The Flash Season 2 Episode 8: Invasion!

Para ras Dominator telah datang menyerang bumi dan para pahlawan bumi – bahkan bumi lain – perlu bersatu untuk menghadapi mereka semua.

Ketika Barry Allen melihat sebuah meteor jatuh ke bumi, ia langsung berusaha menghentikannya – tanpa menyadari bahwa ternyata itu bukan meteor melainkan sebuah roket luar angkasa. Belum habis keterkejutan dari Barry, dari roket tersebut bermunculanlah para Alien yang lolos berlarian ke seantero kota. Menyadari bahwa ia tak bisa menghentikan mereka seorang diri, Barry mengumpulkan para teman-temannya.

Seperti dugaanku sebelumnya, dalam episode ini kita akhirnya menemukan apa pesan rahasia yang disampaikan Barry masa depan kepada duo Firestorm. Rupa-rupanya Barry mengakui bahwa dirinya telah melakukan Flashpoint yang mengubah kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ketika rahasia ini terungkap maka semua hero yang ada benar-benar marah kepada Barry yang mengubah kehidupan mereka tanpa sepengetahuan mereka. Dan karena Ollie membela Barry maka tim kemudian berangkat tanpa Ollie dan Barry.

ppp

Ini adalah hal yang sebenarnya cukup menguntungkan karena Barry dan Ollie kemudian harus menghadapi teman-teman mereka yang dicuci otaknya oleh para Alien Dominator. Menghadapi yang lain mungkin bukan masalah besar bagi Barry dan Ollie tetapi mengingat Kara turut dicuci otaknya – itu menjadi permasalahan besar. Semua orang tahu kalau seorang karakter Super dicuci otaknya, ia berubah menjadi musuh yang sangat berbahaya. Seperti di komik, Superman pun menjadi sosok yang berbahaya ketika ia dicuci otaknya oleh musuh.

Kekuatan utama dari episode ini sebenarnya bukan terletak pada pertarungan antar hero maupun efek dari para Dominator melainkan bagaimana setiap hero (yang datang dari latar yang berbeda-beda) berinteraksi satu sama lain. There’s pure joy to see Supergirl coming to the proper Arrowverse, berinteraksi dengan Ollie dan kawan-kawan, the three of them: Barry, Ollie, dan Kara bisa dibilang adalah trinitas layar kaca DC.

Akhir dari episode ini membawa kita menuju milestone dari Arrow: episode ke 100! 5 season, 100 episode, dan tiga show spinoff sejak Arrow pertama muncul di tahun 2012 lalu. How can the show celebrate such an important milestone?

Supergirl Season 2 Episode 8: Medusa

Setelah Jeremiah Danvers kembali pada episode lalu maka mid-season finale ini kedatangan Eliza Danvers yang berkunjung ke National City untuk acara Thanksgiving. Episode yang bersifat sebagai pembuka crossover Invasion sekaligus mid-season finale dari Supergirl ini tentunya bakalan super sibuk, pertanyaannya adalah apakah Medusa bisa mengatur dan membagi semua spotlight dengan rapi?

Jawabannya sederhana: tidak. Jangan khawatir. Ini bukan berarti Medusa adalah episode yang buruk; jauh dari itu. Justru dengan berfokus kepada satu topik dan itu adalah mid-season finale dari Supergirl maka episode ini menunjukkan kekuatan pada interaksi karakter-karakternya. Hampir semua karakter di episode ini mendapatkan kesempatan mereka untuk bersinar, mulai dari Kara sebagai Supergirl sampai David Harewood yang berperan sebagai dua sosok Hank Henshaw yang berbeda.

Sebenarnya satu karakter yang kurang berperan banyak di sini adalah Jimmy Olsen, tetapi mengingat dia sudah banyak memakan porsi sebagai sang Guardian di dua episode sebelumnya, saya senang-senang saja dia tak banyak berperan di episode ini. Karena itu ada lebih banyak fokus pada hubungan antara Lena Luthor dengan ibunya serta Kara dengan Mon-El. Senang rasanya melihat hubungan Mon-El dan Kara semakin serius, the two of them just got an amazing chemistry together.

