DC’s Legends of Tomorrow Season 2, Episode 7: Invasion

Apabila The Flash dan Arrow masing-masing mempertahankan identitas mereka dalam crossover, tidak demikian halnya dengan Legends of Tomorrow.

Dalam The Flash jelas bahwa episode tersebut mendiskusikan bagaimana Flashpoint mempengaruhi semua Arrowverse. Kemudian Arrow adalah episode yang lebih mengedepankan tribut 100 episode Arrow ketimbang invasi Crossover. Walhasil titik berat penceritaan kisah Invasion akhirnya jatuh di episode terakhir: Legends of Tomorrow. Di sini para anggota Legends memutar balik waktu pergi ke tahun 1950an (sesuai dengan ciri khas mereka: melakukan time travel) untuk mempelajari kelemahan dari para Alien Dominators.

Akan tetapi setelah belakangan mengetahui alasan kedatangan Dominators adalah The Flash yang melakukan Flashpoint maka fokus cerita tak lagi pada para anggota Legends. Pun demikian saya tetap merasa senang melihat bagaimana pertarungan besar-besaran terjadi di sini. Untuk ukuran serial TV pertarungan ini bisa dibilang impresif. Ya, memang tidak semua karakter berkumpul di sini: beberapa anggota Arrow dan Flash absen, entah kenapa (mungkin kesulitan mengatur jadwal syuting?) tetapi untungnya tim inti ketiga serial (ditambah Supergirl) semuanya hadir.

It’s a blast watching them all fight together, tetapi yang lebih seru sebenarnya adalah melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Bukan rahasia bahwa dalam serial TV seperti ini, karakter-karakter dan bukannya spesial efeklah yang menjadi bintang utama. Oleh karena itu melihat Heatwave ngobrol dengan Supergirl dan memanggilnya “Skirts“, melihat Supergirl berjanji akan datang kembali apabila diperlukan oleh teman-temannya, melihat Ollie dan Barry merenungi kehidupan mereka sambil ngobrol di bar. Those little moments are what make the crossover feels truly alive.

99999

Maka selesailah crossover Invasion ini: bagaimana menurutku hasilnya? Walaupun secara keseluruhan sudah cukup baik, menurutku masih ada bagian-bagian yang bisa diperbaiki lagi. Saya suka dengan bagaimana setiap show masih mempertahankan identitas mereka masing-masing di tengah crossover tetapi itu juga membuat ancaman para Dominator terasa seperti bahaya sekunder semata. Saya berharap bahwa ke depannya nanti akan ada crossover yang lebih intim dan lebih kecil. Won’t that be epic by its own right?

BEST. TEAM-UP. EVER!

Advertisements

The Legends of Tomorrow Season 2, Episode 6: Outlaw Country

Kualitas dari The Legends of Tomorrow season satu bak roller coaster dengan beberapa episode yang bagus dan beberapa lagi yang buruk. Salah satu episode yang dianggap highlight di season tersebut adalah The Magnificent Eight karena tak hanya membawa para Legends ke era para koboi tetapi karena episode ini juga memperkenalkan karakter Jonah Hex ke layar kaca (setelah versi layar lebarnya yang diperankan oleh Josh Brolin gagal total).

Jadi ketika di season kedua ini para Legends memutuskan untuk kembali lagi ke era para koboi, tentu saja daya tarik settingnya tak seperti ketika pertama kali dulu. Toh melihat Jonah Hex berinteraksi dengan grup Legends tanpa pimpinan Rip adalah hiburan tersendiri. Sayangnya saya sedikit bosan juga melihat karakter Sara lagi-lagi diragukan kualitas kepemimpinannya. Ya saya tahu bahwa di era tersebut memang wanita masih sering dianggap sekedar hooker / bartender, tetapi hampir di tiap episode tema ini diulang-ulang.

Outlaw Country
DC’s Legends of Tomorrow –“Outlaw Country”– Image LGN206a_0324.jpg — Pictured: Caity Lotz as Sara Lance/White Canary — Photo: Dean Buscher/The CW — © 2016 The CW Network, LLC. All Rights Reserved.

Setelah pairing dari karakter Ray dan Mick, Amaya dan Nate di beberapa episode sebelumnya, maka di episode ini Legends memutar dinamika ini dengan menyatukan Ray dan Nate serta Mick dan Amaya. Shake-up ini cukup menarik karena mempertemukan dua karakter yang berbeda dan menggali kisah yang berbeda juga. Praktis satu-satunya karakter yang sedikit tersisihkan di episode ini hanyalah sang Professor Stein yang sepertinya mengalami sakit kepala karena… efek Flashpoint?

