Stranger Things – The Complete Season Two

Season pertama Stranger Things adalah sebuah kejutan yang menyenangkan di tahun 2016 lalu. Dengan banyaknya throwback nostalgia untuk era 1980an ditambah dengan akting yang bagus dari aktor anak-anaknya, Stranger Things menjadi salah satu serial yang paling populer dari Netflix tahun lalu. Aktor cilik tokoh utama dari serial: Finn Wolfhard namanya bahkan kian menjulang setelah ia turut dalam adaptasi novel It karya Stephen King tahun ini. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa di luar season terbaru Game of Thrones, season kedua dari Stranger Things adalah serial TV yang paling ditunggu tahun ini oleh penggemar layar kaca.

Sedikit rekap dari season pertama lalu: Will Bryer yang sempat hilang di seantero season telah ditemukan dalam finalenya. Akan tetapi ditemukan kembalinya Will bukan tanpa pengorbanan sebab Eleven terpaksa mengorbankan dirinya dengan menggunakan kekuatan berlebihan demi menyelamatkan Will. Sekarang setahun telah berlalu dan sebuah ancaman misterius kembali hadir di kota Hawkins.

Sekilas lalu semuanya memang tampak baik-baik saja tetapi rupanya banyak karakter masih membawa beban emosi dari season pertama. Mike masih merasa kehilangan Eleven yang ia rasa direnggut secara tidak adil dari sisinya, Will masih memiliki trauma sehingga kerap bermimpi bahwa ia masih berada di Upside Down yang misterius itu, dan hubungan antara Nancy dan Steve menjadi renggang disebabkan Nancy yang menyesal kehilangan sahabatnya Barb. Kejutannya? Eleven ternyata masih hidup dan disembunyikan oleh sang kepala polisi Jim Hopper.

Stranger Things sudah memiliki segudang karakter tetapi rupanya mereka masih mampu menghadirkan beberapa karakter tambahan lagi di season ini. Empat karakter baru yang paling signifikan di sini adalah kakak beradik Max dan Billy, Bob sebagai pacar dari Joyce, dan Doctor Owens yang adalah pemimpin baru dari Hawkins Laboratory, menggantikan Doctor Brenner yang adalah salah seorang antagonis di season lalu. Di antara keempatnya saya merasa hanya karakter Billy yang diperankan oleh Dacre Montgomery yang terasa kurang pas dan tak memberikan sesuatu yang baru di season ini.

dsadasada

Season kedua Stranger Things ini sendiri memiliki jalan cerita yang cenderung lebih straightforward ketimbang season pertama. Kenapa? Karena kali ini penonton sudah tahu mengenai keberadaan dari Upside Down, sesuatu yang adalah misteri menarik sepanjang season pertamanya. Season kali ini sepertinya digunakan oleh Duffer Brothers untuk menggali lebih dalam hubungan antara para karakter di dalamnya dan untuk sebagian besar karakter memang berhasil dilakukan. Akan tetapi ada satu episode dalam serial ini: episode 7, yang terasa benar-benar out of place. Ketimbang ditaruh di season ini, saya merasa bahwa serial ini sebenarnya bisa ditaruh di season depan saja. Episode ketujuh ini benar-benar terasa seperti sebuah prolog untuk cerita baru di season mendatang.

Satu hal yang tidak saya sangka adalah Stranger Things kali ini berusaha menciptakan identitasnya sendiri. Tak seperti season pertama yang terasa seperti homage untuk film-film era 1980an, season kedua ini terasa lebih fresh dan berdiri sendiri. Ya masih ada beberapa throwback untuk era 1980an seperti pada kostum Ghostbusters dan soundtrack-soundtrack jadul tapi secara keseluruhan atmosfir dalam season kedua ini unik, syukurlah bagi Stranger Things yang akhirnya berhasil menciptakan identitasnya sendiri. Seperti yang dikatakan banyak reviewer bila season pertamanya adalah Alien maka season keduanya ini adalah Aliens. Both are different but both are good.

Jadi bagaimanakah penilaianku akan Stranger Things Season Dua ini? Walaupun tak berhasil mencapai puncak kualitas ala season pertamanya, ia masih sebuah serial yang solid dan berkualitas dengan akting yang apik all around dari tiap karakter yang ada. Dengan masih banyaknya misteri seputar Upside Down dan makhluk-makhluk yang meghuninya, saya berharap season ketiga menjanjikan petualangan yang lebih seru lagi, semoga!