Di sisi lain, hubungan Lena dengan ibunya dan Supergirl mengingatkanku pada hubungan Lex dan Clark di awal-awal serial Smallville dulu. Bedanya apabila kita sudah tahu bahwa Lex dan Clark akan berakhir menjadi musuh di penghujung kisah masa muda mereka, kita belum tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan Lena dan Supergirl. Tentunya akan tragis apabila hubungan keduanya berakhir sebagai musuh – mengingat Lena saat ini merupakan sosok yang ingin menyelamatkan dunia dan mengubah nama ‘Luthor’ menjadi simbol harapan.

sgg

Dengan berakhirnya ancaman Cadmus serta Medusa, saya jadi bertanya-tanya mengenai ancaman apa kiranya yang akan dihadapi Supergirl di paruh kedua season ini. Tentu saja masih ada sosok Cyborg Superman yang masih belum tertangkap tetapi sosoknya lebih cocok menjadi semacam musuh yang muncul sesekali ketimbang yang terus menerus muncul. Pun menarik adalah bagaimana orang-orang Krypton selain Supergirl dan Superman tak sepenuhnya ditunjukkan sebagai orang-orang suci – bahkan orang tua Supergirl sekalipun. Ini merupakan pesan moral manis yang diangkat oleh Supergirl baik melalui sosok Kara dan Lena: we are not defined by our ancestors.

Dan penghujung episode ini? Kehadiran Barry dan Cisco ke National City? It’s time for the crossover to begin!

Supergirl Season 2 Episode 7: The Darkest Place

Setelah episode lalu: Changing, begitu meyakinkan, saya bertanya-tanya apa kiranya yang bisa dilakukan oleh para penulis Supergirl untuk makin meningkatkan kualitas serial ini? Jawabannya: another awesome episode yang menghadirkan dua karakter lama!

Ingatkah kalian dengan sosok Hank Henshaw dan Jeremiah Danvers yang sudah lama tak terdengar kabarnya (semenjak season pertama lalu)? Dalam episode ini keduanya kembali. Yes, Dean Cain is back.

Dalam episode ini pertarungan antara DEO dengan Cadmus mencapai puncaknya. Ketika Cadmus menggunakan Mon-El yang mereka culik di akhir episode lalu untuk menjebak Kara datang ke markas mereka, sang girl of steel tiba hanya untuk menyadari bahwa tempat tersebut hanyalah jebakan di mana Hank Henshaw yang asli menunggu. Rupa-rupanya Hank Henshaw selama ini telah bekerja sama dengan Cadmus dikarenakan keduanya sama-sama membenci alien. Lebih gilanya lagi Henshaw kini telah dibedah menjadi semacam Terminator yang cukup kuat menghadapi pukulan maupun Heat Vision Kara. Bahkan bisa dibilang Kara dapat ditaklukkan dengan cepat olehnya! Para penggemar komik mungkin sudah bisa menebak bahwa Hank Henshaw di sini tidak lain tidak bukan sudah menjadi Cyborg Superman.

yeaaa

Oke, di sini memang merupakan sedikit masalah dengan power set level para karakternya. Saya selalu merasa bahwa baik Superman maupun Supergirl di dalam serial ini tidak sekuat padanan mereka di layar lebar. Pun begitu saya tak ingin terlalu banyak berkeluh karena kalau Supergirl terlalu kuat di sini nantinya tidak akan ada lawan yang seimbang baginya.

Lilian Luthor dalam episode ini memperkenalkan identitasnya sebagai kepala dari Cadmus dan untuk pertama kalinya menunjukkan kemampuannya sebagai villain yang layak ditakuti oleh Kara. Tanpa banyak bicara ia mampu ‘memaksa’ Kara untuk menghabiskan energinya dan menjadi wanita biasa, membuat Kara benar-benar takluk, kalah, dan tidak berdaya. A Supergirl being totally helpless! Beruntung sebelum keadaan menjadi lebih buruk bagi Kara dan Mon-El mereka diselamatkan oleh Jeremiah Danvers yang masih hidup. It’s always great to see Dean Cain back in TV… dan omong-omong Helen Slater pun dijadwalkan kembali di episode 8 nanti.

Sekali lagi titik lemah di episode ini datang pada… Guardian. Di tengah begitu banyaknya hal-hal penting yang terjadi di episode ini lagi-lagi tingkah laku ajaib James dan Winn yang harus membersihkan nama Guardian dari pencemaran nama baik membuat episode ini terlihat tidak berimbang. Saya menghargai koreografi pertarungan Guardian di episode ini, sungguh. Melihat ia menggunakan tameng membuat saya sedikit banyak teringat Captain America – versi KW. Dengan budget yang terbatas saya harus akui koreografi pertarungan Cap… eh Guardian dengan lawannya tidak buruk. Mungkinkah mereka meminjam kru dari Arrow untuk membuat koreografinya? Toh pada akhirnya sub-plot ini tetap saja terasa out of place dibandingkan plot cerita utama Supergirl.

