Rise of Tomb Raider

Ketika Tomb Raider direboot oleh developer Crystal Dynamics pada tahun 2013 lalu, entri ini langsung mendapatkan pujian dari berbagai kalangan karena dianggap berhasil memanusiakan sosok Lara Croft. Sebenarnya ini bukan reboot pertama untuk franchise Tomb Raider. Pada tahun 2006 dulu Tomb Raider sempat direboot dengan trilogi Tomb Raider: Legend, Anniversary, dan Underworld. Karena reboot tersebut kurang sukses, akhirnya Tomb Raider sekali lagi mendapatkan reboot dengan sosok Lara yang kini tak lagi ditampilkan sekedar sebagai ikon seksi yang dimainkan para gamer.

Setelah entri pertamanya mengubah Lara dari seorang gadis yang polos menjadi seorang survivor yang tangguh, jalan cerita apa yang akan menjadi dasar untuk sekuelnya: Rise of the Tomb Raider? Rupa-rupanya Lara ingin mengungkapkan misteri dari kehidupan yang kekal – sebuah misteri yang tak berhasil diungkap oleh sang ayah sampai ke liang lahatnya. Bertekad untuk mengembalikan kejayaan pada nama Croft – Lara memutuskan untuk berangkat mencari misteri Divine Source yang konon bisa memberikan hidup kekal bagi orang yang menemukannya. Petualangan ini membawa Lara ke seantero dunia mulai dari Syria di tengah kancah perang saudara dan berakhir di Siberia yang diliputi salju.

Dari jalan ceritanya saja ini adalah seorang Lara yang berbeda dengan gadis yang dulu terdampar di Yamatai. Dalam game pertama Lara adalah seorang gadis yang terdampar di luar keinginannya dan ‘terpaksa’ harus berjuang untuk selamat. Di sini sosok Lara lebih aktif untuk mencari petualangan itu demi memulihkan nama baik keluarganya. Lawan dari Lara kali ini adalah organisasi di balik bayangan yang bernama Trinity. Apabila organisasi ini tidak menjadi fokus seteru Lara di game pertamanya maka ia adalah wajah antagonis utama di sini melalui tokoh Konstantin yang keras tetapi masih memiliki sosok manusiawi di dalamnya.

Salah satu kritik game pertama untuk Tomb Raider adalah map-nya yang termasuk sangat linear sehingga terlalu beraroma Uncharted. Dalam Rise of Tomb Raider Crystal Dynamics memperbaiki hal tersebut dan membuat game ini terasa jauh lebih besar dan ekspansif. Bersetting kebanyakan di dataran Siberia, dalam game ini Lara bisa menemukan banyak artifak kuno yang tersembunyi, belajar bahasa-bahasa kuno, menjalankan sidequest yang diberikan NPC yang ia temui sepanjang perjalanan, sampai memutar otak untuk memecahkan puzzle dalam banyak bangunan-bangunan kuno yang tersembunyi di sepanjang game. Ya, berbeda dengan game pertamanya, Rise of Tomb Raider kali ini memiliki tomb-tomb yang sangat besar lengkap dengan puzzle yang cukup memusingkan (dan menantang) untuk diselesaikan.

rotr

Bagi kalian yang senang dengan sistem weapon upgrade yang ada dalam game sebelumnya akan puas melihat dalam game ini Crystal Dynamics memasukkan lebih banyak lagi variasi senjata bagi Lara. Selain senjata melee, Lara juga memiliki empat jenis senjata jarak jauh: pistol, senapan mesin, shotgun, serta busur dan panah. Masing-masing senjata memiliki kelebihan dan kekurangannya dan berguna melawan musuh-musuh tertentu dalam game.

Para gamer tadinya sempat jengkel bahwa Rise of Tomb Raider ‘dikudeta’ oleh Microsoft menjadi Timed Exclusive bagi konsol Xbox One. Toh para pemilik Playstation 4 tak perlu berkecil hati sebab setahun setelahnya Rise of Tomb Raider dirilis dalam versi 20th Anniversary Edition dan malahan berisi fitur-fitur tambahan termasuk di utamanya ekspansi DLC Baba Yaga: The Temple of the Witch. Secara keseluruhan bila ingin menyelesaikan mayoritas game kedua reboot Tomb Raider ini gamer akan memakan waktu 15 – 20 jam. Sementara bila kalian gamer tipe perfeksionis, jangan heran kalau kalian bisa menghabiskan lebih dari 30 jam untuk mendapatkan completion rate 100% yang sakral itu.

