Fantastic Beasts and Where to Find Them

Warner Bros perlu sebuah franchise baru. Setelah usainya franchise Harry Potter, The Hobbit, dan Batman era Christopher Nolan, kentara sekali Warner Bros tak memiliki franchise yang bisa membantu mereka mendobrak angka keramat 1 Milyar USD. Dan itu tidak baik bagi mereka. Memang ada DCEU yang masih bisa diandalkan memberi hit-hit solid tetapi Warner Bros tak bisa semata-mata hanya bertumpu pada satu franchise saja bukan?

Oleh karena itu menggandeng David Yates (yang menyutradarai empat film Harry Potter) dan J.K. Rowling, Warner Bros pun menggarap film Fantastic Beasts and Where to Find Them. Kendati film ini disebut sebagai prekuel dari Harry Potter, ia lebih tepat disebut sebuah film yang ada di dunia Harry Potter sebab kisahnya bisa dibilang berdiri sendiri.

Tak hanya kisahnya saja yang berdiri sendiri, bahkan lokasi dari film ini pun berbeda benua dengan Harry Potter. Petualangan Harry ada di Inggris sana sementara Newt Scamander sibuk berpetualang di Amerika bersama dengan binatang-binatang peliharaan ajaibnya. Newt Scamander adalah seorang lulusan (keluaran?) Hogwarts dari Hufflepuff. Ia dikenal sebagai penulis dari buku Fantastic Beasts and How to Find Them, tetapi cerita petualangannya di Amerika bukan sekedar soal itu…

Newt hadir di Amerika pada saat dunia sihir sedang mengalami kepanikan. Di Eropa Gellert Grindelwald, seorang dark magician, menciptakan teror di mana-mana yang membuat orang-orang ketakutan. Kejahatan dari Grindelwald ini membuat kaum sihir di Amerika turut siaga penuh, takut bila terorisme yang melanda Eropa merambah ke Amerika. Sial bagi Newt, sebuah ‘kecelakaan’ membuat beberapa binatang peliharaannya itu lepas. Kekacauan yang terjadi membuat Newt tertuduh sebagai antek Grindelwald. Bisakah Newt meloloskan diri dari kejaran anggota department sihir Amerika dan apa tujuan sebenarnya dari Newt datang ke kota New York?

Seperti yang saya katakan sebelumnya Fantastic Beasts and Where to Find Them adalah sebuah film yang bersetting di dunia Harry Potter tetapi ia bukan merupakan prekuel langsung dari saga sang bocah yang hidup. Kendati tidak ada Voldemort dalam cerita ini, bukan berarti kehidupan dari para penyihir damai tentram. Sosok misterius Grindewald di awal film sudah menjadi sosok yang menakutkan dan menyebar teror. Entah disengaja atau tidak paranoia dari kaum penyihir di dalam film ini seperti paralel dengan dunia pada saat ini. Siapa sangka bahwa dark ages yang digambarkan oleh J.K. Rowling di dunia fantasinya bisa bercermin pada dunia nyata sekarang.

Itu juga yang membuat film ini pada awal memiliki dua tone yang berbeda: di satu sisi petualangan dari Newt untuk menemukan para beasts yang kabur dari kopernya cukup ringan, lucu dan santai tetapi tone film berubah menjadi dark dan dewasa ketika kita dihadapkan dengan penyelidikan para Auror Amerika menghadapi musuh-musuh di berbagai lini: mulai dari menjaga kerahasiaan para penyihir, menghadapi para manusia yang antipati dengan kaum penyihir, sampai teror Grindewald yang selalu bersembunyi di latar belakang. Ada kalanya ketika para Auror ‘dipaksa’ mengambil keputusan ekstrem, penonton dibuat bertanya, apakah hal yang sama akan kita lakukan demi menjaga kedamaian?

