Arrow Season 5 Episode 7: Invasion

Tidak banyak serial yang bisa mencapai 100 episode. Dan berapa banyak serial yang karenanya bisa menghasilkan tiga spinoff dari kesuksesannya? Itulah yang dilakukan oleh Arrow memasuki season kelimanya.

Saya ingat ketika serial ini pertama kali diluncurkan tahun 2012 dulu saya masih skeptis dengan sosok Stephen Amell. Kenapa harus dia yang menjadi Green Arrow dan bukannya Justin Hartley yang telah memerankan karakter itu selama lima tahun lamanya di Smallville? Akan tetapi Greg Berlanti, Andrew Kreisberg, dan Marc Guggenheim tetap maju dengan keputusan mereka. Walaupun pada awalnya Arrow sempat memiliki problema, dengan cepat serial ini menemukan identitasnya dan menjadi favorit para fans pada paruh akhir season 1 dan disusul dengan season 2 yang hingga hari ini masih saya nilai sebagai salah satu season TV terbaik yang saya tonton.

Dari kesuksesan Arrow itu jugalah lahir serial-serial baru seperti The Flash, DC’s Legends of Tomorrow, sampai Supergirl. Mungkin karena fokus yang terbagi ke banyak serial ini Arrow mengalami penurunan kualitas di season ketiga dan keempatnya. Beruntung bahwa season ini mampu memutar balik kualitas Arrow menjadi apik lagi – walau belum mencapai titik seperti season 2 dulu.

Oleh karena itu episode ketujuh ini, walaupun merupakan bagian dari crossover Invasion, juga memfokuskan diri untuk merayakan 100 episode Arrow. Banyak karakter-karakter penting yang lama kembali lagi di season ini termasuk orang tua dari Oliver sampai Laurel yang sudah tewas. Beberapa lagi melakukan cameo dalam wujud CGI seperti Tommy dan Roy sebab aktor-aktor yang memerankan mereka terbentur jadwal dan tidak bisa tampil, begitu juga Manu Bennett sebagai Deathstroke (sangat disayangkan!).

kkkk

Apabila Arrow biasanya terkenal dengan flashback mereka maka episode ini bisa dibilang merupakan flashsideways (sebuah istilah yang pernah dipopulerkan Lost Season 6 dulu) yang mempertanyakan bagaimana kira-kira kisah dari Oliver dan kawan-kawan apabila Queen’s Gambit tidak pernah tenggelam. Apakah Green Arrow masih akan ada? Apakah Oliver masih akan kenal Felicity, Diggle, dan semua teman-temannya yang lain? Tentu saja semuanya itu hanya terjadi di dalam benak pikiran Oliver dan kawan-kawan yang diculik oleh para Dominator semata.

Di sisi lain teman-teman Oliver di bumi tengah mencari cara bagaimana untuk bisa menyelamatkan kawan-kawan mereka yang tertangkap. Jalan cerita di dunia nyata ini tentu saja tidak semenarik dari tribut untuk Arrow – tetapi di sisi lain juga merupakan testimoni mengenai betapa jauhnya serial ini sudah berevolusi semenjak episode pertamanya dulu.

Terlepas dari semuanya itu, satu titik yang paling menyentuh dalam episode ini terdapat dalam momen di mana Ollie meminta Laurel untuk menikahinya. Sekarang. Sekarang juga. Seakan-akan Ollie tahu bahwa kebahagiaan yang ia miliki di dunia mimpi ini adalah sebuah hal yang fana, tetapi ia masih ingin mencoba memilikinya kembali. It’s a beautiful, beautiful performance by both Stephen Amell and Katie Cassidy. Siapa sangka Laurel – salah satu karakter yang paling tidak disukai dalam Arrow dulu – ternyata setelah pergi selama setahun lamanya berubah menjadi sosok yang dikangeni penonton. I guess it’s true: Absence makes the heart grows fonder.

Overall, walaupun tidak memajukan kisah pertarungan melawan para Dominator episode Arrow ini adalah sebuah tribut yang sangat menyentuh bagi para fans yang telah mengikuti serial ini selama lima tahun lamanya. Thank you Arrow, for giving us the Arrowverse.

Advertisements

DC’s Legend of Tomorrow Season 2 Episode 5: Compromised

Era mana lagi yang kali ini dijelajahi oleh para time travelers favorit DC? Jawabannya: era 1980an. Dan hey, siapa yang tidak cinta dengan the 80s? They have the best movies, the best series, the best musics, dan… Ronald Reagan. Iya, Ronald Reagan yang adalah mantan aktor dan juga merupakan salah satu Presiden paling populer dan dicintai di Amerika Serikat.

Tentu saja ini juga merupakan era yang ingin dikacaukan oleh Damien Dahrk. Setelah dia gagal di Perang Dunia, Damien Dahrk kini mengalihkan fokus dengan Perang Dingin. Akan tetapi tujuan Dahrk yang mengumpulkan relik-relik kuno dari pelbagai penjuru dunia masih merupakan misteri, apa kiranya tujuan dari Dahrk dan Thawne?