Setelah tamatnya seri Uncharted di seri keempatnya tahun lalu, saya sempat gamang memikirkan bagaimana saya bisa memuaskan keinginan berpetualang saya. Jawabannya tak perlu jauh-jauh: sosok yang menginspirasi kelahiran dari Nathan Drake kini juga menjadi sosok yang menerima tongkat estafet dan melanjutkan petualangan melompat dari tebing ke tebing mencari artifak misterius di tengah-tengah dunia ini. This franchise has indeed rise!

Score: B+

Advertisements

Batman – The Telltale Series (Season 1)

Dari semua superhero DC sepertinya memang sosok Batman-lah yang paling bisa dijual. Di layar lebar film-film Batman hampir selalu laris manis di pasaran. Di layar kaca pun serial animasi Batman membuka jalan untuk Superman yang kemudian tumbuh secara organik menjadi Justice League dan berkembang lanjut menjadi Justice League Unlimited.

Di dunia video game sendiri Batman adalah superhero satu-satunya yang berhasil mendapatkan serial video game yang dipuji oleh kritikus game bahkan mendapatkan penghargaan nominasi maupun memenangkan titel Game of the Year melalui Arkham Series. Terlepas dari empat game Arkham yang mendapatkan pujian dari para kritikus dan gamer, kali ini developer Telltale Games yang mencoba membuat sebuah game Batman yang berbeda: sebuah game Batman di mana kamu tak hanya berperan sebagai sang detektif tetapi juga sang miliuner: Bruce Wayne.

Langkah yang diambil oleh Telltale ini langsung terasa menyegarkan dan membedakan Batman yang mereka ciptakan dari Batman dari Arkham Series. Bagi siapapun yang familiar dengan mitologi Batman, mereka tentunya tahu bahwa Batman memiliki tiga identitas dalam dirinya: sang superhero yang jago menghajar musuh, sang detektif yang cerdas mengungkap misteri, dan terakhir adalah sang biliuner yang merupakan topeng lain Batman dalam kancah bisnis maupun politik. Arkham Series berfokus pada Batman sang superhero dan sang detektif sementara Telltale di sini berfokus kepada Batman sang detektif dan sang biliuner.

batman-telltale-1012970

Sebagai superhero dalam game ini rata-rata pergerakan Batman hanya kamu kendalikan melalui QTE saja di mana kamu harus menekan tombol yang tepat di saat-saat tertentu. Koreografi aksinya memang menarik dan seru tetapi bisa dibilang seperti menonton cutscene saja, tidak seberapa menarik. Yang menarik dalam kisah Batman yang terbagi dalam lima episode ini adalah bagaimana Telltale berani bermain-main dengan mitologi Batman tanpa mengulang hal yang sama berulang kali tanpa sudut pandang baru.

Sebagai contoh: adegan apa yang hampir selalu pasti ada dalam media Batman? Jawaban: kematian kedua orang tuanya yang dihabisi saat mereka pulang menonton theater / film. Di sini pun tragedi itu masih terjadi – tetapi dengan cerdasnya dipelintir oleh Telltale dengan sudut pandang baru. Saya tak mau spoiler terlalu banyak mengenai twist itu tetapi satu hal yang jelas adalah dalam game ini orang tua Bruce Wayne bukanlah orang suci yang tak ternoda seperti yang digambarkan semua kisah Batman lainnya.

Pendekatan-pendekatan yang fresh pada karakter-karakter lawas: Harvey Dent, Catwoman, Oswald Cobblepot, sampai musuh baru dalam sosok Children of Arkham membuat saya terus menebak-nebak apa yang akan terjadi kemudian. Kalian tahu alasan kenapa saya putus asa menonton Gotham di season pertamanya dulu? Karena saya menganggap serial ini tidak berani keluar dari pakem ‘sekedar prolog Batman’. Itu hal yang sempat saya takutkan pada game ini yang untungnya tidak terjadi. Keberanian Telltale membawa sisi baru pada mitologi lawas Batman – tanpa melupakan esensi dari karakter-karakter itu – membuat game ini semakin gripping dimainkan dari awal hingga akhir.