Walaupun saya lebih suka aspek non-Beast dari film ini, tidak berarti saya tidak enjoy dengan konsep binatang-binatang sihir dalam film ini. Salut untuk design-design binatang yang macam-macam bentuknya seperti amalgam (campuran) dari binatang-binatang dunia nyata. Semoga dalam sekuel akan ada makin banyak jenis binatang ini berperan dalam cerita.

eppepe

Highlight dari film ini tentu saja akting dari keempat bintang utamanya – ditambah dengan Auror Percival. Betul karakter trio Harry, Ron, dan Hermione tidak akan tergantikan sebagai ikon dan wajah Harry Potter – tetapi akting Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Dan Fogler, dan Alison Sudol menurutku jauh lebih bagus dan membuat kita peduli dengan hubungan keempatnya. Momen-momen di finale film di mana keempatnya mengucapkan salam perpisahan satu sama lain terasa emosional karena kita peduli dengan hubungan keempatnya. Begitu juga dengan Colin Farrell, seorang aktor yang berbakat yang kerap kedapatan proyek kurang bagus akhir-akhir ini, menunjukkan aktingnya yang semakin matang sebagai Percival Graves yang berbahaya.

Overall, film ini adalah awal yang baik dan membuat saya tertarik untuk tahu lebih lanjut mengenai petualangan Newt dan sejarah dunia sihir Harry Potter. Saya masih tidak tahu apakah ia masih bisa menjadi franchise lima film seperti yang diproklamirkan oleh J.K. Rowling, tetapi setelah film pertama yang prima ini, saya lebih optimistis akan masa depan franchise ini.

Score: B+

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children

Novel Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children dirilis di tahun 2011 dan dengan cepat menjadi buku bestseller remaja. Tidak mengherankan buku ini cukup sukses disebabkan karena formatnya menggabungkan cerita dan gambar yang unik. Secara tematik buku ini cukup mengingatkan saya pada A Series of Unfortunate Events dari Lemony Snickett – alias sebuah seri buku anak-anak yang cukup dark. Itu juga sebabnya ketika Tim Burton didapuk untuk menyutradarai adaptasinya, saya merasa bahwa itu adalah pilihan yang tepat.

Hidup Jake berubah drastis setelah ia melihat kakeknya, Abe, terbunuh secara sadis. Berkat cerita-cerita dan tulisan misterius dari kakeknya, Jake berangkat ke Wales untuk kemudian singgah ke tempat sang kakek menghabiskan masa mudanya dulu: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children. Secara sederhana: ini adalah rumah untuk anak-anak yang memiliki kemampuan spesial. Ya, kurang lebih film ini mengingatkanku tentang X-Men dan Miss Peregrine dalam film ini adalah Professor Xavier-nya.

peregrine-po

Kendati tempat ini tersembunyi dengan rapi karena kemampuan Miss Peregrine membuat loop (sebuah waktu yang berputar ulang terus menerus) ada banyak orang jahat di luar sana, golongan Hollow, yang ingin menghabisi mereka dan memakan mereka. Hey, ini film Tim Burton, jadi kalau ada banyak hal yang dark dan gothic… harap dimaklumi saja. Bisa ditebak kemudian bahwa Jake kemudian membangun hubungan dengan anak-anak di rumah tersebut hanya untuk kemudian melihat tempat aman ini kemudian ditemukan oleh Hollow. Bagaimana Jake dan teman-teman barunya bisa meloloskan diri dari sergapan para Hollow?

Saya merasa bahwa film anak-anak semakin disterilisasi memasuki dekade 1990an dan 2000an. Oleh karena itu saya cukup syok melihat film ini dengan berani menunjukkan hal-hal yang brutal seperti monster yang memakan bola mata manusia. Wow, apabila bukan nama Tim Burton didapuk sebagai sutradara, saya tidak yakin adegan tersebut bakalan diloloskan oleh para eksekutif studio. Adegan-adegan ini, bagaimanapun juga, membuat film ini tidak terasa generik seperti film anak-anak kebanyakan yang rilis di pasar. Saya juga merasa karakter anak-anak Peculiar dalam film ini cukup memiliki ciri khas masing-masing yang memungkinkan mereka untuk digali lebih lanjut bila sekuelnya digarap.

21231

Bagi kalian yang mengharapkan aksi CG spektakuler jor-joran ala X-Men mungkin akan kecewa tetapi tidak berarti film ini tak memiliki setpiece aksi yang menarik. Final battle di mana tiap Peculiar menggunakan kemampuan mereka menghadapi Hollow sedikit banyak mengingatkan saya pada Sky High, sebuah film bertema superhero yang pernah rilis di tahun 2005 dulu.

