Resident Evil: Vendetta

Ini adalah kali ketiga film Resident Evil animasi dari Jepang dibuat setelah Resident Evil: Degeneration di tahun 2008 dan Resident Evil: Damnation di tahun 2013.

Melanjutkan kesuksesan Resident Evil 6 yang memadukan karakter Chris Redfield dan Leon S. Kennedy dalam satu game, film ini pun memadukan karakter Chris dan Leon, kali ini ditambah dengan Rebecca Chambers, satu lagi sosok lawas yang sudah lama absen semenjak menjadi tokoh utama di Resident Evil 0 dulu. Jalan ceritanya bisa ditebak – sekali lagi ketiga jagoan ini harus berpacu melawan waktu untuk menghindari terjadinya potensi zombie outbreak.

Sebuah virus baru varian dari T-Virus kembali muncul dan menyerang masyarakat, menimbulkan keresahan. Virus tersebut mendapat nama A-Virus yang diciptakan oleh Glenn Arias. Kecerdasan Glenn yang sudah terbiasa bertransaksi dalam dunia kriminal bawah tanah ditambah dengan dendamnya karena pemerintah berusaha menghabisinya secara brutal di hari pernikahannya membuat sosok Glenn menjadi musuh yang tangguh.

Di sisi lain Chris, Leon, dan Rebecca sama-sama terkena serangan yang membuat mereka seakan kehilangan harapan. Tim Chris dan Leon tersapu dan mati semuanya sementara Rebecca (yang mundur dari divisi tentara menjadi ilmuwan) mengalami nasib tragis di mana semua teman ilmuwannya diinfeksi virus dan menjadi zombie. Bisakah ketiganya menyatukan kekuatan mereka dan menghentikan Glenn melepas virus ke seantero kota New York?

Saya tidak tahu mau mulai dari mana mengkritik film ini.

Capcom punya segudang karakter selain para tokoh utama dari Resident Evil pertama dan kedua. Apa gunanya memperkenalkan tokoh-tokoh seperti Billy Coen (Resident Evil 0), Carlos Oliviera (Resident Evil 3), Sheva Alomar (Resident Evil 5), dan banyak lainnya kalau setiap kali ada properti baru yang dipakai hanya para wajah lama lagi? Coba simak Resident Evil setelah dua entri pertamanya.

Resident Evil 0? Rebecca Chambers
Resident Evil 3? Jill Valentine
Resident Evil Code Veronica? Claire dan Chris Redfield
Resident Evil 4? Leon S. Kennedy
Resident Evil: Revelations? Chris Redfield dan Jill Valentine. Sekuelnya? Claire Redfield dan Barry Burton.
Resident Evil 5? Chris Redfield (lagi)
Resident Evil 6? Leon S. Kennedy

Bahkan untuk dua film animasi Resident Evil sebelum ini? Ya, keduanya bertokoh utamakan karakter-karakter lawas Resident Evil juga seperti Leon S. Kennedy, Claire Redfield, dan Ada Wong.

re

Baiklah saya bisa menolerir memakai karakter-karakter lama berulang kali apabila mereka masih memiliki jalan cerita yang bisa digali. Masalahnya… tidak. Frustasi yang dialami oleh Leon dan Chris di sini apakah berbeda dengan frustasi yang dihadapi oleh Chris di dalam Resident Evil 6 setelah mereka kehilangan tim mereka? Berapa kali kita harus melihat Chris dan Leon meratapi nasib mereka? Di Resident Evil 5 kita sudah melihat Chris meratapi kehilangan Jill. Resident Evil 6 dia meratap lagi karena kematian anggota timnya. Melihat dia dan Leon adu cerita tragis di sini bukan membuat saya terharu tapi mengantuk.

Beberapa kali juga film ini berusaha memberi homage pada game dan film Resident Evil seperti adegan mansion di awal film. Sayangnya saya sudah tidak terkesan lagi. Sekali lagi, berapa kali Resident Evil berusaha menggali nilai nostalgia itu? Resident Evil pertama sendiri sudah berulang kali diremake di berbagai sistem lantas Resident Evil 0, Resident Evil Code Veronica, Resident Evil 6, dan banyak lainnya memiliki setting di mansion ala Resident Evil yang pertama. It’s no longer original.