Hal lain yang juga dengan baik dilakukan oleh Telltale adalah pemilihan dialog dalam game. Sebagai Bruce Wayne sering kali kamu akan berhadapan dengan politisi-politisi kotor. Sebagai miliuner paling kaya di Gotham, banyak orang yang ingin mendekatinya. Siapa yang bisa kamu percaya? Siapa yang tidak? Dan apa jadinya kalau kamu berteman dengan politisi A tapi membuat sakit hati politisi B? Hubungan sosial dalam game ini rumit dan kerap kamu dipaksa membuat keputusan dan jawaban yang sulit. Dengan kata lain: classic Telltale!

Kendati season kedua dari Batman baru saja diumumkan oleh Telltale ketika review ini saya tulis, kalian tak perlu khawatir untuk langsung memainkan game ini. Season pertama memiliki awal – tengah – ending yang berdiri sendiri. Akan tetapi saya rasa kalau kalian seperti saya, akhir dari game ini akan membuat kalian ingin tahu lebih lanjut bagaimana petualangan berikutnya dari Batman milik Telltale… dan itu adalah pujian terbaik yang bisa saya sematkan bagi game ini.

Score: B+

Sara is Missing

Konsep game yang memakai telepon genggam untuk berinteraksi bukan hal yang benar-benar baru. Kalau kalian tidak pernah mendengar nama Replica yang menjadi inspirasi langsung bagi game Sara is Missing, maka tentunya sudah mendengar tentang game Mystic Messenger, game Korea yang sekarang tengah luar biasa populer. Bedanya dengan Mystic Messenger yang genrenya adalah dating simulation, Sara is Missing mengangkat genre horror. Kalau dalam dunia perfilman ada yang namanya found footage seperti Paranormal Activity dan The Blair Witch Project, maka Sara is Missing adalah genre found cellphone.

Di awal permainan kamu menemukan telepon genggam milik seorang gadis bernama Sara. Setelah mengunlock telepon genggam miliknya (yang memiliki sekuriti terburuk di dunia), kamu disapa oleh AI dari telepon genggam yang bernama IRIS (ehem, kebalikan dari SIRI?). IRIS mengatakan bahwa Sara sekarang tengah hilang dan meminta bantuan kita untuk mencari tahu keberadaannya. Karena itu mulailah kita membuka chat history, mailbox, gallery, dan segala macam info di dalam telepon genggam Sara sembari mencari tahu ke mana dan apa yang gerangan terjadi kepadanya?

saaaaa

Walaupun saya katakan sebelumnya bahwa gameplay dalam Sara is Missing tidak baru, saya bisa mengatakan bahwa gameplay yang dipakai ini belum sering dipakai dalam game-game lainnya. Tambahan lagi design game yang mirip dengan device dari Apple membuatnya mudah dinavigasi oleh generasi millenial. Apabila ada kekurangan dari game ini itu adalah bagian dialognya yang masih terasa clunky dan pilihan-pilihan teks dalam game ini yang tak berarti banyak dalam membentuk jalinan cerita ke depannya.

kajaoa

Tentu saja dikarenakan Sara is Missing masih merupakan demo, kekurangan-kekurangan yang saya sebutkan tadi masih bisa diperbaiki dalam final versionnya. Untuk demo, bagaimanapun juga, game ini sudah cukup berhasil untuk menarik minatku membeli dan memainkan game full versionnya apabila dirilis nanti. Let’s hope for more scenario dan misteri yang lebih mendalam apabila nantinya memang dirilis!

Note: Mengingat game ini digarap oleh tim dari Asia Tenggara (sepertinya Singapore, Malaysia, dan Thailand) maka ada beberapa referensi dalam bahasa Melayu dan Indonesia dalamnya. Bisakah kalian temukan?

Score: 7.0

Review Round-Up 2016 (Part 11 – Video Game)

Dari antara hobi-hobiku yang lain sepertinya Video Game menjadi hobi yang sedikit ditelantarkan pada tahun ini. Mengingat saya pada tahun ini cukup banyak berkeliling ke sini-sana maka kesempatan untuk memainkan Video Game pun menjadi banyak berkurang – bahkan untuk video game portable yang biasa menjadi rujukan saya bermain ketika on the road.

Satu hal lain yang saya sadari adalah karena meningkatnya kesibukan sehari-hari maka menamatkan game-game RPG menjadi hal yang sepertinya sudah mustahil dicapai pada tahun ini. Semoga saja Persona 5 bisa mengubah tren itu ketika dirilis nanti… but honestly I’m not that sure.