Film ini jelas bukan karya terbaik dari Tim Burton… tetapi juga jauh dari karya-karya terburuknya (Alice in Wonderland? Dark Shadows?). Film ini menunjukkan bahwa Tim Burton masih bisa membuat film yang kompeten tanpa meninggalkan ciri khas gothic-nya, and for that it’s a worth a see.

Score: B

Jack Reacher: Never Go Back

Di akhir tahun 2012 lalu Tom Cruise membintangi film Jack Reacher, seorang karakter dari novel Lee Child. Karakter Jack Reacher sendiri sudah sukses menjual jutaan eksemplar novel sehingga sebenarnya pangsa pasarnya sudah ada. Film pertama Jack Reacher diadaptasi dari novel kesembilannya: One Shot dan disutradarai oleh Christopher McQuarrie. Kendati tidak super sukses di box office (tidak bisa mencapai 100 Juta USD), film ini tetap mampu meraup untung karena budgetnya yang relatif kecil. Ditambah dengan faktor Tom Cruise masih adalah seorang bintang film yang mampu menarik pangsa pasar internasional, dibuatlah sekuel dengan harapan mampu menjaring penonton dari seluruh dunia.

ngb-1

Film kali ini diadaptasi dari novel ke 18 dari Jack Reacher berjudul sama: Never Go Back. Dalam film ini Jack Reacher membantu temannya: Susan Turner yang dijebak dan terlibat dalam konspirasi militer. Ketika Jack Reacher turut terlibat, ia akhirnya membebaskan Susan dari tahanan dan membawanya kabur bersama dengan dirinya. Keduanya harus bekerja sama untuk mencari tahu siapa yang telah menjebak mereka. Yang membuat pencarian ini lebih kompleks adalah karena Jack Reacher tengah menghadapi masalah personal juga: ia dituding memiliki seorang anak gadis yang tidak pernah ia tahu: Samantha. Bisakah Jack membantu Susan membersihkan namanya? Apakah Samantha benar-benar putri dari Jack?

Kursi sutradara film ini kali ini berpindah dari Christopher McQuarrie ke Edward Zwick, dikarenakan McQuarrie sibuk syuting film Mission Impossible: Rogue Nation yang rilis tahun lalu (dan mungkin juga Mission Impossible berikutnya?). Film ini masih mengikuti formula yang sama dengan prekuelnya di mana Jack Reacher menggunakan kemampuannya sebagai seorang detektif / analis ditambah dengan kemampuan bela dirinya untuk memecahkan masalah. Bumbu dikejar-kejar pemerintah, bagaimanapun juga, membuat Jack Reacher ini tampil searoma dengan thriller action lainnya: Jason Bourne… dan sayangnya film tersebut jauh lebih superior ketimbang Jack Reacher ini.

ngb-3

Itu tidak berarti Never Go Back merupakan film yang buruk. Ada beberapa tambahan dalam film ini yang membedakannya dari thriller-thriller sejenis seperti sosok Susan Turner yang tak kalah badass dengan Jack Reacher dan Samantha, yang merupakan faktor wild card dalam film ini. Yang saya sayangkan adalah akting dari Tom Cruise dan Danika Yarosh yang berperan sebagai anaknya tak pernah memiliki chemistry yang benar-benar pas antara satu sama lain hingga saat-saat terakhir film. Ini membuat saya tak seberapa peduli akan hubungan antara Jack dan Samantha, sebuah hal yang fatal karena banyak adegan di film ini (terutama pada klimaksnya) bertumpu pada seberapa pedulinya penonton akan hubungan keduanya.

Secara keseluruhan Jack Reacher masih sebuah film aksi thriller ringan yang terlalu keras berusaha menjadi Jason Bourne (dan gagal). Saya harap apabila film ketiganya jadi dibuat (dan sepertinya akan dibuat mengingat film ini tidak kalah sukses dari pendahulunya) maka akan lebih menitikberatkan pada investigasi otak Jack Reacher memecahkan misteri yang ada ketimbang lebih banyak menggunakan ototnya menghajar musuh.

