Royale langsung menjadi game yang mengisi waktu-waktu senggang dan menjadi arena pertaruhan harga diri di antara kelompok kawan-kawan dan keluarga! For the clan!

5. The Last of Us: Remastered
Score: 10

Game ini adalah sebuah masterpiece. Salah satu game terbaik yang pernah saya mainkan. Secara gameplay, secara balutan audio visual, sampai secara story menunjukkan bagaimana Naughty Dog merupakan developer game yang masih sulit dikejar siapapun saat ini. Review singkat yang saya tulis ini sepertinya tak bisa menjustifikasikan betapa aku menyukai petualangan antara Joel dan Ellie untuk ‘menyelamatkan’ kemanusiaan dalam game ini. I’ll give you my short verdict instead: PLAY IT.

Tales from the Borderlands

Setelah kesuksesan dari The Walking Dead (TWD) dan The Wolf Among Us (TWAU), Telltale Games semakin dipercaya oleh studio-studio media lain menangani kisah sampingan / spin-off dari kisah utama mereka. Ambil contoh HBO dengan serial Game of Thrones (GoT). Akan tetapi Tales from the Borderlands (TftB) adalah sesuatu yang unik. Kenapa demikian? Itu dikarenakan Telltale Games, bahkan sebelum naik daun dengan game The Walking Dead, jarang sekali membuat game yang berbasis game lainnya. Dua game hit mereka sebelum The Walking Dead misalnya: Back to the Future dan Jurassic Park berasal dari film layar lebar. Kualitas game Telltale yang bagus tentunya membuat Gearbox Software dan 2K Games selaku developer dan publisher seri utama Borderlands mempercayai mereka, bagaimana Telltale menjawab kepercayaan itu?

Game Tales from the Borderlands mengambil setting setelah Borderlands 2 dan memakai dua protagonis baru dalam cerita mereka: yang pertama adalah Rhys dan yang kedua adalah Fiona. Rhys dan Fiona adalah dua orang yang hidup di dua dunia yang berbeda. Rhys tinggal di stasiun luar angkasa bernama Helios, mengorbit di atas planet Pandora tempat Fiona tinggal. Sekilas lihat Rhys sepertinya beruntung tinggal di Helios, jauh dari daratan Pandora yang buas dan penuh dengan kriminal, teroris, dan psikopat sinting yang siap menghabisimu kapan saja. Tetapi itu tidak betul. Helios adalah stasiun luar angkasa yang dikuasai oleh korporasi bernama Hyperion dan di dalam perusahaan ini semua anggota-anggotanya saling sikut, saling tikam, dan ingin memajukan karir mereka sendiri.

1

Ketika Rhys ditipu oleh atasannya, ia dan rekannya Vaughn memutuskan untuk merusak deal bisnis dari atasannya dengan pergi ke Pandora. Memang deal bisnis tersebut menjadi berantakan tetapi alih-alih berhasil memetik untung bagi keduanya, Rhys dan Vaughn malahan terjebak di planet Pandora. Di situlah keduanya kemudian bertemu dengan Fiona dan adik perempuannya Sasha. Bisakah keempat orang ini selamat dalam petualangan mereka sementara dikejar-kejar oleh perusahaan Hyperion dan segala macam lapis kriminal di planet Pandora?

3

Hal pertama yang ingin saya sampaikan kepada kalian adalah: MAINKAN GAME INI. Tales from the Borderlands adalah game dengan narasi cerita terbaik yang saya mainkan tahun lalu dan juga merupakan salah satu game terbaik yang dirilis oleh Telltale Games. Tapi bagaimana apabila kalian tidak pernah memainkan game-game Borderlands sebelumnya? Jawabannya adalah: tidak apa-apa. Berbeda dengan Game of Thrones di mana mustahil bisa mengerti apa yang terjadi dalam game tersebut tanpa menonton serialnya terlebih dahulu, TfTB sepenuhnya memiliki cerita dan petualangan baru – bebas dari game lainnya. Selain karakter-karakter orisinil yang diciptakan oleh Telltale di game ini memang ada cukup banyak karakter dari game utama Borderlands hadir di sini – toh mereka hanya hadir dalam kapasitas sebagai karakter pendukung dan sekedar memperkaya cerita.