Saya tahu bahwa episode ini terasa seperti mengurangi efek spesial (tanpa perlu Atom, tanpa perlu Firestorm) tetapi saya tidak bisa menyalahkan para penulis. Setting Wild West bukan setting yang murah untuk dibangun dan saya yakin budget untuk Arrowverse banyak termakan untuk crossover yang akan dimulai minggu depan. Apabila melihat cuplikan-cuplikan yang ada, sepertinya semua anggota tim Legends akan mengeluarkan kemampuan mereka.

Crossover ini juga membawa pertanyaan yang menarik: selama ini kita sudah tahu apa efek crossover Flashpoint ke Arrow tetapi kita belum tahu apa efeknya pada anggota Legends. Ditambah dengan dijadikannya Reverse-Flash sebagai salah satu antagonis utama season ini dan pesan rahasia Barry masa depan yang masih dirahasiakan dari anggota Legends yang lain, saya rasa tidak mungkin hal ini tidak dibahas dalam episode crossover mendatang. Flash, you got a lot of explaining to do!

DC’s Legend of Tomorrow Season 2 Episode 4: Abomination

Perang Saudara Amerika yang berisi zombie! Wow. Apa ya yang ada di benak para penulis Legend of Tomorrow sampai bisa menggagas ide seperti ini? Saya pikir antara dua: mungkin mereka sering membaca Abraham Lincoln: Vampire Hunter atau membaca Marvel Civil War dan Marvel Zombies adalah dua komik Marvel yang paling laris lantas memutuskan melakukan mash-up antara keduanya.

Anyway ini adalah sebuah episode lagi di mana para anggota Legends berkelana tanpa juntrungan. Sebuah pesan SOS membawa mereka ke abad 18 ketika Amerika tengah dipenuhi dengan Perang Saudara. Perang Saudara antara dua pasukan Amerika ini mendadak berubah total dari sejarah disebabkan karena unsur X: unsur Zombie. Para Undead yang muncul ini membuat anggota Legend harus turun tangan untuk menghentikan mereka.

Sekali lagi episode ini menemukan cara yang cerdas untuk membagi tim Legend supaya masing-masing mendapatkan jalan cerita mereka sendiri-sendiri. Ray dan Martin tinggal di kapal untuk menolong Mick yang ikut terjangkit penyakit virus zombie. Sara dan Nate terjun langsung ke lapangan untuk membantu para tentara Amerika yang masih manusia bertahan hidup menghadapi para tentara Undead. Dan terakhir sekaligus kisah yang paling menarik adalah Jefferson serta Amaya yang harus menyusup sebagai ‘budak negro’.

sddddd

Untuk sebuah tontonan film superhero, saya salut dengan keberanian penulis naskah film ini mengangkat topik perbudakan secara terang-terangan. Ini bukan film 12 Years a Slave yang pangsa pasarnya adalah orang dewasa – oleh karena itu saya menghargai keberanian mereka menampilkan unsur rasisme di masa lalu. Saya juga suka pelajaran moral yang dipetik oleh Jefferson di akhir episode ini: mengenai spirit manusia yang tidak pernah hancur walau mendapatkan tekanan apapun selama mereka tidak membiarkannya hancur.

Terlepas dari itu episode ini menyuguhkan tontonan pelepas waktu yang menarik. Makeup Zombie di sini tentu tidak sampai sekaliber The Walking Dead tapi tetap cukup mengerikan dan seru ditonton. Pun dengan rusaknya armor Atom Ray Palmer dan terpisahnya duet Jefferson dan Martin tim Legend terbilang tidak super kuat sampai bisa menangani dan menghancurkan para Zombie sendirian saja.

Setelah dua episode memberi detour para Legends ke era yang berbeda-beda saya penasaran apakah episode berikutnya akan mulai memasukkan konflik sentral di season ini? Dan peringatan Barry Allen mengenai perang besar yang akan terjadi… apakah itu perang besar dalam crossover empat serial Arrowverse nanti atau suatu perang besar lain yang harus dihadapi oleh para Legend di penghujung season kedua? Are we talking the Rann-Thanagar War here?