Score: B+

Advertisements

Castlevania – The Netflix Series

Film adaptasi dari video game belum ada yang benar-benar berhasil memukauku. Sementara film adaptasi dari buku komik sudah melahirkan mahakarya seperti The Dark Knight, film adaptasi video game yang paling bisa dibanggakan mungkin hanyalah Mortal Kombat dan Prince of Persia, dan bahkan keduanya tidak bisa dibilang film yang dipuji semua kalangan. Itu membuat saya bertanya-tanya apakah Castlevania bisa mengubah tren ini.

Castlevania sendiri sebenarnya tidak merupakan format film melainkan serial animasi yang diproduseri oleh studio streaming Netflix. Season pertama dari Castlevania terdiri dari empat episode yang panjang tiap episodenya kira-kira 25 menit. Apabila kesemuanya digabung maka serial ini kurang lebih berdurasi 100 menit – tergolong singkat. Apakah dalam waktu yang terbatas itu serial ini bisa menarik minat penonton untuk mengikutinya lebih lanjut?

Serial ini mengikuti cerita Castlevania 3: Dracula’s Revenge yang memiliki protagonis utama Trevor Belmont. Akan tetapi serial ini tidak dibuka dengan sudut pandang Trevor melainkan sudut pandang Dracula. Dengan fokus yang mendalam kepada Dracula, cintanya Lisa, dan keluarganya, kita menjadi lebih mengerti kenapa Dracula memusuhi umat manusia. Ingat, sebelum era Dracula X: Rondo of the Blood dan Castlevania: Symphony of the Night, serial Castlevania tidak benar-benar memiliki jalan cerita yang mendalam termasuk di dalamnya Castlevania 3.

Oleh sebab itu saya sangat menghargai usaha Warren Ellis selaku penulis cerita dari serial ini membangun dunia Castlevania dalam serial. Ellis sadar benar bahwa ia memiliki waktu yang terbatas untuk cerita di season pertama tetapi ia tidak terburu-buru menjejalkan terlalu banyak elemen cerita di dalam season pertama ini. Setelah episode pertama memperkenalkan Dracula dan motif kenapa ia membenci manusia, episode kedua dan selanjutnya digunakan oleh Ellis untuk memberi penonton kesempatan berkenalan dengan Trevor dan sosok lain yang ia temui dalam perjalanannya untuk menghentikan Dracula.

ffff

Kendati setting dan tone dari serial ini jelas-jelas untuk penonton dewasa, Ellis masih sanggup memasukkan banyak dark humor dalam serial ini. Beberapa adegan tolol malah sempat membuatku terbahak-bahak menontonnya. Saya pun salut dengan keberhasilan Netflix menggaet nama-nama yang lumayan terkenal untuk mengisi suara karakter-karakter di film ini. Dua yang paling terkenal: Richard Armitage dan Graham McTavish tentunya sudah dikenal oleh penonton geek dari trilogi The Hobbit. Terkenal saja tentu tidak cukup, untunglah para aktor – artis pengisi suara ini melakukan tugas mereka dengan sangat baik sehingga departemen voice acting menjadi salah satu titik positif serial ini.

Untuk kategori teknisnya sendiri, saya melihat bahwa Netflix pastinya telah memberikan budget yang cukup besar menggarap serial animasi ini. Kualitas animasinya terbilang sangat tajam dan dinamis. Bagaimanapun juga saya agak menyayangkan bahwa musik-musik dari video game klasik-nya tidak diaransemen ulang maupun dimodernisasi ke dalam serial ini sama sekali – padahal sungguh sangat potensial untuk dijadikan homage!

Orang bilang keluhan terbaik yang bisa disampaikan itu adalah keluhan bahwa sesuatu itu kurang, dan itulah yang saya rasakan usai menonton season pertama Castlevania. Betul Netflix sudah memberi lampu hijau untuk season kedua dan bahkan menggandakan jumlah episode pesanan mereka menjadi delapan episode, tetapi tetap saja menonton season pertama yang jumlahnya empat episode ini terasa sangat minim dan cepat sekali selesai. Sedikit minor spoiler, setelah penampilan Dracula yang dominan di episode pertama, sang raja kegelapan bahkan tak muncul di seantero tiga episode berikutnya!