Score: B

Train to Busan

Pada tahun 2016 sebuah film tentang zombie apocalypse menjadi film paling laris di Korea: Train to Busan. Membuat sebuah film tentang zombie outbreak tentu tidak mudah. Selain sudah banyak sekali media mengangkat topik ini, mulai dari The Walking Dead di serial TV dan komik, The Last of Us dalam media game, sampai segudang film zombie dari berbagai macam negara, bagaimana Train to Busan bisa membedakan diri dari film dari genre yang (mungkin) sudah oversaturated ini?

Seok-woo akhirnya harus berangkat ke Busan karena ia terus menerus dipaksa oleh putrinya Su-an untuk pergi ke sana menemui mamanya (Seok-woo dan istrinya sudah cerai). Tak disangka-sangka, tepat dengan saat kepergian keduanya ke Busan terjadi sebuah zombie outbreak. Seorang penumpang yang terinfeksi masuk ke dalam kereta dan dengan cepat virus zombie menyebar. Terjadilah pertarungan hidup mati antara penumpang yang masih hidup dan penumpang yang sudah berubah menjadi zombie.

busan

Apakah kalian ingat dengan sekuens pesawat terbang dalam film World War Z? Train to Busan bisa dibilang mengambil ide dari adegan ini lantas mengaplikasikannya ke dalam sebuah film penuh. Sekuens tersebut sukses dalam World War Z, tetapi apakah menariknya sampai sepanjang satu film masih bisa membuatnya menegangkan? Jawabannya: iya. Ini dikarenakan kepintaran Yeong Sang-ho sang sutradara dalam meramu adegan-adegan zombie yang menegangkan dalam ruang tertutup. Walaupun settingnya rata-rata hanya terjadi di lorong kereta saja, sang sutradara dengan cerdik mampu menampilkan sudut-sudut baru untuk menjaga tensi cerita.

Sebuah film zombie hanya akan berhasil apabila penonton peduli dengan karakter-karakter manusia di dalamnya (alias para survivor di dalamnya). Sebrutal-brutalnya para Walker dalam The Walking Dead, tidakkah yang paling memorable bagi kita adalah karakter-karakter di dalamnya seperti Rick, Glenn, maupun Daryl? Begitu juga dengan The Last of Us, seseram-seramnya para Clicker yang paling mengena tentunya adalah hubungan ayah-anak yang terbangun antara Joel dan Ellie. Begitu juga dengan film ini: Train to Busan membangun hubungan yang intim antara Seok-woo dan Su-an sehingga membuat kita peduli dengan keselamatan keduanya. Tak hanya itu karakter-karakter sekunder lain turut mencuri perhatian; terutama sosok gemuk Sang-hwa yang secara cool dan keren diperankan oleh Ma Dong-seok.

busan-3

Kendati film ini tentu saja tidak bisa menyamai budget dari film-film Hollywood toh itu tidak menutup Train to Busan menjadi film yang efektif dan menegangkan, makeup para zombie terlihat meyakinkan dan beberapa sekuens yang memakai CG pun tampak apik karena tak berlebihan dalam pemakaiannya. Ada pula beberapa sekuens pertarungan dalam film ini yang mengingatkanku akan film Korea lain yang bersetting di atas kereta juga: Snowpiercer. Ya, kalau boleh dijadikan perumpamaan: Train to Busan layaknya anak dari Snowpiercer dan World War Z bila dinikahkan.

Singkat kata kalau kalian mencari sebuah film yang bermutu tentang zombie, you can’t go wrong with Train to Busan. Ini adalah salah satu film paling thrilling yang hadir tahun ini!

Score: B+

Doctor Strange

Phase Three dari dunia Marvel dibuka dengan film Captain America: Civil War pada tengah tahun ini. Mengingat film itu lebih bersifat sebagai The Avengers 2.5 semua orang tahu bahwa film itu akan sukses. Yang jadi pertanyaan besar adalah bagaimana Doctor Strange, properti baru dunia Marvel, bisa diterima atau tidak oleh penonton. Satu hal yang saya salut dari Marvel adalah keberanian mereka untuk terus bereksperimen dengan karakter-karakter mereka. Siapa yang dulu kenal dengan Iron Man, Thor, maupun Captain America?

