Supergirl Season 2 Episode 6: Changing

Setelah saya selesai menonton episode ini, saya sontak mengatakan. “Wow, now this is how to make a great superhero episode!“. Ini merupakan salah satu episode terbaik dari Supergirl, dengan satu pengecualian. So let’s dive in the review.

Pertama: villain dari episode ini adalah Parasite, salah seorang musuh klasik Superman yang untungnya diijinkan DC dipakai dalam serial Supergirl ini. Kehadiran dari Parasite tidak mengecewakan. Tak hanya ia memiliki efek CG yang lumayan bagus, perubahan dirinya dari manusia menjadi monster dilakukan dengan sangat bagus dalam episode ini. Supergirl jarang memiliki musuh yang kompeten dan Parasite langsung hadir menjadi salah satu musuh yang memorable… karena ia sanggup menghajar dan mengalahkan Supergirl dan Martian Manhunter dalam duel 2 lawan 1! Pretty epic, right?

Di samping mengatasi Parasite ini juga menjadi episode di mana Alex mengakui jati dirinya (sebagai seorang gay) kepada Kara. Dan hal ini ditangani dengan sangat baik di sini. Kara adalah gadis yang luar biasa dan bahkan belum mendengar jawabannya pun saya tahu bahwa Kara akan bisa menerima Alex, tak peduli apa orientasi seksual dari sang kakak. Akan tetapi yang membuat sekuens ini menyentuh adalah bagaimana keduanya mengadakan pembicaraan yang cukup mendalam, hati ke hati, mengenai penerimaan ini. Kara bisa menerima kakaknya, itu betul, tapi bukan berarti penerimaan itu datang tanpa keterkejutan. Great performance from both Melissa Benoist dan Chyler Leigh.

Bicara soal Chyler Leigh, highlight dalam episode ini datang di penghujung episode di mana Alex ditolak oleh Maggie dan pulang. Momen di mana ia menangis sambil mengatakan ia merasa sangat malu, sembari dipeluk Kara? Itu adalah momen yang sangat – sangat relatable, tak peduli apa orientasi seksualmu, ditolak saat menyatakan cinta adalah sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan. Chyler Leigh broke my heart with her performance here.

Satu karakter lagi yang mencuri perhatianku di sini tentu saja adalah sosok Mon-El. Penampilan Chris Wood di sini sangat endearing, ditambah dengan chemistrynya dengan Melissa Benoist dibangun dengan pelan dan pasti, membuat kita peduli akan keduanya – tidak seperti hubungan romantis James dan Kara di season satu lalu yang sama sekali tidak memiliki chemistry.

Bicara soal James, satu-satunya titik lemah di episode ini adalah dirinya yang berubah menjadi Guardian. Saya tidak pernah suka dengan motivasi James menjadi Guardian karena terasa terlalu lemah dan mendadak. Saya sebenarnya berharap evolusi James menjadi Guardian dilakukan dengan lebih pelan dan ia mengalami banyak kesulitan terlebih dahulu – bukannya tahu-tahu bisa berhadapan satu lawan satu dengan Parasite dan mengimbanginya. Uhhh, what? Saya rasa Curtis dari Arrow pasti iri dengan kemampuan James Olsen yang mendadak jadi jagoan.

55555

Pada akhirnya episode ini adalah salah satu episode terbaik dalam Supergirl karena sekuens aksi yang seru, villain yang di atas standar, dan hubungan persaudaraan Kara dan Alex yang selalu menyentuh. Season 2 is really a great improvement over the previous one!

Advertisements

Supergirl Season 2 Episode 1: The Adventures of Supergirl Review

Saya suka dengan karakter Supergirl – tetapi tidak dengan serial TVnya. Semenjak Melissa Benoist pertama dicasting menjadi Supergirl saya percaya bahwa DC telah menemukan sosok yang tepat untuk memerankan sang Girl of Steel di layar kaca. Sayangnya, menemukan pemeran utama yang cocok tidak lantas membuat serial ini otomatis sukses. Rating yang menurun kemudian mendorong serial ini keluar dari saluran CBS ke The CW. Banyak penonton (termasuk saya) bertanya-tanya bagaimana kiranya dampak dari perpindahan ini?

Satu pembeda besar dalam pembukaan season kedua dari Supergirl adalah kehadiran sang sepupu: Superman. Selama season pertama Superman adalah sosok yang kerap disebut tetapi tidak pernah muncul secara langsung. That’s weird. Dalam proses syuting season 2, serial ini menemukan Tyler Hoechin sebagai sosok Clark Kent / Superman. Tidak bisa dipungkiri kehadiran sosok Superman yang lebih populer menjadi alasan besar untuk menonton serial ini.

Apabila ditanya bagaimana pendapat saya mengenai sosok Superman di layar kaca: jawabannya adalah saya sangat menyukainya. Tyler Hoechin membawa sosok Superman yang optimistis dan inspiratif, dua hal yang absen dari Superman-nya Henry Cavill di layar lebar. Bukan rahasia bahwa DCEU belum bisa menarik hati saya. Pun saya suka bagaimana chemistry dari Hoechin dan Benoist langsung kena satu sama lain.

Sebagai premiere dari season kedua, Supergirl melakukan banyak perubahan sana-sini. Hampir semua casting utama dalam serial ini tetap ada dengan penambahan beberapa karakter baru, selain Tyler Hoechin sebagai Superman adalah Katie McGrath yang hadir sebagai Lena Luthor, adik dari Lex Luthor – musuh utama dari Superman. Di luar dirinya masih ada organisasi misterius Cadmus yang kini mulai menunjukkan jati dirinya sebagai the big bad pada season ini.

Hey, Cat Grant masih di sini!
Hey, Cat Grant masih di sini!

Pemindahan dari CBS ke The CW tentu membuat banyak orang bertanya bagaimana dengan budget dari serial ini. Mengingat The CW adalah stasiun TV yang lebih kecil pastinya serial ini mendapatkan banyak potongan dalam budgetnya. Anehnya hasil itu tak benar-benar terlihat di hasil jadinya, malahan ada kesan bahwa spesial efek yang dipakai dalam serial ini tampak lebih efektif dalam penggunaannya. Hei, ini memang tim sama yang menggarap efek spesial dalam The Flash, Arrow, dan Legends of Tomorrow – dan selama ini hasilnya memang tak mengecewakan.

Awal dari season kedua Supergirl ini adalah episode yang sangat solid dan menjanjikan awal yang mengasyikkan. Saya hanya bisa berharap konsistensi kualitas ini bisa tetap terjaga sampai sepanjang musim.