Memasuki episode crossover, ada banyak plot selain Guardian yang menarik untuk digali lebih lanjut. Selain plot mengenai Cadmus dengan ancaman Medusa, Martian Manhunter pun harus mencari tahu bagaimana ia bisa menghentikan perubahan dirinya menjadi seorang White Martian. Dan apakah Mon-el mulai jatuh cinta dengan Kara? Ehem, ehem.

Supergirl Season 2 Episode 6: Changing

Setelah saya selesai menonton episode ini, saya sontak mengatakan. “Wow, now this is how to make a great superhero episode!“. Ini merupakan salah satu episode terbaik dari Supergirl, dengan satu pengecualian. So let’s dive in the review.

Pertama: villain dari episode ini adalah Parasite, salah seorang musuh klasik Superman yang untungnya diijinkan DC dipakai dalam serial Supergirl ini. Kehadiran dari Parasite tidak mengecewakan. Tak hanya ia memiliki efek CG yang lumayan bagus, perubahan dirinya dari manusia menjadi monster dilakukan dengan sangat bagus dalam episode ini. Supergirl jarang memiliki musuh yang kompeten dan Parasite langsung hadir menjadi salah satu musuh yang memorable… karena ia sanggup menghajar dan mengalahkan Supergirl dan Martian Manhunter dalam duel 2 lawan 1! Pretty epic, right?

Di samping mengatasi Parasite ini juga menjadi episode di mana Alex mengakui jati dirinya (sebagai seorang gay) kepada Kara. Dan hal ini ditangani dengan sangat baik di sini. Kara adalah gadis yang luar biasa dan bahkan belum mendengar jawabannya pun saya tahu bahwa Kara akan bisa menerima Alex, tak peduli apa orientasi seksual dari sang kakak. Akan tetapi yang membuat sekuens ini menyentuh adalah bagaimana keduanya mengadakan pembicaraan yang cukup mendalam, hati ke hati, mengenai penerimaan ini. Kara bisa menerima kakaknya, itu betul, tapi bukan berarti penerimaan itu datang tanpa keterkejutan. Great performance from both Melissa Benoist dan Chyler Leigh.

Bicara soal Chyler Leigh, highlight dalam episode ini datang di penghujung episode di mana Alex ditolak oleh Maggie dan pulang. Momen di mana ia menangis sambil mengatakan ia merasa sangat malu, sembari dipeluk Kara? Itu adalah momen yang sangat – sangat relatable, tak peduli apa orientasi seksualmu, ditolak saat menyatakan cinta adalah sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan. Chyler Leigh broke my heart with her performance here.

Satu karakter lagi yang mencuri perhatianku di sini tentu saja adalah sosok Mon-El. Penampilan Chris Wood di sini sangat endearing, ditambah dengan chemistrynya dengan Melissa Benoist dibangun dengan pelan dan pasti, membuat kita peduli akan keduanya – tidak seperti hubungan romantis James dan Kara di season satu lalu yang sama sekali tidak memiliki chemistry.

Bicara soal James, satu-satunya titik lemah di episode ini adalah dirinya yang berubah menjadi Guardian. Saya tidak pernah suka dengan motivasi James menjadi Guardian karena terasa terlalu lemah dan mendadak. Saya sebenarnya berharap evolusi James menjadi Guardian dilakukan dengan lebih pelan dan ia mengalami banyak kesulitan terlebih dahulu – bukannya tahu-tahu bisa berhadapan satu lawan satu dengan Parasite dan mengimbanginya. Uhhh, what? Saya rasa Curtis dari Arrow pasti iri dengan kemampuan James Olsen yang mendadak jadi jagoan.

55555

Pada akhirnya episode ini adalah salah satu episode terbaik dalam Supergirl karena sekuens aksi yang seru, villain yang di atas standar, dan hubungan persaudaraan Kara dan Alex yang selalu menyentuh. Season 2 is really a great improvement over the previous one!

Supergirl Season 2 Episode 5: Crossfire

Semakin lama Cadmus semakin meningkatkan ancamannya kepada para Alien. Salah satu cara mereka adalah dengan mempersenjatai para kriminal yang ada dengan senjata-senjata teknologi Alien. Dan senjata-senjata ini begitu saktinya mereka bahkan mampu membuat kriminal biasa melumpuhkan Supergirl! Tidak mengherankan kalau warga biasa pun mulai panik dan ingin mempersenjatai diri mereka sendiri.

1

Sekali lagi Supergirl mencoba untuk membahas topik sosial politik yang selalu panas di Amerika: kepemilikan senjata. Bukan rahasia bahwa di beberapa tahun terakhir penembakan oleh orang-orang psikopat di tempat-tempat umum meneror Amerika, membuat banyak orang kontra dengan peraturan ini. Di sisi lain orang yang pro merasa bahwa orang baik perlu dipersenjatai juga supaya bisa melawan orang jahat. Ini sebuah topik yang kompleks dan walaupun dalam episode ini Supergirl mengangkat topik itu, ia tak pernah memihak kepada mana yang benar dan mana yang salah. Staying neutral, perhaps?