1. Resident Evil Revelations 2
Score: 7.0

Saya cukup suka dengan Resident Evil Revelations yang pertama. Ketika sekuelnya tidak lagi dirilis di Nintendo 3DS melainkan di Vita dan PC, saya memutuskan untuk memainkannya di PC. Dengan dua karakter utama Barry Burton serta Claire Redfield, Resident Evil Revelations 2 adalah sebuah side story dari Resident Evil yang melengkapi mitologi game ini. Tidak lebih dan tidak kurang. Ia tidak buruk untuk kali pertama franchise ini melangkah ke gaya episodik tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam apapun juga. Oh ya, satu hal yang saya bingung: kenapa Leon dan Claire sudah bertahun-tahun berteman begitu tidak saling jadian ya?

2. Zero Escape: Zero Time Dilemma
Score: 8.5

Ketika Zero Time Dilemma akhirnya dirilis saya sungguh bersyukur. Sungguh saya tidak mengira sebuah game hybrid kecil Visual Novel + Escape the Room ini bisa mendapatkan trilogi. Sepertinya ini dikarenakan kecintaan yang begitu mendalam para fans akannya maka serial ini dapat dituntaskan. Sayangnya entri ketiga ini juga merupakan entri yang paling lemah bila dibandingkan dengan kedua game sebelumnya. Tambahan karakter baru terasa sangat lemah yang membuat saya merindukan karakter-karakter lama dari dua prekuel sebelumnya, ditambah dengan penutupan misteri yang berkesan agak memaksa. Masih sebuah entri dengan cerita yang bagus – tetapi tidak selegendaris kedua game sebelumnya yang flawless.

3. Uncharted 4: A Thief’s End
Score: 9.0

Perasaan saya sungguh berkecamuk ketika menyelesaikan Uncharted 4. Sungguh, Naughty Dog melakukannya lagi. Uncharted dan petualangan Nathan Drake bersama kawan-kawannya akan menjadi sebuah masterpiece dunia game yang akan dikenang generasi ini selama bertahun-tahun ke depan. Salut untuk keberanian Naughty Dog dan Sony menutup saga ini sampai di sini dan tidak terus memanjang-manjangkan kisahnya… I’m looking at you Assassin’s Creed!

4. Clash Royale
Score: 9.0

Walaupun kuantitas game yang saya mainkan berkurang sebenarnya waktu yang saya habiskan bermain game tak seberapa berkurang banyak. Itu gara-gara game Clash Royale dari Supercell ini. Saya termasuk jarang memainkan game online kecuali dulu Clash of Clans dari Supercell. Toh Hay Day dan Boom Beach, rilisan mereka berikutnya tak membuatku kesengsem sebagaimana aku memainkan Clash of Clans. Itu membuatku tak seberapa peduli Clash Royale. Oh, betapa salahnya saya. Begitu saya pertama memainkannya, Clash Royale langsung menjadi game yang mengisi waktu-waktu senggang dan menjadi arena pertaruhan harga diri di antara kelompok kawan-kawan dan keluarga! For the clan!

5. The Last of Us: Remastered
Score: 10

Game ini adalah sebuah masterpiece. Salah satu game terbaik yang pernah saya mainkan. Secara gameplay, secara balutan audio visual, sampai secara story menunjukkan bagaimana Naughty Dog merupakan developer game yang masih sulit dikejar siapapun saat ini. Review singkat yang saya tulis ini sepertinya tak bisa menjustifikasikan betapa aku menyukai petualangan antara Joel dan Ellie untuk ‘menyelamatkan’ kemanusiaan dalam game ini. I’ll give you my short verdict instead: PLAY IT.

Tales from the Borderlands

Setelah kesuksesan dari The Walking Dead (TWD) dan The Wolf Among Us (TWAU), Telltale Games semakin dipercaya oleh studio-studio media lain menangani kisah sampingan / spin-off dari kisah utama mereka. Ambil contoh HBO dengan serial Game of Thrones (GoT). Akan tetapi Tales from the Borderlands (TftB) adalah sesuatu yang unik. Kenapa demikian? Itu dikarenakan Telltale Games, bahkan sebelum naik daun dengan game The Walking Dead, jarang sekali membuat game yang berbasis game lainnya. Dua game hit mereka sebelum The Walking Dead misalnya: Back to the Future dan Jurassic Park berasal dari film layar lebar. Kualitas game Telltale yang bagus tentunya membuat Gearbox Software dan 2K Games selaku developer dan publisher seri utama Borderlands mempercayai mereka, bagaimana Telltale menjawab kepercayaan itu?