Tak peduli apakah kalian pecinta Castlevania jaman NES dan SNES yang klasik atau Castlevania yang lebih modern pasca Symphony of the Night atau bahkan tidak kenal Castlevania sama sekali, ini adalah sebuah serial animasi berkualitas tinggi yang sangat sayang untuk dilewatkan oleh penggemar medium animasi. Hanya saja perlu diingat, jangan mentang-mentang ini adaptasi game lantas anda mengajak anak atau keponakan anda yang di bawah 17 tahun menontonnya, dilarang keras!

Score: A-

Stranger Things: The Complete Season One

Kalau kalian suka dengan film-film bercitra Steven Spielberg yang rilis di tahun 1980an, kalian akan suka dengan Stranger Things. Tahu bukan film-film seperti itu? E.T., The Goonies, The Neverending Story, ya film-film yang kaya dengan nuansa fantasi dan sci-fi. Stranger Things menyentuh nilai nostalgia itu melalui serial ini dan itu adalah sesuatu yang sangat menyegarkan di tengah gempuran film-film aksi dan superhero yang kaya CGI di era modern. Terakhir menonton film yang kaya nilai nostalgia ini adalah Super 8 yang disutradarai oleh J.J. Abrams – dan itu sudah LIMA tahun bila dirunut sampai dirunut jaraknya sampai pada rilisnya Stranger Things.

Lokasi serial ini adalah Hawkins sebuah kota kecil fiktif di Indiana. Empat anak sahabat karib: Will, Dustin, Lucas, dan Mike sering bermain Dungeons and Dragons bersama-sama tanpa tahu bahwa sebuah tragedi besar tengah mengancam kota tersebut. Kota Hawkins terletak di dekat sebuah instalasi rahasia pemerintah yang tengah mengadakan sebuah riset misterius. Di awal serial ini kita melihat bahwa suatu makhluk – yang tak terlihat – muncul dan menyerang ilmuwan yang bekerja di sana. Tragis bagi Will, saat ia sedang pulang ke rumahnya setelah bermain di rumah Mike, ia pun diserang oleh makhluk yang sama – dan hilang.

Hilangnya Mike memantik panik keluarganya, ibunya Joyce dan kakaknya Jonathan. Keduanya memohon kepada Sheriff kota Hawkins, Hopper, untuk mencari Will. Sementara para orang tua melakukan pencarian, trio Mike – Dustin – Lucas juga melakukan penelitian dan pencarian dengan cara mereka sendiri. Pencarian ketiganya membawa mereka bertemu dengan seorang gadis misterius yang bernama “Eleven“. Gadis misterius ini perlahan tapi pasti masuk ke dalam grup Mike – Dustin – Lucas. Apa hubungannya Eleven dengan hilangnya sosok Will? Penelitian apa yang dilakukan oleh instansi pemerintah di tempat itu – dan apa efeknya bagi Hawkins?

Apa yang membuat Stranger Things film yang berhasil adalah karena serial yang diciptakan oleh Duffer Brothers ini tidak sekedar meniru film-film yang menjadi inspirasi mereka semata, tetapi lebih ke memberikan homage kepada film-film tersebut sekaligus membuat kisah mereka sendiri. Betul Steven Spielberg adalah pengaruh terkuat bagi serial ini tetapi ia bukan satu-satunya pengaruh. Ada nuansa film-film Stephen King dan John Carpenter yang kuat juga pada serial ini. Dentuman lagu 80s sampai soundtrack elektronik khas 80an juga dominan hadir di tiap-tiap episode sehingga atmosfir film terus terjaga.

st1

Setting, soundtrack, dan cerita yang bagus tidak akan berguna apabila aktor artis serial ini tidak bermain dengan baik – jadi selamat untuk divisi casting Stranger Things yang mampu mencari aktor-artis cilik berbakat untuk mengisi karakter di film ini. Mike, Dustin, Lucas, Will, sampai Eleven semua tergolong aktor-aktor baru yang tampil natural di layar kaca. Begitu juga untuk aktor-aktor remaja dan dewasa di serial ini. Di luar para golongan bully, kebanyakan dari mereka tampil sebagai sosok yang kompleks dan tidak membosankan. Hebatnya lagi di luar Winona Ryder semuanya tidak pernah terlibat dalam film berproyek besar. Saya terutama terkejut dengan David Harbour yang tampil badass sebagai Sheriff Hopper. Apabila Winona Ryder memiliki penampilan paling ekspresif sebagai sang ibu yang kebingungan dengan hilangnya anaknya, David Harbour adalah karakter yang memiliki banyak lapisan. Pertamanya tampil bak seorang sheriff yang tak bisa diandalkan, kita perlahan tapi pasti dibawa bersimpati dengan sosoknya yang memiliki masa lalu tragis.