Benedict Cumberbatch dalam film ini berperan sebagai Doctor Stephen Strange, seorang ahli bedah yang sangat jago. Karena begitu hebatnya dia dalam melakukan membedah, dia bisa dibilang menjadi seorang yang takabur dan sombong akan kemampuannya. Segalanya itu kemudian direnggut ketika tangannya (kunci dari seorang dokter bedah) rusak syarafnya akibat kecelakaan mobil. Stephen Strange jungkir balik mencari dokter yang bisa membenarkan syarafnya kembali tetapi semua angkat tangan. Di tengah keputusasaannya ia diarahkan untuk pergi ke sebuah tempat mistik di Kamar-Taj yang konon menyimpan rahasia untuk bisa membuat tangannya pulih kembali. Apa yang akan dia temui di sana?

Banyak penggemar komik dan film Marvel yang khawatir bahwa Stephen Strange dan Tony Stark adalah dua orang yang memiliki karakter sama dan itu tidak sepenuhnya salah. Hampir sama dengan Tony, Stephen juga seorang yang sangat sombong karena ahli di bidangnya. Bedanya adalah ketika Tony terluka dan membangun armor Iron Man, ia menggunakan kepandaian yang memang ia ketahui untuk menjadi Iron Man. Singkat kata: he is born to build that machine. Di sisi lain ketika Stephen Strange cedera dan harus mempelajari aliran mistik, tenaga dalam, dan chi… itu semuanya bertentangan dengan apa yang ia tahu. Dan untunglah Benedict Cumberbatch menangkap semuanya itu dalam performa dia, sosok seorang Strange yang awalnya sombong dan harus dihancurkan segalanya sehingga sang ahli kembali menjadi seorang murid yang haus menimba ilmu dan belajar lagi.

doctor-strange-movie-hd-images-uk-set-photos-dr-strange-film-online-1

Seperti banyak proyek Marvel yang selalu didampingi aktor-aktor gaek ala Anthony Hopkins ataupun Michael Douglas, film ini juga memiliki Tilda Swinton dalam peran kontroversial sebagai The Ancient One. Bukan rahasia bahwa casting Swinton dalam peran ini mendapatkan banyak celaan orang yang merasa Marvel telah melakukan whitewashing pada ras karakter ini. Saya pribadi tidak merasa hal ini bermasalah karena toh Swinton melakukan akting yang sangat baik menghidupkan karakter ini. Dia bukan karakter ‘putih’ karena ada di spektrum orang baik. And really that’s the beauty of this movie: ambigu moral di dalamnya, baik yang dilakukan oleh para villain maupun protagonisnya.

Bicara mengenai para villain dalam film ini Kaecilius sebenarnya punya potensi menjadi seorang lawan yang mengerikan bagi Strange, apalagi mengingat Mads Mikkelsen sudah mendapatkan pujian banyak orang saat menjadi Hannibal di layar kaca. Sayangnya walaupun sosok ini cukup menarik perhatian (terutama pada paruh awal film), pada akhirnya ia terasa kurang dimaksimalkan (terutama pada paruh akhir film) – sebagaimana kebanyakan villain Marvel lainnya. Kapan oh kapan MCU bisa belajar dari saudaranya di Netflix untuk menghadirkan villain-villain yang lebih berbobot ala Kingpin dan Kilgrave? Bicara soal kurang dimaksimalkan: karakter Rachel McAdams yang dipasang sebagai love interest Strange di sini pun terasa seperti tempelan semata.

doctor_strange_poster

Bicara soal film ini tidak mungkin tidak bicara soal visualnya yang luar biasa. Scott Derrickson punya tugas berat untuk membawa dunia mistik Marvel di film ini dan ia berhasil melakukannya. Doctor Strange penuh dengan aksi-aksi setpiece yang gila dan mindbending. Sangat menarik melihat betapa setiap film Marvel punya identitas dalam setpiece aksi mereka masing-masing. Coba lihat koreografi bertarung dalam Captain America yang gritty, bandingkan dengan The Avengers yang megah dan epik, lantas bandingkan lagi dengan film ini di mana semuanya penuh dengan nuansa fantasi dan sihir. It’s all different!

Jadi sekali lagi Doctor Strange membuktikan bahwa walaupun banyak orang menuding formula Marvel itu selalu ‘sama saja’, faktanya adalah setiap film Marvel cukup berbeda untuk memiliki ciri khasnya sendiri tetapi cukup pintar untuk mengikuti formula sukses yang sama. Jadi, siap untuk melupakan segala yang kamu tahu dan terjun ke dunia mistik Marvel?