Oke, kita lupakan saja koneksi-koneksi cerita sebelum film ini. Kita anggap saja ini film yang stand-alone. Dan itu tidak membuat film ini jauh lebih baik. Motif dari Glenn yang awalnya lumayan tragis sebagai villain di tengah film berbalik jadi konyol – terutama setelah penonton melihat apa yang hendak ia lakukan dengan Rebecca. Karakter Rebecca tidak lebih baik, sebagai seorang yang sudah pernah selamat dari serangan zombie dalam DUA game Resident Evil dia berlaku sangat tolol dan sangat naif. Setali tiga uang dengan Leon dan Chris yang berulang kali melakukan ketololan yang tak sepatutnya dilakukan agen profesional seperti mereka.

Kualitas animasi dalam film ini tergolong lumayan bagus (untuk ukuran film berbudget rendah) kecuali di beberapa adegan tertentu seperti saat kejar-kejaran melawan zombie anjing terjadi… oh that sequence is so laughably bad and pathetic. Tidak mengherankan kalau kualitas animasi dalam serial ini jauh lebih baik dibandingkan Resident Evil: Degeneration maupun Resident Evil: Damnation mengingat teknologi animasi sudah mengalami kemajuan pesat semenjak satu dekade lalu. Mungkin itu satu-satunya titik positif dalam film ini.

Pada akhirnya seperti pertanyaan Leon yang ditujukan pada penonton: “Sampai kapan hidupku masih terus memerangi zombie seperti ini?“. Ayolah Capcom, mereka sudah bertarung melawan zombie selama 20 tahun! Bukankah sudah saatnya bagi mereka untuk pensiun?

Score: D

Advertisements

Rise of Tomb Raider

Ketika Tomb Raider direboot oleh developer Crystal Dynamics pada tahun 2013 lalu, entri ini langsung mendapatkan pujian dari berbagai kalangan karena dianggap berhasil memanusiakan sosok Lara Croft. Sebenarnya ini bukan reboot pertama untuk franchise Tomb Raider. Pada tahun 2006 dulu Tomb Raider sempat direboot dengan trilogi Tomb Raider: Legend, Anniversary, dan Underworld. Karena reboot tersebut kurang sukses, akhirnya Tomb Raider sekali lagi mendapatkan reboot dengan sosok Lara yang kini tak lagi ditampilkan sekedar sebagai ikon seksi yang dimainkan para gamer.

Setelah entri pertamanya mengubah Lara dari seorang gadis yang polos menjadi seorang survivor yang tangguh, jalan cerita apa yang akan menjadi dasar untuk sekuelnya: Rise of the Tomb Raider? Rupa-rupanya Lara ingin mengungkapkan misteri dari kehidupan yang kekal – sebuah misteri yang tak berhasil diungkap oleh sang ayah sampai ke liang lahatnya. Bertekad untuk mengembalikan kejayaan pada nama Croft – Lara memutuskan untuk berangkat mencari misteri Divine Source yang konon bisa memberikan hidup kekal bagi orang yang menemukannya. Petualangan ini membawa Lara ke seantero dunia mulai dari Syria di tengah kancah perang saudara dan berakhir di Siberia yang diliputi salju.

Dari jalan ceritanya saja ini adalah seorang Lara yang berbeda dengan gadis yang dulu terdampar di Yamatai. Dalam game pertama Lara adalah seorang gadis yang terdampar di luar keinginannya dan ‘terpaksa’ harus berjuang untuk selamat. Di sini sosok Lara lebih aktif untuk mencari petualangan itu demi memulihkan nama baik keluarganya. Lawan dari Lara kali ini adalah organisasi di balik bayangan yang bernama Trinity. Apabila organisasi ini tidak menjadi fokus seteru Lara di game pertamanya maka ia adalah wajah antagonis utama di sini melalui tokoh Konstantin yang keras tetapi masih memiliki sosok manusiawi di dalamnya.