Saya tidak heran (pun intended) bila Stranger Things menjadi salah satu serial paling populer tahun lalu di Amerika. Dengan gabungan nostalgia era 1980an, musik / lagu yang keren, akting yang bagus baik dari deretan aktor anak-anak maupun dewasa, sampai jalan cerita yang misterius tapi terus memancang atensi hingga selesai, season pertama dari Stranger Things begitu dicintai oleh massa!

Score: 9.5

DC’s Legends of Tomorrow Season 2, Episode 7: Invasion

Apabila The Flash dan Arrow masing-masing mempertahankan identitas mereka dalam crossover, tidak demikian halnya dengan Legends of Tomorrow.

Dalam The Flash jelas bahwa episode tersebut mendiskusikan bagaimana Flashpoint mempengaruhi semua Arrowverse. Kemudian Arrow adalah episode yang lebih mengedepankan tribut 100 episode Arrow ketimbang invasi Crossover. Walhasil titik berat penceritaan kisah Invasion akhirnya jatuh di episode terakhir: Legends of Tomorrow. Di sini para anggota Legends memutar balik waktu pergi ke tahun 1950an (sesuai dengan ciri khas mereka: melakukan time travel) untuk mempelajari kelemahan dari para Alien Dominators.

Akan tetapi setelah belakangan mengetahui alasan kedatangan Dominators adalah The Flash yang melakukan Flashpoint maka fokus cerita tak lagi pada para anggota Legends. Pun demikian saya tetap merasa senang melihat bagaimana pertarungan besar-besaran terjadi di sini. Untuk ukuran serial TV pertarungan ini bisa dibilang impresif. Ya, memang tidak semua karakter berkumpul di sini: beberapa anggota Arrow dan Flash absen, entah kenapa (mungkin kesulitan mengatur jadwal syuting?) tetapi untungnya tim inti ketiga serial (ditambah Supergirl) semuanya hadir.

It’s a blast watching them all fight together, tetapi yang lebih seru sebenarnya adalah melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Bukan rahasia bahwa dalam serial TV seperti ini, karakter-karakter dan bukannya spesial efeklah yang menjadi bintang utama. Oleh karena itu melihat Heatwave ngobrol dengan Supergirl dan memanggilnya “Skirts“, melihat Supergirl berjanji akan datang kembali apabila diperlukan oleh teman-temannya, melihat Ollie dan Barry merenungi kehidupan mereka sambil ngobrol di bar. Those little moments are what make the crossover feels truly alive.

99999

Maka selesailah crossover Invasion ini: bagaimana menurutku hasilnya? Walaupun secara keseluruhan sudah cukup baik, menurutku masih ada bagian-bagian yang bisa diperbaiki lagi. Saya suka dengan bagaimana setiap show masih mempertahankan identitas mereka masing-masing di tengah crossover tetapi itu juga membuat ancaman para Dominator terasa seperti bahaya sekunder semata. Saya berharap bahwa ke depannya nanti akan ada crossover yang lebih intim dan lebih kecil. Won’t that be epic by its own right?

BEST. TEAM-UP. EVER!

Arrow Season 5 Episode 7: Invasion

Tidak banyak serial yang bisa mencapai 100 episode. Dan berapa banyak serial yang karenanya bisa menghasilkan tiga spinoff dari kesuksesannya? Itulah yang dilakukan oleh Arrow memasuki season kelimanya.

Saya ingat ketika serial ini pertama kali diluncurkan tahun 2012 dulu saya masih skeptis dengan sosok Stephen Amell. Kenapa harus dia yang menjadi Green Arrow dan bukannya Justin Hartley yang telah memerankan karakter itu selama lima tahun lamanya di Smallville? Akan tetapi Greg Berlanti, Andrew Kreisberg, dan Marc Guggenheim tetap maju dengan keputusan mereka. Walaupun pada awalnya Arrow sempat memiliki problema, dengan cepat serial ini menemukan identitasnya dan menjadi favorit para fans pada paruh akhir season 1 dan disusul dengan season 2 yang hingga hari ini masih saya nilai sebagai salah satu season TV terbaik yang saya tonton.