Seperti kebanyakan game Telltale yang lain struktur dalam Tales from the Borderlands adalah episodik dan terbagi dalam lima chapter cerita. Kelima episode yang ada memiliki kualitas yang hampir merata… bila diminta memilih maka saya rasa episode pertama dan kelima memiliki kualitas yang lebih bagus di antara lainnya karena bersifat sebagai pembuka dan klimaks dalam game ini. Setelah memainkan begitu banyak game Telltale yang nuansanya kelam dan gelap rasanya sangat refreshing memainkan game ini yang penuh dengan dialog-dialog yang smart dan lucu. Sekalipun saya tak mengenal dunia Borderlands, memainkan game ini membuat saya menjadi mengerti akan dunianya dan menjadi ingin menjajal game utamanya.

4

Itu tidak berarti game ini tidak memberikan pilihan-pilihan yang sulit kepadamu maupun tidak dark sama sekali. Ada banyak momen-momen yang membuatku tersentak ketika harus melakukan pilihan, momen-momen yang membuatku terharu dan sedih dalam cerita, bahkan momen-momen gelap yang membuatku mempertanyakan moralitas dari keputusan-keputusan yang telah kubuat sebelumnya. Dengan kata lain: kalau kalian familiar dengan formula dari apa yang membuat game Telltale sukses, kalian akan mendapatkannya di sini.

Untuk memperlengkap paket komplit game ini Telltale sama sekali tidak main-main ketika membingkisnya dalam paket audio visual yang mumpuni. Borderlands dikenal dengan grafik cel-shading, sama halnya dengan game-game rilisan Telltale. Akan tetapi walaupun semua game Telltale memakai grafis cel-shading, inilah game mereka dengan tampilan visual paling cantik. Warna-warna yang kaya, cerah, dan kontras satu sama lain menghidupkan planet Pandora. Tak hanya itu Telltale menyewa para voice actor yang berpengalaman mengisi suara game ini. Tidak percaya? Duet Rhys dan Fiona saja diisi oleh dua voice actor kawakan Troy Baker dan Laura Bailey. Melengkapi keduanya adalah Erin Yvette, Chris Hardwick, Mike Neumann, Nolan North sampai Ashley Johnson. Semuanya tampil luar biasa dalam menghidupkan karakter mereka masing-masing. Hasilnya: cast dalam game ini adalah cast yang paling melekat di hatiku semenjak bermain Persona 4: Golden dulu. Percayalah, itu adalah pujian tertinggi yang bisa saya sampaikan untuk karakter dalam sebuah game. They are all THAT memorable.

2

Bagi kalian yang ingin sebuah game dengan narasi cerita yang berkualitas dan penuh dengan plot twist yang tak tertebak, Tales from the Borderlands adalah sebuah game yang pantang dilewatkan. Telltale Games lagi-lagi menciptakan salah satu kontender game terbaik tahun 2015. Hanya dua kata yang bisa saya ucapkan: luar biasa!

Score: A

Stella Glow

Hal pertama yang ingin saya katakan adalah: Selamat tinggal Imageepoch.

Developer game yang saya kenal melalui dwilogi Luminous Arc (sayang, Luminous Arc 3 tidak pernah ditranslasikan ke Nintendo DS) ini menciptakan banyak JRPG yang menarik di era Nintendo DS dulu. Penggarapan Stella Glow ini sayangnya adalah game terakhir yang akan mereka ciptakan sebab sebelum game ini dirilis Imageepoch harus gulung tikar. Walhasil publikasi dari game ini kemudian ditangani oleh kolaborasi Sega dan Atlus.

3

Jalan cerita dari Stella Glow berawal saat desa Mithra yang ditinggali oleh Alto dan Lisette diserang oleh penyihir (Witch) jahat yang bernama Hilda. Seluruh penduduk desa diubah menjadi kristal dan keduanya adalah survivor yang tersisa. Beruntung sebelum Hilda dan kaki tangannya menghabisi Alto dan Lisette, kekuatan terpendam dalam diri Lisette terbangkitkan dan ia pun menjadi seorang Witch; Witch dengan elemen Air. Terpukul mundur, Hilda meloloskan diri dan Alto serta Lisette bertemu dengan kelompok ksatria dari Kerajaan Regnant.