Salah satu kritik game pertama untuk Tomb Raider adalah map-nya yang termasuk sangat linear sehingga terlalu beraroma Uncharted. Dalam Rise of Tomb Raider Crystal Dynamics memperbaiki hal tersebut dan membuat game ini terasa jauh lebih besar dan ekspansif. Bersetting kebanyakan di dataran Siberia, dalam game ini Lara bisa menemukan banyak artifak kuno yang tersembunyi, belajar bahasa-bahasa kuno, menjalankan sidequest yang diberikan NPC yang ia temui sepanjang perjalanan, sampai memutar otak untuk memecahkan puzzle dalam banyak bangunan-bangunan kuno yang tersembunyi di sepanjang game. Ya, berbeda dengan game pertamanya, Rise of Tomb Raider kali ini memiliki tomb-tomb yang sangat besar lengkap dengan puzzle yang cukup memusingkan (dan menantang) untuk diselesaikan.

rotr

Bagi kalian yang senang dengan sistem weapon upgrade yang ada dalam game sebelumnya akan puas melihat dalam game ini Crystal Dynamics memasukkan lebih banyak lagi variasi senjata bagi Lara. Selain senjata melee, Lara juga memiliki empat jenis senjata jarak jauh: pistol, senapan mesin, shotgun, serta busur dan panah. Masing-masing senjata memiliki kelebihan dan kekurangannya dan berguna melawan musuh-musuh tertentu dalam game.

Para gamer tadinya sempat jengkel bahwa Rise of Tomb Raider ‘dikudeta’ oleh Microsoft menjadi Timed Exclusive bagi konsol Xbox One. Toh para pemilik Playstation 4 tak perlu berkecil hati sebab setahun setelahnya Rise of Tomb Raider dirilis dalam versi 20th Anniversary Edition dan malahan berisi fitur-fitur tambahan termasuk di utamanya ekspansi DLC Baba Yaga: The Temple of the Witch. Secara keseluruhan bila ingin menyelesaikan mayoritas game kedua reboot Tomb Raider ini gamer akan memakan waktu 15 – 20 jam. Sementara bila kalian gamer tipe perfeksionis, jangan heran kalau kalian bisa menghabiskan lebih dari 30 jam untuk mendapatkan completion rate 100% yang sakral itu.

Setelah tamatnya seri Uncharted di seri keempatnya tahun lalu, saya sempat gamang memikirkan bagaimana saya bisa memuaskan keinginan berpetualang saya. Jawabannya tak perlu jauh-jauh: sosok yang menginspirasi kelahiran dari Nathan Drake kini juga menjadi sosok yang menerima tongkat estafet dan melanjutkan petualangan melompat dari tebing ke tebing mencari artifak misterius di tengah-tengah dunia ini. This franchise has indeed rise!

Score: B+

Guardians of the Galaxy Vol. 02

Ketika proyek Guardians of the Galaxy pertama diumumkan di tahun 2012 banyak orang terperangah mendengarnya. Ya di saat itu brand Marvel tengah mengalami sukses besar setelah The Avengers tetapi tetap saja orang bertanya-tanya, apakah betul mereka mengedepankan proyek Guardians of the Galaxy ketimbang spin-off duet Hawkeye – Black Widow atau film solo Hulk?

Pertaruhan Marvel terbayarkan lunas setelah Guardians of the Galaxy menjadi sukses besar bagi mereka di tahun 2014 dulu, meledak dengan salah satu debut superhero terbaik sepanjang masa (hanya di bawah Spider-man dan Wonder Woman). Tidak heran kalau grup ini langsung mendapatkan lampu hijau untuk sekuel di Phase 3 MCU. James Gunn dan semua cast inti film ini kembali ditambah dengan sosok Kurt Russel yang dicasting menjadi ayah dari Peter Quill.

Beberapa bulan setelah Guardians of the Galaxy pertama grup Star Lord, Gamora, Groot, Rocket, dan Drax masih berpetualang di menjaga keamanan seantero jagat raya sekaligus juga menjadi bounty hunter yang mengerjakan tugas-tugas yang mendapatkan mereka uang. Salah satu petualangan mereka kali ini membawa mereka bertemu dengan sosok Ego – The Living Planet, seorang ras Celestial yang ternyata juga ayah misterius dari Peter Quill yang tak pernah ada sejak ia kecil dulu.

Ego membawa beberapa anggota dari Guardians ke dalam planetnya di mana ia membujuk Quill untuk kembali menjadi keluarga lagi dengannya. Tentu saja ini membawa dilema baru kepada Quill. Apakah ia kini akan meninggalkan keluarga disfungsionalnya dan kembali kepada sang ayah yang seumur hidupnya tidak pernah ia kenal? Tema keluarga juga menjadi sesuatu yang kental di film ini karena Gamora harus menghadapi sang adik Nebula yang terus memburu dia sejak akhir dari film pertama lalu. Di sisi lain Rocket dan Yondu pun mencari jati diri mereka yang sesungguhnya di tengah petualangan ini.

lalala

Banyak kritikus yang mengatakan Guardians of the Galaxy Vol. 2 adalah film yang lebih lemah dari pendahulunya. Humornya lebih tidak lucu sementara chemistry tiap karakter lebih lemah dikarenakan hampir sepanjang film mereka tercerai berai dan baru bersatu kembali sebagai grup di sepertiga akhir. Saya sendiri tidak sependapat karena merasa film ini lebih superior ketimbang prekuelnya. Perlu diingat bagaimanapun juga bahwa prekuel film ini tidak saya anggap sempurna sebagaimana kebanyakan fans die-hard Marvel lainnya.