Dari kesuksesan Arrow itu jugalah lahir serial-serial baru seperti The Flash, DC’s Legends of Tomorrow, sampai Supergirl. Mungkin karena fokus yang terbagi ke banyak serial ini Arrow mengalami penurunan kualitas di season ketiga dan keempatnya. Beruntung bahwa season ini mampu memutar balik kualitas Arrow menjadi apik lagi – walau belum mencapai titik seperti season 2 dulu.

Oleh karena itu episode ketujuh ini, walaupun merupakan bagian dari crossover Invasion, juga memfokuskan diri untuk merayakan 100 episode Arrow. Banyak karakter-karakter penting yang lama kembali lagi di season ini termasuk orang tua dari Oliver sampai Laurel yang sudah tewas. Beberapa lagi melakukan cameo dalam wujud CGI seperti Tommy dan Roy sebab aktor-aktor yang memerankan mereka terbentur jadwal dan tidak bisa tampil, begitu juga Manu Bennett sebagai Deathstroke (sangat disayangkan!).

kkkk

Apabila Arrow biasanya terkenal dengan flashback mereka maka episode ini bisa dibilang merupakan flashsideways (sebuah istilah yang pernah dipopulerkan Lost Season 6 dulu) yang mempertanyakan bagaimana kira-kira kisah dari Oliver dan kawan-kawan apabila Queen’s Gambit tidak pernah tenggelam. Apakah Green Arrow masih akan ada? Apakah Oliver masih akan kenal Felicity, Diggle, dan semua teman-temannya yang lain? Tentu saja semuanya itu hanya terjadi di dalam benak pikiran Oliver dan kawan-kawan yang diculik oleh para Dominator semata.

Di sisi lain teman-teman Oliver di bumi tengah mencari cara bagaimana untuk bisa menyelamatkan kawan-kawan mereka yang tertangkap. Jalan cerita di dunia nyata ini tentu saja tidak semenarik dari tribut untuk Arrow – tetapi di sisi lain juga merupakan testimoni mengenai betapa jauhnya serial ini sudah berevolusi semenjak episode pertamanya dulu.

Terlepas dari semuanya itu, satu titik yang paling menyentuh dalam episode ini terdapat dalam momen di mana Ollie meminta Laurel untuk menikahinya. Sekarang. Sekarang juga. Seakan-akan Ollie tahu bahwa kebahagiaan yang ia miliki di dunia mimpi ini adalah sebuah hal yang fana, tetapi ia masih ingin mencoba memilikinya kembali. It’s a beautiful, beautiful performance by both Stephen Amell and Katie Cassidy. Siapa sangka Laurel – salah satu karakter yang paling tidak disukai dalam Arrow dulu – ternyata setelah pergi selama setahun lamanya berubah menjadi sosok yang dikangeni penonton. I guess it’s true: Absence makes the heart grows fonder.

Overall, walaupun tidak memajukan kisah pertarungan melawan para Dominator episode Arrow ini adalah sebuah tribut yang sangat menyentuh bagi para fans yang telah mengikuti serial ini selama lima tahun lamanya. Thank you Arrow, for giving us the Arrowverse.

The Flash Season 2 Episode 8: Invasion!

Para ras Dominator telah datang menyerang bumi dan para pahlawan bumi – bahkan bumi lain – perlu bersatu untuk menghadapi mereka semua.

Ketika Barry Allen melihat sebuah meteor jatuh ke bumi, ia langsung berusaha menghentikannya – tanpa menyadari bahwa ternyata itu bukan meteor melainkan sebuah roket luar angkasa. Belum habis keterkejutan dari Barry, dari roket tersebut bermunculanlah para Alien yang lolos berlarian ke seantero kota. Menyadari bahwa ia tak bisa menghentikan mereka seorang diri, Barry mengumpulkan para teman-temannya.