Game Tales from the Borderlands mengambil setting setelah Borderlands 2 dan memakai dua protagonis baru dalam cerita mereka: yang pertama adalah Rhys dan yang kedua adalah Fiona. Rhys dan Fiona adalah dua orang yang hidup di dua dunia yang berbeda. Rhys tinggal di stasiun luar angkasa bernama Helios, mengorbit di atas planet Pandora tempat Fiona tinggal. Sekilas lihat Rhys sepertinya beruntung tinggal di Helios, jauh dari daratan Pandora yang buas dan penuh dengan kriminal, teroris, dan psikopat sinting yang siap menghabisimu kapan saja. Tetapi itu tidak betul. Helios adalah stasiun luar angkasa yang dikuasai oleh korporasi bernama Hyperion dan di dalam perusahaan ini semua anggota-anggotanya saling sikut, saling tikam, dan ingin memajukan karir mereka sendiri.

1

Ketika Rhys ditipu oleh atasannya, ia dan rekannya Vaughn memutuskan untuk merusak deal bisnis dari atasannya dengan pergi ke Pandora. Memang deal bisnis tersebut menjadi berantakan tetapi alih-alih berhasil memetik untung bagi keduanya, Rhys dan Vaughn malahan terjebak di planet Pandora. Di situlah keduanya kemudian bertemu dengan Fiona dan adik perempuannya Sasha. Bisakah keempat orang ini selamat dalam petualangan mereka sementara dikejar-kejar oleh perusahaan Hyperion dan segala macam lapis kriminal di planet Pandora?

3

Hal pertama yang ingin saya sampaikan kepada kalian adalah: MAINKAN GAME INI. Tales from the Borderlands adalah game dengan narasi cerita terbaik yang saya mainkan tahun lalu dan juga merupakan salah satu game terbaik yang dirilis oleh Telltale Games. Tapi bagaimana apabila kalian tidak pernah memainkan game-game Borderlands sebelumnya? Jawabannya adalah: tidak apa-apa. Berbeda dengan Game of Thrones di mana mustahil bisa mengerti apa yang terjadi dalam game tersebut tanpa menonton serialnya terlebih dahulu, TfTB sepenuhnya memiliki cerita dan petualangan baru – bebas dari game lainnya. Selain karakter-karakter orisinil yang diciptakan oleh Telltale di game ini memang ada cukup banyak karakter dari game utama Borderlands hadir di sini – toh mereka hanya hadir dalam kapasitas sebagai karakter pendukung dan sekedar memperkaya cerita.

Seperti kebanyakan game Telltale yang lain struktur dalam Tales from the Borderlands adalah episodik dan terbagi dalam lima chapter cerita. Kelima episode yang ada memiliki kualitas yang hampir merata… bila diminta memilih maka saya rasa episode pertama dan kelima memiliki kualitas yang lebih bagus di antara lainnya karena bersifat sebagai pembuka dan klimaks dalam game ini. Setelah memainkan begitu banyak game Telltale yang nuansanya kelam dan gelap rasanya sangat refreshing memainkan game ini yang penuh dengan dialog-dialog yang smart dan lucu. Sekalipun saya tak mengenal dunia Borderlands, memainkan game ini membuat saya menjadi mengerti akan dunianya dan menjadi ingin menjajal game utamanya.

4

Itu tidak berarti game ini tidak memberikan pilihan-pilihan yang sulit kepadamu maupun tidak dark sama sekali. Ada banyak momen-momen yang membuatku tersentak ketika harus melakukan pilihan, momen-momen yang membuatku terharu dan sedih dalam cerita, bahkan momen-momen gelap yang membuatku mempertanyakan moralitas dari keputusan-keputusan yang telah kubuat sebelumnya. Dengan kata lain: kalau kalian familiar dengan formula dari apa yang membuat game Telltale sukses, kalian akan mendapatkannya di sini.

Untuk memperlengkap paket komplit game ini Telltale sama sekali tidak main-main ketika membingkisnya dalam paket audio visual yang mumpuni. Borderlands dikenal dengan grafik cel-shading, sama halnya dengan game-game rilisan Telltale. Akan tetapi walaupun semua game Telltale memakai grafis cel-shading, inilah game mereka dengan tampilan visual paling cantik. Warna-warna yang kaya, cerah, dan kontras satu sama lain menghidupkan planet Pandora. Tak hanya itu Telltale menyewa para voice actor yang berpengalaman mengisi suara game ini. Tidak percaya? Duet Rhys dan Fiona saja diisi oleh dua voice actor kawakan Troy Baker dan Laura Bailey. Melengkapi keduanya adalah Erin Yvette, Chris Hardwick, Mike Neumann, Nolan North sampai Ashley Johnson. Semuanya tampil luar biasa dalam menghidupkan karakter mereka masing-masing. Hasilnya: cast dalam game ini adalah cast yang paling melekat di hatiku semenjak bermain Persona 4: Golden dulu. Percayalah, itu adalah pujian tertinggi yang bisa saya sampaikan untuk karakter dalam sebuah game. They are all THAT memorable.