Kerajaan Regnant mengajak Alto dan Lisette bergabung dalam kelompok Ksatria dan menugasi mereka untuk menemukan tiga Witch lain: Witch Angin, Witch Api, dan Witch Bumi untuk menghentikan Hilda yang ingin menghancurkan seluruh dunia dengan proyek kristalisasinya. Seiring dalam perjalanan Alto mempelajari lebih lanjut mengenai jati dirinya, sejarah dunia Regnant, dan juga bertemu rekan dan lawan baru di dalam perjalanannya. Berhasilkah Alto, Lisette, dan kelompok ksatria kerajaan Regnant menghentikan sepak terjang dari Hilda?

1

Banyak gamer yang mengatakan kalau Stella Glow adalah spiritual successor dari Luminous Arc dan saya setuju dengan pendapat itu. Bagi mereka yang familiar dengan franchise Luminous Arc akan sadar bahwa karakter-karakter dalam game tersebut selalu berhubungan dengan ksatria dan penyihir, sebuah tema yang juga sangat dominan di dalam game ini. Bahkan kalian yang jeli akan melihat bahwa design Alto sebagai protagonis utama di game ini sangat mirip dengan design dari Roland, protagonis utama dari Luminous Arc 2.

Gameplay dalam game Stella Glow terbilang standar seperti kebanyakan Strategy RPG lainnya. Kamu memiliki 15 karakter yang masing-masing memiliki spesialisasinya sendiri-sendiri. Beberapa karakter memiliki jangkauan area yang luas dan cepat dalam pergerakan mereka sementara karakter lainnya akan berfungsi lebih sebagai Tank (HP tinggi tetapi lambat dan jarak pergerakan lebih kecil). Akan tetapi seiring berjalannya cerita agak disayangkan bahwa karakter-karakter penyihir akan menjadi lebih dominan (dan overpowered) dibandingkan karakter-karakter non-penyihir terutama karena kemampuan Song mereka.

1

Bicara mengenai Song, cerita dalam Stella Glow berkisar mengenai bagaimana Lagu adalah representasi emosi manusia dan juga sesuatu yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran. Oleh karena hanya para penyihir yang bisa bernyanyi, kekuatan Song dalam game ini menjadi semacam kemampuan spesial yang bisa mengubah arus pertempuran. Setiap penyihir memiliki Song yang berbeda dan memakai mereka dalam formasi pertempuran acap kali menjadi kunci kemenangan, yang berarti karakter-karakter non-penyihir akhirnya tersingkir dan dibangkucadangkan.

Terlepas dari Battle, Stella Glow juga memiliki Free Time yang konsepnya mirip dengan game Persona 3 dan 4. Dalam waktu Free Time Alto bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan mereka. Membangun hubungan yang lebih kuat dengan rekan-rekanmu bisa membuka skill-skill baru, membuka epilog khusus bagi karakter tersebut dalam cerita, bahkan juga membuka opsi Normal maupun Good Ending dalam game. Tentu saja apabila kalian tak ingin menghabiskan waktu berinteraksi dengan teman-teman kalian ada juga opsi berkelana (Explore) untuk mendapatkan item maupun bekerja Part-Time guna mendapatkan uang tambahan.

Hal yang menyenangkan pada Stella Glow adalah tantangan dari game ini yang pas. Ia tidak terlalu mudah di mana kamu bisa menghancurkan segala lawan sekedar dengan asal tekan tombol tetapi ia juga tidak seberapa sulit karena kamu akan bisa melalui setiap pertarungan asal memakai strategi yang betul. Dengan pengecualian battle melawan boss terakhir saya hampir tidak pernah melakukan grinding dalam game ini. Salut untuk Imageepoch yang melakukan pacing cerita maupun gameplay secara pas sehingga tidak pernah game ini terasa terlalu terburu-buru maupun bertele-tele.

Untuk kualitas grafik dan suara game Stella Glow tidak mengecewakan walaupun juga tidak mencengangkan. Saya tidak pernah berharap banyak dengan kualitas grafik game ini (Nintendo 3DS bagaimanapun juga sudah berusia setengah dekade!) dan untuk kualitas suaranya saya merasa di atas rata-rata. Di satu sisi saya kagum dengan Voice Acting game ini yang dilakukan dengan baik oleh para Voice Actor Inggris. Boleh percaya boleh tidak, untuk pertama kalinya saya tak mencari opsi mengubah game ini ke dalam bahasa Jepang – dan ternyata memang fitur tersebut tak disediakan. Di sisi lain saya agak kecewa karena untuk sebuah game yang mengedepankan tema lagu, lagu-lagu dalam Stella Glow cenderung hit and miss dari satu lagu ke lagu lainnya.