Kendati Guardians of the Galaxy Vol. 2 saya akui memiliki humor yang lebih lemah dibandingkan pendahulunya dan masalah side-villain yang kadang menganggu narasi cerita, kelemahan-kelemahan itu tertutupi dengan pertumbuhan tiap-tiap karakter di dalamnya. Oleh karena setiap karakter di film ini memiliki perjalanan mereka sendiri, itu membuat setiap mereka terasa bertumbuh dan berbeda dengan diri mereka di awal film. Kalau film pertama adalah bagaimana kelima individual berbeda ini bersatu dan membentuk sebuah hubungan keluarga, film ini adalah bagaimana kelimanya mempertahankan hubungan tersebut.

Sementara kebanyakan film superhero tahun ini memiliki klimaks yang kurang memuaskan, klimaks film ini yang menyatukan para anggota Guardians of the Galaxy kembali adalah high point dari film ini. Adalah hal yang sangat memuaskan melihat kelimanya – dengan tambahan anggota-anggota baru bersatu kembali menghadapi musuh. Sebagai bonus, penutup dari film ini adalah ending yang paling emosional dari semua film MCU yang saya tonton. Saya tantang kalian untuk tidak menitikkan air mata ketika lagu Yusuf Islam / Cat Stevens “Father and Son” dilantunkan di penghujung film.

Opini personal saya mungkin tidak disetujui semua orang tetapi bagi saya Guardians of the Galaxy Vol. 2 tidak hanya sangat memuaskan tetapi juga salah satu dari Top 5 film terbaik dalam MCU so far. Sangat – sangat direkomendasikan!

Score: A

The Fate of the Furious

Ketika proyek The Fate of the Furious (atau Fast 8) diumumkan, banyak orang yang kesal dengan Vin Diesel dan kawan-kawan. Bukankah ending dari Furious 7 saat itu sudah sangat pas? Berakhir dengan lagu “See You Again” dari Charlie Puth dan Wiz Khalifa diiringi dengan berpisahnya sahabat lama Dom serta Brian dan ditutup dengan tulisan “For Paul“. Penonton menangis (termasuk saya). Ini akhir dari franchise mobil-mobilan bukan?

Ternyata tidak. Setelah kesuksesan Furious 7 menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa, Universal dan Vin Diesel memberi lampu hijau proyek sekuel kedelapan dari Fast and Furious. Judulnya adalah The Fate of the Furious dan kali ini sang musuh adalah Charlize Theron dengan identitas Cipher yang berhasil membawa Dom to the dark side. Kenapa Dom sampai tega mengkhianati teman-teman – bisa dibilang bukan hanya teman tetapi keluarganya demi Cipher?

Berubahnya status Dom dari seorang hero menjadi penjahat adalah sesuatu yang semua orang sudah tahu karena diumbar dalam trailer film ini. Pun karena sadar bahwa film ini tidak bisa lagi menangkap momentum kematian tragis Paul Walker, mereka membangun promosi film ini dengan cara yang berbeda. Apakah kebetulan The Rock Dwayne Johnson dan Vin Diesel mendadak saja bertengkar dalam syuting film ini? Saya tidak yakin. Ingat bagaimana Dolph Lundgren dan Van Damme bertengkar saat Universal Soldier ternyata semuanya hanya merupakan stunt publisitas semata?

22211

Kembali ke film The Fate of the Furious harus diakui bahwa film yang berganti-ganti posisi sutradara sejak seri keenamnya masih memiliki aksi kinetik yang seru dari awal hingga akhir. Film ini bagi saya juga merupakan tebusan bagi Jason Statham. Kok bisa? Ingatkah kalian bahwa penampilan Jason Statham di Furious 7 banyak tertutupi oleh kematian dari Paul Walker? Saya jelas merasakan hal itu. Statham tampil sebagai seorang musuh yang beringas bagi kubu Dom tetapi secara keseluruhan ia tak memiliki banyak latar belakang. Itu ditebus dalam film ini. Di antara semua karakter pendukung adalah Jason Statham alias Deckard Shaw yang memiliki waktu tayang paling banyak.