Di luar Cadmus ada tiga kisah sub-plot yang berjalan di episode ini pada saat yang bersamaan: pertama adalah hubungan antara Kara dan Mon-El alias Mike yang merupakan highlight episode ini. Sungguh saya langsung menyukai Mike yang benar-benar tampil lucu dalam hari pertama bekerja di CatCo. Sampai-sampai ketika ia terlibat dalam perbuatan tak senonoh dengan sang sekretaris dan Kara memergoki mereka saya tertawa terbahak-bahak. Hal kedua yang menjadi sorotan dalam episode ini adalah hubungan antara Alex dan Maggie yang makin dalam, membuat Alex mempertanyakan apakah ia gay atau bukan, sebuah topik yang cukup menarik. Di Arrowverse memang sudah ada sosok gay yaitu Mister Terrific, tetapi dari awal kemunculannya, ia memang telah menyatakan diri gay (begitu pula Sara sebagai White Canary dan Maggie sendiri). Alex akan menjadi sosok pertama yang “come out of the closet” bila jalan cerita menyatakan dirinya gay.

fdddd

Satu-satunya sub-plot yang bagi saya kurang berhasil di sini adalah Jimmy Olsen yang memulai transformasinya menjadi vigilante. Bagi kalian yang mengikuti berita mengenai Supergirl (termasuk press release untuk episode-episode berikutnya) akan tahu bahwa Jimmy Olsen sudah diplot untuk menjadi sosok The Guardian, salah satu sidekick Superman di kota Metropolis. Saya pribadi tidak terlalu suka dengan alasan dadakan kenapa Jimmy mau menjadi The Guardian di sini. Rasanya terlalu dipaksakan karena penulis serial ini tidak tahu mau melakukan apa dengan karakternya. Mengingat ia satu-satunya karakter yang tidak jelas juntrungannya, mungkin lebih baik Jimmy dijadikan sosok recurring / guest role saja?

Reveal menarik yang dibuka di akhir episode 5 ini membuat saya bertanya-tanya apakah keluarga Luthor yang lain akan segera muncul di season kedua Supergirl ini? Dan apakah Ibu yang dimaksud oleh Lena adalah ibu kandung… atau ibu angkatnya? More mysteries yang membuat saya tak sabar menunggu episode berikutnya.

Supergirl Season 2 Episode 4: Survivors

Setelah memperkenalkan karakternya pada akhir episode lalu, dalam episode ini sosok M’gann alias Miss Martian kembali menjadi sorotan utama. Itu memberikan banyak materi bagi David Harewood sebagai J’onn untuk tampil di spotlight, dan mengingat aktor senior di serial ini tinggal dia sepeninggal Calista Flockhart, saya senang melihat ia mendapat lebih banyak kesempatan tampil.

Saya bisa membayangan perasaan J’onn ketika mengetahui adanya seorang sosok Martian lain di bumi. Perasaannya tentu campur aduk. Ini tentunya sangat berbeda dengan Kara sebagai Supergirl. Ya, Supergirl juga seorang survivor dari planet Krypton tapi ia tahu bahwa selain dirinya masih ada Superman – belum lagi dengan tawanan-tawanan lain dari Fort Rozz. Singkat kata: Kryptonian memang ras yang terancam kelangsungan hidupnya, tapi Kara tidak sendiri. J’onn berbeda sebab ia satu-satunya Green Martian yang tersisa dari bangsanya.

Oleh karena itu melihat M’gann ternyata malahan ikut dalam sebuah underground Alien fight club tentu meremukkan hati J’onn karena pada dasarnya Martian adalah ras yang cinta damai. Bicara soal Alien fight club sendiri, ini adalah sebuah ekspansi menarik dari ide Alien sebagai penduduk National City (dan Amerika) dari episode-episode lalu. Masalah ini pernah sedikit disinggung di season pertama ketika J’onn mengatakan tidak semua Alien seberuntung Kara dan Clark karena berwujud serupa dengan manusia… dan di sini terlihat bagaimana kehidupan mereka bisa sangat menyedihkan. Sebuah alegori tentang kasus refugee di dunia nyata saat ini?