Bila kalian adalah penggemar dari genre Strategy RPG, Stella Glow adalah salah satu entri terbaik genre tersebut tahun lalu. Dibandingkan dengan game serupa ala Lord of Magna: Maiden Heaven, saya jelas jauh lebih merekomendasikan Stella Glow. A great swan song from Imageepoch, thank you for the memories!

Score: B+

Game of Thrones – A Telltale Game

Ketika studio Telltale menyatakan bahwa proyek game mereka berikutnya adalah Game of Thrones (GoT) saya merasa senang sekaligus heran. Senang adalah reaksi yang wajar dikarenakan Telltale Games adalah salah satu developer yang game-gamenya tak pernah mengecewakan saya. Di lain sisi saya merasa heran (juga ragu) apakah Telltale bisa membuat game (GoT) yang bagus. Saya tahu kalau Telltale naik pamor dikarenakan mereka membuat sebuah game dari serial TV populer lain: The Walking Dead (TWD) tetapi mereka yang menonton dua serial tersebut akan tahu bahwa GoT dan TWD adalah dua serial yang sangat berbeda.

Serial TWD memiliki lingkup cerita yang lebih sempit karena berfokus pada grup survivor yang dipimpin oleh Rick Grimes. Dengan kata lain kanvas cerita bagi Telltale terbuka lebih lebar dan itulah yang mereka lakukan; mereka mengambil cerita dari kelompok survivor lain yang dipimpin oleh Lee Everett dan Clementine. Nah, pola pendekatan Telltale untuk GoT berbeda karena lingkup cerita dari serial GoT yang ekspansif meliputi seluruh dunia (atau paling tidak dua benua utama Westeros dan Essos). Nah, dalam game ini Telltale mengambil fokus pada keluarga Forrester, salah satu keluarga bawahan dari keluarga Stark dan menceritakan kisah mereka.

Keputusan ini adalah keputusan yang tepat untuk Telltale karena memberi mereka kebebasan untuk menggarap cerita sendiri sambil tetap menjadi kisah yang mengacu pada serial TVnya. Ringkasan cerita dari game ini sayangnya akan menjadi spoiler untuk serial TV sampai season ketiga dan keempatnya jadi bila kalian belum menonton serial TV GoT, silahkan lompati dua paragraf di bawah.

TTG_GoT_Logo

(SPOILER)

Game ini dibuka pada even Red Wedding yang menjadi penutup dari season 3. Even ini penting karena pembantaian keluarga Stark dan kemenangan keluarga Lannister berarti posisi keluarga Forrester yang mendukung pihak Stark turut terancam. Setelah ayah dan anak tertua dari keluarga Forrester mati sisa lima anak yang ada kini harus mencari jalan untuk mempertahankan keberadaan keluarga mereka.

Disebabkan anak-anak keluarga Forrester berada di posisi yang terpencar-pencar, Telltale mampu menjalin sebuah rangkaian cerita di banyak lokasi yang berbeda. Beberapa lokasi yang ada tentu adalah lokasi yang familiar bagi penggemar novel atau serial TVnya yaitu King’s Landing, The Wall, maupun Meereen. Di sisi lain game ini juga menghadirkan lokasi yang baru seperti Ironrath yang merupakan tempat kediaman keluarga Forrester. Dalam game GoT kamu diberi berbagai opsi untuk menyelamatkan posisi keluarga Forrester baik melalui intrik politik yang licik di King’s Landing maupun adu verbal dengan keluarga Whitehill yang adalah seteru abadi dari keluarga Forrester.

Seperti kata Cercei Lannister yang populer: Dalam Game of Thrones, kamu menang atau mati. Tidak ada jalan tengah.

(SPOILER END)

Saya salut kepada Telltale yang mampu merangkai cerita mengenai keluarga Forrester yang menarik walaupun hampir semuanya merupakan karakter orisinil. Bahkan dalam prosesnya Telltale menghadirkan mitologi mereka sendiri, memperkaya mitologi dunia GoT dengan keberadaan tempat-tempat unik di utara tembok (North Grove). Salut juga dengan kualitas pengisi suaranya yang merupakan perpaduan pas antara karakter-karakter orisinil serta karakter-karakter dari serial TV. Yang saya acungi jempol adalah keberanian dari Telltale untuk mengontrak semua aktor-aktor serial TV mengisi suara dalam game ini. Artinya karakter Tyrion Lannister diisi suaranya oleh Peter Dinklage, Cercei Lannister diisi oleh Lena Headey, dan begitu pula seterusnya.