Score: B+

Review Round-Up 2016 (Part 14 – Movie)

01. The Secret Life of Pets
Score: B

I’ll be honest. Setelah Despicable Me 2 yang biasa-biasa saja disambung dengan Minions yang aujubile gile jeleknya setengah mampus, saya tidak berharap banyak dengan Illumination Entertainment. Bahkan mendengar The Secret Life of Pets tidak menggoyahkan pendapatku. Karena itu saya masuk menonton film ini dengan ekspektasi serendah mungkin. Hasilnya? Ternyata film ini tidak buruk-buruk amat. Tidak sebagus Despicable Me yang pertama tentu saja tetapi masih jauh lebih bagus dari Minions dan Despicable Me 2 sekalipun. Overall, ini sebuah film animasi yang cocok ditonton anak-anak maupun pecinta hewan.

02. Kingsglaive: Final Fantasy XV
Score: C+

Kualitas animasi dalam film ini memang sangat bagus tetapi sebuah film tak hanya dinilai dari kualitas animasinya saja bukan? Jalan cerita dalam film ini sebenarnya sudah terbangun menjadi pengiring yang baik bagi game Final Fantasy XV, akan tetapi kemudian menjadi mengecewakan menuju ke klimaksnya. Koreografi pergerakan dalam film ini pun terkadang dibuat overstylish sehingga hasilnya bukan lagi keren tetapi jadi “Duh, memusingkan!“. Khusus buat para pecinta game Final Fantasy atau mereka yang tertarik untuk memainkan Final Fantasy XV, satu hal yang harus saya akui sukses dalam game ini adalah world building-nya, mantap!

03. The Shallows
Score: B+

Film yang pendek (hanya 80 menit lebih) dengan budget yang kecil tetapi hasilnya luar biasa. The Shallows adalah bukti bahwa untuk menciptakan film yang engaging dan menegangkan kamu tak perlu menggelontorkan dana puluhan hingga ratusan juta USD. Sosok Blake Lively yang terdampar di lepas pantai rahasia Amerika Latin dan harus menggunakan segala akalnya untuk bertahan hidup dari serangan seekor hiu putih raksasa yang buas dijamin akan membuatmu mencengkeram kursimu sepanjang film.

04. The Peanuts Movie
Score: B

Sulit percaya bahwa komik strip The Peanuts sudah hadir selama lebih dari enam dekade lamanya! Melalui tangan Charles M. Schulz karakter-karakter Charlie Brown dan Snoopy menjadi bagian dari Pop Culture yang sangat dikenal. Tak heran bahwa setiap beberapa tahun sekali filmnya dibuat. Kali ini oleh Blue Sky Entertainment (studio yang menciptakan Ice Age). Hasilnya tidak mengecewakan karena berisi homage cerita-cerita bagaimana Charlie Brown yang selalu sial dan tak kesampaian mengejar cewe idamannya sampai petualangan-petualangan fantasi imajinatif Snoopy sang anjing peliharaannya. Toh pada akhirnya tak ada bagian dalam film ini yang bisa sedalam kata-kata paling terkenal Charlie Brown: “Nothing takes the taste out of peanut butter quite like unrequited love.” : “Tak ada yang mematikan rasa dari selai kacang seperti cinta yang tak terbalas”. Ah, now that’s deep.

05. Lights Out
Score: B+

The Shallows bukan satu-satunya film berbudget rendah yang sukses menggedor jantung penonton… begitu juga dengan Lights Out. Bermula dari film pendek yang sensasional di Youtube, film ini kemudian diproduseri oleh James Wan dan dijadikan film layar panjang. Banyak film pendek yang kadang kehilangan esensinya setelah dijadikan film layar panjang tetapi tidak demikian dengan film ini. Lights Out tetap sukses menggedor jantung penonton sepanjang masa durasinya, membuat kita bertanya-tanya mengenai misteri apa yang ada di balik teror yang terjadi saat lampu dipadamkan.