2

Bagi kalian yang ingin sebuah game dengan narasi cerita yang berkualitas dan penuh dengan plot twist yang tak tertebak, Tales from the Borderlands adalah sebuah game yang pantang dilewatkan. Telltale Games lagi-lagi menciptakan salah satu kontender game terbaik tahun 2015. Hanya dua kata yang bisa saya ucapkan: luar biasa!

Score: A

Stella Glow

Hal pertama yang ingin saya katakan adalah: Selamat tinggal Imageepoch.

Developer game yang saya kenal melalui dwilogi Luminous Arc (sayang, Luminous Arc 3 tidak pernah ditranslasikan ke Nintendo DS) ini menciptakan banyak JRPG yang menarik di era Nintendo DS dulu. Penggarapan Stella Glow ini sayangnya adalah game terakhir yang akan mereka ciptakan sebab sebelum game ini dirilis Imageepoch harus gulung tikar. Walhasil publikasi dari game ini kemudian ditangani oleh kolaborasi Sega dan Atlus.

3

Jalan cerita dari Stella Glow berawal saat desa Mithra yang ditinggali oleh Alto dan Lisette diserang oleh penyihir (Witch) jahat yang bernama Hilda. Seluruh penduduk desa diubah menjadi kristal dan keduanya adalah survivor yang tersisa. Beruntung sebelum Hilda dan kaki tangannya menghabisi Alto dan Lisette, kekuatan terpendam dalam diri Lisette terbangkitkan dan ia pun menjadi seorang Witch; Witch dengan elemen Air. Terpukul mundur, Hilda meloloskan diri dan Alto serta Lisette bertemu dengan kelompok ksatria dari Kerajaan Regnant.

Kerajaan Regnant mengajak Alto dan Lisette bergabung dalam kelompok Ksatria dan menugasi mereka untuk menemukan tiga Witch lain: Witch Angin, Witch Api, dan Witch Bumi untuk menghentikan Hilda yang ingin menghancurkan seluruh dunia dengan proyek kristalisasinya. Seiring dalam perjalanan Alto mempelajari lebih lanjut mengenai jati dirinya, sejarah dunia Regnant, dan juga bertemu rekan dan lawan baru di dalam perjalanannya. Berhasilkah Alto, Lisette, dan kelompok ksatria kerajaan Regnant menghentikan sepak terjang dari Hilda?

1

Banyak gamer yang mengatakan kalau Stella Glow adalah spiritual successor dari Luminous Arc dan saya setuju dengan pendapat itu. Bagi mereka yang familiar dengan franchise Luminous Arc akan sadar bahwa karakter-karakter dalam game tersebut selalu berhubungan dengan ksatria dan penyihir, sebuah tema yang juga sangat dominan di dalam game ini. Bahkan kalian yang jeli akan melihat bahwa design Alto sebagai protagonis utama di game ini sangat mirip dengan design dari Roland, protagonis utama dari Luminous Arc 2.

Gameplay dalam game Stella Glow terbilang standar seperti kebanyakan Strategy RPG lainnya. Kamu memiliki 15 karakter yang masing-masing memiliki spesialisasinya sendiri-sendiri. Beberapa karakter memiliki jangkauan area yang luas dan cepat dalam pergerakan mereka sementara karakter lainnya akan berfungsi lebih sebagai Tank (HP tinggi tetapi lambat dan jarak pergerakan lebih kecil). Akan tetapi seiring berjalannya cerita agak disayangkan bahwa karakter-karakter penyihir akan menjadi lebih dominan (dan overpowered) dibandingkan karakter-karakter non-penyihir terutama karena kemampuan Song mereka.

1

Bicara mengenai Song, cerita dalam Stella Glow berkisar mengenai bagaimana Lagu adalah representasi emosi manusia dan juga sesuatu yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran. Oleh karena hanya para penyihir yang bisa bernyanyi, kekuatan Song dalam game ini menjadi semacam kemampuan spesial yang bisa mengubah arus pertempuran. Setiap penyihir memiliki Song yang berbeda dan memakai mereka dalam formasi pertempuran acap kali menjadi kunci kemenangan, yang berarti karakter-karakter non-penyihir akhirnya tersingkir dan dibangkucadangkan.