wall

Kendati saya kagum dengan kesungguhan dari Telltale menggarap cerita orisinil saya tidak bisa tutup mata dengan kelemahan-kelemahan dari game ini. Kekhawatiran saya terbukti bahwa sekreatif apapun Telltale memelintir cerita di game ini ada tembok-tembok yang tak mungkin bisa mereka ‘dobrak’. Kemunculan karakter-karakter dari serial TV dan kebolehan kita berinteraksi dengan mereka awalnya adalah kejutan yang menyenangkan tetapi kemudian kita menyadari bahwa nasib mereka semuanya praktis tidak bisa kita utak-atik. Permasalahan sama sebenarnya ada juga di dalam The Wolf Among Us yang merupakan prekuel dari serial komik Fables tetapi di sini kelemahan GoT lebih kentara dan tak dapat ditutupi. Kenapa? Gamer yang tidak familiar dengan komik Fables bisa langsung memainkan The Wolf Among Us karena posisinya sebagai prekuel dan mereka tidak akan tahu karakter-karakter mana yang ada di komik dan mana yang tidak… tetapi tidak demikian dengan GoT disebabkan jalan ceritanya adalah implikasi dari apa yang telah terjadi di serialnya. Dengan kata lain mustahil orang bisa memainkan GoT dan mengerti ceritanya bila tak menonton serial / membaca novelnya terlebih dahulu.

Terlepas dari kelemahan yang ada saya tetap mengacungkan jempol kepada Telltale untuk keberanian mereka mengambil proyek besar semacam ini. Lebih salut lagi karena ini merupakan game pertama mereka yang berdurasi enam episode dan bukannya lima episode seperti biasanya. Apabila kalian memang penggemar dari serial GoT atau novelnya maka coba saja memainkan game ini, kendati bukan game Telltale yang terbaik, saya rasa kalian takkan kecewa olehnya.

83a698332b9c8af303b3d4a3e534a2494cf127f4

Score: B+

Lord of Magna: Maiden Heaven

Seperti halnya sang pendahulu, Nintendo 3DS selaku game handheld adalah gudang dari game-game niche RPG yang tidak banyak dirilis di pasaran barat. Kita perlu bersyukur bahwa publisher XSEED Games masih rela melokalisasi game-game ini kendati tahu bahwa peminatnya tak besar.

Lord of Magna pertama dibuat oleh studio Neverland, studio developer yang juga membuat game-game Rune Factory. Sayangnya ketika pengembangan game ini berlangsung setengah jalan, Neverland mengalami kebangkrutan. Akhirnya Marvelous (yang adalah publisher dari game ini) merasa sayang apabila Lord of Magna tidak diteruskan proses pengembangannya. Mereka mengambil alih proses pengembangan game ini, menyelesaikannya, lantas merilisnya di pasaran.

Adalah mungkin karena alasan ini Lord of Magna terasa sebagai sebuah game yang… kurang sempurna.

LoM_Feb122015_07

Satu hal yang langsung terasa dalam game ini adalah pacing yang aneh. Sementara game ini memiliki pacing yang lambat dari Chapter 1 – 5, seakan seperti pengenalan akan dunianya, mendadak pacing dari Chapter 6 hingga selesai bergerak dengan sangat cepat. Belum lagi karakter-karakter dalam game ini terasa seperti kurang tergali dan side-quest yang ada bisa dibilang minor (kalau tidak mau dibilang tidak ada).

Dan itu sangat disayangkan sebab sebenarnya game ini memiliki potensial untuk menjadi sesuatu yang spesial.

Fokus dari game ini adalah sang hero bernama Luchs Eduard. Dia menjalani hari-harinya membuka sebuah penginapan dengan damai… karena tidak ada satupun orang yang menginap di sana. Perubahan dalam hidupnya terjadi ketika ia mencari kristal di dalam gua, ia diserang oleh monster. Nasib Luchs nyaris tamat kalau bukan karena ia diselamatkan oleh seorang gadis jelita yang terperangkap dalam es dan memanggilnya “Master“.

Lord_of_Magna_(NA)

Gadis ini adalah Lottie, satu dari tujuh bidadari yang nantinya akan ditemui oleh Luchs dalam petualangannya. Kehidupan dari Luchs menjadi lebih semarak karena kehadiran mereka, mengisi penginapan yang tadinya tanpa orang menjadi lebih semarak akan tawa dan kehidupan… kehidupan harem.