Review Round-Up 2016 (Part 13 – Movie)

01. Star Trek Beyond
Score: B-

Instalasi ketiga dari film Star Trek reboot ini berpindah tangan dari J.J. Abrams ke Justin Lin. I love Justin Lin. I think he’s a great director. Banyak orang menakutkan bahwa Star Trek Beyond akan menjadi film yang penuh dengan aksi dan melupakan hati tetapi untung itu tidak terjadi. In fact film ini adalah film Star Trek reboot pertama di mana member-member Enterprise di luar Kirk dan Spock mendapat kesempatan bersinar.

Sungguh sayang bahwa di luar member Enterprise saya merasa bahwa film ini memiliki stake yang jauh lebih rendah dibandingkan kedua film sebelumnya. Bahkan sang villain Idris Elba pun tampil kurang menacing dan seakan kurang jelas motivasinya sebagai penjahat apa. Semoga Star Trek mendatang mampu mengembalikan unsur tensi dan ketegangan itu kembali.

02. Jason Bourne
Score: B+

Saya suka sekali dengan trilogi Jason Bourne… tetapi kecintaanku pada franchise ini sedikit menurun setelah The Bourne Legacy. Jujur saja di luar adegan kejar-kejaran di kota Manila pada klimaks film, saya tak banyak mengingat apapun tentang spin-off yang dibintangi oleh Jeremy Renner. Untung saja kesukaanku akan film espionase ini kembali pulih dalam film sekuel ini.

Saya terutama sangat suka dengan tema cerita keamanan vs privasi yang dikemukakan oleh film ini. Mungkin ini topik lama tetapi momennya sangat tepat di dalam dunia yang kini makin lama makin tidak stabil karena terorisme. Banyak orang bertanya apakah Jason Bourne masih relevan ataukah ia merupakan relik dari dekade lalu? Jawabannya: iya. Dia masih relevan.

03. Finding Dory
Score: A-

Finding Nemo adalah salah satu film klasik Disney / Pixar. Ada alasan kenapa film ini selama bertahun-tahun lamanya menjadi hit terbesar dari studio Pixar, sampai ketika posisi itu dia serahkan kepada Toy Story 3 tahun 2010 lalu. Petualangan dari Dory, Marlin, dan Nemo berlanjut 13 tahun semenjak Finding Nemo dulu dan sekali lagi menyajikan kecantikan dunia bawah laut.

Apakah film ini sebagus Finding Nemo? Menurutku… tidak. Menurutku film ini masih sedikit di bawah Finding Nemo. Tidak berarti film ini jelek. Jauh dari itu. Ini masih merupakan salah satu film animasi terbaik dan memuaskan yang kutonton tahun ini. Ya, jalan ceritanya boleh klise. Toh ia digarap dengan sangat bagus sehingga membuat saya tersenyum sekaligus menangis di sepanjang film. The Good Dinosaur, this is not.

04. Suicide Squad
Score: Not available

Saya berjanji tidak akan memberi skor kepada Suicide Squad karena saya tidak mau dibunuh oleh para rabid fanboy DC.

But to tell you the truth, this movie is much better than the clusterfuck shit that is Batman v Superman. David Ayer termasuk jago menggarap adegan tembak-tembakan di jalanan (you know; gritty, realism action movie) dan berkali-kali gaya signature-nya itu muncul di film ini.

Dari deretan casting all star yang bermain di film ini, saya melihat bahwa Will Smith tampil paling baik dalam meringankan suasana film yang terkadang terlalu suram. Joker di lain sisi terasa underdeveloped sebagai karakter. It’s not a perfect movie but it’s quite okay. Enjoyable.

05. Skiptrace
Score: B-

Film Jackie Chan bersama Johnny Knoxville ini saya tonton dengan ekspektasi rendah. Dan memang ini bukan film yang terlalu bagus. Setpiece yang paling dahsyat di awal film pun tergolong sangat biasa untuk film Jackie Chan. Kelincahan sang maestro kungfu terasa makin berkurang saja dari tahun ke tahun. Akan tetapi terlepas dari semua itu, apa yang disajikan film Skiptrace adalah hiburan dan dalam hal itu ia berhasil.

Ada satu momen terutama yang membuat saya tersenyum lebar saat Jackie mendadak saja bersama berbagai orang mendendangkan lagu pop barat. Momen-momen macam itu membuat film Skiptrace terasa sedikit lebih memorable daripada sekedar wajah cantik seorang Fan Bing Bing.