Terlepas dari Battle, Stella Glow juga memiliki Free Time yang konsepnya mirip dengan game Persona 3 dan 4. Dalam waktu Free Time Alto bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan mereka. Membangun hubungan yang lebih kuat dengan rekan-rekanmu bisa membuka skill-skill baru, membuka epilog khusus bagi karakter tersebut dalam cerita, bahkan juga membuka opsi Normal maupun Good Ending dalam game. Tentu saja apabila kalian tak ingin menghabiskan waktu berinteraksi dengan teman-teman kalian ada juga opsi berkelana (Explore) untuk mendapatkan item maupun bekerja Part-Time guna mendapatkan uang tambahan.

Hal yang menyenangkan pada Stella Glow adalah tantangan dari game ini yang pas. Ia tidak terlalu mudah di mana kamu bisa menghancurkan segala lawan sekedar dengan asal tekan tombol tetapi ia juga tidak seberapa sulit karena kamu akan bisa melalui setiap pertarungan asal memakai strategi yang betul. Dengan pengecualian battle melawan boss terakhir saya hampir tidak pernah melakukan grinding dalam game ini. Salut untuk Imageepoch yang melakukan pacing cerita maupun gameplay secara pas sehingga tidak pernah game ini terasa terlalu terburu-buru maupun bertele-tele.

Untuk kualitas grafik dan suara game Stella Glow tidak mengecewakan walaupun juga tidak mencengangkan. Saya tidak pernah berharap banyak dengan kualitas grafik game ini (Nintendo 3DS bagaimanapun juga sudah berusia setengah dekade!) dan untuk kualitas suaranya saya merasa di atas rata-rata. Di satu sisi saya kagum dengan Voice Acting game ini yang dilakukan dengan baik oleh para Voice Actor Inggris. Boleh percaya boleh tidak, untuk pertama kalinya saya tak mencari opsi mengubah game ini ke dalam bahasa Jepang – dan ternyata memang fitur tersebut tak disediakan. Di sisi lain saya agak kecewa karena untuk sebuah game yang mengedepankan tema lagu, lagu-lagu dalam Stella Glow cenderung hit and miss dari satu lagu ke lagu lainnya.

Bila kalian adalah penggemar dari genre Strategy RPG, Stella Glow adalah salah satu entri terbaik genre tersebut tahun lalu. Dibandingkan dengan game serupa ala Lord of Magna: Maiden Heaven, saya jelas jauh lebih merekomendasikan Stella Glow. A great swan song from Imageepoch, thank you for the memories!

Score: B+

Game of Thrones – A Telltale Game

Ketika studio Telltale menyatakan bahwa proyek game mereka berikutnya adalah Game of Thrones (GoT) saya merasa senang sekaligus heran. Senang adalah reaksi yang wajar dikarenakan Telltale Games adalah salah satu developer yang game-gamenya tak pernah mengecewakan saya. Di lain sisi saya merasa heran (juga ragu) apakah Telltale bisa membuat game (GoT) yang bagus. Saya tahu kalau Telltale naik pamor dikarenakan mereka membuat sebuah game dari serial TV populer lain: The Walking Dead (TWD) tetapi mereka yang menonton dua serial tersebut akan tahu bahwa GoT dan TWD adalah dua serial yang sangat berbeda.

Serial TWD memiliki lingkup cerita yang lebih sempit karena berfokus pada grup survivor yang dipimpin oleh Rick Grimes. Dengan kata lain kanvas cerita bagi Telltale terbuka lebih lebar dan itulah yang mereka lakukan; mereka mengambil cerita dari kelompok survivor lain yang dipimpin oleh Lee Everett dan Clementine. Nah, pola pendekatan Telltale untuk GoT berbeda karena lingkup cerita dari serial GoT yang ekspansif meliputi seluruh dunia (atau paling tidak dua benua utama Westeros dan Essos). Nah, dalam game ini Telltale mengambil fokus pada keluarga Forrester, salah satu keluarga bawahan dari keluarga Stark dan menceritakan kisah mereka.