Oleh karena berasal dari studio yang menciptakan Rune Factory game ini juga mengaplikasikan sistem dating yang membuat serial Harvest Moon populer (selain tentu saja bercocok tanam yang bisa kalian lakukan melalui fitur StreetPass). Seperti yang bisa kalian tebak tujuh bidadari itu bisa kalian aja berkencan dalam Heart Event. Sayangnya tidak seperti Rune Factory di mana kita bisa membangun perhatian gadis dambaan hati kita di sini segalanya – lagi-lagi – terasa seperti dipercepat. Bahkan kalau kalian ketinggalan Heart Event yang pertama dan kedua, kalian bisa langsung melompat ke Heart Event yang ketiga. Benar-benar aneh.

Tapi ah, kita tidak bermain game ini untuk even dating-nya bukan? Bagaimana dengan mekanisme gameplaynya sendiri? Awalnya Lord of Magna terasa beda karena musuh yang ada di satu map biasa sangat banyak, seperti sebuah gerombolan yang masing-masing memiliki pemimpin. Selama pemimpin itu masih hidup, ia bisa terus memanggil gerombolan-gerombolannya untuk menyerang kita sehingga tujuan utama dalam permainan adalah menghabisi sang pemimpin. Terlepas dari nilai unik itu Lord of Magna tak banyak berbeda dengan game-game Strategy RPG lainnya. Setiap karakter memiliki range serangan mereka sendiri dan spesifikasi mereka sendiri. Ada bidadari yang tangguh dalam pertarungan jarak dekat, menembak dari jarak jauh, dan yang berfungsi sebagai support. Luchs sendiri adalah karakter yang berfungsi lebih sebagai support karena jangkauan serangannya yang kecil, pendek, dan relatif lebih lemah dibandingkan karakter-karakter lainnya.

LoM_Feb122015_09

Hal yang mengecewakan dalam game ini tentu saja adalah betapa sedikitnya hal yang bisa dilakukan ketika tidak menjalankan misi utama. Seperti yang saya katakan tadi game ini tidak memiliki subquest apapun untuk kita mainkan. Selain Heart Event (yang bisa diaktivasikan hanya dengan berbicara dengan karakter gadis yang kita mau) tidak ada subquest lain kecuali melakukan grinding demi mendapatkan item yang mau kita gunakan untuk Crafting Skill yang baru. Hal yang dilakukan Marvelous supaya game ini terasa lebih panjang? Membuat item-item yang ada sangat mahal supaya gamer dipaksa melakukan grinding demi membelinya.

Dengan kualitas animasi dan suara yang pas-pasan (tidak ada fitur untuk mengubah dwi-bahasa dalam game ini) bahkan momen-momen fanservice dalam game ini terasa hambar (kalian bisa mengeceknya dari Youtube), ahhh, tak perlu rasanya menghabiskan waktu lebih dari 20 jam bersama bidadari-bidadari yang datar dan membosankan ini.

Score: C-

Tearaway

Dosa terbesar Sony adalah menelantarkan PS Vita.

Ketika handheld ini diumumkan kehadirannya untuk melawan Nintendo 3DS hampir setengah dekade yang lalu, dunia terhenyak. Jaman itu smartphone masih dalam usia dini, iOS dan Android belum dipandang secara serius dan 3DS sedang mengalami masa-masa sulit.

Sony menjanjikan game-game kualitas konsol – minimal setara PS3 – untuk PS Vita. Itu adalah janji yang spektakuler dan dengan game-game seperti Uncharted, Assassin’s Creed, sampai Call of Duty, gamer seperti dibuai oleh janji-janji manis Sony. Ketika rilis PS Vita di akhir tahun 2011 tidak berjalan semulus harapan, orang masih bersedia mengampuninya, mereka berharap bahwa seiring berjalannya waktu PS Vita akan menjadi handheld seperti PSP, underdog dalam menghadapi Nintendo DS, tetapi memiliki begitu banyak gem di dalamnya… siapa bisa lupa dengan Metal Gear Solid Portable Ops dan Peace Walker, Final Fantasy VII: Crisis Core, God of War: Chain of Olympus dan Ghosts of Sparta, serta banyak lainnya?