Apabila film ketujuh menghadirkan aksi menjatuhkan mobil dari pesawat terbang maka film kedelapan lagi-lagi meningkatkan aksi tersebut dengan menghadirkan kapal selam. Di era di mana semakin banyak orang menggunakan efek CG sangat menyegarkan melihat bagaimana The Fate of the Furious masih lebih mengandalkan efek stunt ketimbang sekedar green screen semata. Aksinya semakin over-the-top dan gila-gilaan, tetapi karena kita peduli pada karakter-karakter di film ini maka menontonnya tetap saja terasa mengasyikkan.

Intinya, apakah kamu suka dengan franchise The Fast of the Furious semenjak episode kelimanya? Kalau jawabannya adalah “Ya” maka The Fate of the Furious akan memuaskan nafsu kalian melihat para orang botak kebut-kebutan di layar lebar. Apabila jawaban kalian adalah “Tidak“… well, The Fate of the Furious takkan mengubah pendapat kalian akan film ini.

Score: B+

Power Rangers

Sejarah tercipta ketika di tahun 1992 dulu seorang pengusaha bernama Haim Saban melihat serial tokusatsu Super Sentai di Jepang berjudul Zyuranger. Ia kemudian tertarik mengadaptasi serial Zyuranger tetapi mengubahnya supaya lebih cocok dengan kebudayaan Amerika. Lahirlah sosok Jason, Zack, Billy, Trini, dan Kimberly, sebagai lima remaja pemeran Mighty Morphin’ Power Rangers.

Konsep Power Rangers meledak dan menjadi sangat sukses di seluruh dunia selama beberapa tahun lamanya. Puncak popularitas itu tiba di season kedua dan ketiga di mana Power Rangers kedatangan sang ranger keenam: Ranger Hijau Tommy Oliver yang sekaligus merupakan wajah paling ikonik dalam serial ini. Saya masih ingat bahwa di puncak popularitas serial ini Power Rangers bahkan memiliki film layar lebar di tahun 1995 dengan lawan Ivan Ooze (dan saya yang masih SD menontonnya dengan semangat 45).

Sekarang flash forward hampir 20 tahun nanti dan kentara sekali Power Rangers sudah kehilangan banyak pengikutnya. Betul bahwa kebanyakan orang masih tahu lagu “Go, Go Power Rangers” dan mengenal nama Alpha ataupun Zordon, tetapi serial ini secara keseluruhan sudah dianggap lewat dari era emasnya. Haim Saban ingin mengubah anggapan itu dan bekerja sama dengan studio Lionsgate menggarap film layar lebar yang bersifat sebagai reboot bagi universe Power Rangers.

Sekali lagi lima remaja yang bermasalah: Jason, Zack, Billy, Trini, dan Kimberly secara kebetulan menemukan Power Coin yang memberi mereka kekuatan super untuk bermetamoforsis menjadi pahlawan kebenaran Power Rangers. Para Power Rangers sendiri semenjak dulu adalah pelindung galaksi yang berusaha menghentikan kejahatan. Sungguh sayang bahwa salah satu dari Power Rangers bernama Rita Repulsa kemudian haus akan kekuatan dan mengkhianati Power Rangers lainnya. Di saat harapan hampir musnah, sang Red Ranger Zordon mengorbankan dirinya untuk menghentikan Rita Repulsa.

Puluhan juta tahun kemudian sekarang Rita Repulsa akan bangkit kembali dan kelima remaja yang tak punya kesamaan background sama sekali (selain sama-sama terkucil dan outsider dari komunitas mereka) harus bekerja sama untuk menghentikan Rita. Bisakah mereka melakukannya?

Tahun 2017 adalah era yang sangat berbeda dengan era 1993 dulu. Dulu tidak ada orang yang peduli dengan political correctness. Apakah pernah sebagai anak kecil kalian berpikir karena Zack aktor kulit hitam dia menjadi ranger hitam sementara karena Trini seorang artis kulit ‘kuning’ dia menjadi ranger kuning membuat Power Rangers di jaman itu rasis? Tidak? Ya, saya juga tidak merasa begitu. Tetapi coba bayangkan kalau hal itu terjadi di jaman sekarang, bisa-bisa para SJW melakukan demo mengatakan Power Rangers reboot ini sangat rasis.