Seperti dugaanku sebelumnya, dalam episode ini kita akhirnya menemukan apa pesan rahasia yang disampaikan Barry masa depan kepada duo Firestorm. Rupa-rupanya Barry mengakui bahwa dirinya telah melakukan Flashpoint yang mengubah kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ketika rahasia ini terungkap maka semua hero yang ada benar-benar marah kepada Barry yang mengubah kehidupan mereka tanpa sepengetahuan mereka. Dan karena Ollie membela Barry maka tim kemudian berangkat tanpa Ollie dan Barry.

ppp

Ini adalah hal yang sebenarnya cukup menguntungkan karena Barry dan Ollie kemudian harus menghadapi teman-teman mereka yang dicuci otaknya oleh para Alien Dominator. Menghadapi yang lain mungkin bukan masalah besar bagi Barry dan Ollie tetapi mengingat Kara turut dicuci otaknya – itu menjadi permasalahan besar. Semua orang tahu kalau seorang karakter Super dicuci otaknya, ia berubah menjadi musuh yang sangat berbahaya. Seperti di komik, Superman pun menjadi sosok yang berbahaya ketika ia dicuci otaknya oleh musuh.

Kekuatan utama dari episode ini sebenarnya bukan terletak pada pertarungan antar hero maupun efek dari para Dominator melainkan bagaimana setiap hero (yang datang dari latar yang berbeda-beda) berinteraksi satu sama lain. There’s pure joy to see Supergirl coming to the proper Arrowverse, berinteraksi dengan Ollie dan kawan-kawan, the three of them: Barry, Ollie, dan Kara bisa dibilang adalah trinitas layar kaca DC.

Akhir dari episode ini membawa kita menuju milestone dari Arrow: episode ke 100! 5 season, 100 episode, dan tiga show spinoff sejak Arrow pertama muncul di tahun 2012 lalu. How can the show celebrate such an important milestone?

Supergirl Season 2 Episode 8: Medusa

Setelah Jeremiah Danvers kembali pada episode lalu maka mid-season finale ini kedatangan Eliza Danvers yang berkunjung ke National City untuk acara Thanksgiving. Episode yang bersifat sebagai pembuka crossover Invasion sekaligus mid-season finale dari Supergirl ini tentunya bakalan super sibuk, pertanyaannya adalah apakah Medusa bisa mengatur dan membagi semua spotlight dengan rapi?

Jawabannya sederhana: tidak. Jangan khawatir. Ini bukan berarti Medusa adalah episode yang buruk; jauh dari itu. Justru dengan berfokus kepada satu topik dan itu adalah mid-season finale dari Supergirl maka episode ini menunjukkan kekuatan pada interaksi karakter-karakternya. Hampir semua karakter di episode ini mendapatkan kesempatan mereka untuk bersinar, mulai dari Kara sebagai Supergirl sampai David Harewood yang berperan sebagai dua sosok Hank Henshaw yang berbeda.

Sebenarnya satu karakter yang kurang berperan banyak di sini adalah Jimmy Olsen, tetapi mengingat dia sudah banyak memakan porsi sebagai sang Guardian di dua episode sebelumnya, saya senang-senang saja dia tak banyak berperan di episode ini. Karena itu ada lebih banyak fokus pada hubungan antara Lena Luthor dengan ibunya serta Kara dengan Mon-El. Senang rasanya melihat hubungan Mon-El dan Kara semakin serius, the two of them just got an amazing chemistry together.

Di sisi lain, hubungan Lena dengan ibunya dan Supergirl mengingatkanku pada hubungan Lex dan Clark di awal-awal serial Smallville dulu. Bedanya apabila kita sudah tahu bahwa Lex dan Clark akan berakhir menjadi musuh di penghujung kisah masa muda mereka, kita belum tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan Lena dan Supergirl. Tentunya akan tragis apabila hubungan keduanya berakhir sebagai musuh – mengingat Lena saat ini merupakan sosok yang ingin menyelamatkan dunia dan mengubah nama ‘Luthor’ menjadi simbol harapan.

sgg

Dengan berakhirnya ancaman Cadmus serta Medusa, saya jadi bertanya-tanya mengenai ancaman apa kiranya yang akan dihadapi Supergirl di paruh kedua season ini. Tentu saja masih ada sosok Cyborg Superman yang masih belum tertangkap tetapi sosoknya lebih cocok menjadi semacam musuh yang muncul sesekali ketimbang yang terus menerus muncul. Pun menarik adalah bagaimana orang-orang Krypton selain Supergirl dan Superman tak sepenuhnya ditunjukkan sebagai orang-orang suci – bahkan orang tua Supergirl sekalipun. Ini merupakan pesan moral manis yang diangkat oleh Supergirl baik melalui sosok Kara dan Lena: we are not defined by our ancestors.

Dan penghujung episode ini? Kehadiran Barry dan Cisco ke National City? It’s time for the crossover to begin!