Akan tetapi Sony menghancurkan hati para gamer dengan mengabaikan PS Vita begitu saja setelah salesnya tak kunjung membaik setelah dua tahun pertama. Game eksklusif kelas A terbaik yang saat itu dihadirkan untuknya adalah Tearaway dan setelah itu praktis ia diabaikan oleh Sony. Lebih ironis lagi, hampir semua game-game eksklusif milik PS Vita ala Assassin’s Creed, Gravity Rush dan Tearaway sendiri lantas diport ke PS4 supaya game tersebut bisa ‘balik modal’.

Tapi terlepas dari segala kontroversi itu, bagaimanakah game Tearaway?

Tearaway-6

Game ini dibuat oleh Media Molecule, studio developer yang bertanggung jawab menciptakan LittleBigPlanet dulu. Hampir sama dengan game tersebut, Tearaway juga adalah sebuah game yang memiliki karakteristik unik: Tearaway adalah dunia penuh dengan lipatan kertas, dan designnya terlihat dari awal kamu bermain. Setiap kali kamu bergerak dan mengeksplorasi daerah dan makhluk-makhluk yang berinteraksi di daerah itu kamu mendapatkan sebuah kemampuan baru untuk Iota (atau Atoi kalau kamu memilih karakter wanita).

Sementara Tearaway dari segi estetikanya memang sangat cantik (dengan design level yang sangat kreatif), gameplaynyalah yang membuat Tearaway begitu dicintai ketika ia dirilis dulu. Ingat bagaimana Super Mario Bros 3D membuat orang sadar betapa visual 3D dalam 3DS bisa diaplikasikan ke dalam dunia gaming? Begitu juga Tearaway membuat orang sadar bagaimana fitur-fitur dalam PS Vita bisa diaplikasikan dalam gameplay. Baik touchscreen dari PS Vita sampai backscreen, mikrofon, kamera, semua diaplikasikan dalam gameplay dengan cara-cara yang kreatif. Beberapa memang terasa seperti… dipaksakan, tetapi dalam konteks permainan: menghubungkan dua dunia: kertas dan nyata, Tearaway memberi alasan yang valid bagi gamer untuk berinteraksi dengan Iota, PS Vita sebagai handheld mereka, dan dunia nyata.

tearaway-listing-thumb-02-psvita-us

Apabila ditilik dari rancangan level dan platformnya sendiri sebenarnya Tearaway tidaklah spesial-spesial amat. Tak ada design levelnya yang membuat saya sampai terkesan kendati tidak ada juga design level yang terasa monoton atau mirip satu sama lain. Tingkat kesulitan game ini tergolong mudah dikarenakan memang Tearaway adalah sebuah game yang dikhususkan untuk anak-anak dan remaja, pun begitu saya menilai bahkan Super Mario Bros saja jauh lebih menantang dari game ini. Tearaway sedikit terlalu pemaaf dan mengijinkan gamer memiliki nyawa tak terbatas dan checkpoint yang terlalu banyak. Memang ini membuat gamer jadi lebih berani bereksperimen menjelajah sana-sini tanpa takut dipenalti tetapi di sisi lain ini juga membuat gamer malas berhati-hati. Kenapa harus? Toh mereka akan langsung hidup lagi untuk langsung mencobanya.

Satu tambahan unik yang sangat saya sukai dari Tearaway adalah banyaknya koleksi Papercraft yang tersebar di sepanjang game. Mengumpulkan Papercraft ini mengijinkan kalian mendownload dan kemudian memprintnya di dunia nyata. Apabila kalian rajin melipat dan menciptakannya, Tearaway mengijinkanmu membangun dunia mereka di dunia nyata. Sebuah game yang menantang anak-anak untuk berpikir kreatif dan tak hanya pasif di dunia game semata? That’s a clever and great strategy Sony.

GamesCom4.1377125971

Sementara PS Vita kini tak lagi merupakan rumah eksklusif bagi Tearaway – dengan dirilisnya versi PS4 bagi game ini – saya tetap mengedepankan versi ini. Saya yakin Media Molecule pasti sudah mentweak versi Tearaway PS4 (dengan sub-judul Unfolded) tapi ingat bahwa game ini diciptakan awalnya dengan memaksimalkan fitur-fitur dari PS Vita. Jangan rampok kesempatan kalian memainkan salah satu game terbaik yang ada di platform yang terlupakan oleh Sony ini.

Score: A-