Jalan tengah pun diambil sekarang aktor Asian American Ludi Lin berperan sebagai Black Ranger sementara Becky G menjadi Yellow Ranger. Aman. Hampir sama dengan Spider-man Homecoming, film ini juga berusaha tampil dengan konsep diversitas sehingga selain Ranger Merah tidak ada Ranger yang diperankan aktor kulit putih lainnya di film ini.

Terlepas dari permasalahan castingnya, Power Rangers ini memiliki setup film yang cukup baik di sepertiga awal ketika penonton dibiarkan mengenali karakter-karakter ini sebelum mereka menemukan Power Coin mereka. Sayangnya setelah itu film ini seperti masih bertele-tele saja. Saya mulai merasa kebosanan menonton film ini ketika menonton latihan dari para remaja ini yang memakan waktu hampir setengah film. Chemistry antara kelima remaja ini tidak buruk – tetapi pada akhirnya kita merasa cukup itu cukup, we want to see some actions! Di era di mana banyak film superhero tak cukup menggali karakter superheronya, Power Rangers ironis memiliki masalah sebaliknya – ia kebanyakan waktu menggali karakter superhero dan minim aksi.

2222

Praktis aksi dalam film ini baru hadir di setengah jam terakhir dan… lagi-lagi sangat mengecewakan bagiku. Pertarungan para Power Rangers melawan bawahan-bawahan dari Rita Repulsa dalam hand-to-hand combat hanya berlangsung paling-paling lima sampai sepuluh menit dan koreografinya sangat – sangat buruk. Sepertinya Dean Israelite sebagai sutradara muda masih belum berpengalaman dalam membuat film action, coba belajar lagi! Bahkan film fanfic Youtube yang dibuat Adi Shankar di Youtube saja lebih brutal dan lebih bagus ketimbang film ini.

Setelah pertarungan singkat itu sekarang para Power Rangers memakai Zord (kendaraan dinosaurus) mereka untuk bertarung. Hasilnya? Tidak bagus-bagus amat. Untuk film dengan budget 100 Juta USD, film ini terasa kasar untuk efek CGI-nya. Melihat film ini seperti melihat versi sangat kasar dari Pacific Rim, sebuah film yang sudah berusia empat tahun dan jauh lebih banyak memakai efek CGI ketimbang film ini. Dengan kata lain, kelemahan tersebut tidak bisa dimaafkan.

Saya banyak berharap bahwa film Power Rangers ini bisa menjadi film yang memperkenalkan remaja-remaja Angel Grove ini untuk generasi baru. Tetapi sayangnya hal negatif dalam film ini jauh lebih banyak daripada hal positifnya. Secara teori film ini sudah benar dengan membawa Bryan Cranston sebagai Zordon dan Elizabeth Banks sebagai Rita Repulsa. Memakai John Gatins sebagai penulis naskah secara teori pun harusnya membuat film ini memiliki skenario yang apik. Sekali lagi apa yang secara teori sudah benar tak berarti prakteknya pun demikian. Pada akhirnya Power Rangers mungkin memang tak bisa mengikuti perkembangan jaman.

It’s DEMORPHIN’ time.

Score: C-

Kong: Skull Island

Saya tidak tahu kenapa orang tidak hype dengan Kong: Skull Island ketika diumumkan beberapa tahun yang lalu. Tebakanku adalah karena orang keburu kecewa dengan film reboot Godzilla yang minim aksi dan membosankan (saya hampir ketiduran menontonnya!). Toh saya tidak bisa tidak merasa bersemangat dengan film Kong: Skull Island ketika melihat deretan castnya.

Samuel L. Jackson, Tom Hiddleston, Brie Larson, John Goodman, John C. Reilly sampai artis Cina Jing Tian? Ini semua adalah nama-nama besar bagi para penggemar film pop culture. Bisa dibilang Warner Bros mengumpulkan para jagoan-jagoan Marvel (dengan pengecualian John Goodman) dalam film ini! Lebih menarik lagi adalah Kong: Skull Island ini dijadikan pijakan bagi Warner Bros dan Legendary Pictures untuk melakukan crossover Monster World antara Godzilla, King Kong, dan banyak properti monster raksasa yang mereka miliki.