Terlepas dari beberapa topik berat yang diangkat di episode ini, serial ini tak lupa bersenang-senang sedikit dengan tandem dari Winn dan Mon-El. Keduanya dengan cepat membangun hubungan persahabatan (bromance!) dan semoga tema ini terus dieksplorasi di episode-episode mendatang supaya Winn punya hal lain untuk dia lakukan selain menjadi ‘Cisco’nya serial ini.

s2

Dengan fokus pada karakter-karakter pendamping (termasuk hubungan Alex dengan Maggie yang terus dikembangkan) sepertinya Kara sedikit tersisihkan di pekan ini. Pun begitu saya senang melihat serial ini menemukan waktu untuk kembali memasukkan hologram Alura (Laura Benanti) dalam serial ini. Saya nyaris melupakan keberadaan hologram tersebut. Satu lagi yang saya suka adalah momen-momen di akhir episode ini di mana Kara menunjukkan niatnya untuk melatih Mon-El, sebuah penebus karena ia tak pernah mendapatkan kesempatan melatih Kal-El dulu. Momen-momen kecil seperti ini menunjukkan sifat kasih dalam diri Kara.

Satu-satunya karakter yang tak mendapatkan kesempatan tampil di episode ini hanyalah James Olsen yang sejujurnya menjadi karakter paling kurang menarik sampai saat ini. Akan tetapi membaca sinopsis episode berikutnya, sepertinya tak lama sampai Olsen kembali dimajukan ke spotlightlet’s see!

Supergirl Season 2 Episode 3: Welcome to Earth

Setelah dua episode premiere Supergirl yang kedatangan sepupu populernya dari Metropolis, kali ini Supergirl kedatangan superhero lain: Wonder Woman! Apakah ini awal dari Justice League serial kaca? Saya bercanda. Yang saya maksud dengan Wonder Woman di sini bukan Gal Gadot melainkan Lynda Carter, sang Wonder Woman dari serial TV populer dekade 70an lalu. Ini tentunya bukan pertama kalinya Lynda Carter (maupun Helen Slater) tampil di dunia DC setelah dulu keduanya pun pernah tampil di Smallville.

Dalam serial ini Lynda Carter berperan sebagai POTUS alias Presiden Amerika Serikat yang akan menghadirkan kebijakan yang kontroversial: Alien Amnesty. Peraturan baru ini menjanjikan bahwa asalkan para Alien yang bersembunyi di bumi mau mengakui diri mereka dan mendaftarkan diri pada pemerintah, maka pemerintah akan memberikan grasi kepada para Alien tersebut – dan bahkan akan membiarkan para Alien tersebut mendapatkan pengampunan dan hak penuh sebagai warga negara Amerika Serikat.

Peraturan ini tak hanya mendapatkan kontroversi pertentangan dari orang-orang Amerika (manusia) saja tetapi bahkan para Alien sendiri terpecah belah menanggapi isu ini. Sementara Supergirl langsung menerima usulan ini dengan senang hati, Martian Manhunter tak langsung senang dengannya dan lebih memilih berhati-hati. Ada lagi Alien lain yang langsung menyerang Presiden dan ingin menghabisinya! Bicara soal Alien-Alien yang ada di bumi, terjawab sudah siapa Alien yang ada di dalam pod yang datang ke bumi di finale season 1 dan dia adalah Mon-El, seorang Daxamite yang merupakan ras lawan dari para Kryptonian. Apakah dia merupakan biang keladi dari Alien yang ingin menghabisi sang Presiden?

Episode ketiga ini mengingatkanku kepada Presiden Jokowi dengan Tax Amnesty-nya. Salah satu argumen orang yang kontra dengan Alien Amnesty adalah karena mereka merasa itu hanyalah jebakan dari pemerintah Amerika saja supaya identitas Alien yang selama ini tertutupi semuanya sekarang ketahuan dan membuat mereka bisa diburu dengan mudah apabila pemerintahan sudah berganti. Tidakkah ini merupakan hal yang sama persis dengan yang kerap dilontarkan oleh orang-orang yang enggan mendaftarkan diri dalam Tax Amnesty?

434

Terlepas dari itu, episode ketiga ini juga memperkenalkan dua karakter yang sepertinya akan menjadi bagian penting dalam season ini. Di luar Mon-El kini muncul juga Maggie Sawyer yang memberi dinamika baru dalam hubungan polisi antara Alex dan dirinya. So far karakter-karakter pendukung serial ini jauh lebih bagus dibandingkan dalam season pertama di mana Peter Facinelli (ke mana sosok itu ya?) dan para kryptonian dari Fort Roz terasa sangat membosankan.

Episode ini ditutup dengan kehadiran M’gann M’orzz, seorang Martian yang di komik telah lama dikenal sebagai anggota dari Teen Titans. I guess, more girl power?