Walaupun jawabannya belum jelas, para karakter Legends sekali lagi mendapatkan kesempatan mereka untuk memajukan jalan cerita masing-masing. Hubungan antara Mick dan Ray dan hubungan antara Amaya dan Nate mendapatkan fokus dalam episode ini. Setelah di akhir episode lalu Mick menjanjikan partnership dengan Ray, bisa ditebak bahwa hubungan keduanya tidak demikian cepat bisa langgeng. Ada sebuah momen mengharukan di tengah episode saat Mick menyatakan bahwa dirinya memang masih merindukan Leonard. Awww, Mick… all the feels, man.

Saya juga suka dengan hubungan Nate dan Amaya yang diposisikan sebagai sahabat – walaupun ini serial di The CW jadi ada kemungkinan keduanya bakalan dijodohkan. Pun begitu highlight dalam episode ini terjadi ketika Amaya menceritakan kepada Nate mengenai hubungan partnership di JSA, termasuk heroisme kakek Nate, kepada Nate. Episode 2 yang berfokus pada JSA adalah highlight di season ini dan saya berharap bahwa mereka (walau mungkin tidak dalam bentuk grup) masih akan terus berperan di episode-episode mendatang.

adfsf

Selain dua duet itu Sara dan Martin pun mendapatkan jalan cerita mereka masing-masing. Sara yang masih dihantui kebencian kepada Dahrk karena kematian Laurel berusaha memburu Dahrk sekali lagi – walaupun kali ini sepertinya isu tersebut sudah bakalan ditutup. Monolog Sara yang menantang Dahrk sangat memuaskan karena Dahrk – yang biasa selalu bisa menantang balik – kehabisan kata-kata menjawabnya. Sekali lagi Sara menunjukkan kenapa dia adalah karakter paling badass di serial ini dan kenapa dialah yang paling layak menyandang titel Kapten di kapal tersebut.

Episode ini pun kedatangan guest role Martin muda yang diperankan oleh Graeme McComb. Seperti biasa mempertemukan Martin tua dan Martin muda berawal dengan nuansa komedik tetapi berakhir dengan sesuatu yang heartwarming. Kalau kalian ingin sosok yang bisa memberikan nasehat seakan ia sudah menjalani asam garam kehidupan, you really can’t go wrong with Victor Garber.

And bicara soal sosok sepuh, well there’s Lance Henriksen di episode ini sebagai Obsidian tua! Walaupun tak banyak berperan, saya tetap sangat senang dengan keberadaan Henriksen di sini (Alien fans here!). Semoga saja para penulis serial ini masih bisa mencari cara untuk membawa Henriksen kembali pada serial ini… entah bagaimana caranya. Menarik bukan bagaimana Sigourney Weaver terlibat dalam The Defenders lantas Lance Henriksen pun masuk dalam dunia DC? Halo Michael Biehn? Kamu di mana?

Arrow Season 5 Episode 2: The Recruits

Wow. Dua episode di season 5 dan Arrow masih mempertahankan kualitas yang apik! Ini adalah kemajuan berarti bagi serial yang selama dua season terakhir sulit menjaga stabilitas kualitasnya. Dalam episode ini Oliver akhirnya setuju untuk mulai mengajari para anak-anak baru bergabung dalam pertempurannya menjaga keamanan Star City.

Bagi para pembaca komik mungkin akan menyadari kesamaan dari versi Green Arrow ini dengan Batman. Keduanya sama-sama memulai pertarungan mereka menyelamatkan kota mereka seorang diri tetapi di saat yang bersamaan perjalanan mereka membawa mereka pada keluarga yang lebih besar. Sebagaimana Batman membawa Robin, Batgirl, Batwing, dan banyak anggota-anggota baru keluarga kelelawar, seperti itu juga Oliver menginspirasi banyak vigilante lain membela Star City seperti dirinya.

s2111
Supporting Ollie in different ways

Tentu saja membentuk tim Arrow yang baru tidak mudah baik bagi Oliver maupun bagi para member baru. Perlu diingat bahwa orang-orang ini tidak seperti Thea atau Laurel yang sudah mengenal Oliver sebelum tahu dia adalah Green Arrow. Terjadi pertentangan filosofi maupun cara melawan kejahatan di kota Star City menjadi masalah antaranya. Akan tetapi untunglah episode ini masih menemukan cara untuk menjadi lucu – sesuatu yang hilang dari serial Arrow yang cukup dark di dua season sebelumnya.

Lebih penting lagi bagi Arrow adalah kualitas martial fight yang bagus. Season lalu bermasalah karena kekuatan mistis dari Damien Dahrk menyulitkan banyaknya pertarungan tangan kosong yang adalah bagian integral dari serial ini. Hilangnya sosok macam Dahrk membuat serial ini memiliki banyak setpiece aksi seru kembali. Bagus. Inilah yang membedakan Arrow dibandingkan tiga serial ‘saudara’nya (I’m including Supergirl here) yang lebih mengandalkan CG.

Prometheus selaku sosok yang digadang-gadang menjadi big bad dalam season ini belum terlalu banyak menunjukkan wajahnya dan itu adalah hal yang baik. Saya pribadi merasa bahwa seorang villain besar yang baik tak perlu terlalu sering tampil. Ia cukup tampil sesekali supaya wibawanya sebagai seorang musuh tetap terjaga. Semoga saja kali ini lawan Ollie lebih baik dibandingkan Ras Al Ghul maupun Damien Dahrk. Apakah terlalu berlebihan untuk mengharapkan lawan sememorable Deathstroke ataupun Reverse-Flash?