Bersetting di tahun 1970an, film ini langsung membedakan dirinya dengan kebanyakan film-film King Kong yang bersetting di era 1930 hingga 1940an. Perang Vietnam adalah salah satu film yang kali ini sudah jarang dipakai jadi setting di layar lebar sehingga saat melihatnya di Kong: Skull Island, ia jadi terasa jauh lebih fresh di mata ketimbang Perang Dunia 2 ataupun Perang Timur Tengah yang lebih banyak mendominasi layar belakangan.

Setelah menemukan sebuah pulau misterius bernama Skull Island, grup Monarch di bawah pimpinan Bill Randa berangkat untuk melacak dan membuat map tempat tersebut. Selain meminta bantuan dari James Conrad dan Mason Weaver, grup Bill juga ditemani oleh militer Amerika di bawah pimpinan Kolonel Preston Packard. Preston adalah seorang tentara yang berbahaya. Ia merasa bahwa perang antara Amerika melawan Vietnam belum berakhir dan ia merasa sangat kecewa bahwa pemerintah Amerika memaksanya untuk pulang. Kekecewaan yang merupakan bentuk dari PTSD ini membuat Preston terus meminta anak buahnya melakukan keputusan-keputusan yang berbahaya di tengah medan perang melawan Kong.

Kong: Skull Island yang disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts langsung ingin menunjukkan bahwa ia adalah film yang berbeda dengan King Kong dari Peter Jackson dulu. Apabila Peter Jackson dulu menunggu sampai hampir satu jam sebelum menunjukkan sang gorilla raksasa di layar lebar, versi Vogt-Roberts ini langsung menampilkan Kong dalam beberapa menit awal film. Bahkan saat para kru Bill mendarat di pulau Skull Island pun Kong langsung muncul dan memporak-porandakan helikopter yang beterbangan di tempat tersebut. Image Kong yang melemparkan pohon untuk menghancurkan helikopter langsung menjadi sesuatu yang ikonik dan keren – memberi setting tone film ini adalah sebuah film yang seru, brutal, dan penuh aksi.

ddd

Walaupun bintang utama film ini tentunya sosok Kong, para pemeran manusia pun menunjukkan kapasitas akting mereka di sini. Tom Hiddleston dan Brie Larson selaku dua aktor utamanya tampil keren. Hiddleston menunjukkan bahwa ia bisa tampil maskulin (sedikit mengingatkanku pada Adrien Brody dalam film Predators) sementara Brie Larson mematahkan pakem Kong Girls yang hanya bisa menjerit-jerit sambil diselamatkan oleh Kong. Dalam film ini justru sang gadislah yang menyelamatkan Kong! John C. Reilly pun jawara sebagai scene stealer, tak hanya tampil untuk menarasikan plot dan melempar one liner yang lucu untuk membuat penonton tergelak, tapi juga memberi hati pada film ini.

Tentu saja penampilan terbaik disuguhkan oleh Samuel L. Jackson. Sulit percaya bahwa aktor yang sudah hampir 70 tahun ini masih tampil begitu tegap dan memberikan performa maksimal dalam tiap perannya. Samuel L. Jackson menunjukkan karismanya di sini sebagai sosok Kolonel yang mengalami gangguan kejiwaan tetapi masih memiliki wibawa. Ketika Preston saling bertatapan mata dengan Kong, saya sadar bahwa departemen casting telah melakukan pilihan yang tepat. Saya tak tahu siapa lagi orang yang punya karisma mendelik menantang monyet yang tingginya belasan meter tanpa takut kalau bukan Sam the motherfucker Jackson.

Singkat kata Kong: Skull Island adalah semua yang saya harapkan dari film Godzilla dan tidak saya dapatkan. Pertarungan brutal para monster, karakter manusia yang tidak sekedar menjadi tumbal semata, dan post-credit scene yang adalah bonus preview menggiurkan mengenai apa yang akan dilakukan oleh Monarch di masa depan. Mendadak saja saya jadi sangat tertarik akan crossover antara Godzilla – Kong di masa depan!

Score: B+

Castlevania – The Netflix Series

Film adaptasi dari video game belum ada yang benar-benar berhasil memukauku. Sementara film adaptasi dari buku komik sudah melahirkan mahakarya seperti The Dark Knight, film adaptasi video game yang paling bisa dibanggakan mungkin hanyalah Mortal Kombat dan Prince of Persia, dan bahkan keduanya tidak bisa dibilang film yang dipuji semua kalangan. Itu membuat saya bertanya-tanya apakah Castlevania bisa mengubah tren ini.