Keputusan ini adalah keputusan yang tepat untuk Telltale karena memberi mereka kebebasan untuk menggarap cerita sendiri sambil tetap menjadi kisah yang mengacu pada serial TVnya. Ringkasan cerita dari game ini sayangnya akan menjadi spoiler untuk serial TV sampai season ketiga dan keempatnya jadi bila kalian belum menonton serial TV GoT, silahkan lompati dua paragraf di bawah.

TTG_GoT_Logo

(SPOILER)

Game ini dibuka pada even Red Wedding yang menjadi penutup dari season 3. Even ini penting karena pembantaian keluarga Stark dan kemenangan keluarga Lannister berarti posisi keluarga Forrester yang mendukung pihak Stark turut terancam. Setelah ayah dan anak tertua dari keluarga Forrester mati sisa lima anak yang ada kini harus mencari jalan untuk mempertahankan keberadaan keluarga mereka.

Disebabkan anak-anak keluarga Forrester berada di posisi yang terpencar-pencar, Telltale mampu menjalin sebuah rangkaian cerita di banyak lokasi yang berbeda. Beberapa lokasi yang ada tentu adalah lokasi yang familiar bagi penggemar novel atau serial TVnya yaitu King’s Landing, The Wall, maupun Meereen. Di sisi lain game ini juga menghadirkan lokasi yang baru seperti Ironrath yang merupakan tempat kediaman keluarga Forrester. Dalam game GoT kamu diberi berbagai opsi untuk menyelamatkan posisi keluarga Forrester baik melalui intrik politik yang licik di King’s Landing maupun adu verbal dengan keluarga Whitehill yang adalah seteru abadi dari keluarga Forrester.

Seperti kata Cercei Lannister yang populer: Dalam Game of Thrones, kamu menang atau mati. Tidak ada jalan tengah.

(SPOILER END)

Saya salut kepada Telltale yang mampu merangkai cerita mengenai keluarga Forrester yang menarik walaupun hampir semuanya merupakan karakter orisinil. Bahkan dalam prosesnya Telltale menghadirkan mitologi mereka sendiri, memperkaya mitologi dunia GoT dengan keberadaan tempat-tempat unik di utara tembok (North Grove). Salut juga dengan kualitas pengisi suaranya yang merupakan perpaduan pas antara karakter-karakter orisinil serta karakter-karakter dari serial TV. Yang saya acungi jempol adalah keberanian dari Telltale untuk mengontrak semua aktor-aktor serial TV mengisi suara dalam game ini. Artinya karakter Tyrion Lannister diisi suaranya oleh Peter Dinklage, Cercei Lannister diisi oleh Lena Headey, dan begitu pula seterusnya.

wall

Kendati saya kagum dengan kesungguhan dari Telltale menggarap cerita orisinil saya tidak bisa tutup mata dengan kelemahan-kelemahan dari game ini. Kekhawatiran saya terbukti bahwa sekreatif apapun Telltale memelintir cerita di game ini ada tembok-tembok yang tak mungkin bisa mereka ‘dobrak’. Kemunculan karakter-karakter dari serial TV dan kebolehan kita berinteraksi dengan mereka awalnya adalah kejutan yang menyenangkan tetapi kemudian kita menyadari bahwa nasib mereka semuanya praktis tidak bisa kita utak-atik. Permasalahan sama sebenarnya ada juga di dalam The Wolf Among Us yang merupakan prekuel dari serial komik Fables tetapi di sini kelemahan GoT lebih kentara dan tak dapat ditutupi. Kenapa? Gamer yang tidak familiar dengan komik Fables bisa langsung memainkan The Wolf Among Us karena posisinya sebagai prekuel dan mereka tidak akan tahu karakter-karakter mana yang ada di komik dan mana yang tidak… tetapi tidak demikian dengan GoT disebabkan jalan ceritanya adalah implikasi dari apa yang telah terjadi di serialnya. Dengan kata lain mustahil orang bisa memainkan GoT dan mengerti ceritanya bila tak menonton serial / membaca novelnya terlebih dahulu.

Terlepas dari kelemahan yang ada saya tetap mengacungkan jempol kepada Telltale untuk keberanian mereka mengambil proyek besar semacam ini. Lebih salut lagi karena ini merupakan game pertama mereka yang berdurasi enam episode dan bukannya lima episode seperti biasanya. Apabila kalian memang penggemar dari serial GoT atau novelnya maka coba saja memainkan game ini, kendati bukan game Telltale yang terbaik, saya rasa kalian takkan kecewa olehnya.

83a698332b9c8af303b3d4a3e534a2494cf127f4

Score: B+