Castlevania sendiri sebenarnya tidak merupakan format film melainkan serial animasi yang diproduseri oleh studio streaming Netflix. Season pertama dari Castlevania terdiri dari empat episode yang panjang tiap episodenya kira-kira 25 menit. Apabila kesemuanya digabung maka serial ini kurang lebih berdurasi 100 menit – tergolong singkat. Apakah dalam waktu yang terbatas itu serial ini bisa menarik minat penonton untuk mengikutinya lebih lanjut?

Serial ini mengikuti cerita Castlevania 3: Dracula’s Revenge yang memiliki protagonis utama Trevor Belmont. Akan tetapi serial ini tidak dibuka dengan sudut pandang Trevor melainkan sudut pandang Dracula. Dengan fokus yang mendalam kepada Dracula, cintanya Lisa, dan keluarganya, kita menjadi lebih mengerti kenapa Dracula memusuhi umat manusia. Ingat, sebelum era Dracula X: Rondo of the Blood dan Castlevania: Symphony of the Night, serial Castlevania tidak benar-benar memiliki jalan cerita yang mendalam termasuk di dalamnya Castlevania 3.

Oleh sebab itu saya sangat menghargai usaha Warren Ellis selaku penulis cerita dari serial ini membangun dunia Castlevania dalam serial. Ellis sadar benar bahwa ia memiliki waktu yang terbatas untuk cerita di season pertama tetapi ia tidak terburu-buru menjejalkan terlalu banyak elemen cerita di dalam season pertama ini. Setelah episode pertama memperkenalkan Dracula dan motif kenapa ia membenci manusia, episode kedua dan selanjutnya digunakan oleh Ellis untuk memberi penonton kesempatan berkenalan dengan Trevor dan sosok lain yang ia temui dalam perjalanannya untuk menghentikan Dracula.

ffff

Kendati setting dan tone dari serial ini jelas-jelas untuk penonton dewasa, Ellis masih sanggup memasukkan banyak dark humor dalam serial ini. Beberapa adegan tolol malah sempat membuatku terbahak-bahak menontonnya. Saya pun salut dengan keberhasilan Netflix menggaet nama-nama yang lumayan terkenal untuk mengisi suara karakter-karakter di film ini. Dua yang paling terkenal: Richard Armitage dan Graham McTavish tentunya sudah dikenal oleh penonton geek dari trilogi The Hobbit. Terkenal saja tentu tidak cukup, untunglah para aktor – artis pengisi suara ini melakukan tugas mereka dengan sangat baik sehingga departemen voice acting menjadi salah satu titik positif serial ini.

Untuk kategori teknisnya sendiri, saya melihat bahwa Netflix pastinya telah memberikan budget yang cukup besar menggarap serial animasi ini. Kualitas animasinya terbilang sangat tajam dan dinamis. Bagaimanapun juga saya agak menyayangkan bahwa musik-musik dari video game klasik-nya tidak diaransemen ulang maupun dimodernisasi ke dalam serial ini sama sekali – padahal sungguh sangat potensial untuk dijadikan homage!

Orang bilang keluhan terbaik yang bisa disampaikan itu adalah keluhan bahwa sesuatu itu kurang, dan itulah yang saya rasakan usai menonton season pertama Castlevania. Betul Netflix sudah memberi lampu hijau untuk season kedua dan bahkan menggandakan jumlah episode pesanan mereka menjadi delapan episode, tetapi tetap saja menonton season pertama yang jumlahnya empat episode ini terasa sangat minim dan cepat sekali selesai. Sedikit minor spoiler, setelah penampilan Dracula yang dominan di episode pertama, sang raja kegelapan bahkan tak muncul di seantero tiga episode berikutnya!

Tak peduli apakah kalian pecinta Castlevania jaman NES dan SNES yang klasik atau Castlevania yang lebih modern pasca Symphony of the Night atau bahkan tidak kenal Castlevania sama sekali, ini adalah sebuah serial animasi berkualitas tinggi yang sangat sayang untuk dilewatkan oleh penggemar medium animasi. Hanya saja perlu diingat, jangan mentang-mentang ini adaptasi game lantas anda mengajak anak atau keponakan anda yang di bawah 17 tahun menontonnya, dilarang keras!

Score: A-